
Renjun melangkahkan kakinya melewati pagar Rumah. Keadaannya saat ini sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya dan sebelum tiba di rumah, tak lupa pula ia membersihkan diri disalah satu toilet umum dekat taman sehingga wajahnya tetap terlihat bersih kembali.
Akan tetapi, saat melangkah kaki ke dalam Rumah. Ia mendengarkan suara keributan kedua orang tuanya yang tengah beradu argumen di mana Wendy bersikeras untuk membawa Renjun berobat kembali ke luar Negeri.
Renjun yang mendengarkan hal tersebut menolak keras , ia langsung berjalan masuk sambil mengeluarkan pendapatnya didepan keluarganya.
"Aku gak mau keluar negeri, aku mau disini aja!" tolaknya, tetapi perhatiannya tertuju pada secarik kertas yang ada ditangan Chanyeol.
Dengan secepat kilat, ia merampas kertas tersebut dan membacanya saat itu juga tanpa sempat ditarik kembali oleh Chanyeol.
Tangan Renjun kembali gemetar, matanya mulai berteriak ketakutan dan ekspresi wajahnya mulai menunjukkan kesedihan seusai membaca kertas yang berisi hasil tes dari Rumah Sakit yang menyatakan kalau Renjun Positif Leukimia.
Renjun yang tidak tahu lagi mau mengatakan apa-apa hanya bisa menatap Wendy, seolah-olah ia meminta tanggapan dari Wendy.
"Mami?" tanya Renjun, tetapi bukan jawaban yang diterimanya melainkan sebuah tangisan dari Wendy, bahkan Wendy langsung memeluk Renjun sangat erat dalam tangisannya.
Renjun cuman bisa terdiam mematung saja, ia bahkan tak membalas pelukan Wendy dan hanya memejamkan matanya saja.
Air mata Wendy benar-benar membawahi seragam Renjun, ia terus memeluk bayi kecilnya itu yang selama ini diperjuangkannya. Baginya, rasa sakit Renjun adalah dosa besar yang dimilikinya sebagai seorang ibu yang gagal memastikan anaknya baik-baik saja.
Hingga tangisan Sarang mulai memecahkan suasana suram dalam keluarga itu, Sarang melepaskan genggaman tangan Chanyeol dan langsung berlari meraih tangan Renjun dengan penuh ketakutan tanpa tahu apa yang sedang terjadi.
Bayangkan saja bila anak kecil yang baru pulang sekolah, tetapi sudah melihat perdebatan orang tuanya ditambah lagi menyaksikan Maminya menangis histeris dipelukan Kakak laki-lakinya. Pastilah berapa ketakutannya Sarang saat ini, melebihi rasa takut Wendy yang tidak ingin kehilangan Renjun.
Renjun yang melihat air mata Sarang mulai merasa bersalah, ia pikir tidak pantas rasanya melihat Sarang ikutan menangis hanya karena dirinya. Apalagi Sarang masih kecil, ia tidak pantas untuk tahu semua kenyataan ini.
Renjun melepaskan pelukan Wendy, ia menggenggam erat tangan mungil Sarang dengan setengah jongkok sambil menatap sendu adiknya itu.
Renjun berusaha tetap memperlihatkan senyumannya, "Jangan nangis lagi ya!"
__ADS_1
Sarang mengangguk, lalu ia membiarkan Renjun menghapus air matanya dengan jemari hangat sang kakak.
"Sarang sayang sama Oppa," beritahu Sarang, kini genggaman tangannya semakin kuat.
"Oppa juga sayang sama kamu, tapi kamu janji gak bakal nangis lagi ya!" balas Renjun yang masih tetap tersenyum.
"Janji kok, Sarang janji gak nangis."
Renjun memberikan jempol tangannya di hadapan Sarang sebagai bentuk rewardnya pada sang adik, Lalu ia melirik pada Chanyeol dan Wendy sambil berdiri kembali, "Semua pasti baik-baik saja, kalian juga jangan nangis lagi ya!"
Chanyeol cuman mengangguk saja, tanpa mengatakan sepatah katapun dan disusul juga oleh Wendy yang hanya memperlihatkan senyuman paksa nya seraya bersandar dipelukan Chanyeol.
"Sarang, yuk kita main masak-masakan aja di kamar kamu!" ajak Renjun yang berusaha memperbaiki suasana hati Sarang, untungnya gadis kecil itu merasa senang diajak bermain oleh kakak laki-lakinya.
Ia mengangguk kegirangan dan senyumannya kembali terlihat saat itu juga yang membuat Renjun merasa lega.
"Ayo kita main, Oppa!" anaknya balik, Renjun cuman tersenyum saja dan mengikuti langkah mungil Sarang menuju kamar gadis kecil itu.
Setelah seharian bermain dengan sarang, Renjun akhirnya membersihkan diri dan kembali mengerjakan tugasnya seusai makan malam. Sepertinya tidak ada pembicaraan panjang dengan kedua orang tuanya sampai detik ini, bahkan Renjun sendiri juga sengaja mengelak dari pembicaraan dengan Wendy karena tidak mau membahas kembali topik suram tersebut.
