
Brruukk, suara pintu yang tertutup dengan kerasnya saat Rio sudah masuk ke kamar mandi dan ternyata ada yang mengikutinya. Ia mengunci pintunya dari dalam. Rio yang tak tau akan hal yang terjadi saat ini pun hanya bisa santai tanpa beban sedikit pun.
Tapi, saat Rio keluar, tiba-tiba saja ia terperanjat kaget dan mundur beberapa langkah kala seorang pria bertopeng kini telah berdiri menghalangi pintu kamar mandi. Ia dengan sengaja mematikan lampu kamar mandi guna membuat targetnya ketakutan. Dan ya— itu sangat menakutkan!
Itulah yang ada di pikiran Rio saat ini. Pria bertopeng itu pun mulai mendekat seraya membawa pisau yang terlihat mengkilap di kegelapan.
Satu ide terlintas dalam benaknya. Rio pun dengan segera memasukkan tangannya ke saku dengan memencet panggilan cepat no tiga yaitu Cloe.
Sang musuh maju secara tiba-tiba dan — braakkkk!! Dia menendang Rio ke sudut ruangan kamar mandi hingga membuatnya tersungkur mengenai ujung bak yang terdapat di dalamnya.
Dengan segenap kekuatan dan kemampuan yang ia punya, Rio pun membalasnya.
Brrugghh, tendangan yang cepat mengenai perut sang lawan pun akhirnya membuat ia tersungkur ke lantai. Tapi, ia masih dengan erat memegang pisaunya.
Rio segera berdiri, begitu pun dengan si pria bertopeng yang ikut berdiri kemudian dengan sigap menodongkan pisaunya pada Rio.
Segenap tenaga Rio mencoba untuk menghindari serangan yang ia dapat. Dengan keadaan gelap dan sempit seperti ini, ia jelas tak dapat bergerak dengan bebas.
Rio menangkap tangan pria itu kemudian menodongkan nya ke arah leher si pelaku.
"Siapa yang nyuruh lo?"
"Hah, bocah, lo kira gue selemah itu apa?"
Namun tiba-tiba, pria itu membalikkan kungkungan Rio dan membanting nya dengan mudah ke arah lantai.
Aarrggghhh, "sialan ni orang siapa sih sebenernya?" Batinnya mengumpat kesal.
Pria bertopeng itu mulai mendekat kembali.
Ssrrettt, pipi rio terkena goresan pisau yang membuatnya melenguh menahan sakit yang terus berdatangan.
Eunghh, "gilaa sakit banget— perih, ini mana lagi si Cloe? gue buntuh bantuan!!!" Batinnya terus memohon supaya ada orang yang dengan baik hati rela menolongnya.
Tuk tuk tuk..
Tuk tuk tuk
Terdengar ada orang mengetuk pintu kamar mandi. Cloe???
Dengan cepat Rio berlari ke arah pintu, namun hal itu tertahan dengan sangat cepat karena pergelangan kaki nya di tarik membuat Rio kembali jatuh mengenai lantai kamar mandi. Pria bertopeng itu pun semakin menodongkan pisaunya ke arah leher Rio.
Tiba-tiba saja, suara pintu yang di dobrak dengan begitu kerasnya hingga pintu kamar mandi itu terbuka membuat Rio tau siapa pelaku tersebut.
Bukan Cloe, FAYSA?? "What the hell is this! dia masih harus di rawat!"
Dengan muka pucat dan langkah pelan nya, Faysa mendekat ke arah mereka.
"Siapa yang nyuruh lo?"
"...." Tak ada jawaban, pria itu malah semakin menekan pisau itu pada leher Rio.
"Jawab atau mati?" Ucapnya kemudian dengan dinginnya.
__ADS_1
"Hahahahhaha... lo aja masih pake baju pasien. So- so-an lo mau lawan gue."
"Cih, bukan Fay namanya kalo ga bisa lawan cecunguk kecil macam lo."
Bruggh, BINGGO terpancing juga. Rio tersungkur ke lantai karena di lepaskan dengan kasar oleh pria itu. Namun, bisa Rio yakini bahwa musuhnya ini masih menatap Faysa dengan tajam.
"Jaga diri lo baik-baik Fay, lo baru aja sadar."
"Santai aja."
"Maju lo!" tantang Fay seraya melambaikan kedua jarinya.
