My Cold Guardian Angel

My Cold Guardian Angel
Bertemu Dengannya Lagi


__ADS_3

Setelah aku selesai makan,nika dan Eliza mengajakku ke Ruang Serbaguna di sekolahku untuk melakukan pertemuan antar murid Elite.


"Ayo masuk sekarang,kamu akan disuruh berpidato di panggung oleh Bu Desyana," kata Nika.


"Aku? Berpidato?" tanyaku.


"Iya,kamu kan pemimpin acara ini sekaligus bendahara keuangan," kata Eliza.


"Baiklah," jawabku.


Tak lama kemudian aku,Nika dan Eliza masuk ke Ruang Serbaguna.


Semua anak-anak sudah duduk berbaris dan tertata rapi,dengan total 200 anak Elite yang menghadiri acara pertemuan ini.


"Silahkan," kata salah satu penyambut yang mengarahkanku,Nika dan Eliza untuk duduk di barisan terdepan.


Ibu Potisa selaku sesi acara pun membuka percakapannya.


"Selamat siang anak-anakku terkasih,hari ini kita akan mengadakan acara pertemuan untuk membahas acara pesta yang akan diselenggarakan 2 hari lagi."


"Elisabeth silahkan naik ke panggung," pinta Bu Potisa yamg meminta aba-aba agar aku segera naik ke panggung untuk berpidato.


Saat aku hendak naik ke panggung semua murid bertepuk tangan.


Di panggung pun aku menyampaikan pidato mengenai informasi,jadwal dan acara yang akan terjadi menjelang 2 hari lagi.


Saat di tengah pidato aku melihat seseorang duduk paling belakang mengenakan baju berwarna putih. Dia seperti seorang pria.


Mengapa ia tidak mengenakan seragam sekolah? pikirku.


Dia melambaikan tangannya lalu tersenyum denganku.


Oh,dia Jason. Iya Jason, si 'hantu' itu.


Dia terus melihatku dan tersenyum kepadaku dari awal aku berpidato sampai akhir pidato.


Aku hanya bisa tertawa di dalam hati.


Tak lama kemudian pidatoku selesai dan aku diperkenankan turun dari panggung.


Aku langsung kembali duduk ke tempat dudukku semula


"Hey,Aku baru tahu jika Elisabeth pintar berpidato," kata Nika menghinaku.


"Jangan menghina," kata Eliza dingin.


"Iya,maaf hehe," kata Nika.


Saat aku sudah duduk aku menoleh ke belakang.


Tidak ada Jason dan tempat duduknya.


Cukup menakutkan.


2 jam berlalu,akhirnya acara pertemuan ini selesai.


Sudah menunjukkan pukul 2 siang,merupakan waktunya kami semua untuk istirahat.


Aku memilih untuk kembali ke kamar untuk istirahat karna aku letih setelah melakukan kegiatan hari ini.


Dari menjenguk Jessica,meminta Leo menjenguk Jessica,sampai biang masalah nya yaitu pertengkaran Jessica dan Leo,dan ditutup dengan acara pertemuan.


Sungguh memusingkan,rasanya aku ingin tidur sampai malam.


"Hey,kau terlihat letih sekali. Sebenarnya apa yang kau lakukan saat jam makan siang tadi?" tanya Nika.


"Iya,benar. Apa yang kau lakukan?" tanya Eliza.


"Aku meminta Leo menjenguk Jessica," jawabku.


"Lalu?" keduanya serentak menanyakan jawaban.


"Tidak jadi,ah. Disini ada biang gossip," kataku menyinggung Nika.

__ADS_1


"Haizh,tidak seru nih,pergilah Nika," kata Eliza menyuruh Nika pergi.


"Mengapa aku? Aku berjanji tidak akan memberi tahu siapapun,deh," kata Nika.


"Tidak mau,ah," kataku.


Lalu Nika menyodorkan jari kelingkingnya kepadaku seolah olah menunjukkan kalau dia berjanji.


"Aku janji," kata Nika.


"Baiklah," jawabku pasrah.


Lalu aku menceritakan keadaanya secara lengkap kepada Eliza dan Nika.


"Terjadi pertengkaran antara Jessica dan Leo," kataku.


"Lalu?" keduanya serentak.


"Leo menolak cinta Jessica karena mereka hanya sebatas hubungan bisnis," lanjutku.


"Astaga menyakitkan,kasihan Jessica," kata Nika.


"Apa yang kurang dari Jessica? Ia cantik,baik,pintar,dan banyak lagi! Dia tidak memiliki kekuarangan sekecil pun!" sambung Nika.


"Kata Leo karena Jessica tidak cerdik," ujarku.


