My Cold Guardian Angel

My Cold Guardian Angel
11 | Berhasil Kabur


__ADS_3

"Keluar kalian semua! Tidak berguna!"


Kaca yang terpasang di jendela hampir saja pecah karena gelombang suara. Lorraine mengusir semua pengawal yang bertanggung jawab menjaga putrinya.


Andre duduk termenung di kursi sambil memijat kepalanya. Ia telah mengerahkan banyak orang untuk mencari putrinya. Pernikahan tinggal sebentar lagi, mereka tidak mau rencana hancur begitu saja.


"Seharusnya dari awal kita tidak perlu menyiksanya sampai ia kabur seperti ini. Bagaimana tanggapan Keluarga Hawk terutama calon suaminya jika melihat pengantin tidak datang?" gerutu Andre.


"Anak itu memang harus dididik dengan keras agar tidak membantah!" sahut Lorraine keras.


Kini kakak laki-laki Elisabeth terutama Erick—yang kedua tertua—duduk di dalam kamar utama. Keduanya ikut kena amarah orang tua mereka setelah kejadian itu.


"Memang gadis kecil pembangkang! Kita harus menangkapnya. Ia membuat suasana rumah ini menjadi berantakan," rutuk Will.


Erick menyeringai. Ia baru ingat satu hal. Dirinya termasuk orang yang banyak mengetahui hal mengenai Elisabeth, adiknya.


"Coba minta pengawal untuk pergi ke kediaman sahabatnya, Nika. Jika ia ditemukan, maka Ayah dan Ibu akan memberi banyak hadiah untuk kita," jelas Erick.

__ADS_1


"Bagus. Laksanakan," sahut Will.


Kedua pria itu berdiri dari tempat lalu keluar kamar untuk menghampiri pengawal mereka. Rencana pun dilakukan meski mereka tidak tahu di mana kediaman Nika. Menggunakan banyak koneksi dari orang kota, para pengawal menemukan alamatnya.


Matahari saat itu sanggup membakar kulit, menandakan bahwa hari sudah siang. Elisabeth telah bangun dari subuh, tidak nyaman meski berada di mansion sahabatnya.


"El. Sepertinya aku mendapat kabar baru dari mata-mata kediamanku. Pengawal keluargamu telah sampai di depan komplek mansionku," kata Nika.


Elisabeth mengerutkan keningnya. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan. Kopernya ia bawa, kakinya melangkah meninggalkan kamar. Namun, sebelum itu, ia menepuk bahu sahabatnya.


Nika tersenyum kecut. "Aku tidak bisa membantu banyak. Hanya bisa memastikan orang tuaku tidak mengetahui hal ini."


Pergilah Elisabeth dari sana, melewati pintu belakang rumah lalu menghilang ke dalam hutan. Kalau bisa, ia pergi sejauh mungkin dari kota itu, mencari tempat di mana ia bisa tinggal dan mengandalkan sisa harta terakhirnya.


Nika melihat dari jendela kamar, Elisabeth tak lagi tampak. Pergilah gadis itu menuruni tangga, membuka pintu luar mansion lalu berjalan dengan anggun menuju pintu gerbang. Para pengawal Kediaman Ellgyon telah sampai dan berniat untuk masuk.


"Maaf. Anda semua siapa dan ada urusan apa kemari?"

__ADS_1


Seluruh pengawal tersebut terkesima menatap nona muda keluarga itu. Nika adalah salah satu keluarga konglomerat di kota itu, namun karna letak mansion mereka yang sangat jauh dan terpelosok, keluarga mereka memiliki sebutan "Konglomerat Desa" dari masyarakat kota.


"Kami dari Keluarga Ellgyon, mendapat perintah dari Tuan Ellgyon agar Nona memberitahu kami letak Nona Muda kami."


Nika mengerutkan kening. "Nona Elisabeth? Bagaimana caraku mengetahui letaknya? Ponselnya saja tidak bisa dihubungi," jawab Nika dengan anggun.


Siang itu, ia membungkam mulut seluruh pengawal sampai mereka pulang tanpa hasil. Saat sore datang, Elisabeth telah sampai di kota lain yang berbatasan dengan jembatan panjang merah.


"Kakiku mau lepas rasanya!" seru Elisabeth. Ia lelah, peluh telah membasahi sekujur tubuhnya. Naasnya lagi, musim hujan belum berhenti.


Ia sampai di penghujung jembatan panjang, duduk di pinggir dan tak melihat insan sama sekali. Tidak takut diculik lagi, karena memang tidak ada siapa pun di sana. Duduklah gadis itu, membuka tasnya dan meminum seteguk air.


Ketiduran beberapa saat, Elisabeth menutupi dirinya dengan jaket besar yang Nika berikan padanya, mampu melindunginya jika hujan membasahinya. Namun gadis itu tidak sadar, jaket itu mulai jatuh ketika seseorang mengangkat tubuhnya.


"Tuan, Anda telah bekerja keras sendirian. Izinkan kami membawanya."


"Tidak perlu." Seorang pria menoleh sekilas. "Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhnya sampai hari pernikahan kami."

__ADS_1


__ADS_2