
(Peringatan! Mulai dari chapter ini, alur akan semakin Dark dan berat. Jadi berhati-hatilah saat membaca kisah fiksi ini secara bijak karena akan ada adegan penuh d*r*h dan brutal)
"Dengar! Kau tunggu saja disini dulu," perintah Doyoung yang sebenarnya agak ragu, apalagi kondisi Winwin yang benar-benar tidak fokus saat ini.
Akan tetapi, ia tidak mungkin membatalkan rencananya ini. Selain karena sudah berjanji untuk membantu Winwin menghasilkan uang, ia juga sangat paham bahwa betapa pentingnya uang itu untuk didapatkan sekarang.
Dengan langkah yang sedikit berat, ia masuk kedalam sebuah ruko Fotocopy yang bangunannya terasa kumuh dan tampak akan ambruk. Cukup lama Doyoung berada disana, hingga akhirnya ia keluar dengan sebelah mata yang telah lebam.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Winwin yang mulai tersadar dari rasa sedihnya. Meskipun ia tengah merasa kacau saat ini, tetapi nalurinya takkan bisa bohong kalau ia juga khawatir bila melihat sahabatnya terluka.
"Tidak apa-apa, Ayo buruan masuk! Kau ingin pekerjaan yang menghasilkan uang cepat, kan?" tanya Doyoung.
"Ya, Apapun itu akan kulakukan." Winwin memberikan sorotan mata tanpa ragu, lalu ia berjalan duluan mendahului Doyoung untuk memasuki ruko itu tanpa banyak tanyak. Ia sendiri sudah paham kalau pekerjaan ini pastilah sangat sulit dibandingkan pekerjaan sebelumnya yang ia miliki.
Namun ia tak habis pikir betapa terkejutnya ia melihat suasana didalam ruko itu sangat mencekam, bahkan ruangannya sangat luas dibandingkan yang terlihat dari depan. Dengan beberapa penjaga yang super ketat, tak lupa juga hiasan dinding yang terlihat mengerikan disepanjang koridor.
"Masuk sini!" ajak Doyoung yang langsung membuka sebuah pintu menuju bawah tanah. Entah kemana Doyoung akan membawa Winwin, tapi yang jelas ruangan itu jauh lebih mencekam dan tangganya juga cukup curam untuk dipijakin.
Hingga pada anak tangga terakhir yang dilewati Winwin, ia bisa melihat seseorang yang mengenakan Jas hitam tengah menyambutnya penuh hangat.
__ADS_1
"Apa ini temanmu yang ingin bergabung?" tanya Pria bertubuh gagah tersebut.
"Ya, ia butuh uang hari ini untuk biaya berobat adiknya. Kau bisa merekrutnya menjadi anggotamu untuk menggantikan pekerjaan mendiang Hyungku yang belum tuntas," tukas Doyoung.
"Boleh saja, tapi untuk pemula sepertinya pasti tidak semudah itu Doyoung. Bagaimana kalau aku berikan tugas yang lebih ringan terlebih dahulu untuk mengujinya? Masalah biaya akan kuserahkan seperti yang kita bicarakan, tapi uang yang kukeluarkan tersebut anggap saja sebagai hutangnya, soalnya harga untuk tugas pemula hanya sekitar 25% saja dari uang yang kalian minta. Jadi , kau bisa melunasi 75% lagi dengan bekerja disini."
"Aku setuju," ucap Winwin tanpa banyak pertimbangan, bahkan Doyoung yang ingin membantah tawaran itu tak sempat untuk berkata-kata apapun.
"Kau yakin? Ia sedang mempermainkanmu, aku tidak mau kau terlalu lama bekerja disini." Doyoung mencoba menasehati Winwin, ia tak mau temannya itu akan bernasib sama dengan Kakak laki-laki Doyoung yang telah meninggal lima tahun yang lalu.
"Tenang saja, kau sudah mengenalku lama. Aku bisa mengerti kekhawatiranmu, tapi aku tidak akan sanggup kehilangan adikku. Apapun akan kukorbankan," tukas Winwin penuh ambisi sampai membuat Pria misterius itu tertawa.
"Bagus sekali kalau kau siap mati untuk pekerjaan ini," tawanya menggelegar di dalam ruangan itu.
"Aku tahu," ketus Doyoung yang secara ogah-ogahan pergi dari sana, lalu Bos langsung mengambil sesuatu dokumen dari meja yang ada disekitarnya dan menyerahkannya pada Winwin.
