My Posessive Guy

My Posessive Guy
Persahabatan


__ADS_3

Keesokan harinya, Fay menjemput Rio di rumahnya. Fay menggunakan mobil sport yang jarang ia gunakan untuk berpergian saat ini karena jika memakai motor, ia tidak akan tau nasib bahunya seperti apa nanti.


Tiiinnn ... tiinnn ...


Suara klakson mobil Fay membuat sang empu nya rumah keluar dan berlari menghampiri Faysa.


"Tumben lo bawa mobil?"


"Iya, lagi pengen aja."


"Ohh, bahu lo gimana?"


"Udah mendingan sih, makanya gue bawa mobil biar aman."


"Ya udah, biar gue aja yang bawa."


"Oke kalo gitu, lo yang bawa."


Mobil pun kini kembali melaju dengan tujuan mereka ke sekolah, di perjalanan Rio dan Fay tertawa bersama, nyanyi serta mengobrol ringan, hingga tak terasa sudah sampai di depan sekolah mereka.


Sungguh tak terduga, ternyata sudah ada yang menunggu mereka di parkiran yaitu Cloe dan Morgan.


Setelah selesai memarkirkan mobilnya Fay, Rio bergegas keluar disusul oleh Faysa. Mereka disambut oleh Cloe dan Morgan yang saling sapa.


"Hey kalian, kita nungguin lo pada."


"Ada apa memangnya?" Sahut Rio menjawab Cloe.


"Kita kelas bareng."


"Yaudah."


Fay sudah jalan terlebih dahulu dan di susul oleh Rio kemudian Cloe dan Morgan. Di koridor semua mata tertuju pada empat anak manusia yang sempurna itu kecuali Faysa. Bahkan mereka masih bertanya akan misteri yang ada di balik hoodie nya itu.


Diperjalanan adik kelas mencegat Cloe, Rio, serta Morgan untuk mereka beri hadiah. Fay? Ada satu orang, yaitu Gebby.


"Halo kak Fay... terima kasih untuk kemarin." Gebby memberikan senyum terindahnya pada Fay.


"Iya sama-sama. Lain kali hati-hati ya."


Mereka berempat langsung masuk ke kelas mereka di lantai dua, mereka di perhatikan oleh seisi kelas bahkan oleh kakak dan adik kelas mereka yang terpesona.


"RISIH!"


"Iya Fay, gue juga, tapi mau gimana lagi?"


"Eh gimana kalo kita mau temenan sama lo Fay? boleh gak?" Tanya Cloe dengan antusias.


"...."


"Fay?"


"Fay?"


"Faaayyy ... lo denger gue gak?" Suaranya semakin kuat karena tak mendapat jawaban dari Faysa.


"Iya."


"Jadi lo mau?"


"Gue cuma mau temenan sama yang bisa bela diri?"


"Loh kenapa? emang lo gak bisa beladiri? biar ada yang lindungi, gitu?"


Rio mengibaskan tangannya pada Cloe yang terus memberikan pertanyaan pada Fay.


"Lo gak tau aja gimana beringasnya Faysa kemarin, bro." Batin Rio.


"Kita bicarain di atap sekolah setelah jam pulang."


"Oke." Jawab mereka bertiga serempak.


Pelajaran di mulai, dan waktu berjalan terasa sangat lama. Hingga, bel pulang pun berbunyi membuat mereka akhirnya berkumpul di atap sesuai perjanjian. Morgan yang tadinya hanya terdiam kini mulai angkat bicara.


"Oke, kita mulai dari perkenalan dulu."


"Nama gue MORGAN EXALDRIA gue anak tunggal dari keluarga EXAL Corp.Gue bisa beladiri judo dan taekwondo."


"Nama gue CLOE YAMADA gue berasal dari jepang, fasih bahasa Indonesia karena orang tua gue yang ajarkan, gue bisa bela diri taekwondo dan sedikit judo."


Fay yang mendengarkan hanya menganggukkan kepala seolah mengerti.


"Lo, yo?" tanya Fay.


"Nama gue RIO GESWARA PUTERA." Morgan dan Cloe tercengang.


"Lo? Geswara?!"


