
Setelah Faysa selesai melawan mereka yang menurut Faysa sangat mudah, Fay mengerahkan anak buahnya untuk membereskan korban yang sudah Faysa bunuh.
Dengan cepat , ia berlari ke arah motor tempatnya terparkir. Faysa melesat dengan kecepatan di atas rata- rata, Faysa denga lihainya meliak liukan motornya seperti ular demi mencari jalan cepat menuju tempat penyergapan para korban.
"Fay?"
"Ya dad?"
"Gimana? Sudah dapat?"
"Sudah, Sekarang aku sedang menuju lokasi tempat penyekapan korban"
"Tetap hati-hati, pasti ada yang berjaga disana"
"Iya dad"
Tutttt
Robert mematikan panggilannya sepihak karena ia tau sang anak sedang mengendarai motor kesayangannya itu, sungguh terdengar jelas sekali suara khas motor dari seorang Faysa.
Di pertigaan, ia sedikit memelankan motornya kemudian berhenti.
Ia melihat keadaan sekitar dimana ia bisa menyimpan motornya untuk disembunyikan.
Faysa berencana untuk berjalan kaki menuju lokasi, karena dengan suara motornya ia yakin akan menimbulkan kecurigaan
Faysa melihat ada semak yang cukup tinggi , Faysa langsung menyembunyikan motornya di semak itu.
Ia mulai melangkah sambil melihat ke adaan di sekitar,
Rumah kosong
Jalan sempit
Lapangan luas
Ada juga bangunan tak terpakai namun seperti rumah.
Opsi terakhir menjadi tujuan Fay mendatanginya.
Tap
Tap
Tap
"Ck, kenapa mereka bisa tertangkap dengan mudah?"
"...."
"Ahhh kalian tidak bisa di andalkan, masa menculik remaja saja tidak becus?"
"...."
"Cepat kembali kesini, kupatahkan tanganmu itu"
"...."
"Halah... terlalu banyak minta maaf, kau kesini sendiri atau mau di jemput dan kematian menunggumu disini?"
"...."
"Hm"
Berarti salah satu dari mereka ada yang lolos.
Ck... kenapa anak buahku tak ada yang melapor
Harus cepat!!!
Faysa akan masuk melalui jendela samping, ia melihat disatu ruangan ada beberapa orang memakai baju hitam, bertato, dan tubuh kekar. Faysa melanjutkan lagi jalannya, ia melihat seperti ruangan untuk operasi. Dan ada seseorang yang tertidur ditempatnya.
Faysa berjalan kembali, kini ia melihat beberapa anak disekap. Kini fay berjalan ke area belakang bangunan , dengan hati hati ia melihat kaca itu. Terlihat 4 orang dewasa yang disekap
"Sandera telah terlihat semua"
"Selesaikan"
Fay memberi instruksi bahwa ia sudah menemukan korban pada sang daddy
Fay berjalan kembali ke area samping bangunan, ia memilih jendela ke 3 yaitu dimana anak dan remaja disekap , sekitar 8 orang anak disekap disini 5 anak dibawah 5 tahun dan 3 orang remaja berkisar SMP/SMA.
kkerrkkk
Kkrrrekkk
Pllukk pllukk
Dengan perlahan Faysa membuka jendela tersebut, anak- anak yang didalam , penasaran siapa yang akan membantu mereka.
Saat masuk Fay langsung menyimpan telunjuknya di bibir .
Sssttt
Anak-anak mengangguk, namun ada anak kecil sekitar dua tahun yang tiba tiba menangis saat melihat Faysa.
Mereka panik , dengan segera Fay melepas ikatan pada anak tersebut dan mengaisnya.
"Ssstttt... tidak boleh nangis anak tampan , kita harus menolong kakak kakak dulu, setelah itu aku akan mempertemukanmu dengan orangtua mu okey?"
__ADS_1
Sang anak tak menjawab namun kini ia terdiam seolah ia mengerti akan apa yang Faysa ucapkan.
Faysa membuka ikatan anak paling tua diantara lainnya.