"Tidak cerdik? Hm,kita juga tidak tahu Jessica cerdik atau tidak," ucap Eliza.


"Tetapi masa jika tidak cerdik saja membuat Leo tidak menyukainya?" tanya Nika.


"Aku tidak tahu. Cinta itu tidak dapat dipaksakan," ucapku.


"Benar,tidak ada salahnya sih jika Leo menolak cinta Jessica,tetapi masa Leo tidak mengerti perasaan sedih Jessica?" tanya Nika.


"Benar.. kasihan Jessica," jawabku.


Tak lama 1 jam berlalu aku sudah menyelesaikan semua ceritaku.


Aku hanya bisa menertawakan mereka di dalam hati lalu pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajuku.


Tak lama kemudian aku kembali ke kasurku untuk tidur.


Saat aku kembali ke kasurku untuk Tidur aku terkejut melihat Jason yang sedang duduk di atas kasurku.


"Ahh!" teriakku terkejut.


Lalu Jason menutup mulutku karena dia menyadari bahwa dikamar ini tidak hanya ada aku dikamar tetapi ada Nika dan Eliza.


"Hmmph!" gumamku berteriak karena Jason menutup mulutku.


Lalu Jason menyingkirkan tangannya dari mulutku.


"Apa yang kau lakukan di kasurku?!" bisikku marah kepada Jason


Jason tersenyum tertawa melihatku marah.


"Kau lucu saat marah," ucap Jason sembari mengelus pipiku lembut.


Mukaku langsung memerah.


Plakk. Aku memukul tangan Jason.


"Jangan pegang-pegang!" kataku kepada Jason.


Jason tertawa melihat mukaku memerah.


Lalu dengan cepat Jason menarikku ke kasur.


"Apa yang kau lakukan?!" teriakku dalam bisikan.


"Nika terbangun," kata Jason.


Tak lama aku mendengar suara langkah Nika menuju depan kamarku.

__ADS_1


"Elisabeth? Apakah kau masih bangun?" tanya Nika.


"....." aku dan Jason terdiam seolah olah aku sudah tertidur.


"Sudah tidur,ya? Baiklah," kata Nika kembali lagi ke kasurnya.


"Hooff.. untung tidak ketahuan," kataku.


Tak sadar aku berada di pelukan Jason. Jason tersenyum puas karena sudah memelukku.


"Hey," ucapku sambil mendorong Jason agar terlepas dari pelukannya.


"Kau mengambil keuntungan dalam kesulitan ya?" tanyaku marah.


"Tidak,aku hanya ingin menyelamatkanmu," kata Jason.


"Dari apa?" tanyaku heran.


"Jika temanmu tahu bahwa kamu berbicara sendiri kamu akan dinggap gila," kata Jason.


"......" aku diam tidak dapat berkata-kata.


Aku baru teringat bila teman-temanku tidak dapat melihat Jason.


Lalu Jason turun dari kasurku.


"Istirahatlah," kata Jason.


"Tunggu,mau kemana kau?" tanyaku.


"Aku tidak kemana-mana kok. Tetap disisimu,nanti jika aku pergi kamu rindu," gombal nya.


"Hih,gombal,aku tidak akan merindukanmu," kataku kesal.


"Sungguh?" tanya Jason.


Lalu tiba-tiba jantungku berdetak kencang seolah perkataanku membohongi kata hatiku.


"....." aku terdiam tidak menjawab Jason.


Lalu Jason meringis tertawa.


"Sampai jumpa lagi," kata Jason.


"Jangan tiba-tiba muncul lagi kau," kataku kesal.


"Jika aku muncul dengan memberitahumu bukan kejutan jadinya," katanya.


"...."


"Mengapa diam saja? Mengapa tidak marah?" canda Jason lalu menertawakanku


"Jika aku marah terus nanti aku akan tua," ucapku kesal.


"Baiklah,aku akan pergi. Sampai jumpa," pamit Jason.


"Sampai jumpa," kataku mengakiri percakapanku dengan Jason.


Akhirnya Jason meninggalkanku pergi lalu aku tertidur pulas.


Saat aku tertidur pulas ternyata Jason masih ada di kamarku.


Ia kembali lalu duduk di tepi kasurku saat aku tertidur.


"Manis..." ucapnya lalu mengelus rambutku.


Aku masih tertidur pulas dan tidak menyadari keberadaannya disebelahku yang sedang mengelus rambutku.


"Mengapa kau selalu memanggilku hantu? Apakah karena kemunculanku lalu kepergianku yang mengejutkan?" tanya Jason kepadaku.


Aku masih tertidur pulas dan tidak mendengar apa yang dia katakan.


"Bagaimana jika aku menjadi malaikatmu?"

__ADS_1


__ADS_2