
Hiruk pikuk para pengawal menjadi saksi bisu dunia, mereka semua panik berlarian mencari nona muda mereka hingga ke luar dari sekolah. Semua jejak tak ditemukan, terlebih setelah tak lama setelah itu hujan turun.
Sudah seperti apa yang telah didoakan, para pengawal pun memutuskan untuk datang ke ruang kepala sekolah dan mengambil tindakan lebih jauh. "Cari Nona kami di sekitar sekolah dan kami akan memberikan imbalan kepadamu. Jika berani membeberkan informasi ini, leher kalian akan patah," titah salah satu di antara mereka.
Tak ada yang berani, para pengawal pun keluar dari sekolah untuk mencari nona mereka dari luar lingkungan sekolah. Mereka semua tidak tahu bahwa nona mereka kini berada di tempat di mana semua orang tak menjangkaunya.
...♡♡♡...
Elisabeth melangkah menjauh dari lorong tempat di mana ia singgah sementara, ia mendatangi supermarket terdekat yang ada di sekelilingnya dan membeli makanan dengan beberapa uang yang ia bawa.
Tak boleh ada yang tahu bahwa dirinya sedang kabur, jika tidak berita akan dirinya akan tersiar hingga memudahkan pengawalnya menemukannya.
__ADS_1
Hingga waktu terus berjalan, sore hari telah datang setelah 10 jam kaburnya gadis itu. Ia elah sampai di sebuah taman yang gelap. Ia duduk di bangku kosong yang ada di sana, lampu pun tak menerangi jalan setapak tempat lalu lalang yang ada di sana.
Hawa menjadi semakin dingin, Elisabeth bahkan dapat merasakannya meski telah mengenakan jaketnya. Ia membawa pigura foto itu di tangannya, menangis dan menatap ke sekelilingnya.
Betapa bodohnya dirinya dengan kabur tanpa berpikir hendak pergi ke mana. Mencari tujuan di mana ia akan tinggal selanjutnya akan membahayakannya selagi seluruh orang mengenalnya di kota ini.
Dunia bahkan bertanya, mengapa kau tak pergi dan tinggal di rumah sahabatmu saja? Gadis itu pasti menolak di dalam hatinya, tak ingin melibatkan sahabatnya itu dan mengekspos kehidupannya yang ternyata begitu menderita.
"Aku harus pergi," gumamnya sebelum berdiri. Ia menghentakkan kakinya yang masih tak beralaskan sepatu dan berjalan menjauhi taman.
Hawa menjadi semakin dingin, terasa bahwa sesuatu mencekam datang dari arah belakang ke arahnya. Begitu gelap, tak sanggup melihat apa pun hingga ia berlari sembari membawa tasnya yang berat.
__ADS_1
"Hosh ... hosh ... hosh ...."
Ternyata ada sesosok bayangan yang mengejarnya, ini pasti adalah kali kedua dia akan gagal untuk kabur lagi seperti yang terakhir kalinya. Frustasi, takut, terkekang.
Gadis itu menghentakkan kakinya begitu cepat untuk kabur. Mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari sejauh mungkin, pandangannya lurus ke depan.
Nafasnya sudah hampir habis, ia kesulitan mencari jalan lain untuk kabur hingga bayangan itu menangkapnya dari belakang dengan mengalungkan tangannya mengelilingi tubuh kecil gadis itu.
Grep.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" serunya bersikeras meminta dilepaskan. Air matanya tak dapat dibendung lagi, mengalir dari porosnya dengan deras, berusaha melakukan segala pukulan agar dilepaskan. Ia merasa putus asa, tenaganya tak cukup kuat untuk melawan.
__ADS_1
Tak ada balasan apa pun dari pihak yang berlawanan, ia hanya mengangkat tubuh gadis itu dengan ringan tanpa adanya beban dan membawanya pergi dari lorong sempit. Tubuh tinggi dan kekarnya menyaingi tubuh kecil nan ramping gadis itu.