MY BROTHER ( NCT)

MY BROTHER ( NCT)
BABAK BARU DARI KEHIDUPAN DAN KEHILANGAN


__ADS_3

Winwin menghampiri kembali Ruko itu dengan keadaan basah kuyup, walaupun begitu dirinya masihlah seorang remaja yang amatir.


Kehadirannya sendiri terlihat disambut hangat oleh sang Bos, ia tak perduli mau pekerjaan Winwin jelek atau bagus. Dimatanya Winwin hanyalah seorang Pemula yang kelak akan berpotensi menjadi Pembunuh Bayaran yang hebat seperti kakak laki-lakinya Doyoung dahulu.


"Bayaranku?" tanya Winwin begitu bertemu dengan Bos, ia tak mau lagi basa-basi dan ingin segera menghampiri adiknya di Rumah Sakit.


Bos tersenyum, ia sangat suka Sikap tak sabaran Winwin dan ketenangannya saat ini. Padahal ia hanyalah seorang pemula, tapi ia sangat ahli dalam menyembunyikan rasa takutnya.


"Jangan lupa datang Minggu depan, ini uangnya!" ucap Bos seraya menyerahkan sebuah amplop putih yang cukup tebal.


Winwin hanya mengangguk saja, ia ambil uang itu dan diserahkannya senjata dari ransel yang digendongnya. Lalu, ia masukkan amplop berisi uang tersebut didalam ransel yang langsung di gendongnya kembali.


"Aku pinjam ranselnya ya, terimakasih sudah mau membantuku." Winwin masih menunjukkan rasa hormatnya, ia berterimakasih secara tulus pada Bos. Sebelum akhirnya ia berjalan pergi dari sana.


.


Namun tak lupa ia mendengar perintah Bos yang meminta ajudannya untuk membersihkan TKP yang telah di eksekusi oleh Winwin. Sepertinya Bosnya ini sangat teliti dalam pekerjaan, ia tidak akan pernah sedikitpun memberikan peluang bagi para penegak keadilan yang jujur untuk menemukan jejaknya.


"Aku harus ganti baju dulu di toilet umum," gumam Winwin yang langsung mengendarai motor pinjaman dari Doyoung. Ia buru-buru mencari toilet umum yang ada di pengisian bensin dengan kaos yang dibelinya dari supermarket yang juga ada di sana. Dan tak lupa pula, ia bakar sarung tangannya dibelakang toilet umum, kebetulan daerah itu sangat gelap dan tidak terlalu diperhatikan oleh kebanyakan orang.


Setelah ia memastikan bahwa pekerjaannya sudah bersih sepenuhnya, ia kembali mengendarai motor menuju Rumah Sakit yang menjadi tempat Renjun dirawat.


Beruntungnya keadaan lalu lintas saat itu tidak terlalu macet, jadi ia bisa cepat sampai disana. Dan berjalan tergesa-gesa menemui teman-temannya yang ada disana.


Dengan kesadaran penuh, ia bisa melihat teman-temannya yang sedang duduk di depan sebuah kamar. Dalam sedetik saja, Winwin bisa tahu kalau kamar itu adalah ruangan yang sedang ditinggali oleh Renjun. Ia langsung berlari menghampiri Lukas seraya mengeluarkan amplop berisi uang itu yang diserahkannya kepada Lukas.


"Ini uangnya, tolong selesaikan administrasi untukku!" pinta Winwin.

__ADS_1


Lukas tak langsung mengambil uang Winwin, ia cengkram kedua bahu Winwin dengan tatapan mata sedih.


"Maafkan kami," ucap Lukas yang seolah tengah menyesalkan sesuatu.


"Apa maksudmu meminta maaf padaku?" tanya Winwin yang setengah membentak, ia tatap Lukas untuk sesaat yang sama sekali tak memberikan jawaban apapun.


"Apa kalian tidak punya mulut untuk menjawabku?" tanya Winwin yang mulai membentak teman-temannya, bahkan ia juga ikut membentak teman dari Renjun sendiri.


"Kalian teman adikku, apa yang terjadi?" tanya Winwin.


Akan tetapi, tak ada satupun orang yang mau menjawab pertanyaannya. Terpaksalah ia nekad memasuki ruangan itu yang hanya berisi ranjang kosong dan kegelapan yang memenuhi kesunyian.


Dengan tangan yang sudah mulai gemetaran, ia meneteskan air mata dan bertanya sekali lagi pada Lukas tentang keberadaan adiknya.


"Dimana Renjun ku?" tanya Winwin.


"Dia tidak terselamatkan, maafkan aku...," lirih Lukas yang juga ikutan meneteskan air mata. Jelas saja kabar ini adalah berita paling mengerikan untuk didengar oleh Winwin. Dalam sekejap emosinya mulai memuncak, sampai tak sengaja ia mencengkram leher baju Lukas saat itu.


"Kau tidak boleh bertingkah seperti ini, kami juga merasa sedih sepertimu. Tapi coba berpikir dengan akal sehat," kritik Doyoung yang masih mencengkram erat lengan atas Winwin untuk menguncinya.


