My Cold Guardian Angel

My Cold Guardian Angel
12 | Air Mata Seorang Pemberani


__ADS_3

Elisabeth hampir lupa cara bernapas ketika ia begitu terkejut malam ini. Dirinya tidak berada di jembatan sepi yang panjang itu. Tubuhnya saat ini ditutupi oleh jaket miliknya, namun berbeda pakaian.


Bangkitlah gadis itu, ia melihat ke sekelilingnya, matanya seperti buta karena berada di sebuah ruangan yang gelap.


"I-Ini ... sebuah kamar?" gumam Elisabeth. Ia beranjak dari kasur, namun kakinya lemas hingga membuatnya terjatuh ke lantai.


"Kau akan cacat jika tidak membiarkan kakimu beristirahat."


Deg!


Elisabeth seperti diguncang gempa ketika mendengar suara itu. Ia terkejut, suara seorang pria, membuatnya mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


"Kau?!" seru Elisabeth.


"Iya aku," sahut pria itu.


Rasanya ingin melempar bantal ke wajah pria tampan itu. Wajah rupawannya menjadi kebencian Elisabeth setelah ia memilih untuk melupakan pria itu.

__ADS_1


"Di mana ini? Ini bukan rumahku. Aku kira kau akan membawaku pulang lagi," ketus Elisabeth. Pria ini sangat lihai menemukanku. Sepertinya ia adalah pengawal dengan bayaran termahal, batin gadis itu.


"Memang bukan rumahmu." Pria itu maju, mendekatkan wajahnya hingga Elisabeth terbuai oleh ketampanannya. "Ini adalah rumahku," jawabnya.


"Lalu apa lagi yang kau inginkan? Kita sudah sepakat untuk tidak bertemu lagi, bukan?" ketus Elisabeth.


Pria itu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak menautkan jari kelingkingku sama sekali ketika kita sepakat."


Elisabeth membelalakkan matanya. Sepakat bukanlah janji, namun ia tak dapat melawan adu mulut pria ini. "Maksudmu kau hanya bercanda?!"


"Aku tidak pernah bercanda."


Grep!


"Kya! Turunkan aku!" seru Elisabeth. Ia memukul keras tubuh kekar pria itu, hingga dirinya dijatuhkan ke atas kasur kembali. "Aku benar-benar membencimu," geram gadis itu.


"Aku tidak peduli dengan perasaanmu padaku. Yang penting, aku tidak membawamu kembali ke rumah itu," sahut pria itu.

__ADS_1


Elisabeth mengerutkan keningnya. Mendengar ucapan pria itu, masuk akal juga pikirnya. Kesepakatan itu ternyata berguna, pria itu tetap menculiknya, namun kali ini tak membawanya pulang.


"Tunggu." Elisabeth meraih tangan pria itu. "Kau menculikku untuk sebuah alasan. Untuk apa kau melakukan ini?" tanya Elisabeth.


Raut wajah tak yakin itu berhasil membungkam mulut pria yang ada di hadapannya. Kamar yang gelap itu menjadi sepi selama beberapa saat, ketika kedua insan itu saling menatap.


Sepertinya memang tidak perlu disembunyikan lagi, bukan? pikir pria yang ada di hadapannya itu.


"Mengapa diam saja? Aku sedang bertanya," ketus Elisabeth. "Kumohon, aku sudah lelah akan semua hal ini," lanjutnya.


Gadis tegar yang pemberani di depan matanya kini mengeluarkan air mata. Baru saja ulang tahun ke-17 kemarin, namun sampai hari ini air mata yang keluar bukan air mata kebahagiaan.


Pria yang begitu dibenci Elisabeth kini mengusap air matanya. Gadis itu nyaris menghinanya gila, namun ia tak dapat menolak pesona pria itu. Sepertinya akal sehatnya telah rusak.


"Kau adalah milikku. Itulah mengapa aku membawamu ke sisiku."


Elisabeth menatap kosong, pikirannya berantakan hingga tidak dapat mencerna kata-kata pria yang selalu membuatnya naik darah. Ia menunduk, menatap tangan kekar berurat yang tadi baru saja mengusap air mata di wajahnya.

__ADS_1


"Milikmu?"


"Kau adalah pengantinku, Elisabeth Naviona Ellgyon."


__ADS_2