
Renjun masih berdiam diri di depan gerbang sekolah, ia sendiri juga tidak tahu mau melangkah kemana dan tak punya tujuan yang tepat untuk melarikan diri dari kenyataan yang menunggunya di Rumah. Saat ini, ia masih terlalu takut untuk melihat hasil dari cek kesehatan yang dilakukannya Dua hari yang lalu. Dia juga tidak sanggup melihat wajah kasihan dari orang terkasihnya, tak ada yang mampu membayangkan bila segalanya bakal berakhir buruk walaupun berulang kali ia tetap berdoa agar hasilnya baik-baik saja.
Dengan udara yang semakin terik, Renjun masih bersembunyi dalam keraguannya. Padahal sudah ada dua kali dia diajakin oleh Teman-temannya untuk mampir ke Rumah Chenle, tetapi Renjun tetap saja menolak ajakan itu secara gampangnya.
Lagipula semenjak mimisan tadi pagi, ia mulai merasa lemas dan letih.Namun keletihan itu sedikit membuyar tatkala saat melihat Winwin yang berjalan pulang melewatinya begitu saja, mungkin saja memang kebetulan Winwin tidak melihat dan menyadari kehadirannya.
Disamping itu, sebuah ide brilian muncul didalam pikiran Renjun. Tanpa mempertimbangkan apapun yang terjadi, ia berjalan secara diam-diam mengikuti langkah Winwin dengan harapan mungkin saja Ia bisa menemukan tempat tinggal Winwin sekarang.
Akan tetapi, semakin jauh ia berjalan menjauhi sekolah mana semakin dalam pula ia berjalan di sebuah tempat yang asing. Sepertinya ada beberapa kali Renjun melewati beberapa gang kecil yang menuju sebuah tempat kumuh dan tidak terurus. Hingga langkah itu berhenti di sebuah gedung yang tidak lagi berpenghuni, dimana ia melihat Winwin berjalan mendekati kerumunan genk berandalan di sana yang sama sekali tidak dikenal oleh Renjun.
Hingga tak beberapa lama, barulah berdatangan teman-teman Winwin yang cukup dikenal Renjun.
Renjun yang takut ketahuan, buru-buru bersembunyi di sudut dinding yang tertutupi sebuah lemari bekas. Dari sana, ia bisa melihat semua orang yang ada disana tengah merokok sambil bergurau selama sesaat.
Hingga akhirnya mereka membuat sebuah lingkaran yang ditengahnya adalah Winwin dan seseorang yang tampak asing dengan penampilan kumuh dan seragam putih yang telah menguning.
"Hari ini beruntung banget gue, bisa lawan Bos mereka! " ledek remaja asing itu seraya melirik kearah teman-temannya.
"Gak usah berlebihan, intinya kita mau taruhan apa kali ini?" tanya Winwin yang malah terlihat tenang dan tak takut sama sekali.
"Hari ini taruhannya simple aja, buat pemenangnya itu dapat uang dari para pecundang yang kalah dan buat para pecundang harus mencopet dompet orang asing di swalayan, gimana?" tantang Remaja asing itu.
"Oke, kita setuju! " ucap Winwin tanpa banyak berpikir, lalu ia melepaskan seragam putihnya yang memperlihatkan kaus hitam yang dikenakannya.
Lalu dengan brutal, Winwin mendekati remaja itu dan menghantam wajahnya dengan kepalan tanga secara berkali-kali. Remaja itu tidak hanya diam saja, ia juga membalas pukulan Winwin dan menghantamkan kakinya kearah Winwin. Kini keduanya saling bergelut satu sama lain di bawah sorakan keramaian dari teman-teman yang lain.
Suasana di gedung ini mulai kacau dan ribut, Renjun sama sekali tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi terhadap Winwin selain mendengarkan teriakan sorakan dari mereka yang mengelilingi keduanya.
Namun yang kelas, Winwin tampak lebih unggul saat menyerang Remaja itu sebrutal mungkin. Luka di Wajahnya juga masih lebih baik dibandingkan luka yang diterima oleh remaja asing itu.
__ADS_1
Saking seriusnya Renjun berusaha mengamati pertarungan sengit tersebut, ia tidak sadar kalau Ten telah menyadari kehadirannya renjun. Ten juga bukannya diam saja malahan ia menarik Renjun dari tempat persembunyiannya kepada Winwin, sampai membuat perkelahian itu terhenti tanpa sadar.
"Aku melihatnya mengintip dari sana!" Ten menunjuk pada salah satu lemari yang jaraknya tidak terlalu jauh dari posisi mereka saat ini.
