
Sesampainya beberapa meter dari arah gedung tempat penyekapan. Faysa dan Kevan segera menggunakan alat penyamaran mereka.
Faysa yang sebelumnya telah menyabotase ponsel dari sang musuh agar setiap panggilan langsung terdengar olehnya.
Rupanya sang musuh tengah memesan pizza delivery, Kevan dengan sigap mengubah penampilannya seperti tukang pengantar pizza dan Faysa yang bertugas menyusup kedalam gedung.
Go!
Rumah yang terbilang mewah, namun pantas di sebut neraka. Rumah ini seperti rumah biasa pada umumnya, beda dengan keadaan didalam rumah nya yang sangat berantakan, bau, pengap, juga lembab.
Ting tong
Ting tong
Ceklekk...
Sang perempuan paruh baya dengan setelan daster keluar dari rumah tersebut.
"Pizza delivery!"
"Ohh iya mas, tunggu sebentar ya."
Kevan menjentikkan jarinya, itu adalah tanda waktunya Faysa untuk menyusup.
Tidak berapa lama kemudian sang ibu kembali membawa uang untuk melakukan pembayaran.
"Ini mas uangnya."
"Baik, terima kasih banyak bu."
"Iya sama-sama nak."
"Heh taktik yang bagus, tapi sayang, black jack tidak mudah di kelabuhi." Batin Kevan seraya menjauh dari target.
Sesampainya di mobil, Kevan langsung menghadap monitor, ia mulai dengan hacking nya pada jaringan telepon, hp, cctv di rumah itu.
Ia pun melihat bagaimana aksi sang adik.
Sementara Faysa.
Setelah diberi komando maju. Gue langsung memanjat tembok untuk sampai ke balkon rumah tersebut.
Dari luar terlihat beberapa orang berbadan besar yang berjaga disatu ruangan.
"Sayang, ruangan lantai dua yang mengahadap ke arah balkon."
"Siap kak!"
Suara kruk pada jendela ruangan penyekapan terbuka, faysa masuk lewat jendela belakang kamar tersebut, karena sang kakak memberitahu bahwa tak ada seorangpun yang berjaga di dalam.
Kotor.
Itulah yang menggambarkan ruangan ini. Terlihat laki-laki 17 tahun sama dengannya tengah duduk di bawah dengan luka memar di sekujur tubuhnya.
Faysa mendekat perlahan hingga tiba-tiba. Sang sandera mendongakkan kepala ke atas menghadap Fay, dan dengan cepat pula Fay menyimpan telunjuknya di bibir.
"Ssttttt, jangan berisik, aku akan membantumu keluar dari sini."
Ia mengangguk setuju akan perintah dari Faysa. Fay pun dengan gesit membuka tali pada tangan dan kakinya.
"Cepat kita keluar dari sini!"
"Aku tak bisa berdiri."
"Aku bantu!"
"Hm."
Fay merangkul kan tangan sang lelaki pada pundaknya. Dengan jalan tertatih mereka menuju jendela saat Fay masuk.
"Clear!"
Kevan menunggu di bawah. Dengan segera Fay mendorong nya dari atas.
Huppp, ia pun tertangkap dengan sempurna, saat Fay akan melompat keluar, tiba-tiba saja ada yang memegang kakinya.
"KAUUUU BERANINYA IKUT CAMPUR URUSANKUU!!!"
"Hm."
"Sialan kau anak kecil!"
Datanglah beberapa orang membawa balok kayu, tongkat, cerulit, pisau.
"Hahahah kau takkan bisa kemana-mana sekarang!"
"Baik."
"Hajar dia!"
Fay pun mulai dikepung, saat salah satu dari mereka maju Fay langsung menghindar dan memberikan tonjokan pada ulu hati sang lawan yang ada di depannya. Karena belum siap, sang lawan mundur dengan darah yang keluar dari mulutnya.
Dua orang maju dengan menbawa cerulit nya. Brugghh, Fay menangkis tangan sang musuh hingga cerulit pun terlempar.