"Bantu aku membuka ikatan ini"
"Baik kak"
Anak laki- laki itu hanya beda satu tahun dengan Faysa, Fay melihat nama di seragam anak tersebut Ciko Antonio.
"Sudah?"
"Sudah kak"
"Okey, akan aku bagi tugas. Ciko, kamu , kamu, kalian jaga anak- anak ini , kalian keluar melalui jendela seperti aku tadi , tunggu aku di halaman belakang dekat semak okey."
Mereka semua mengangguk
"Kuharap tidak ada yang berisik, karena aku akan menolong yang lainnya juga"
Mereka mengangguk lagi
"Go!!"
Mereka semua keluar dari ruangan tersebut, fay juga ikut keluar , ia akan masuk melalui jendela lagi.
Kkrerk
Krrekkk
Pllukk pllukk
Seperti di awal masuk , Fay mengisyaratkan untuk diam pada semua korban.
Untuk korban dewasa mungkin sekitar 20,21,22 , tahun .
Satu orang laki- laki , Fay dengan sigap membuka talinya .
"Bagaimana adikku?".
"Siapa?"
"Ciko"
"Aman, cepat bantu aku"
"Tolong selamatkan kakak iparku"
"Dimana?"
"Aku tak tahu, ia lebih dulu dibawa dari sini"
"Iya"
Apa yang diruang operasi itu?
"Akan aku cari"
"Tkank you, namaku Edo Antonio"
"Hm"
Setelah dibuka, mereka semua diberi instruksi untuk menyusul para anak- anak.
Dan terakhir Fay membuka jendela dimana ruangan operasi itu berada.
Ia melihat sekelilingnya , "kosong!" Dalam benak fay.
Apakah ini tidak terlalu mudah?
Fay mendekatkan dirinya pada seseorang yang kini berada di tempat operasi. Ada juga toples yang tersedia dengan dikelilingi es . 2 ginjal 2 mata .
Fay segera mengecek nafas korban.
Mati
Faysa tidak bisa berbuat apa-apa .
Prrook
Prook
Prookkk
"Wah wah wah"
"Siapakah ini?? Ada apa gerangan datang kemari?"
"...."
"Cek kamar sandera"
Anak buah lelaki itu mengecek kamar, tak lama kemudian ia kembali.
"Bos semua kamar kosong"
"Hmmm... ada yang ingin bermain ternyata"
"Siapa yang menyuruhmu nona manis??"
__ADS_1
"...."
"Aahhh bisu ternyata"
"Bunuh dia!!!!" Teriak sang bos
Dooorr
Door
Ddoorrr.
Doorr..
Aksi baku tembak kini terjadi di ruangan operasi.
Dorrr
Lenga faysa tertembak.
Faysa berguling kedepan hingga .
Ceklek
Fay menodongkan pistolnya di depan bos mereka.
"Mundur"
Semua diam tak ada yang bergerak takut jika melakukan kesalahan.
"Perintahkan anak buahmu untuk mundur"
"Kalia mundur"
"Pak tua, tidak usah berbasa basi, siapa dokter yang melakukan operasi ini"
"Tidak akan aku beritahu"
"Katakan"
"Ohh jadi kau tak sayabg dengan nyawamu?".
Doorrr
Faysa menembak kaki sibos
Kembali ke kepala
"Siapa?"
"Dr. Merry , dia salah satu dokter di rumah sakit... bla bla."
Sibos menjelaskan semua pada Fay.
"Mati atau kantor polisi?"
"Ja .. jangan,, aku berkeluarga"
"Hmm.."
Tak lama
Bbrraakkkk
Polisi berdatangan untuk meringkus para pelaku .
Sang kapten memberi hormat pada Faysa.
"Misi selesai"
"Bawa mayat ini kepada keluarganya"
"Baik"
.
.
.
.
Okeyy segini dulu dehh..😁
Aku akan up 2 chapter
Untuk hari ini
Tapi, untuk satu chapternya lagi
Malam ini ya 😊😊😊
JANGAN LUPA UNTUK
SELALU!!!
VOTE
COMMENT
__ADS_1
SHARE