
Lo beda. Gak tau kenapa hati gue bisa tertuju sama lo. Tapi gue yakin ini salah, karena dia salah satu teman gue dan dia seorang laki-laki. Gak mungkin kan sekarang gue jadi pindah haluan dan gak suka sama cewek lagi?
Yap! itu adalah Rio. Rio yang memiliki perasaan yang berbeda pada diri Faysa.
DAn sekarang di rumah Faysa terjadi kegemparan akan kondisinya juga Morgan.
"OMG kak Faayyyyy," teriak Elaina karena melihat sang kakak berjalan dengan lemas.
"Kenapa bisa begini kak?"
"Tadi kita di cegat preman 10 orang."
"What?" Muncullah Rio dan Cloe karena mendengar teriakan Elaina tadi.
"Eh eh.. kenapa tuh si Fay??" Tanya Cloe kala melihat kondisi kedua sahabat nya.
"Lo juga kenapa, Gan?" Lanjut nya.
"Mereka di keroyok kak sama 10 orang preman hiks hiks..." Elaina menjawab pertanyaan Cloe sembari menangis.
Fay melangkah maju dengan tubuh yang kini sudah tegak kembali agar tidak membuat sang adik khawatir.
Fay pun mengelus puncak kepala Elaina dan mengecup nya.
"Kakak baik-baik saja sayang... kamu tenang ya, jangan nangis lagi. Nanti muka kamu jadi jelek loh."
"Ihhh kakak, aku tuh khawatir sama kakak tau." Rengek sang adik pada Fay.
"Iya sayang... kakak tau. Kakak minta maaf ya karena bikin kamu khawatir begini. Jadi jangan nangis lagi ya sayang."
Fay pun memeluk sang adik dengan sangat erat.
"Kalo gitu kakak ganti baju dulu terus obati lukanya ya kak."
"Iya sayang, terima kasih."
"Sama sam kakakku sayang."
"Yaudah kakak ke atas dulu ya."
Sedangkan para sahabatnya yang melihat kelakuan Fay? mereka hanya memandang tak suka karena kehadiran ketiganya merasa di abaikan.
"Kita tuh sebenernya cuma pajangan di rumah ini atau tamu sih?"
"Anjirrrrr bau kentut!"
"Biasa aja dong, lo teriak di samping telinga gue!"
"Tuh kan bau lagi!" Ucap Rio seraya menatap Cloe dengan pandangan menelisik dan mencapit hidungnya.
"Maksud lo nafas gue bau kentut gitu?"
"Iya lah... lo coba aja hisap nafas lo."
Rio dan morgan pun meninggalkan cloe sendiri di dekat pintu masuk rumah.
"Masa iya sih?? Coba ah..."
Hahhhh, Cloe mencobanya dengan menghembuskan nafasnya pada telapak tangan kemudian ia cium sendiri baunya.
"Ahh engga ah–"
"Coba deh sekali lagi."
Cloe pun mencobanya lebih dekat dengan mulutnya.
Haaahhhhh, "anjiirrrrr... bener nih bau semur jengkol emak gue."
"Lagian, kenapa sih makanan Indonesia enak-enak banget? sampe jengkol pun gue babat habis."
"Tau bakal bau gini ga bakal gue makan dah... haduh hancur reputasi gue sebagai most wanted."
Setelah selesai mandi, Fay pun kembali memakai hoodie berwana putih. Jika ke sekolah ia akan memakai warna hoodie yang gelap , sekarang ia hanya ingin memakai warna putih.
Fay pun turun dan langsung menuju meja dimana teman-temannya berada sekarang, yaitu diruang tamu dengan di temani berbagai macam camilan.
"Eh udah beres lo Fay?" Tanya morgan.
"Hm."
"Set dah... cuek amat, tapi Fay gue makasih banget sama lo, kalo ga ada lo mungkin gue udah koma atau mati karena di keroyok tuh preman."
"Hmm.. santai , lo sobat gue."
"Thanks ya,Fay." Ucap Morgan sambil memeluk Faysa dari arah samping.
"Ehhh lo homo hah??" Teriak Rio.
"Maksud lo?"
"Itu..." tunjuk rio pada tangan morgan yg kini sedang memeluk pinggang Faysa.
"Astagfirullah... bukan maksud gue gitu loh ya... Fay lo jangan mikir macem-macem awas aja."
"Gak!"
"Syukur deh."