"Wah gak bener nih, habisin aja deh dibandingkan nanti dia ngadu ke guru bisa gawat kita!" celoteh Yuta yang juga tak kalah kaget.
Disaat yang bersamaan, segerombolan remaja asing itu datang mendekat dengan tatapan licik.
"Ini siapa? Anggota baru kalian?" tanya salah satu diantara kelima orang tersebut.
"Kok penampilannya cupu banget," ledek sang ketuanya.
"Dia bukan bagian dari kami kali, Roy. Lagian kita juga gak kenal sama nih anak," bantah Ten yang langsung mendorong Roy, ketua dari geng remaja asing tersebut.
"Terus ngapain dia disini? Mau ngaduin tingkah kita semua ke polisi gitu?" tanya salah satu anak buah Roy.
"Ayo kita lanjutkan aja perkelahian tadi, biar cepat selesai karena kami juga banyak urusan selain ini!" ucap Winwin.
"Kayaknya sih gak menarik lagi nih kalau perkelahian antara kita, gimana kalau hari ini peraturannya kita ubah aja?" usul Roy.
"Ubah jadi apaan?" tanya Lukas yang mulai kesal, sementara itu Winwin sama sekali tidak keberatan dan hanya mengiyakan saja.
"Kami tambahin jadi 500 ribu lagi deh, tapi sebagai gantiinya ketua kalian harus berkelahi dengan anak baru ini menggantikan anak buah gue!" usul Roy yang disusul oleh tawa dari anak buahnya.
"Kamu Terima tantangan kalian!" ucap Winwin tanpa mempertimbangkan apapun sama sekali, bahkan Renjun sampai menatap bingung padanya.
"Kau yakin?" tanya Lukas yang merasa terkejut, berbeda pula dengan tanggapan teman-teman Winwin lainnya yang tampak setuju pada pemikiran Winwin.
"Yakin, lagian uangnya juga buat biaya nenekmu. Lebih baik terima aja!" Winwin tampak merasa tidak bersalah dan malahan wajah tenangnya itu membuat siapapun akan kesal bila membayangkannya.
__ADS_1
"Hyung? Kau gila?" tanya Renjun yang tidak menyangka sama sekali.
"Kenapa? Bukannya ini adalah kesempatan pertama kalinya kau bisa berkelahi denganku?"
"Dasar gila!" maki Renjun yang berniat mau pergi, tapi malah dihadang oleh Ten dan Taeyong.
"Kami gak
Perduli ya gimana bisa kau nemuin kami disini, tapi yang jelas kau gak akan bisa pergi semudah itu dari sini!" ancam Taeyong yang menyeringai licik.
Lalu tanpa pemberitahuan sama sekali, Tiba-tiba Renjun ditarik keras dari belakang oleh Winwin dan wajahnya dipukul secara kasar oleh Winwin secara membabi buta.
Tak ada satupun yang merelai keduanya sama sekali, malahan mereka ikut menyoraki dan menyemangati Winwin yang tampak seru untuk dipertontonkan.
Bahkan Roy dan anak buahnya juga ikut menyemangati Winwin dan menikmati perkelahian itu.
"Kau diam saja? Apa kau memang masih jadi seorang pecundang?" bentak Winwin yang mulai kesal, sebab tak ada satupun balasan dari Renjun kepadanya.
Dan saking geramnya, Winwin semakin menjadi-jadi memukul Renjun sampai kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Ia terlihat kesal melihat adiknya yang sama sekali tidak melawan dan hanya menerima serangan yang diberikan kepadanya.
"Dasar gak berguna, apa kau pikir Dunia akan berbaik hati padamu kalau kau Selemah ini!" tukas Winwin yang masih menendang Renjun yang telah telungkup di bawah dengan hidung yang patah karena terkena pukulan keras dari Winwin.
"Apa kau udah puas, Hyung?" tanya Renjun seraya tersenyum, tetapi senyuman itu malah lebih terkesan menyindir dimata penglihatan Winwin sampai membuat Winwin kembali memukulnya.
Lukas yang sudah merasa kalau ini tidak benar, begitu juga dengan Taeyong dan yang lainnya. Lantas mereka buru-buru memisahkan Winwin dari Renjun dan menariknya sedikit menjauh dari tubuh Renjun yang telah tidak sadarkan diri.
Doyoung buru-buru memeriksa denyut nadi Renjun, untung saja ia masih bernafas dan hanya pingsan saja.
"Wah, hebat! Kau bersikap seolah dia adao orang yang kau benci selama ini! Apa kalian saling mengenal?" tanya Roy yang langsung memberikan tepukan tangan meriah pada Winwin.
__ADS_1