My Cold Guardian Angel

My Cold Guardian Angel
This is The Day (2)


__ADS_3

Saat aku, Zack, dan Eliza kembali ke taman, teman-teman menyapa Zack.


"Hai Zack, lama tak jumpa," sapa Marlon lalu menepuk pundaknya.


Lalu Zack merespon Erick dan menyapanya balik, "Iya, sudah 3 tahun ya."


Setelah kami bertiga sampai di taman Marlon membawa Zack dan Mirzeta pergi ke ruang makan untuk mengambil makanan ringan, akhirnya di taman tersisa aku, Eliza, Jessica, Leo dan Orlando.


"Ini sudah pukul berapa?" tanya Orlando.


Lalu Leo melihat jam tangannya dan menjawab, "Pukul setengah 9, mau ke stadion?"


"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Jessica.


"Aku dan Eliza akan mencari Nika dan Marlon, apakah kalian bisa menyusul Erick dan Mirzeta?" usulku.


"Bisa, kami akan segera menyusul mereka," balas Leo.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Ayo Eliza, kita harus menjemput Sayla dan Ocha juga," ucapku lalu pergi bersama Eliza.


Lalu saat aku sampai di halaman belakang sekolah kami, aku melihat bahwa Nika dan Marlon sedang mengambil gambar bersama.


"Hey, kalian. Sekarang sudah pukul setengah 9, kalian pergi ke theater sekarang," pintaku.


"Benarkah? Cepat sekali, aku baru saja mengambil 5 foto," balas Nika.


"5 foto itu banyak, sayang. Mari ke theater sekarang," ajak Marlon kepada Nika.


"Huftt.. baiklah," jawab Nika.


Lalu Nika dan Marlon pergi ke Theater sekolah kami.


Aku dan Eliza pergi menunggu Sayla dan Ocha di taman, tak lama kemudian mereka datang.


"Hai Elis! Lama tak berjumpa! Aku merindukanmu," seru Sayla lalu memelukku.


"Hai, aku juga merindukanmu, bagaimana kabarmu? Kau juga Ocha?" balasku.


"Kami baik, ayo masuk! Aku tidak sabar melihat tempat pestanya!" ajak Ocha.


"Baik," balasku lalu masuk ke theater.


Sementara di sisi Jessica, Leo dan Orlando.


"Teman-teman, ini sudah pukul setengah 9. Mari pergi ke theater," ajak Leo.


"Oh, benarkah? Baiklah, aku sudah membawa 10 makanan ringan untuk kalian," balas Erick.


"Banyak sekali, apakah ada kentang?" tanya Jessica menghampiri Erick.


"Iya ada, tenang saja," jawab Erick.


"Mari pergi ke theater sekarang," ajak Mirzeta.


"Baik," jawab Leo, Jessica, Erick, dan Orlando.


Lalu akhirnya mereka berlima pergi ke theater.


Sesampainya di theater.


"Wah, semuanya sudah sampai, silahkan duduk terlebih dahulu. Aku hendak mencari kedua orangtuaku," pintaku.


"Elis, aku akan ikut bersamamu," pinta Nika.


"Baiklah, ayo," balasku.


Lalu aku dan Nika pergi ke gerbang sekolah untuk menunggu orang tuaku datang.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian kami berdua sampai di gerbang sekolah, aku melihat kedua orang tuaku turun dari mobil. Aku melihat sudah ada beberapa hadirin pesta yang datang.


"Ayah, Ibu!" panggilku kepada Ayah dan Ibuku.


"Elis, sayang. Apakah Ibu dan Ayah terlambat?" tanya Ibu menghampiriku lalu mencium pipiku karena rindu.


"Tidak, bu. Acaranya masih pukul setengah 10, mari aku antar ke theater," jawabku kepada Ibuku.


"Baiklah, ayo pergi kesana," ajak Ibuku kepada Ayahku yang masih berbicara kepada sopir.


Lalu aku, Nika dan kedua orang tuaku pergi ke theater.


Saat aku kembali ke theater aku mengantar kedua orang tuaku ke tempat duduk mereka lalu menghampiri teman-temanku.


"Sudah ada beberapa orang yang datang diluar," kataku kepada teman-temanku.


"Wah, pukul segini sudah ramai ya?" ucap Mirzeta.


"Iya, namanya juga pesta besar-besaran," balas Erick.


"Perdana menteri pasti datangnya paling terakhir supaya tidak terlalu ramai," ujar Nika.


"Iya, apakah kau mau bertemu dengan Ellyon yang kau bilang tampan itu?" tanyaku.


"Wah, aku sangat menunggunya!" seru Nika kepadaku.


Marlon yang cemburu langsung berkata, "Kau sudah lupa dengan pacarmu, ya?"


"Sayang, dia hanya idolaku. Di hatiku tetap kamu yang nomor 1!" seru Nika.


Kemudian Marlon tertawa salah tingkah lalu mengacak-ngacak rambut Nika.


"Ihh, rambutku berantakan! Untung saja rambutku pendek," seru Nika mengamuk.


Aku yang risih melihat kemesraan mereka berdua pun berkata, "Halo, ini masih dalam lingkungan sekolah. Jika ada guru yang melihat kemesraan kalian, kalian ingin dipisahkan?"


