My Posessive Guy

My Posessive Guy
Hampir Saja


__ADS_3

Di mansion keluarga Rio.


Remaja lelaki itu kini tengah berbaring di atas kasurnya seraya  memikirkan apa yang terjadi akhir-akhir ini pada dirinya sendiri saat berdekatan dengan Fay. Rio menelungkup kan badannya pada bantal untuk menghilangkan bayang-bayang Faysa di pikirannya.


"Sebenernya ada apa ini?"


"Apa gue jatuh cinta?"


"Sama laki-laki?"


"Tapi... sejak kapan gue mulai suka sesama jenis? Ga mungkin kan?"


"Homo??"


"NO!!!" Rio semakin membenamkan wajahnya pada bantal mencoba menghilangkan pemikiran itu. Astaga... ini sungguh rumit.


Kali ini, ia pun mengubah posisinya menjadi terlentang seraya menatap langit-langit kamarnya.


"Tapi perasaan gue berasa aneh, deg-degan apalagi kalo deket adik kelas barunya itu— apa gue cemburu?? Ahhhhh pusing gue."


Rio berbicara sendiri seperti orang gila. Hingga tidak sadar bahwa sang bunda tengah memperhatikannya. Namun apa yang rio ungkapkan tadi tidak sampai terdengar ke telinga sang bunda.


"Ada apa sayang?"


"Bunda?" Rio pun langsung memposisikan badannya kemudian duduk menghadap sang bunda.


"Kamu kenapa? Bunda liat kamu seperti memikirkan sesuatu."


"Emmm... Anu, Bun— emm...."


"Ada apa sayang? Coba cerita sama bunda."


"Tapi jangan diketawain ya, Bun."


"Iyaa ga akan sayang."


"Bun... Io mau tanya, kalo kita deket seseorang dan jantung kita berdegup kencang apa itu artinya? Dan— kalo kita lihat dia bersama orang lain kita tidak menyukainya.?"


"Kamu sedang jatuh cinta nak."


"Seriously?"


"Yap, itu juga yang dirasakan bunda saat bertemu dengan ayahmu dulu."


"Duhh anak bunda sudah punya gebetan yaaa." Sambung sang Bunda dengan ejekan yang membuat Rio merah merona.


"Budaaaa.... Jangan ledekin Rio dong."


"Iya, iya maaf... yaudah sekarang kamu tidur ini sudah malam. Tugas sekolah sudah dikerjakan?"


"Sudah, Bunda."


"Oke Son... sekarang tidur yaa... Good  night." Dikecup nya kening Rio dan setelah itu sang bunda meninggalkannya.


Tubuhnya kembali ia baringkan. Namun, pikiran Rio masih saja terpaku pada apa yang bundanya katakan.


"Gue... Jatuh cinta?? Sama Faysa??"


"WHAT THE HELL!!! FAYSA COWOK MASA GUE HOMO ADUHH JANGAN SAMPEEEEE TERJADIII...." Teriaknya dalam hati dengan kedua tangan memukul kepalanya berharap ia bisa tersadar dari pikirannya.


Rio menggelengkan kepalnya berkali-kali.


"Mendingan gue tidur sekarang. Siapa tau gue nemuin jawaban yang pas untuk hati gue."


"Tapi...."


"Aahhh sialan Fay... Lo bikin gue ga bisa tidur malam ini."



Kini kelas Faysa mengadakan praktek kimia di laboratorium yang sudah tersedia di sekolah. Anak-anak kelas pun berhamburan untuk memasuki lab kimia.



"Aaahhh jadi inget... gue kan lagi bikin formula sampai sekarang belum selesai. Huhh mungkin setelah pulang sekolah gue bakal lanjutin." Batin Faysa mencoba mengingat kembali jenis formulanya.



Setelah semuanya berkumpul, kami di bagi kelompok empat orang laki-laki dan 2 orang perempuan.



