My Posessive Guy

My Posessive Guy
Mission


__ADS_3

Di perjalanan menuju rumah, Fay yang fokus pada jalanan saat lampu merah pun berhenti dan bersebelahan dengan pengendara mobil yang tak lain adalah Cloe.


"Ck ... Orang ini." Batin Fay sambil menatap lagi jalanan saat sudah tahu siapa pemilik mobilnya.


"Hey Fay... Pulang lo?"


"....."


"Lo selalu budeg." Cloe menutup kaca mobil nya dan lampu hijau pun menyala, Fay mendahului Cloe dengan kecepatan di atas rata-rata. Tapi setelah menempuh jarak yang hampir dekat dengan rumah nya ia di berikan tugas oleh Robert sang Daddy.


Akhirnya, Fay mencari minimarket untuk berganti pakaian, ia tidak mungkin menggunakan seragam nya saat bertugas. Setelah selesai, Fay mencari alamat yang di berikan kepada nya. Alamat sang bandar narkoba yang banyak anak buah nya kini sedang menuju pelabuhan untuk mengirim barang nya ke luar negeri secara ilegal.


"Ck ... kapan gue bisa jadi anak-anak yang normal kaya kalian." Ucap nya saat ia melihat banyak nya anak-anak yang berkumpul sambil bercengkrama satu sama lain.


"Gue mesti cepet beresin tugas ini."


Fay kembali menyalakan motornya yang kini akan melesat ke pelabuhan.


Kali ini Fay akan menjadi mata-mata yang menyamar jadi tukang angkat barang sambil memeriksa sesekali barang yang mereka bawa.


Dengan cekatan dan cepat ia menemukan barang yang jadi target sasaran. Fay yang memakai kacamata berkamera pun langsung memfoto orang-orang yang ada di pelabuhan itu untuk di tangkap dan langsung di kirim kepada ayah nya.


Namun apa daya, sesaat sebelum mengambil barang tersebut untuk meninggal kan pelabuhan, Fay malah tertangkap basah.


"Woyy ... Jangan lari lo!"


"Ck ... Sial."


Fay berlarian sambil sesekali menengok ke belakang, dan ternyata teman mereka yang di tugaskan menjaga bagian depan keamanan telah menemukan sosok Fay dan siap menghajarnya.


"Okeeyyy tenang Fay... lo besok harus sekolah, jadi lo harus lawan atau mati." Batin Fay dengan gerakan mata cepat menghitung musuh yang akan ia hadapi sendiri saat ini.


"Bocah sialan, balikin barang gue!"


"...."


Fay menatap ke empat orang itu dengan tatapan dingin seolah ingin membunuh. Tiga dari mereka langsung maju dengan tangan kosong. Fay yang ahli dalam beladiri pun begitu lihai hanya untuk menghindar dan memberi pelajaran kepada mereka. Tas yang ada di tangannya harus aman. Barang ini akan menjadi barang bukti kejahatan mereka.


Bugghhhh ... bugghhhh  ...


Krakkkk, ssrretttttttt ... Bugghhhh ....


"Aaarrgghhh ...." Rintihan itu terdengar memilukan yang ternyata tulang pada kaki nya patah karena serangan Fay.


Bugghhhh ... bugghhhh ....


Bugghhhh ...


Braaakkkkk


"Bocah tengil ... Mati kau!"


Sambil menodongkan pistolnya pada Fay, karena teman-teman nya kini pada jatuh terkapar di jalanan dengan kondisi babak belur.


Fay diam sesaat kemudian ia berlari, namun apa daya saat ia melewati laki-laki tadi, teman nya yang lain sudah menarik pelatuk nya untuk menghabisi Fay dan peluru itu menembak tepat pada bahu sebelah kiri Fay membuat nya terluka cukup parah.


Fay berlari menuju motornya yang terparkir dengan tersembunyi. Kini ia pun kembali menggandong tasnya kemudian langsung pergi ke kantor untuk memberikan barang bukti.


Di kantor polisi, terlihat nya para polisi yang mulai sibuk melaksanakan tugas mereka. Hal itu karena Fay yang telah memberikan data orang-orang yang  ada di pelabuhan.


"Mission complete!" Ucapnya seraya menyunggingkan seringai menakutkan nya.



"Faysa, nama yang bagus, tapi gue rasa ada yang aneh sama anak itu, mulai dari suara, cara berjalan bahkan bentuk tubuhnya."



"Tapi kalo di pikir-pikir lagi, masa iya sih ada cewe yang main-main ke sekolah pakai celana?"



"Ah ... kenapa gue mesti mikirin dia sih??"



Cloe kini sedang duduk di balkon kamar nya yang langsung tertuju pada halaman rumah milik nya, dia kaya tapi kesepian.



Itulah yang membuat Cloe jadi sosok nakal seperti ini. Tapi lain dengan hatinya, Cloe memiliki hati yang tulus.