"Tugas perdanamu cukup mudah, kau bisa membunuh anak perempuan yang ada di foto ini. Dia adalah cucu kesayangan dari pemilik Mall Angkara, tapi sayangnya ia adalah anak hasil hubungan terlarang dan Ibunya merasa anak perempuannya itu tidak berhak untuk menjadi pewaris tahta kekayaan sang nenek. Ia maunya anak keduanya yang berkuasa, sayangnya si nenek lebih menyayangi cucu perempuannya itu. Kau pahamkan tugasmu ini?" tanya Bos yang jelas saja membuat Winwin tercengang, mana mungkin ia ditugaskan menjadi seorang pembunuh apalagi pembunuh anak kecil.
"Kupikir hanya sekedar perampok atau pekerjaan biasa lainnya, aku .... maksudnya kita bekerja sebagai apa sebenarnya?" tanya Winwin.
__ADS_1
"Apa Doyoung belum memberitahumu? Kita ini bekerja sebagai pembunuh bayaran," jawab Bos yang langsung membungkam Winwin saat itu juga.
"Kenapa? Kau takut... Atau kau mulai ragu pada hati nuranimu? Kau terlalu naif bila memikirkan orang lain di dunia yang kejam ini, bukannya kau sedang butuh uang sekarang. "
"Tapi kenapa harus anak kecil?" tanya Winwin.
"Karena klien kita yang memintanya, kau juga tidak perlu ragu seperti ini. Kau bisa memutuskan sendiri ingin membiarkan rasa kemanusiaanmu membunuh adikmu atau mendapatkan uang hari ini juga, tolong jangan berpikiran naif lagi seperti Kakak laki-lakinya Doyoung. Aku tidak butuh orang yang bekerja setengah-setengah," tegas Bos yang memperlihatkan senyuman jahatnya.
"Akan kuusahakan, aku juga tidak ingin membiarkan adikku mati. " Winwin yang sebenarnya masih ragu berusaha untuk tetap fokus, ia tak mungkin lagi menolak keinginan ini. Apalagi ia bisa membayangkan apa yang terjadi bila ia menolak pekerjaan tersebut, pastinya ia takkan bisa pergi dengan selamat dari tempat ini.
"Baiklah kalau kau setuju, sekarang kau bisa pergi ke ruangan itu dan pilih sendiri senjata yang akan kau gunakan." Bos menunjuk kesalah satu pintu yang ada di ruangan itu.
Winwin hanya bisa menurut saja dan berjalan cukup ragu untuk pergi ke arah pintu tersebut. Matanya kembali tercengang melihat tumpukan senjata yang ada didalam sana, ia sampai berpikiran bagaimana mungkin organisasi kejahatan seperti ini tidak bisa ditangkap oleh Polisi.
Dengan berbekal rasa ingin tahunya, ia berbalik badan dan membiarkan mulutnya untuk bertanya langsung pada Bos.
"Bagaimana kalian bisa bekerja secara tersembunyi begini? Apa kalian tidak ditangkap para pihak keamanan? Ini benar-benar tidak masuk akal," ungkap Winwin yang terasa menggelitik perut Bos.
Ia cukup lama tertawa, matanya sampai meneteskan air mata saking ngakaknya dengan pertanyaan Winwin.
__ADS_1
"Kau pikir saja sendiri alasan kenapa kami tidak pernah tertangkap oleh mereka, lagian juga harusnya kau paham kalau uang adalah rajanya kriminalitas. Semua dapat terbayarkan secara lunas dan mudah dengan adanya uang," jawab Bos tanpa ragu yang langsung menyadarkan Winwin bahwa tidak sepenuhnya keadilan dan kebaikan akan bekerja di dunia yang terbuni oleh manusia-manusia berperilaku abu-abu.
Sejatinya memang tidak ada manusia yang memiliki sikap baik sepenuhnya, bahkan penjahat sekalipun adalah pahlawan dimata keluarga atau orang terkasihnya. Sama halnya para hero yang bisa saja menjadi manusia yang paling dibenci oleh keluarganya. Semua itu hanya tergantung bagaimana kita membuat persepsi pada hal tersebut, satu-satunya hal yang bersifat nyata ialah uang. Benda yang bisa mengantarkan manusia menjadi sosok yang berbeda berdasarkan kebutuhannya.