
Saat aku dan Eliza sampai di ruang makan Nika berkata.
"Kalian lama sekali, aku menunggu kalian sampai lumutan," ucap Nika kesal.
"Maafkan kami, hehe," pinta maafku.
"Lain kali jangan begini lagi, aku sendirian seperti orang aneh disini," sahut Nika.
"Iya,iya. Maaf," balas Eliza lalu mengulus kasar rambut Nika hingga berantakan.
"Ihhh, rambutku!" seru Nika membetulkan rambutnya.
Kemudian kami bertiga tertawa lalu aku mengajak Eliza untuk makan.
"Ayo makan," ajakku lalu memberikan makanan pada Eliza.
"Baik, terimakasih," balas Eliza lalu makan.
Akhirnya kami berdua pun makan, sedangkan Nika menunggu kami dengan bosan.
"Cepatlah, aku bosan," pinta Nika.
"Iya. Jika cepat-cepat nanti tersedak, apakah kamu mau tanggung jawab jika terjadi apa-apa?" balasku lalu tertawa.
"Tidak. Pokoknya cepatlah," pinta Nika.
Tak lama kemudian kami sudah selesai makan, aku pun meminta Nika dan Eliza untuk kembali ke kamar.
"Mari kembali ke kamar. Aku hendak menelepon orang tuaku, sekalian memilih baju untuk pesta besok," ajakku.
"Baiklah," jawab Nika dan Eliza.
Lalu kami pun kembali ke kamar kami.
Saat sampai di kamar.
Cklek...
Kami pun masuk ke kamar.
"Aku akan menelepon orang tuaku, jangan berisik," kataku kepada Nika karena biasanya Nika suka berisik.
"Baiklah!" seru Nika.
Tut.... tut... tut...
📞Elisabeth : Hai, Ibu.
☎Ibu : Hai, nak. Ada apa?
📞Elisabeth : Aku hanya ingin mengingatkan Ibu bahwa besok adalah hari pesta dimulai. Apakah Ibu mau aku meminta sopir untuk menjemput Ibu?
☎Ibu : Oh, iya. Ibu hampir saja lupa. Kamu kabari saja Zack nanti Ibu dan Ayah akan pergi sendiri.
📞Elisabeth : Aku tidak pergi bersama Zack, aku bersama Orlando.
☎Ibu : Apa yang terjadi? Bukankah kau berkata bahwa kau akan pergi bersamanya?
📞Elisabeth : Tidak, Zack bersama Eliza.
☎Ibu : Oh, baiklah. Jangan lupa kenakan gaun berwarna putih ya supaya kita bisa kembaran.
📞Elisabeth : Iya, aku tidak akan melupakannya.
☎Ibu : Istirahatlah. Ini sudah malam.
📞Elisabeth : Baiklah, selamat malam, bu.
☎Ibu : Selamat malam, nak.
Tut....
Ibu pun menutup panggilannya.
__ADS_1
"Sudah selesai?" tanya Nika yang sedang mencari baju untuk dikenakan saat pesta.
"Iya, sudah," jawabku lalu pergi ke ruangan rias.
"Gaun apa yang akan kau kenakan?" tanya Eliza.
"Mungkin gaun putih ini," jawabku sambil menunjuk gaun putih yang ada di dalam lemariku.
"Boleh juga, gaun ini memang cocok untuk pesta," balas Eliza memuji gaunku.
"Wah, gaun ini sangat cantik! Berapa harganya?" puji Nika menyinggung harga.
"Mungkin kau bisa membayar sekolah 1 bulan tambah uang jajanmu sebulan," jawab Eliza tertawa.
"Eh? 5 juta? 7 juta?" tanya Nika heran.
"10 juta," jawabku bangga.
"Astaga, memang setara sih dengan harganya. Gaun ini sangat elegan," balas Nika sambil melihat-lihat gaun itu.
Setelah kami repot memikirkan gaun apa yang hendak kami pakai akhirnya kami pun istirahat.
Besok adalah harinya. Semoga berjalan lancar, amin, batinku.
Pagi datang, kicauan burung membangunkanku.
Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, aku terbangun untuk bersiap dan membangunkan teman-temanku yang masih tertidur.
"Bangun, ayo siap-siap," kataku membangunkan Eliza.
"Baiklah," jawab Eliza lalu bangun.
Saat aku masuk ke kamar Nika, aku melihat bahwa Nika sudah bangun sendiri lalu aku terkejut dan berkata, "Wah, orang yang paling susah aku bangunkan bahkan sudah bangun sendiri."
"Iya, dong. Aku sangat bersemangat!" seru Nika lalu berdiri.
"Baiklah, girls. Mari kita tunjukkan pesona kita hari ini," ucapku.