"Aku sudah tak punya alasan apapun lagi, bahkan menyalahkan kalian saja sudah terlambat bagiku." Winwin membuang tatapannya dari Doyoung. Ia terjatuh ke lantai dengan wajah yang berlinang air mata, berkali-kali ia pukul dinding yang ada disebelahnya sebagai pelampiasan rasa sakitnya.


"Dengar aku!" bisik Doyoung yang ikutan jongkok untuk bisa menyamai posisi Winwin.


"Apa lagi yang harus kudengar darimu? Kau saja gagal menyelamatkannya," tukas Winwin yang mulai kalut.


"Aku tidak perduli seberapa benci kau Dengan kami, tapi yang jelas kau harus pergi dari sini sekarang! Ibumu dan pihak polisi akan segera datang kesini, sepertinya Ibumu menganggapmu sebagai pelaku penculikan. Kami tak mau kau ditangkap, jadi pergilah sejauh-jauhnya!" beritahu Doyoung.

__ADS_1


"Tidak masalah bagiku, aku juga tak punya alasan lagi untuk bisa hidup. Kau tahu apa yang pantas kulakukan sekarang? Aku harus menghabiskan sisa hidupku untuk terus meratapi kematian adikku karena kesalahanku!" teriak Winwin yang langsung memukul kepalan tangan kirinya ke dinding sampai remuk, ia bahkan tak memperdulikan rasa sakit dari bunyi yang ditumbulkan dan tetesan darah yang bercucuran dari tangannya sampai membuat teman-temannya tercengang.


Bahkan beberapa dokter terlihat menghubungi polisi dar kejauhan, Lukas yang menyadari hal tersebut buru-buru berbisik pada Doyoung. Tak ingin temannya itu tertangkap, Doyoung dan Lukas langsung memerintahkan Taeyong beserta temannya yang lain untuk tetap disini sementara mereka langsung menyeret paksa Winwin menuju tangga darurat untuk segera pergi dari sana.


Winwin tak melawan, ia hanya pasrah saja tanpa mencurigai apapun sama sekali. Bahkan ia tak bertanya sama sekali dimana letak mayatnya Renjun. Baginya ini adalah akhir dari segalanya, pandangannya hanya dipenuhi oleh kegelapan dan kemarahan tanpa henti.


Hingga tanpa sadar, ia sudah berada didalam mobil Van hitam yang dikendarai oleh seseorang misterius.


"Kau akan meninggalkan negara ini sekarang, masalah hutangmu dengan Bos akan aku pertanggungjawabkan. Jadi, tetaplah untuk hidup disana dan kembali saat nanti waktu yang tepat!" perintah Doyoung.


Tapi hanya dibalas tawa saja oleh Winwin, "Sebenarnya aku mau lari dari apa?" tanyanya pada kedua temannya itu.


Lukas tak menjawab, ia melirik kepada Doyoung seolah-olah meminta persetujuan Doyoung untuk memberitahu hal lain kepada Winwin.


"Dengar aku! Hentikan semua tangisanmu itu. Kau benar-benar kacau sekali," keluh Doyoung yang langsung memberikan kepalan tangannya di dada Winwin dengan lembut.


"Kembalilah kesini beberapa tahun lagi demi adikmu. Tolong lakukan semua ini deminya," tutur Doyoung yang langsung membungkam Winwin dalam sekejap. Ia tak bereaksi apapun selain memejamkan matanya, tapi setidaknya ia sudah sedikit lebih tenang saat ini.


"Aku takkan pernah berniat lagi untuk kembali," gumam Winwin yang langsung memerintahkan pria misterius itu untuk segera pergi. Tak menunggu waktu lama, mobil itu berjalan pergi meninggalkan Rumah Sakit.


Doyoung dan Lukas hanya bisa saling balas tatapan saat memastikan Mobil Van itu telah berhasil meninggalkan Rumah Sakit. Tepat tak beberapa lama kemudian, Mobil Polisi memasuki area rumah sakit dengan suara sirine nya yang berbunyi.


"Apa keputusanmu ini benar untuk tidak memberitahukannya tentang Renjun?" tanya Doyoung pada Lukas.


Lukas tersenyum, ia tepuk bahu Doyoung pelan.


"Dia tidak perlu tahu kalau adiknya masih hidup, setidaknya biarkan dia bisa lebih kuat tanpa beban apapun selama beberapa tahun kedepan. Lagipula tak ada salahnya kan giliran kita untuk menjaga adiknya? Bukannya kau memang memiliki keinginan untuk punya adik?" tanya Lukas yang hanya dibalas senyuman oleh Doyoung.

__ADS_1


"Kuharap keputusan kita ini bisa membuat Winwin lebih kuat, aku juga tidak mau melihatnya di dalam jeruji. Dan terimakasih ya buatmu, kau memang ahli untuk memohon pada orang tuamu." Doyoung berjalan duluan yang langsung disusul oleh Lukas.


"Ya, sekarang lebih baik kita berpura-pura akting didepan Mamanya Winwin. Kita tidak boleh membuat kecurigaan apapun," ucap Lukas yang langsung menelepon Taeyong untuk mengabari hal tersebut. Sepertinya semua ini sudah direncanakan oleh mereka dengan matang, dimana Lukas dan Doyoung sepenuhnya memegang peranan penting akan hal tersebut yang disambut dan didukung penuh oleh teman-temannya beserta teman-temannya Renjun.


__ADS_2