My Posessive Guy

My Posessive Guy
Tawuran


__ADS_3

Di kelas, kini proses belajar mengajar begitu kondusif. Mereka mendengarkan sang guru yang tengah menerangkan di depan kelas. Namun, tak berapa lama, terdengar teriakan di koridor yang ternyata anak kelas 12.


Tiba-tiba, kakak kelas itu masuk dengan terburu-buru memanggil para anak-anak yang punya kemampuan untuk bertarung.


"Woy ... siapa pun disini yang jago berantem? kita butuh bantuan, sekolah kita diserang anak SMA Persaja. Buruan! keburu hancur ini sekolah!"


"Apa?" Pekik sang guru saat mendengar teriakan tersebut tepat di telinga siswa tadi.


"Aduh, Bu. Telinga saya sakit denger teriakan ibu."


"Ya lagian kamu ngapain sih bawa berita begitu segala, saya kaget!"


"Ya saya juga kaget atuh Bu. Heh... buruan elahhh...."


Anak-anak dikelas pun menjadi begitu ricuh saat mengetahui sekolah mereka sedang di serang. Akhirnya, Faysa dan para sahabatnya berdiri.


Sang kakak kelas pun langsung keluar dan menuruni tangga, beda dengan Fay yang akan langsung melompat dari lantai dua tanpa aba-aba terlebih dahulu.


"Gila, Fay... Lu apa apaan?" Cegah morgan seraya menarik lengan Faysa dengan keras.


"Lama kalo turun tangga, awas!!" Setelah itu. Happ, Faysa pun mendarat dengan sempurna.


"Gila tuh anak!" Batin Morgan yang kini tengah menggelengkan kepala nya seraya menatap Faysa.


"Gan, Fay mana?" Tanya Cloe yang ternyata menunggunya di undakan tangga.


"Dia lompat dari lantai dua."


"Astgjdkdjhfhj gila! yang bener lu?"


"Hmm."


"Anjirr ... kenapa kita ga kepikiran juga sih? Ni koridor panjang banget, udah gitu mesti turun tangga juga."


"Iya serasa main ular tangga gue. Sialan!"


"Kita panik!" Sahut Rio.


"Buruan susul yang lain buat nyerang."


"Cepetan kita susul Fay!"


Setelah sampai di gerbang, mereka melihat Fay yang sedang memasukkan tangannya ke saku celana dengan santai mendekati mereka dengan aura dinginnya.


"Ada keperluan apa nih?"


"Woy! Panggil si Jaka! Dia udah bikin adik gue masuk rumah sakit."


Faysa menatap ke arah belakangnya yang kini tengah banyak siswa laki-laki lainnya.


"Siapa Jaka?"


"Gue!" Jawabnya seraya melangkah maju ke depan.


"Woy!!! Jaka anj*** ! beraninya lo enak-enakan masuk sekolah, tanggung jawab anji**!"


"Itu bukan gue, itu ulah anak Warba!"


"Alahh... alasan lo! Woy dorong ni pager!!!"


Para anak-anak pembawa keributan pun langsung menendang, mendorong apapun caranya agar mereka bisa memasuki sekolah.


Faysa yang melihat itu langsung melangkah maju mendekati satpam.


"Mana kuncinya?"


"Eh, buat apa? nanti kalau pada masuk sekolah gimana?"


"Saya tanggung jawab!"


Akhirnya sang satpam memberikan kunci pintu gerbangnya.


"Kalian bisa masuk kesini dengan aman, gue akan buka gerbangnya. Tapi kalau kalian masih mau buat kerusuhan, gue jamin satu langkah masuk gerbang ini tulang kalian akan patah!"


"Ck, banyak omong lo! di lawan juga paling ga berani lo!"


"Mana ketuanya?" Tanya Faysa dengan suara datar nya.


"Gue!" Salah satu dari mereka melangkah maju seraya membawa tongkat bisbol nya.