Kami semua pun tertawa.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9. Banyak hadirin pesta yang sudah memasuki theater sekolahku yang berada di sebelah stadion.


Roman-romannya bahwa pesta hendak sangat meriah hari ini sudah tercium dengan tajam.


Semua orang yang hadir menggunakan pakaian pesta yang indah dan mempesona. Gaun dan setelah jas yang mewah terlihat dari semua hadirin yang datang.


"Pakaian mereka semua sangat indah, ya?" puji Eliza.


"Iya, sangat menakjubkan!" balasku.


Lalu aku berpikir dalam hati. Apakah ini acara terakhir sebelum kejadian yang akan menimpaku 2 tahun kemudian jika itu benar terjadi?


"Hey, Elis. Mengapa kau melamun? Mari kita mengambil gambar bersama!" ajak Nika.


Nika telah mengundang photografer nya untuk mengabadikan foto agar tak terlupakan.


Akhirnya kami semua mengambil gambar bersama.


"1....2....3... say cheese !" ucap Photografer itu


"Cheese !" kata kami semua.


Ckrek....


Polaroidnya pun keluar dan dicetak 10 kali.


"Nih, silahkan disimpan untuk kenang-kenangan," ucap Nika lalu membagi-bagikannya kepada kami semua.


"Wah, terimakasih cantik!" sahut Mirzeta.

__ADS_1


"Sama-sama," jawab Nika.


Kami pun duduk kembali lalu berbincang-bincang satu sama lain.


Tak lama kemudian waktu sudah menunjukkan pukul setengah 10 pagi. Pembaca acara pun naik ke panggung lalu menyapa kami semua.


"Selamat pagi hadirin yang kami kasihi!" sapa pembawa acara pesta sekolahku.


Kami semua pun menyapa balik dengan tepuk tangan yang meriah.


"Hadirin yang kami hormati, sebentar lagi acara ini akan segera dimulai. Kami akan diberi sambutan meriah oleh sambutan dari perdana menteri kerajaan Karstha yaitu Duke Elson!" ucap pembaca acara kedua.


Kami pun bertepuk tangan kembali lalu menunggu kedatangan perdana menteri.


Tak lama kemudian perdana menteri kerajaan Karstha datang naik ke panggung untuk memberi sambutan lalu semua hadirin pesta bertepuk tangan.


"Selamat pagi hadirin yang saya hormati, selamat pagi murid-murid. Senang sekali bisa bertemu dengan hadirin sekalian. Saya Duke Elson sangat berterimakasih kepada sekolah kalian tercinta ini karena telah mengundang saya untuk bekerja sama dengan sekolah kalian. Hari ini, kami semua akan bersenang-senang bersama dalam pesta perjamuan yang special ini!" sambutan Duke Elson.


Semua hadirin pun bersorak dan bertepuk tangan. Setelah sambutan pun pesta dijamu dengan tampilan-tampilan talenta dari murid-murid sekolah kami. Dari nyanyian, tarian, indahnya drama musikal dan puisi semuanya disajikan oleh murid-murid sekolahku.


Tak terasa sudah menunjukkan pukul setengah 12 pagi, sudah menunjukkan waktu untuk makan bersama.


Semua makanan disajikan oleh makanan hotel ternama di negara Fristoza yaitu Hotel Del Efrata.


Kami semua pun menyantap makanan dengan lahap sambil mendengarkan alunan biola yang dimainkan oleh pemain biola terkenal negara kami.


"Tak terasa pesta hari ini sangat meriah, ya?" kataku.


"Iya, sangat menakjubkan! Tapi kita belum melihat anak dari perdana menteri itu ya?" kata Orlando.


"Ellyon? Mungkin dia keluar saat terakhir-terakhir," ucap Eliza.


"Mari kita lihat setampan apa wajahnya itu," sahut Marlon yang masih sedikit cemburu.


"Iya!" balas Nika tanpa mengetahui bahwa Marlon sedang cemburu.


"El, katanya kerajaan perdana menteri Duke Elson itu mempunyai keturunan dari Kaisar Agus yang berasal dari China itu!" ucap Mirzeta.


Saat aku mendengarnya aku terkejut. Kekaisaran China? Kaisar Agus? Aku akrab sekali dengan ini semua, batinku.


"Benarkah?" tanyaku kepada Mirzeta.


"Mereka mempunyai darah keturunan yang sama," sahut Leo.


"Wah,keren! Pasti Ellyon juga memiliki keturunan China!" ujar Nika.


Lalu tiba-tiba kepalaku terasa pusing.


"Elis, ada apa denganmu?" tanya Jessica yang melihatku karena aku memegang kepalaku.


"Aku sedikit pusing," jawabku.


"Apakah kau sakit? Mari kita pergi ke UKS ya?" ajak Nika.


"Tidak usah, aku hanya perlu mengambil obatku di kamar," ucapku.


"Baiklah, aku akan mengantarmu," ujar Eliza dan Nika.


Lalu Eliza dan Nika mengantarku ke kamar.


Saat perjalanan ke kamar, aku dan teman-temanku bertemu dengan seorang pria mengenakan pakaian seperti pakaian kerajaan.


"Selamat pagi," sapa Eliza dan Nika kepada pria itu.


Pria itu hanya melewati kita.


"Eh? Mengapa ia hanya melewati kita? Sangat tidak sopan," ucap Nika.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Eliza.


__ADS_2