Namun tetap saja ia tidak sepenuhnya bisa bersembunyi dari pembicaraan penting tersebut, karena tak menunggu waktu lama seusai menidurkan Sarang barulah Wendy menghampiri Renjun di kamarnya.
"Mami mau ngajak kamu buat membicarakan hal ini di Ruang Tamu, kamu ada waktu?" tanya Wendy, seperti biasanya Wendy dan Chanyeol selalu mengajarkan sikap meminta izin dan sopan kepada anaknya dimana ia tahu bahwa setiap anak ataupun orang tua sendiri pastilah punya kesibukan masing-masing, jadi bila salah satu diantara mereka ingin berbicara maka akan lebih baik meminta izin terlebih dahulu seperti yang dilakukan Wendy saat ini tanpa ada paksaan.
Renjun belum menjawab, cukup lama ia berpikir keras dalam rasa takutnya. Hingga akhirnya ia mengalah pada pantulan sendu dibalik mata Wendy yang membuatnya setuju untuk meluangkan waktu kepada Wendy.
"Baiklah," jawabnya singkat tanpa mengatakan kata lain lagi, lalu ia berdiri dan melewati Wendy begitu saja menuju Ruang Tamu.
Disana ia bisa melihat Chanyeol yang sudah menunggu seraya meneguk segelas kopi hangat, Renjun hanya duduk saja dibangku hadapan Chanyeol dan Wendy.
__ADS_1
Semuanya hanya saling beradu pandang tanpa berkata-kata sama sekali, sampai Wendy sendirilah yang memberikan pembukaan topik di tengah Ruang Tamu itu.
"Mami dan Papi sudah putuskan kalau lusa kita bakal ke Korea buat pengobatan kamu," tegas Wendy yang membuat Renjun terbelalak kesal.
"Kamu gak perlu khawatir, kita perginya berdua aja tapi nanti kalau libur baru Papi dan Sarang bakal nyusul dan Mami pastikan kalau kamu bakal sembuh sekali lagi seperti waktu itu!" sambung Wendy yang berusaha meyakinkan putranya.
"Lalu gimana pekerjaan Mami? Gimana kalau nanti Sarang rindu sama Mami?" tanya Renjun.
"Kalau pekerjaan sih gampang, kamu gak usah pikirkan. Dan kalau nanti adek kamu kangen, kan bisa lewat video call sih njun!"
"Aku gak mau kemana-mana lagi, kenapa gak berobat disini aja?" tanya Renjun yang sebenarnya menolak keinginan Wendy dan tidak percaya pada jawaban Mami nya barusan.
"Gak bisa dong, Njun. Mami pengennya kamu sembuh jadi butuh perawatan terbaik juga walaupun pengobatan itu mahal sekalipun, tapi kami bakal usahin kok jadi kamu nurut aja ya nak!" pinta Wendy.
Renjun mulai merasa tidak nyaman, ia sebenarnya tidak ingin melawan keinginan Wendy tetapi dilain sisi ia juga tidak mau mengikuti keinginan Wendy kali ini.
"Tapi aku lebih nyaman disini, Mami! Aku maunya di Indonesia, apa salahnya sih berobat di kota ini? Kan yang sakit itu aku, bukan Mami." Renjun kelepasan berbicara, ia mulai membuat Wendy tidak lagi santai saat duduk.
"Tolong jangan lawan Mami kali ini, kamu kan tahu kalau Mami gak mau kehilangan kamu!" tegas Wendy.
"Tapi aku juga udah nyaman tinggal disini, Mami. Aku juga udah punya teman yang baik dan mulai merasakan kehidupan yang menyenangkan!" tukas Renjun setengah berteriak, sampai membuat Wendy berdiri dari kursinya.
"Cukup, Renjun! Pokoknya kamu bakal ikut Mami berobat di luar negeri," bentak Wendy yang juga setengah berteriak.
Tentu saja, Renjun yang kini sudah memasuki usia remaja yang pubertas tak Terima atas paksaan Wendy. Ia juga ikutan berdiri dan lepas kendali untuk mengontrol perkataannya.
"Bisa gak sih sekali aja Mami berhenti mencuri kebahagiaanku? Bisa gak sih Mami berhenti membuatku menjadi tokoh antagonis didalam kehidupan orang lain?" tanyanya yang memperlihatkan urat lehernya timbul.
"Apa maksud kamu?" tanya Wendy yang sudah melotot pada putranya itu, sepertinya ia juga terkejut akan ucapan Renjun barusan.
__ADS_1
"Aku gak mau mencuri Mami lagi di kehidupannya Sarang, seperti waktu dulu aku seenaknya mencuri Mami dari kehidupannya Winwin Hyung! Tolong berhenti membuatku jadi Oppa yang jahat buat Sarang, tolong berhenti menganggap kalau anak Mami cuman aku aja hanya karena aku penyakitan kayak gini," celotehan Renjun yang membuat Maminya tertegun sejenak dan merasa sakit hati pada perkataan Renjun barusan.