My Posessive Guy

My Posessive Guy
Bullying


__ADS_3

Di hari kamis, seperti biasa kelas Fay Faysa ada jadwal olahraga, namun yang berbeda kali ini karena Faysa membuka hoodie nya. Dengan tubuh tinggi juga berotot Faysa, ia memasuki lapangan dengan para sahabatnya.


Teriakan dari teman sekelas mereka membuat siswa-siswi yang tadinya berada di dalam kelas, langsung melihat ke arah lapangan dan berteriak histeris karena melihat most wanted mereka berolahraga.


Kali ini permainan sepak bola. Morgan sangat menguasai permainan ini.


PPRRIITTT


Permainan dimulai. Morgan dengan Rio dan teman kelas lainnya, Cloe dengan Fay dan teman kelas lainnya juga.


Bola di oper ke arah Rio, Rio oper kepada Joko, Joko kepada Irsyad... Irsyad kepada morgan Dan——


Tidak golllll!!!!


Faysa langsung merebut bola dari Morgan.


"Serangan balik oyy!!!" teriak Oji membuat mereka kembali saling serang- menyerang hingga


Pprriittt pprrittt prriitttt


Score akhir dengan kedudukan yang sama 1-1.


"Begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Gue baru merasakan hal seperti ini, hangat." Batin Fay seraya mengusap keringat di wajahnya.


Setelah berolahraga, Fay berjalan menuju kantin bersama para sahabatnya, tak lupa dengan senyuman yang terpatri di bibir walau hanya sedikit yang terlihat.


Setelah berbincang-bincang mereka pun membeli minuman seraya melanjutkan perjalanan menuju loker untuk berganti pakaian hingga—


Suara benda berjatuhan keluar dari loker mereka. Ternyata sebuah kado, mulai dari hadiah untuk Faysa yang paling banyak, Cloe, Morgan, Rio terjatuh kelantai saking banyaknya.


Mereka berempat hanya memandangi hadiah tersebut kemudian saling menatap.


"Udah lah bawa aja."


"Hmm."


Mereka memasukkan nya ke tas mereka, hanya Fay yang tidak muat hingga beberapa kado yang tersisa ia tenteng dengan tangan kosong. Begitu selesai, bel pun berbunyi menandakan waktu nya pulang.


"Yo, cabut yuk, borring nih gue." Ajak Cloe.


"Boleh, yang lain?"


"Hang out dulu kali." Ucap Cloe memanasi Morgan dan Fay agar ikut dengan mereka.


"Gue langsung pulang." Jawab Fay membuat Cloe mendesah kecewa.


"Ah ga asik lo."


"Hm."


"Agsgsfshsjsjdjj pengen gue cekokin lo pake sepatu paijo."


"..." Fay menatap Cloe dengan malas, kemudian menatap ke arah belakang Cloe.


"Ayo sayang." Ajak Fay yang di tujukan pada Elaina.


"Ayo kak, bye semuanya kakak-kakak, kita duluan yaa."


"Bye manisku."


"Hati-hati"


Di perjalanan mereka asik mengobrol dan bernyanyi hingga akhirnya tiba di pekarangan rumah dan ternyata ada mobil lain terparkir di pekarangan mansion nya.


Ada tamu??


Siapa?


"Kita pulang!!!!" Teriak Elaina tidak menyadari tamu tersebut melihat kelakuannya, dan saat menengok—


"Ehhh..." kemudian ia beringsut mendekati Fay yang berada di belakangnya karena malu.


"Tuan ? Nyonya? Ada perlu apa kemari?" Tanya Faysa.


"Kami ingin bertemu dengan Faysa."


"Saya Faysa."


"Hah? Masa sih? Bukannya Faysa itu perempuan ya?"


Seseorang yang melihat itu menyorotkan mata marah karena ada yang mengaku sebagai Faysa, namun detik selanjutnya saat Faysa membuka penyamaran, kedua mata itu berbinar dan senyum di wajahnya pun terbit hingga melengkungkan sudut matanya. Ia berlari menuju Faysa dan memeluknya erat.


Flashback on


Aku ingin datang untukmu.


Aku tak bisa tanpamu disini.


Lama tak berjumpa membuatku rindu.


Rindu mata tajammu.