Di pikiran seseorang
"Syukurlah dia ga peluk Faysa lama-lama, entah kenapa gue ga suka Faysa deket sama yang lainnya."
"Jangan sampai kak Fay baper tuh sama temennya, aku ga rela!!"
"Kalo sampai kak Fay ngurangin perhatiannya ke aku, kalian yang akan kena imbasnya." Desis Elaina dari arah dapur yang melihat kejadian tadi.
Setelah teman temannya pulang Fay membuka hoodie nya. Kemudian ia ganti dengan kaos abu abu miliknya serta jas lab yang sudah ia siapkan.
Mau kemanakah?
Faysa memiliki laboratorium sendiri, dengan berbagai macam alat yang sangat canggih dan juga sangat mahal pastinya.
"Okeyy... sekarang gue tinggal bikin bagian badan aja.. gimana caranya agar badan gue terlihat seperti cowok sesungguhnya."
__ADS_1
"Kak...."
"Kakakkkk..." teriak Elaina yang lumayan menguras suara karena terus meneriakkan nama kakak nya.
"Iisshhh kak Fay mana sih??"
"Coba di ruang musik deh."
Elaina pun mencari sang kakak ke ruang musik. Namun saat pintu terbuka ia hanya mendesah lesu karena tidak menemukan sang kakak tersayang.
"Bodoh El! Kamu kan punya alat ini." Batin nya berceloteh, merutuki kebodohannya.
Elaina pun memencet bandul pada kalungnya lalu terlihat lokasi dimana titik keberadaan sang kakak.
"Ohhh lagi di lab nya. Kalo El kesitu pasti ga boleh, yaudah lah El ke kamar aja."
"Kak Fay kalo udah urusan sama lab nya pasti lupa deh sama sekitarnya."
Di Lab
Faysa begitu teliti dalam perhitungan dan juga menyelesaikan pekerjaannya itu agar cepat selesai dan bisa dipakai besok.
Alat canggih itu kini sedang membuat baju dengan ketelitian sangat, agar terlihat seperti kulit asli dan juga tidak mudah rusak, jika muka, Faysa sudah selesai membuatnya... wajah yang tampan serta di satukan dengan rambut agar tidak terlihat mencurigakan. Dan setiap alat yang Faysa buat hanya bisa digunakan oleh Faysa sendiri karena ia menggunakan sidik jarinya.
"Good!"
"Akhirnya selesai juga, jam berapa nih?"
"Astagaaa... jam 3 pagi?"
"Sasyyy???"
"Sasy."
"Sasy??"
"Sayangg kamu dimana??"
Faysa berlari ke arah kamar sang adik, saat membuka pintu kamarnya, Faysa bernafas lega karena sang adik sedang tertidur pulas.
Faysa pun mendekati tempat tidur sang adik.
"Sayang... maafkan kakak yang udah lupa waktu selagi sama kamu."
"Kakak bener bener minta maaf, kamu pasti lelah ya? Good night, sis."
Faysa pun meninggalkan sang adik yang masih terlelap dalam tidurnya setelah sebelumnya mengecup puncak kepala Elaina.
Pagi pun tiba, Faysa langsung masuk kamar adiknya dengan penampilan baru yang sudah ia siapkan sejak kemarin.
ceklleekk
Aaaahhhhhh
"Kak Fay ... tolong! ada penyusup!" teriak Elaina saat seseorang memasuk kamarnya.
"Sayang ini kakak?"
"Kamu kakak siapa?? Aku cuma punya dua kakak!"
Faysa pun me-scan sidik jari yang terdapat pada kulit buatannya di belakang telinga Fay, hingga sang kulit melonggar dan bisa terbuka.
"Kakak? Omaygat... jadi kemarin kakak bikin alat ini??" Teriak Elaina karena merasa terpukau akan ciptaan sang kakak.
"Iya sayang.. gimana?? Tampan gak?"
"Ganteng bangetttt ... coba sasy mau liat perutnya dong, ada six pack nya ga?" Canda sang adik.
"Nih!" Elaina pun terkejut karena ia berfikir hanya sekedar& candaan tapi di anggap serius oleh sang kakak. Namun begitu pun sang adik makin merasa terpukau dengan penyamaran sang kakak kali ini.
"Kakak the best deh!"
"Makasih sayang... jadi kalo disekolah kamu ga perlu takut kalo identitas kakak ini terbongkar. Karena kakak sudah buat penyamaran serapi mungkin."
