
Fay maju dengan begitu cepat ke arah sang lawan, hal itu membuat pria yang berada di hadapan Fay mundur beberapa langkah karena merasa terintimidasi oleh mata tajamnya.
"Kheekk, a— ahhh... ukhukk," erangan nafas yang terasa menyesakkan membuat pria itu membelakkan matanya tak percaya akan kekuatan tangan remaja di hadapannya.
Faysa menatap tajam tepat di matanya seraya mencekik sang musuh, ia berkata, "kau salah mencari lawan."
"Kaulah yang terpancing, dasar bodoh hahahaha!"
Dari kejauhan, terdapat sniper yang sudah siap menembakkan pelurunya ke arah Rio.
Disisi lain, Elaina yang menutup telinganya karena ketakutan. Ia baru pertama kali di hadapkan dalam situasi seperti ini.
"Tentukan pilihan lo sekarang."
"Lo liat??" Sang musuh berbicara pada Fay sambil menarik nafas begitu kesulitan karena lehernya masih dalam cengkraman Faysa.
Kemudian, ia menunjukkan tangannya pada seseorang yang kini berdiri tepat berada di belakang Elaina sambil membawa pisaunya.
"Aargghh, berfikir berfikir! berfikir Fay!!!" Dalam otaknya berusaha mencari solusi yang tepat, dan— dalam hitungan tiga, Fay pun dengan kecepatan maksimal memeluk Rio dari arah belakang karena tembakannya menuju punggung Rio. Kemudian ia menggenggam tangan Rio dan dengan cepat berlari menuju Elaina.
Jleb! Pisau itu terhunus ke punggung Faysa yang kini tengah memeluk Elaina dan Rio untuk melindungi keduanya.
"Yo, bawa adik gue ke samping lapangan, tapi kalian tetap harus terlihat dalam pengawasan gue."
Rio mengangguk, ia takut jika egois malah akan tambah membahayakan Faysa.
Uhhuukkk, Faysa yang terbatuk kemudian mengeluarkan darah dari mulut nya.
"Aarrgghhh."
Gue harus cepat beresin ini. Fay mendekati laki-laki yang sudah di cekik olehnya kini telah terkapar lemas di lapangan.
"Mana bos lo?"
"A- ada."
"Mana? Sshhh." Faysa merasakan perih, juga sakit yang teramat sakit.
Ia pun kemudian mencabut pisau yang ada di punggungnya.
Ia menyimpan pisau itu saat melihat lelaki di bawahnya sudah tak bernafas.
Saat Fay berbalik, dengan cepat ia mengayunkan tendangannya ke arah organ vital sang musuh yang baru saja menghampiri Faysa dan hendak menyerang nya.
"Arrgghhhh Bang***!" Pekik sang musuh merasa kesakitan.
"Mana bos lo?" Tanya Fay yang masih memegang pisaunya.
"Gue gak akan kasih tau."
"Ohh gitu—" Faysa mendekat dan tanpa banyak bicara mulai memukul dan mematahkan lengan sang lawan.
"Aarrggghh!!!!" Teriaknya merasa kesakitan akibat serangannya. Kemudian, Faysa pun menggunakan djuzitsu nya untuk menekan lawan.
"Aahhhh ampun ampun!"
"Mana bos lo?"
"Di- Aahh! dia— aarggghh sakit bangsat!!!"
"Jawab!"
"Dia disini."
"Suruh dia kesini."
__ADS_1
Prokk prokk prokk
"Wah wah wah, sudah bersimbah darah namun masih kuat? Hebat juga kamu ya?"
"Tapi sayang, saya harus melenyapkanmu." Bos dari orang orang tersebut yang tak lain adalah om dari Rio pun menodongkan pistolnya ke kepala Faysa.
Namun, sebelum ia menembakkan pelurunya, Fay dengan gesit menggunakan anak buah dari om Rio sebagai tameng nya.
Dor!
Setelah menembakkan pelurunya, dengan segera om dari Rio atau dalang dari semua kejadian ini pun mencari keberadaan Faysa.
Tanpa di duga, dari arah belakang Fay memukul bagian vital daerah belakang kepalanya membuat om dari Rio pun terjatuh pingsan.
Elaina berbalik kemudian menatap ke arah dimana Elaina dan Rio berada. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti kala rasa sakit pada bagian belakang tubuhnya semakin terasa. Ia pun tersungkur dan berlutut di hadapan mereka dengan senyum menyakitkan kemudian jatuh dalam kegelapan.
"Fay!"
"Kakak!"
Mereka melupakan sniper yang masih berdiam di tempatnya. Hingga, sebuah suara membuat keduanya membalikkan badan untuk melihat siapa gerangan yang datang dengan tergesa-gesa juga wajah paniknya.
"Faysa!"
Itu adalah Kevan, ia datang dan dengan pistol di tangan kanannya kemudian menembakkan peluru itu pada kepala sniper yang telah berani menembak dan melukai adiknya.
Dor!
Sudah di pastikan sang sniper mati di tempat. Polisi pun mulai berdatangan dan membawa om Rio ke pihak yang berwajib dan membawa 2 anak buahnya yang kini telah menjadi jasad.
"Fay... bangun sayang."
"Kak kevan??" Elaina memanggilnya dengan suara lirih dan bergetar karena masih merasa syok.
"Ini tuh semua gara-gara lo!" Tuduhnya dengan mata membara karena kemarahan.
"Lo tuh manja! ga bisa apa-apa! bisanya nyusahin kesayangan gue aja, lo liat dia sekarang kayak gimana keadaannya! Demi nyelamatin lo, dia jadi begini! Andai aja lo mau belajar buat bela diri, ini semua tuh ga akan terjadi!"