Rindu mulut pedasmu.


Rindu tolakanmu.


Siapa???


Ken William, dengan sebutan sayang Will dari Faysa. Sasa yang menjadi hangat padanya Sasa yang menjadi alasannya tersenyum.


"Mom, bolehkah aku bertemu dengan Sasa?"


Ken masih dengan traumanya, ia tetap kekeuh dan tak mau di bawa ke psikiater.


"Buat apa sayang?? Kan Will bisa disini sama mommy sambil home schooling."


Ken terdiam dengan mata merah dan nafas yang memburu.


"Sayangg.. kenapa?


"Will kamu kenapa?"


Masih tidak menjawab.


"William?"


"CUKUPPP!!!!" Jerit Ken sambil menutup telinganya.


"Hey hey.. kenapa???" Sang ibu panik melihat anaknya seperti ini.


"Yang boleh panggil Will hanya sasa, Ken mau ketemu sama sasa, sekarang!"


Ken pun terus berteriak ingin menemui Faysa. Sang ibu menelpon suaminya untuk kembali ke rumah segera , menjelaskan anaknya yang histeris membuat suaminya ketakutan dan khawatir terjadi sesuatu.


Flashback off



Setelah tau bahwa Faysa menyamar sebagai laki-laki di sekolahnya, Ken menjadi takut jika Faysa berdekatan dengan laki-laki lain selain dirinya. Fay menjadi laki-laki yang otomatis temannya pun akan kebanyakan anak laki-laki.



"Mom, Ken ingin tinggal bersama Fay."



Elaina mengernyitkan dahinya karena tak mengerti dengan kelakuan dan keinginan laki-laki yang ada di hadapan kakaknya saat ini. Ia pun dengan cepat menghempaskan tangan Ken dari bahu Faysa.



"Apa?" Tanya Elaina memandang garang pada Ken.



"Sasa?" Lalu Ken memeluk Faysa sambil terisak.



"Udah ya Will, nanti biar Sasa yang kasih tau Elaina, hmm?"


__ADS_1


Ken hanya membalas dengan anggukan. Setelahnya ia pun melepas pelukannya dari Fay. Melihat itu, Elaina langsung menggandeng lengan sang kakak menuju kamarnya.



Namun dengan cepat tertahan membuat Elaina memutar bola mata jengah, karena Elaina belum tahu yang sebenarnya dengan keadaan Ken.



"Will mau ikut ke kamar Sasa?"



"Iyaa, Ken mau, ayo ayo!"



Faysa pun menggandeng tangan Ken dengan tangan sebelah kanan dan Elaina di sebelah kiri.



Sesampainya di kamar Faysa, ia pun mandi dan bergegas berganti baju. Namun saat keluar, ia menemukan Ken yang tertidur di atas ranjangnya. Faysa menaikkan selimutnya sampai leher Ken kemudian ia menghampiri Elaina yang ternyata telah meninggalkan kamarnya.



Faysa mengetuk pintu kamar Elaina.



"Masuk." Sahut nya dari dalam.



"Hai sayang."



"Kak Fay? ada apa?"



"Kakak mau menjelaskan tentang keadaan Ken."



"Kamu ingat peristiwa penculikan anak trilioner yang di USA?"



Elaina menganggukkan kepala tanda ia tahu.



"Ken, dia orangnya."



"Terus? apa emang dia seperti itu kak? Aku gamau kalo kakak lebih sayang orang lain dibanding dengan Sasy."



Faysa pun menceritakan semua kejadian yang ditimpa oleh Ken.



"Dia mendapatkan trauma dari kejadian itu."



"Terus? hubungannya dengan kakak apa?"



"Karena dulu kakak yang menolongnya, dia jadi begitu amat ingin berlindung di belakang kakak."



"Tapi Sasy gamau kasih sayang kakak terbagi lagi." 




"Sayang, maafkan kakak, tapi kakak tidak bisa berbuat apa-apa lagi."



"Keluar."



"Hah?"



"Kakak keluar, Sasy mau bobo."



"Yaudah kalo gitu, selamat tidur sayang." Fay mengecup puncak kepala Elaina kemudian melangkah pergi meninggalkan kamarnya.



"Gak ada yang boleh deketin dia."



"Cuma gue  yang boleh."