"Ya gue anak orang kaya, tapi sekarang kena masa hukuman. Gue cuma bisa beladiri taekwondo sama silat."


"Okey terakhir gue. Kenalin nama gue FAYSA C JACK."


   


"Whaatt???"


"Hah?"


"...."


"Lo... lo... Dari keluarga black jack?"


"Pembunuh bayaran itu?"


"Gue bisa beladiri judo, taekwondo, silat, tenaga dalam, muay thai,dll. Maka dari itu, gue gak mau ngelibatin kalian, karena dengan adanya pertemanan, gue takut kalian akan kena imbasnya. Gue harap kalian mengerti."


"Tapi gue udah serius mau temenan sama lo Fay."


"Ya, kita berdua juga."


"...."


"Gue juga mau punya teman." Batin Fay dengan sendu nya.


Tak ada jawaban dari bibir Fay. Morgan yang memperhatikannya hanya diam menunggu jawaban yang akan disampaikan oleh Fay.


"Gimana Fay?" Desak Cloe karena tak mendapatkan jawaban.


"Oke."


"Serius?" Jawab mereka bertiga serempak.


"Ya, tapi gue mohon kalian bisa menjaga diri kalian sendiri, tanpa mengandalkan gue."


"Okey baiklah... hanya kita berempat."


"Yap!" Mereka bertos ala lelaki.




Di rumah kediaman Fay di Jakarta, seorang gadis cantik sedang belajar bersama guru private nya, ia merasa bosan dan jenuh. Ia ingin seperti sang kakak yang bisa bebas pergi bersekolah.



Namun selintas ide muncul di kepala cantiknya. Setelah selesainya belajar, ia menghubungi sang daddy yang kini sedang berada di luar kota bersama kakak laki-laki nya untuk mengurusi kerjasama mereka.



"Hallo princess ... What happend?" Suara di ujung sana mulai terdengar.



"Dad... boleh gak aku meminta satu permintaan?"



"Permintaan apa sayang?akan dad penuhi selama itu tak melewati batas."


__ADS_1


"Apakah aku boleh bersekolah di sekolah umum, Dad?"



"WHAT??? Apa kau serius sayang?"



"Ya, Dad, kumohon."



"Tapi keselamatanmu yang terpenting sayang... Dad tidak ingin terjadi sesuatu padamu apalagi Faysa... Kamu tau dia begitu menyayangimu. Kita takut kamu terluka sweetie."



"Tenanglah, Dad. Daddy kan bisa menyekolahkan ku di sekolah yang sama seperti kakak, aku yakin kakak pasti akan selalu menjagaku."



"Baiklah kalau itu keputusanmu, dad akan bicarakan ini dengan kakak kesayanganmu itu dulu."



"Tidak usah, Dad. Biarkan ini menjadi kejutan, daddy bisa membawaku ke Bandung setelah surat-surat sekolahnya selesai, kumohon, Dad."



"Tapi nanti kakakmu akan marah sayang."



"Tidak akan dad, percaya padaku."



"Okeyy... Okey, Haahhh mengapa aku selalu kalah dengan anak-anakku ini?"



"Berarti kau telah berhasil mendidik kami, Dad."



"Ya ya... jaga kesehatanmu sayang."



"Baik dad. Oh ya, dad dan kak Kevan juga harus menjaga kesehatan, sesekali temui kita dad, kami akan selalu merindukanmu. Yasudah ya dad... aku tutup teleponnya bye... Love you."



"Love you too sayang ... Bye." panggilan pun telah terputus.



"Aaahhhkkkkk akhirnya aku bisa bersama kak Fay lagiiiii, Senangnya."



Beberapa hari kemudian sekolah yang di banggakan para murid-muridnya itu terdengar bising karena mereka selalu histeris saat adanya geng most wanted sekolah mereka.



Siapa lagi kalo bukan empat bersahabat itu. Fay pun mulai merasa nyaman dengan mereka walau masih berbicara dengan seperlunya dan memancarkan aura dingin, tapi fansnya kini bertambah banyak.



Hingga saat di kantin, mereka duduk mengobrol seperti biasa sampai— tiba-tiba ada yang menubruk dan langsung memeluk Fay dari arah belakang.