"Hah... paling sekali pukul langsung KO, ya gak Yo?" Tambah Fay semakin membuat pria itu di bakar amarah karena tak terima di rendahkan.
"Sialan nih bocah sialan!" Batin pria bertopeng dengan kasar.
Pria itu pun langsung mengarahkan kepalan tangan nya untuk menonjok pipi Fay, namun sebelum sampai— tangan nya sudah tertangkap lebih dahulu dan dengan mudahnya Faysa memutar tangan musuhnya hingga suara patahan tulang pun terdengar membuat ngilu siapa pun yang mendengarnya.
"Aaarrgghhh!!! sialan lo bocah! Aaargghhh...."
"Siapa yang nyuruh lo?"
"Lebih baik gue mati."
"Ohh gamau ngasih tau?"
"Ga akan pernah!"
Pria bertopeng itu mati, dan tepat setelahnya, Faysa pun tak sadarkan diri.
Fay!!!!
"Fay... lo gapapa?"
"Fay???"
"Faysa!!!!"
Rio segera berlari menuju ke arah Faysa. Kemudian ia menggendong Fay untuk membawanya kembali ke ruangan.
"Fay... please bertahan."
"Fay... kalo gak ada lo, yang jadi sahabat sejati gue siapa?"
"Kalo ga ada lo, yang bakal nemenin gue di atas pohon siapa?"
"Kalo ga- gak ad- ga ada lo, gue harus apa??"
"Hiks hiks... gue gamau kehilangan sahabat gue."
"Don't again, please stay with me."
Hikks hikss... Rio menangis sepanjang perjalanan menuju ruangan Faysa sembari menggendong nya. Pikirannya kesana-kemari , ia begitu takut kehilangan sahabatnya.
__ADS_1
"Dokter!!!"
Dokter dan suster pun langsung berlari menghampiri Rio, setelahnya, mereka pun menyiapkan brankar untuk Fay dan melanjutkan pemeriksaan nya.
"Please Fay, lo harus bertahan."
"Gue takut."
"Takut kehilangan lo. "
Suara langkah kaki yang semakin mendekat membuat Rio mendongakkan kepalanya, ternyata itu adalah Cloe.
"Kenapa bisa begini?" Tanya nya dengan khawatir.
"Faysa... Cloe, dia—"
"Iya kenapa?"
"Di- dia tadi nolongin gue."
"Emang lo kenapa?"
"Ta- tadi, ada yang mau bunuh gue. Pria bertopeng itu. Tapi gue gatau dia siapa dan di suruh siapa. Gue nelpon lo tapi Faysa yang datang ke sana."
Cloe membelalakkan matanya terkejut dengan apa yang di bicarakan oleh Rio.
Saat Cloe mengecek badan Rio, ia pun terkaget karena melihat darah menetes di bagian leher Rio juga pipinya.
"Yo. Lo berdarah!"
"Aahh ... iya bener. Gue sampe lupa. Gue terlalu cemas dengan keadaan Fay."
"Yaudah mending kita obatin luka lo dulu."
Cloe pun mengobati luka Rio, sambil mengobati Rio pun menceritakan bagaimana kronologi kejadiannya. Itu membuat Cloe mencari dimana keberadaan hp nya.
"Jangan-jangan hp gue di ruangan Fay? Makanya dia yang datang bantu lo."
"Hm.. bisa jadi seperti itu, gue lihat muka Fay yang lemah karena mungkin dia masih perlu bantuan oksigen. Gue lihat wajah Fay pucat banget. Gue takut, gue gak mau kehilangan."
"Kita semua juga gak mau kehilangan, tapi semoga saja Fay sembuh dengan cepat dan bisa kumpul bareng kita lagi."
Ada kalanya Cloe menjadi orang yang bijak di antara mereka. Mengenai pria bertopeng itu? dia sudah di bereskan oleh orang-orang Fay, karena sebelum melakukan aksinya, ia sudah menelpon anak buahnya untuk membersihkan target sasarannya kali ini.
Setelah selesai mengobati Rio, mereka berdua kembali menuju ruangan Fay, dan di sana, terlihat Fay yang tertidur dengan menggunakan selang oksigennya.
"Cepat sembuh Fay, gue sayang sama lo." Batin rio seraya menatap sendu sahabatnya.
Maaf baru Update 😁😁😁 ku harap kalian sukaaaa 😘
__ADS_1