Dering ponsel menyadarkan Cloe dari pikiran yang membawa dia pada sosok Faysa yang bahkan pada wajah nya yang tidak terlihat sedikit pun.


__ADS_1


"Hallo?" ucapnya dengan nada ramah seperti biasa.



"Hay kak."



"Ini siapa ya?" jawab Cloe sedikit kesal karena ternyata nomor nya bocor pada wanita tak jelas.



"Emmm ... emm ... aku Elza, yang tadi pagi kakak tanya ruang kepala sekolah."



"Oh ... itu, ada apa?"



"Aku mau kenal deket sama kakak ... Boleh?"



"Deket gimana maksudnya?" Cloe memutar bola mata nya dengan malas, ia yakin akan terjadi seperti ini. Huffftttt ... Menyebalkan.



"Ya PDKT gitu ... Boleh gak?"



"Sorry gue gak bisa!"



Cloe langsung menutup telponnya secara sepihak. Dasar cewek agresif. Cloe melihat mobil mewah terparkir di halaman rumahnya.



Mobil itu adalah mobil sang ibu. Wanita yang ia sayangi. Ahh ... tapi dia selalu sibuk dengan pekerjaan nya hingga selalu melupakan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.



Tapi itu tidak menjadi masalah selama Cloe masih tetap bisa melihat paras teduh milik Ibunya.




"Hay, Mom." Dipeluk nya sang ibu oleh Cloe dengan erat seolah mencari kehangatan.



"Hai Son, gimana sekolah barumu?"



"Lumayan lah, Mom." Sambil tersenyum kepada sang ibu.



Inilah yang selalu gue harapkan, meluk mommy gue yang paling gue sayang. Walau capek ataupun pegal menyergap tubuhnya, mommy selalu tidak lupa untuk tersenyum.



Keesokan harinya disekolah.



Cloe selalu datang dengan gaya bad boy-nya, namun hal itu membuat semua wanita terpesona. Ah, hampir lupa, dengan adanya Elza sang penggemar fanatik yang kini sedang menunggui Cloe di koridor di depan kelasnya .



Ternyata satu minggu lagi akan diadakan pentas seni dan pekan olahraga antar kelas. Cloe yang mendengar itu hanya biasa saja karena ia yakin ia akan memenangkan basket yang sangat ia ungguli.



Dikelas sangat riuh dengan suara anak-anak yang membicarakan pentas seni dan pekan olahraga raga minggu depan.



Morgan menghampirinya, "Cloe ... Lo mau ikut mana?"



"Basket dong."

__ADS_1



"Sip."



Morgan yang terbilang pendiam, namun tetap mempunyai kharisma yang membuat para wanita klepek-klepek, dan ia pun sama mengikuti lomba basket. Kini Morgan berdiri di depan kelas dengan kertas di tangannya.



"Okey ... Disini sudah ada data banyak siswa yang ikut lomba pentas seni dan olahraga lainnya, yang belum hanya tanding beladiri dan basket kurang satu orang."



"kalo gitu, siapa yang mau?" sahut salah satu siswi.



"Fay ... Lo bisa apa?" tanya gue pada si bisu Fay.



"...."



"Heh ... Denger gak, lo?" Entah kenapa, gue selalu naik pitam kalo bicara sama dia.



Aaarrrrggghhh sialan, dia bikin mood gue jelek pagi ini.



"...."



Dilihatnya rio yang berbisik dengan Faysa.



"Basket katanya." ucap Rio mewakili.



"Okey kalo gitu, yang bela diri lo ya


Rio, lo kan anak taekwondo."



"Ya udah deh." Jawab Rio dengan pasrah.



"Sial gue sekarang satu tim sama anak itu, pengen buka tuh hoodie. Penasaran gue gimana sih wajahnya sampe ditutup terus pake hoodie." Batin Cloe



\-FAY POV-



"Sial ... Kenapa mesti sekarang? Kenapa saat gue terluka?"



"Ahh sial ... Tapi mau gimana lagi, dari pada gue di musuhi satu kelas atau ikut tarung beladiri. Walau gue pengennya beladiri, cuma karena beladiri harus berpakaian layaknya petarung ia memilih mundur. Gue ga mau sampai ketauan bisa bisa gue dijaga ketat sama pengawal daddy."



Fay membuka suara.



"Gue pake hoodie." Suara Faysa membuat semua orang terdiam. Morgan dan Cloe pun saling bertatapan seolah memberi isyarat yang entah apa itu, hanya mereka yang mengerti.



"Gue akan bilang ke kepala sekolah, nanti gue kabari lagi." Jawab Morgan yang akhirnya membuat semua teman kelas nya bernafas lega.



"Hm ..."


__ADS_1


Cloe terlihat berkomat-kamit karena kini tengah mengeluarkan  sumpah serapah nya pada Faysa.



__ADS_2