Kami pun merias diri kami secantik mungkin, semua murid diberi waktu 1 jam untuk merias diri. Pesta dimulai pukul 10 pagi, sambutan dimulai pukul setengah 10 pagi.
Semua panitia meminta kami berkumpul di theater sekolah pukul 9 pagi dimana tempat itu merupakan tempat pesta kami.
"Kita masih memiliki waktu 2 jam bukan? Mari kita pergi ke taman nanti! Aku sudah janjian dengan Marlon," ajak Nika.
Lalu aku berpikir, jika ada Marlon disana bukankah ada Leo juga?
"Boleh, aku minta janjian dengan Orlando juga," balasku.
"Eliza, aku akan mengabari Zack," kataku menepuk pundak Eliza.
"Baiklah, terimakasih," jawab Eliza.
Lalu kami melanjutkan persiapan kami.
Waktu pun menunjukan pukul 8, aku, Nika dan Eliza telah selesai bersiap.
"Mari pergi ke taman!" ajak Nika.
"Baiklah, ayo," balasku dan Eliza.
Akhirnya kami bertiga pergi ke taman tempat dimana kami janjian bersama teman-teman kami.
Tak lama kemudian kami sampai di taman.
"Selamat pagi!" sapa Nika kepada semua teman-temanku di taman.
Ada Jessica, Orlando, Marlon, Mirzeta, Erick, dan Leo.
"Selamat pagi juga," balas mereka semua.
Saat aku melihat ke arah Leo aku terpapa dengan ketampanannya mengenakan jas pesta, memberi kesan yang dewasa dan elegan.
"Hey, lihatlah DOI mu itu. Keren sekali," bisik Eliza kepadaku yang membuat mukaku memerah.
__ADS_1
"Apa, sih," balasku lalu menepis tangan Eliza yang menyentuh pundakku.
Lalu Eliza tertawa kecil.
"Elis! Kau cantik sekali!" puji Jessica lalu berlari ke arahku.
"Kau juga," balasku kepada Jessica.
"Oh ya, pasangan pestamu siapa?" tanya Jessica.
"Tuh, si kakak tutor," jawabku menunjuk Orlando yang sedang bersandar di tembok taman.
"Aku disini," balas Orlando mengangkat tangannya.
"Wah keren sekali! Kau berpasangan dengan tutor sekolah kita yang terkenal ini!" puji Jessica kembali.
"Hehe, iya," balasku.
Nika pun mendatangi Marlon lalu berkata padaku.
"Lis, aku pergi bersama Marlon sebentar ya!" ucap Nika lalu menggandeng tangan Marlon dan pergi.
"Baiklah! Jangan lama-lama," balasku.
"Bagaimana denganmu Jes, siapa pasanganmu?" tanyaku.
"Tentu saja Leo, benar bukan?" jawab Jessica lalu merangkul tangan Leo.
"Iya hehe," jawab Leo.
Aku hanya bisa bahagia melihat Leo senang.
"Bagaimana denganmu Mir?" tanyaku pergi ke arah Mirzeta.
"Aku..."
"Dia bersamaku," jawab Erick lalu menarik tangan Mirzeta mendekat ke arahnya.
"Erick..." kata Mirzeta malu.
"Ohh, baik," balasku.
Lalu aku kembali ke tempat dimana Eliza berdiri lalu berkata.
"Eliza, aku akan pergi ke gerbang sekolah untuk menunggu Zack. Apakah kau mau ikut denganku?" tanyaku.
"Boleh," jawab Eliza lalu pergi ikut denganku.
Kemudian kami sampai di gerbang sekolah kami untuk menunggu Zack. Di gerbang masih sepi tidak ada tamu undangan yang datang karena masih pukul 8 pagi.
Tak lama kemudian sebuah mobil besar datang menghampiri kami lalu seorang laki-laki dengan baju pesta keluar dari mobil.
Dia Zack, iya Zack. Sahabat masa kecilku.
Dia mengenakan setelan baju berwarna yang keren.
Saat Eliza melihatnya ia terpapa dengan penampilan Zack dikala pagi itu.
Zack sangat tampan, batin Eliza.
"Ekhem," isyaratku kepada Eliza untuk berbicara dengan Zack.
Eliza yang mengetahui isyaratku pun pergi ke arah Zack lalu berbicara dengannya.
"Zack, maukah kau menjadi pasangan pestaku?" pinta Eliza tanpa basa-basi.
Zack dengan sifatnya yang ramah dan dewasa itu pun langsung menjawab, "Boleh, kenapa tidak?"
Lalu Eliza senang dan berkata, "Terimakasih!"
"Tidak masalah," balas Zack.
Lalu aku mengajak Eliza dan Zack masuk ke sekolahku untuk kembali ke taman.
__ADS_1