My Cold Guardian Angel

My Cold Guardian Angel
03 | Taktik Sederhana Untuk Kabur


__ADS_3

Mobil mewah berwarna hitam mengkilap sudah menunggu Elisabeth untuk menjemputnya, seorang supir pria membukakannya pintu layaknya seorang supir, meski sengir senyum menyeramkan pada wajahnya juga samar-samar terlihat.


Tidak ada siapa pun di rumah itu yang dapat dipercaya oleh Elisabeth, mereka semua hanya melakukan tugas mereka tanpa mengasihani gadis yang sudah cukup menderita itu.


"Selamat pagi, Nona. Semoga anda sehat selalu," sapanya seperti biasa. Mobil melaju menuju ke luar komplek perumahan mewah dari keluarga Ellgyon. Elisabeth menatap ke arah keluar jendela mobil, berpikir untuk mencari ancang-ancang kabur.


Supir itu menaikkan kaca yang ada di depannya, menatap nona muda yang duduk di kursi penumpang. Elisabeth tak pernah ingin duduk di kursi sebelah pengemudi, ia tak ingin disentuh oleh pria jahanam itu sekalipun.


Hari ini aku harus benar-benar kabur, aku akan mencari jalan keluar meski harus mempertaruhkan nyawaku, pikir gadis itu dalam hatinya.


Meski mustahil baginya untuk membebaskan diri karna banyaknya pengawal yang menyertainya ke sekolah, setidaknya gadis itu masih memiliki seorang teman yang dapat membantunya.

__ADS_1


Brum.


Mobil berhenti tepat di gerbang sekolah yang masih sepi dan baru didatangi beberapa murid, supir membukakan pintu dan para pengawal berjaga di jalan masuk. Elisabeth turun dari mobil dan berjalan memasuki halaman sekolahnya.


"Itu Nona Muda Keluarga Ellgyon! Sambut dia!" seru salah seorang guru kepada beberapa murid yang baru saja datang. Semuanya menunduk, menunjukkan rutinitas kepada seorang dari keluarga yang diinginkan oleh semua orang.


Tidak bagi Elisabeth yang ingin segera meninggalkan dan mencabut nama keluarga yang ada pada dirinya, gadis itu terus berjalan cepat hingga menjauhi kawanan pengawal yang mengikutinya.


Cih, di mana Nika? pikir gadis itu dalam hatinya. Ia mencari sahabat karibnya yang biasanya juga datang sepagi ia datang hari ini. Tak disangka, pengawalnya terus mengikutinya di mana pun ia berada.


Hingga salah satu pengawal membalas permintaannya, "Maaf, Nona. Kami harus menjaga anda agar anda tidak berusaha untuk kabur lagi."

__ADS_1


Ini gila, sudah benar-benar gila. Gadis itu harus menggunakan otak cerdasnya saat ini. Seketika bohlam muncul di atas kepalanya, ia menatap sinis semua pengawal itu.


"Apakah kalian juga akan mengikutiku sampai ke kamar kecil?!" seru gadis itu keras-keras hingga didengarkan oleh beberapa murid yang lalu lalang di sana.


Mendengar hal itu, mereka semua berbisik satu sama lain hingga menjatuhkan nama baik para pengawal itu jika mereka tetap berada di sana.


Untung saja semua pengawal di rumahku itu adalah seorang pria, kikik Elisabeth dalam hatinya. Mereka semua pun mengikutinya sampai ke depan kamar kecil saja hingga gadis itu masuk.


Naasnya, gadis itu tak diberi ponsel sama sekali oleh keluarganya agar tidak berusaha untuk kabur. Ia harus mencari cara sendiri. Jendela yang sangat tinggi itu dilihatnya, gadis itu melepas kedua sepatu beratnya dan memasukkannya ke dalam tas.


Ia menaiki kloset, mencoba melompat beberapa kali hingga menjangkau jendela dan keluar dari sana. Setelah berhasil keluar, berlarilah gadis itu meninggalkan ruang utama sekolah dan keluar dari halaman sekolah.

__ADS_1


Akhirnya! Akhirnya aku berhasil! seru gadis itu dalam hatinya ketika melihat pengawalnya kebingungan mencarinya di dalam kamar kecil. Ia mengeluarkan jaket hoodie yang berada di dalam tasnya dan mengenakannya.


"Kalian tidak akan menjatuhkan nama baik keluarga dengan mengumumkan berita kehilanganku di sekolah, bukan? Berusahalah sendiri," cibir gadis itu puas.


__ADS_2