Faysa yang tak siap pun hanya terdiam. Namun, setelah mencium bau vanilla bercampur wangi stroberi  itu akhirnya ia membalikkan badan seraya membalas pelukan orang yang telah memeluknya.



"Heyyyy kenapa kau ada disini?"




"Kakak juga kangen kamu little princess."



"Kak." ya! yang memeluk Fay saat ini adalah sang adik ... Elaina Sasy Jack.



"Ada apa sayang?"



"Aku ingin sama kakak."



"Sini, kenalin, mereka teman-teman kakak."



"Oh ya, boleh gak aku minta satu permintaan?"



"Apa sayang?"



"Boleh gak kalo aku pura-pura jadi pacar kakak? Aku takut kalo jauh dari kakak."



"Boleh, asalkan kamu kasih tau kakak kenapa kamu ada disini, begitu pun dengan bersekolah."



"Baiklah, nanti aku jelasin, tapi di rumah yaa."



"Okey, kalau gitu sembunyikan identitas."



"Okeyy kak."



Mereka berdua pun mendekat ke tempat sahabat Fay berkumpul. Tanpa menghiraukan pandangan penuh tanya dari semua penghuni kantin, Fay menggenggam tangan sang adik.



"Guys, dia Elaina kekasihku."



"What? Gadis manis ini kekasihmu?"



"Wahhhh bagaimana bisa? Muka pun kau tak punya." Seloroh Cloe.



Pletakk ... pletakk!



Dua jitakan mendarat mulus pada kepala Cloe.

__ADS_1



"Kenapa kalian mukul gue sih?" Kesalnya seraya mengusap kepala yang terasa menyakitkan.



"Bodoh!"



"Idiot!"



Itulah yang dikatakan mereka pada Cloe.



"Jadi kalian teman kak Fay?"



"Iya manis." Jawab Cloe dengan senyum manisnya.



"Hayy, kak. Namaku Elaina Sasy."



"Kalo gitu, aku duluan ya kakak-kakak." Sambung Elaina seraya bangkit dari duduknya.



"Sudah makan?"



"Udah tadi di kelas."



"Oh ya, kelas kamu dimana?"



"Aku dikelas X IPA 2."



"Aku antar."



"Okey, yeay!!!" Elaina langsung menggandeng sang kakak layaknya seorang kekasih.



Selama perjalanan menuju kelas Elaina, siswa-siswi yang berada di koridor pun banyak yang memperhatikan. Dan akhirnya mereka pun telah sampai di depan kelasnya.



"Belajar yang rajin little princess, kalau ada apa-apa langsung tekan liontinmu."



"Siap kak Fay." Sambil memberi hormat pada Fay yang tinggi karena Elaina yang memiliki tubuh lebih pendek dari sang kakak.



"Bye."



"Kak—" cegah Elaina seraya menarik ujung jaket milik Faysa.



"Hm?" Seraya membalikkan badannya kembali.



"Kiss?"



"Are you sure? Here?"



"Yessss!!!" jawabnya dengan anggukan antusias.



Faysa pun langsung mendaratkan ciumannya pada puncak kepala sang adik.



"Thank youuu."



"Hm... selamat belajar." Dielusnya puncak kepala Elaina sebelum Faysa pergi.



Selama perjalanan kembali menuju ke tempat sahabatnya, banyak yang membicarakan Fay. Baik itu menanyakan siapa gadis itu? Mengapa bisa sedekat itu dengan Fay? Apakah itu kekasihnya? Kenapa Fay begitu perhatian? Masih banyak lagi pertanyaan yang terlontar dari mulut siswa siswi yang melihat kejadian tadi.



Namun Fay hanya mengacuhkan semuanya. Setibanya Fay, ia langsung di tanya macam-macam oleh para sahabatnya.



"Siapa itu tadi? gue masih gak percaya."



"Yakin dia pacar lo?"



"Fay??"



"Woyyy Fay?"



"Hm."



"Hmm?? Lo cuma jawab itu aja?"



Namun tak ada jawaban.



"Okey okey... Fine!"



"Cabut kelas bentar lagi bel." Sahut Rio. Mereka semakin dekat dan gaya bicaranya pun mulai santai.



\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2