Keesokan harinya, bel sekolah berbunyi, seluruh murid dari dalam kelas berhamburan keluar untuk melaksanakan upacara.



"Males banget gue." Keluh Cloe pada Rio.


"Gak boleh gitu, upacara adalah sebagai bentuk kita menghargai para pejuang yang telah gugur demi memerdekakan Indonesia, kalo keadaannya di balik lo yang gugur mereka yang ada disini dan suka ngeluh kayak lo, gimana perasaan lo?"



"....." Cloe diam tak berkutik, dalam pikirnya ia berkata.



"Gue kan orang Jepang, bego ni si Rio. Tapi gimanapun gue sekarang jadi Warga Indonesia."



"Heh .. lo dengerin gue gak?"



"Iye, udah ah. Yok baris."



Upacara berlangsung dengan hikmat hingga— alarm tanda bahaya kebakaran di sekolah berbunyi. Dengan segera para siswa berhamburan menuju keluar gerbang.



Fay cemas, ia segera berlari mencari sang adik.



Ia menekan bandul pada liontin nya, dan terlihatlah, Elaina yang sedang di sekap atau lebih tepatnya ia di bully oleh siska serta teman-temannya.



Dan kebakaran itu disebabkan oleh antek Siska agar semua murid tidak tahu jika ia sedang mem-bully sang ratu dari Faysa.


__ADS_1


Kenapa siska mem bully Elaina?



Karena Elaina tidak akan pernah membiarkan Faysa dekat dengan Siska.



"Sekali lagi lo bilang gak bakalan restuin gue?"



"Ga akan!!!! Aku ga akan mau punya kakak ipar kayak kamu."



"Kurang ajar ya lo."



"Guys, pegang tangan sama kaki nya."



Siska mengeluarkan gunting yang tadi ia sembunyikan di balik punggung nya.



Gunting yang sudah mendekat ke arah baju Elaina pun mulai merusak baju dan rok Elaina, banyak terdapat sobekan membuatnya semakin terlihat mengenaskan. Saat gunting menuju rambut Elaina, krekkk— suara tulang tangan Siska patah kalau


Fay datang, walau terlambat, ia tetap berhasil menyelamatkan Elaina.



Fay mengangkat Siska kemudian membanting nya ke arah kursi yang ditumpuk.



Bruk, Siska lemas dengan darah yang banyak keluar dari kepalanya.



"Siskaaaa!!!" jerit antek Siska kemudian menatap Faysa dengan tatapan tak percaya.



"Jangan pernah mengganggu kesayangan gue, lo semua akan mati kalo gak keluar sekarang."



Dengan cepat mereka keluar gudang sambil membawa siska.



Fay mendekat dan memeluk Elaina.



"Sayang kamu gapapa?"



"Maafin kakak yang telat menyelamatkan Sasy, kakak minta maaf."



"Takut... Sasy takut hikk hikkss."



"Tenang sayang, ada kakak sekarang disini sama Sasy."



Fay membuka hoodie nya, kemudian ia pakaikan pada Elaina. Fay menggendong sang adik yang sudah sangat lemah.



Fay khawatir, ia takut jika adiknya akan memiliki trauma berkepanjangan seperti yang di alami oleh Ken.



Dengan berlari ia menuju para sahabatnya.



"Yo, gue pinjem mobil lo."



"Ehh kenapa tuh degem gue??"



"Bacot anjing... cepet!"



Fay semakin tidak terkontrol karena mengetahui sang adik pingsan.



"Nih."



"Lo bawa motor gue."



"Iya. Lo bawa kemana?"



"RS."



Tiinnn



Fay membunyikan klaksonnya tanda ia duluan, beberapa detik kemudian ia pun sadar akan sesuatu.



"Tadi si Fay ngasih kunci ga sih?"



"Bego lu, kagak!"



"Lah?? Terus cara bawa tuh motor gimana?? Gue angkat gitu?"



"Hahahah sabar ya mas bro, gue duluan." Cloe berlari pergi agar Rio tidak ikut padanya.



"Gan, gue ikut lo ya."



"Hm, naik."



Mereka pun pergi menyusul Faysa ke rumah sakit.

__ADS_1



Kasian banget Elaina.... Jadi kalian udah vote belum????


__ADS_2