__ADS_1
"Ayo kita sarapan dulu." Lanjut Fay sambil menarik tangan sang adik.
Setiba di meja makan Faysa menyiapkan roti dengan selai stroberi kesukaan Elaina, sedangkan Fay , ia memakan roti dengan selai coklat karena ia alergi pada stroberi.
"Ini sayang kamu makan dulu."
"Terima kasih kakakku yang tampan."
"Kamu ini, kakak itu cantik— hanya penyamaran ini yang bikin kakak tampan."
"Iya iya, mau kakak cantik ataupun tampan Sasy tetap sayang kakak."
Faysa hanya membalas dengan senyum penuh kasih sayang pada adik tersayangnya. Bahkan apapun akan ia lakukan hanya untuk membuat sang adik bahagia.
"Yuk, buruan nanti kita telat."
"Ayo kak!"
Faysa seperti biasa memakaikan helm kepada sang adik dengan hati-hati dan juga membantu sang adik untuk menaiki motornya.
Di perjalanan, mereka banyak berbincang walaupun Elaina lebih mendominasi, tapi itu selalu menjadi hal yang bahagia menurut Fay karena ia bisa melihat sang adik dengan berbagai macam ekspresi saat bercerita.
Sesampainya disekolah semua tatapan menuju pada pengendara motor tersebut.
Bunyi mobil sport yang datang secara bersamaan yang ternyata milik para most wanted pun mulai memasuki area parkir.
"Ehhh si Morgan mana?"
"Ehhh tu anak. Tumben bawa motor."
Baru saja di bicarakan, Morgan pun datang dengan motor yang ia tumpangi.
"Salah parkir lo, ke parkiran motor sana."
"Males. Gue parkir disini aja."
"Oh ya, lagi pada ngapain disini?" Sambung Morgan bertanya pada Rio dan Cloe.
"Nungguin lo Toge!"
"Sialan lo, eh si Fay mana?"
"Tau tuh.. tadi ada lagi sama degem nya, mungkin lagi anter ke kelasnya."
"Ohh gitu, gila gue penasaran setampan apa si Fay sampe si degem suka sama itu es batu."
"Yaudah lah mungkin kalo dia udah siap kasih tau kita, pasti bakal dia kasih tau."
"Iya juga sih, yaudah lah yok cabut ke kelas."
Bel pertama
Bel kedua
Hingga akhirnya bel istirahat berbunyi.
Entah ada apa para siswa berhamburan keluar begitu cepat .
Saat most wanted jalan memasuki kantin, seorang siswi dari arah berlawanan berlari dengan cepat karena di kejar oleh temannya.
Brrukkkk
"Aawww.... anju sakit!"
"...."
"Elo yah... jalan tuh liat- liat dong!"
"...." masih tidak ada jawaban dari Fay.
Seisi kantin pun terkejut dengan kejadian tersebut.
Karena..
Karena—
Hoodie yang di gunakan Faysa terbuka ke belakang, namun wajahnya masih tetap menunduk.
"Heh cowok bisu, bisa ngomong gak lu? Sakit ni pantat gue gara-gara nabrak lo!"
"Berisik!"
"Anjiirr lo ngomong padat amat, liat muka orang nya dong, ga punya muka lo? Tiap hari bisanya pake hoodie doang."
Ya itulah Siska termasuk cewek populer kelas 11 yang cantik dan seksi namun sayang sikapnya yang absurd dan juga petakilan bisa di bilang bad girl. Tapi tidak menutup kecantikannya.
"...." masih tidak ada jawaban dari Fay.
Semua penghuni kantin pun begitu penasaran dengan wajah Fay, karena di antara para most wanted lainnya, hanya Fay lah yang terlalu misterius.
Fay pun mendongakkan kepala nya hingga.
"Aaahhhhhh!!!"
"Busseeettt ganteng!!!"
"Mantep jiwaaaaa gantengnya dari orok itu mah."
"Pantes adik kelas yang manis itu mau sama tu orang."
"Fay... jadiin aku pacar kamu!!!"
"Selingkuhan juga bolehhh."
Banyak orang orang berbicara memuji wajah Faysa.
"Udah?"
"Hah??" Siska masih syok karena melihat wajah tampan Fay.
"Bacot lo, cabut!"
Para most wanted pun meninggalkan siska yang masih terdiam dalam keterpakuan nya.
I'm BACK!!!
VOTE dan COMMENT kalian selalu aku tunggu lohhh 🥰🥰🥰
__ADS_1