Geng Faysa berkumpul menjadi satu ditambah dengan Nelda dan Nidy. Nelda dan Nidy termasuk cewek populer juga di sekolah, baik, pintar, namun hanya ekonomi mereka sederhana. Tidak seperti para most wanted boy.

__ADS_1



Larutan-larutan telah tersedia di depan meja praktek kami. Kami pun membaca aturan cara pemakaian nya terlebih dahulu. Kalau Fay sih dia cuek-cuek aja, karena ia tahu akan apa yang akan dilakukan untuk prakteknya kali ini.



"Okeyy kita mulai?" Tanya morgan karena ia selaku ketua kelompok.



"Siap!" Jawab kami serempak.



Kami pun mulai menuangkan cairan kimia tersebut. Perlahan-lahan tapi pasti, sampai kelompok lain dari sebelah kami menyenggol tangan Nelda yang sedang menuangkan cairan tersebut dan hampir saja terkena tangan Rio yang sedang mencatat.



"Hampir saja. Lo gapapa, Yo?"



"..."



"Yo?"



"Aduhh jantung gue...." Batin Rio yang kini tengah berteriak dengan jantung berdetak hebat.



"Yo, Lo gapapa kan?" Tanya Faysa khawatir.



"Eh- eh... e-eng –engga, tangan gue gapapa, untung aja ada elo. Thanks Fay."



"Woyy, Bob, hati-hati dong kalo jalan." Teriak Cloe yang pada akhirnya membuat para siswa-siswi lain saling berbisik membicarakan nya.




"Gak!" jawab Faysa singkat membuat Bobby takut karena aura dinginnya.



"Udah Fay, gue gapapa kok." Terang Rio pada Faysa dengan lembut seraya mengusap pundaknya.



"Hmm... okey. Kalo ada apa-apa sama sahabat gue, gue gak akan tinggal diam."



Seluruh siswa yang ada di ruangan itu pun langsung bungkam dan seketika ruangan begitu hening tak ada suara sedikitpun. Karena mendengar ucapan Fay yang begitu dingin menusuk, dan aura yang sangat menakutkan.



"So- so-sorry banget Fay. Sumpah gue gak sengaja."



"Udah Fay... Bobby dah minta maaf juga kan lagian gue gapapa."



"Hmm... Oke."



Bobby pun segera lari ke arah kelompoknya.



"Lo sih Bob... pake ga hati-hati segala."


__ADS_1


"Sialan! gagal rencana gue."



"Maksud lo?" Tanya temannya penasaran.



"Gue sengaja!"



"Sialan lo, kalo fatal akibatnya gimana?"



"Biarin aja, biar mereka ga sok berkuasa lagi disini."



"Heh.. mau otak, duit, muka aja udah lebih jelas kalo mereka yang menang."



"Lah— kita?? Masih untung kaya juga walau pinter dikit. Nah muka? Pas-pasan men!" Lanjut nya meratap.



Dia menatap ke arah belakangnya dimana kelompok Faysa berada.



"Lo jangan main-main deh sama empat orang itu." Sambung Eka, teman berbicara bobby.



"Gue gak peduli!"



"Lo ya, dikasih tau juga. Dasar kutu air!"



"Lo tuh ya, kaya lintasan kereta api."



"Udah ah! bacot sama lo ga akan pernah berhenti. Sialan lo!" Eka pun meninggalkan Bobby yang kini mendengus tak suka karena rencana nya gagal.



"Gue harus punya rencana yang matang biar mereka bubar dan ga ada lagi most wanted di kelas ini."



"Tapi gimana??"



"Pusing gue."



"Lah.. kok gue ngomong sendiri gini?"



"Woyyy Ucup!"



"Heh.. nama gue Bobby bukan Ucup. Emangnya gue anak hansip yang ada di adit sopo jarwo apa?"



"Muka lo mirip si ucup!"



"Asem lo." Bobby pun meninggalkan temannya yang baru menyapa tadi.


__ADS_1


__ADS_2