"Gimana? mau pilih cara yang mana?"


"Banyak bacot lo!!!" Orang itu berteriak seraya melayangkan tongkat nya pada Faysa.


Faysa tau ini akan terjadi, namun dengan mudah ia menghindar dan langsung menendang kaki lawan pada lutut nya dengan begitu keras.


Kreekkkk, suara patahan yang terdengar begitu ngilu di telinga.


"AAARRGGGHHHH BANGSAT!!!"


"Lagi?" Dengan santainya Faysa semakin mendekat kan dirinya pada lawan.


"Anji**, dia temen gue, bangsat!!!"


Pukulan langsung di berikan dari arah kanan namun dengan cepat di tangkis nya, ia membalikkan tangan musuh serta mencapit tangan pada ketiaknya.


Kreekkk, lagi, patahan itu kembali terdengar.


"AARRRGGHHH ANJI** LO!!"


"Maju." Mereka yang di sana menyaksikan kekejaman Fay langsung mundur sambil membawa ketua mereka dan wakilnya dengan ketakutan.


"Gue udah kasih peringatan di awal, dan kalian pilih lawan gue. Terima aja akibatnya."


"Anjirr, Fay!"


"Gilaaa."

__ADS_1


"Specleesh gue."


"Itu temen kalian?" Tanya kakak kelas bernama Jaka.


"Ya." Jawab mereka serempak.


"Kok serem ya?" Tanya Miko kala melihat Fay berbalik dan berjalan mendekati mereka.


"Mungkin itu belum seberapa."


"Oh ya kenalin gue Miko dan ini Jaka."


"Gue Cloe, ini Rio, yang ini si dingin es Morgan, dan yang itu si lebih dingin menyeramkan namanya Faysa."


"Kok kaya cewe ya namanya?" Tanya Jaka spontan.


"Lo yaa... udah di bantuin juga."


"Ehh iya makasih bro."


Fay pun kini berada tepat di hadapan mereka.


"Ada apa?"


"Nothing!"


"Eh... Fay. Thanks udah bantu kita."


"Hmm..." dehemnya serayaย  meninggalkan kakak kelas dan para siswa lainnya.


"Anjir segitu doang?"


"Sabar bro, dia emang gitu orangnya, sama kita-kita aja nih dingin."


"Gak jadi tawuran nih?" Tanya salah satu dari mereka yang ikut bergerombol siap menyerang.


"Gak jadi. Masalah selesai."


"Ohh gitu, yaudah lah kalo gitu ayo masuk kelas lagi."



Bel tanda istirahat kedua pun berbunyi, sebagian siswa-siswi ada yang di kelas, koridor, ada yang ke perpustakaan, dan yang paling tidak bisa dihindari adalah kantin.



"Gebby... ayo kita ke kantin." Ajak Elaina seraya menarik lengan gadis itu.



"Ayo, nanti kantin nya keburu penuh."



Setibanya di kantin mereka mencari tempat duduk yang dekat dengan jendela kantin. Mereka pun memesan kepada pelayan yang memang ditugaskan untuk bekerja di kantin sekolah ini.




"Kak Faayyy!!!" Teriak elaina membuat Fay pun menatap ke arah nya dan menghampiri elaina.



"Kiss!" Sambil menatap Fay dengan puppy eyes nya.



CUPP



"Aahh thank youu!" Sambil memeluk Fay yang kini duduk di sebelahnya.



"Kakak mau pesan apa?"



"Apa aja."



"boleh aku yang pilih?"



"Okey." Faysa pun mengangkat tangannya mengelus kepala Elaina.



Elaina dan para sahabat Fay pun mulai memesan. Disisi lain, mereka tidak sadar akan pandangan dua orang yang menatap mereka penuh dengan kebingungan dan cemburu? mungkin bisa di bilang begitu.



"Ehh kak, aku udah dapat teman lohh."