Elaina merenung, "ini salahnya?"
"Aku yang buat kakak menjadi seperti ini."
Tiba-tiba, ada yang menggenggam tangan Elaina dengan kuat namun terasa lemah secara bersamaan.
"Kamu adik kakak yang paling kakak sayang, kamu harta kakak, maka dari itu kakak akan selalu jaga kamu, jangan merasa bersalah sayang, syukurlah kamu baik-baik aja. Dan kak Kevan, kakak juga adalah kakak paling the best buat Fay, Fay sayang kakak, jangan salahkan Sasy karena ini keputusan Fay yang sangat menyayanginya."
Hingga, tangan lemah itu melambai ke arah Rio. Rio pun mendekat pada Fay sambil menangis.
"Fay, hiks hikkss."
"Cowok masa nangis? Yo, lo adalah teman pertama gue, thanks for all."
"Fay, lo harus bertahan, mana ambulans nyaaa?!" Teriak Rio pada semua siswa yang masih menonton kejadian dimana pertarungan Fay dan berkorban nya Faysa demi menyelamatkan adik dan sahabatnya.
Suara sirine mulai terdengar dan ambulans pun datang. Dengan segera mereka membawa Fay menuju rumah sakit terdekat.
Morgan? Cloe?
Dimana mereka?
Flashback on
Setelah bel istirahat Morgan dan Cloe menyusul Fay yang berlari cepat menuju keluar. Namun naas, saat hendak menyusul nya, mulut mereka tiba-tiba ada yang membekap dari arah belakang membuat keduanya tak sadarkan diri.
Mereka di bawa ke rooftop sekolah, ternyata disitu ada sniper juga, ya !!! Sniper yang bertugas menembak Rio.
__ADS_1
Ini hanya sebuah akting karena nyatanya, mereka masih sadar namun hanya berpura-pura pingsan.
"Gue harus lakuin apa nih??" Batin Cloe.
"Gue harus bisa lepas tali ini." Batin Morgan.
Morgan bergerak sedikit untuk menegakkan pandangannya yang semula tertunduk dan melihat keadaan sekitar.
"Sniper??"
"Atau jangan-jangan, Rio atau Fay sedang ada dalam masalah sekarang? gawat!" Pikirannya terus berkecamuk dengan rasa cemas.
Saat semua terasa aman, Morgan sedikit demi sedikit menggerakkan tubuhnya agar duduk saling memunggungi dengan Cloe. Cloe yang mengerti pun kemudian berkedip tanda ia mengerti. Itulah yang di ajarkan Fay pada mereka.
Karena Fay tau, suatu saat ini akan terjadi.
Setelah beberapa gerakan, datang seorang laki-laki sambil menghisap rokoknya dan mengeluarkan asap rokok itu hingga mengepul keluar dari mulutnya. Matanya menatap kedua sandera mereka.
"Heh, ini anak siapa?"
"Sepertinya mereka sahabat dari target kita bos."
"Ohhh begitu, bagus lah."
"Hehh! hebat juga tuh anak!" Ucap sang bos yang melihat perkelahian pertama Fay dengan anak buahnya yg menjadikan Elaina sandera.
"Habisi anak laki-laki itu."
Morgan dan Cloe yang mendengar itu hanya bisa memanjatkan doa agar mereka baik-baik saja.
Setelah si bos pergi, dengan cepat !namun hati-hati, mereka saling membuka ikatannya. Cloe membuka ikatan Morgan, dan begitu sebaliknya.
Ikatan tali pada tangan mereka pun terlepas, namun !!!
"Waahh wwahhh wahhh hebat juga ya."
Ternyata ada seseorang yang melihat kegiatan mereka dari awal, yaitu seseorang yang berada di atas genteng dan menyaksikan semua tingkah mereka.
"Hhaahahahah..." tawa membahana yang terdengar begitu menakutkan.
"Karena kalian udah sadar, gapapa kali gue cicipi lo pada."
"Homo lo anjin*"
"Hidup gue." Jawab lelaki itu sambil mengedikkan bahunya acuh tak acuh.
"Bruukkk." Laki-laki itu jatuh tersungkur dan dengan kerah yang di remas, itu adalah Morgan yang meluncurkan pukulannya hingga suara tembakan terdengar di telinganya.
Peluru itu, membuat salah satu temannya sakit kali ini.
"Mati lo!!!" Pekik Morgan dan Cloe yang berjalan menuju si sniper. Ia melirik ke arah sekitar dan mendapatkan sebuah kayu yang terdapat paku di setiap sisinya dan hendak di layangkan pada sniper itu. Namun, belum sempat ia menghajar nya, sniper itu pun tergeletak jatuh dengan lubang di kepalanya.
Ambulans? Siapa? Atau jangan jangan?
Morgan dan Cloe pun mengikuti turunan tangga yang terasa begitu panjang. Keduanya kini hanya terfokus pada satu jalan, yaitu jalan ke arah dimana ambulans mulai meninggalkan sekolah mereka.
"Siapa yang di bawa ke rumah sakit?"
"Fay, dia terkena tembakan. Kita harus cepet susul dia." Ucap Rio dengan raut khawatir juga air mata yang membasahi pipinya.
Tanpa banyak bicara lagi, ketiga sahabat Faysa beserta Elaina yang kini di tuntun oleh Rio memasuki mobil dan pergi menuju rumah sakit.
__ADS_1
Maaf yaaaaa, aku baru up lagi 😄 semoga kalian suka hehehe.... Jangan lupa untuk vote dan comment nya yaaaa... 🥰