"Ohh Gebby ya?" Sambar Rio yang sedari tadi memperhatikan.



"Iya kak."


__ADS_1


"Yang waktu itu kita tolong itu Fay."



"Oh, hm ingat."



"Anjir segitu doang!!"



"Hm."



"Kak Fay, tadi aku dengar kalian bantuin sekolah kita tawuran ya?" Tanya Gabby.



"Iya."



"Apaa? tawuran? tapi kakak ga apa-apakan kak? Ga ada yang luka?"



"Ga ada sayang... kamu tenang aja ya."



"Jangan bikin Sasy khawatir kak. Sasy takut." Itulah Sasy saat dia khawatir atau merajuk pada Fay, dia akan menggunakan nama Sasy. Hal itu di peruntukan hanya untuk Faysa, tidak untuk abangnya Kevan.



"Iya Sasy tenang aja ya... kakak gapapa, kakak kan kuat."



"Hmm.. I love you." Sambil memeluk sang kaka.



"I love you too."



"Ekhemm, ini kita jadi makan kan?" tanya Cloe yang mulai merasa jengah akan keromantisan temannya.



"Ehh maaf ya kakak-kakak, Gebby.. sampai lupa."



Mereka pun memakan makanannya dengan sesekali candaan dari Cloe dan Rio.



Kini, bel pulang sekolah pun berbunyi,anak-anak dalam kelas langsung pergi berhamburan keluar kelasnya seperti burung yang bebas dari sangkarnya.


Faysa menunggui Elaina keluar kelas sambil bersandar dengan menggunakan earphone nya. Siswa yang melihat Fay pun begitu terkejut dengan apa yang dilihat mereka. Fay, seorang yang cool menurut mereka walaupun wajahnya yang tak terlihat.


"Kakak." Elaina berhambur pada pelukan Fay saat ia tau sang kakak menunggunya keluar kelas.


"Ayo pulang!"


"Hm... aku tinggal sama kakak yaa."


"Pasti dongg!" Mereka berjalan beriringan ke parkiran motor tempat Fay memarkirkan motornya. Setelah ditemukan, Fay langsung membantu Elaina naik dengan tangan yang disatukan dan satu tangannya lagi memegang pundak Fay. Hal sekecil itu yang selalu membuat Elaina merasa diistimewakan oleh Fay, sampai rasa yang tidak boleh ada pun malah tumbuh dengan sendirinya.


"Apakah aku boleh mencintainya Tuhan?" Batin Elaina sambil memeluk pinggang Fay dengan erat.


"Sayang... kita sudah sampai, apa kau akan tetap di motorku ini?"


"Uppss... maaf kak, Sasy melamun." Ucapnya sambil memperlihatkan gigi kelinci dan menghasilkan lesung pipi di kedua pipi mulusnya.


"Ya udah... turun. Sini kakak bantu."


"Thank you so much."


"You're welcome little pri


ncess."


"Oh ya.. apa sebelumnya kamu sudah berbicara pada mommy?" Sambung Fay bertanya pada Elaina.


"No kak! tapi aku izin pada daddy, pasti daddy membicarakannya pada mommy."


"Baiklah kalau begitu sayang, kamu ke kamar dulu untuk mandi, kakak akan memasakkan makanan kesukaan kamu. Kamu pasti rindu kan?"


"Rinduuuu sangatt... masakan kakak kan enak seperti mommy."


"Baiklah kalau begitu.. GO!"


"Siap kak!" Hormat Elaina pada sang kakak. Hingga sang kakak pun tersenyum melihat tingkahnya.


Faysa akan selalu ramah, murah senyum kepada keluarganya. Ditambah lagi kini dengan adanya sahabat Fay. Mungkin ia akan belajar sedikit demi sedikit untuk membuka hatinya pada sahabatnya.




Next yaaaa ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„


__ADS_1


Jangan lupa untuk VOTE dan COMMENT nyaaa.


__ADS_2