Suara patahan tulang juga teriakan kesakitan yang ia dengan nampak seperti melodi kematian. Kini hanya tersisa dua orang dari 8 orang musuh.
Fay melawan salah satu dari mereka terlebih dahulu pertarungan sengit pun terjadi.
Aarrgghhh, Sialan anak ini.
Sang musuh mengeluarkan pisau dalam jas nya.
Srek srek...
Fay berhasil menghidar , hingga saat Fay lengah.
Sreekkkk
Pisau itu tertahan di depan wajah Fay dan tertahan oleh tangan Fay yang kini mulai mengeluarkan darah. Sang musuh hanya tertegun melihat mata Fay yang kini menjadi merah. Hingga
Senyum iblis keluar dari bibir Fay
Good bye!
Krrekkk
Jleb
Patahan tulang leher dan pisau yang menghunus tepat di jantung.
sang musuh terkapar , dengan bermandikan darah. Karena setiap pukulan dari Fay menggunakan tenaga dalam juga akibat pisau yg digunakannya.
Satu orang lagi.
"Siapa yang menyuruh kalian?"
"...." gemetar
"Siapa?"
"Eehh..."
Fay mendekat..
Ssrraakkk brugghh
Faysa menggunakan judo nya sehingga kini sang musuh ada di bawah Faysa yang sembari mencekik sang musuh.
"Siapa?"
"Mi..." ucapnya terpatah-patah.
"Yang benar!"
"Mil.. mil .. uhukk uhukk."
"Mi..mil..mile..miler uhhuk!"
"Miler siapa?"
"Sw..swag..swaggh.. eenngghh...."
"Jawab dengan benar!"
"swagth aarghh uhukk!"
"Baik."
Fay pun melepaskan cekikannya
__ADS_1
Uhuk uhuk..
Uhhuk..
"Kau ingin mati seperti temanmu atau taubat?"
Entah kenapa Fay melihat nasib baik pada laki laki ini jika bergabung dengannya.
"Hidup."
"Ikutlah denganku!"
"Kenapa?"
"Hm?"
"Kenapa kau percaya padaku?"
"Aku melihat kejujuran dan juga rasa tak terima melakukan tugas ini."
"Ya benar."
"Jadi?"
"Aku akan ikut denganmu, terimakasih."
"Hm.."
Setelahnya mereka pun melompati jendela yang telah di bobol Faysa tadi.
Pov Ken
Hai , nama gue Ken William Harrison gue anak dari trillioner Samuel Harrison nama nyokap gue Milly Swenda Harrison. Gue anak tunggal di keluarga ini.
Kenapa gue bisa di sekap?
Alasannya karena perusahaan bokap gue yang bikin perusahaannya bangkrut disebabkan kecurangan yang dilakukan oleh perusahaan itu.
Sebenarnya apa yang dilakukan bokap gue bener. Sejak itu banyak teror bermunculan , dan teror itu tertuju pada gue.
Hingga suatu saat gue keluar sendiri tanpa pengawasan pengawal karena mau hangout bareng sobat gue. Di pertengahan jalan, mobil gue ada yang mencegat. Banyak pria berbadan besar dan bertato dengan membawa tongkat bisbol, balok kayu, besi runcing dll.
Gue tentu takut , karena belum pernah melawan orang sebanyak ini, ya... sekitar sepuluh orang.
Saat gue keluar gue langsung kena pukul pada kepala bagian belakang.
Brrugghhh
Aarrggghh
"Bangsat apa mau lo?"
"Ikut kami!"
"Ccuuiiihh ga sudi gue!"
"Bos , nantang ni anak."
Pukulan serta tendangan Kena dapatkan dari mereka hingga akhirnya Ken dilempar ke kap mobil depan milik Ken. Dengan darah mengucur dimana mana, akhirnya ken di bawa ke tempat persembunyian nya.
Ken di ikat di bawah lantai, tidak di beri makan.
Hingga 2hari setelahnya, tiba- tiba ada yang mendekat dan saat gue mendongak kepala.
Cantik
"Sssstttt, jangan berisik, aku akan bantu kamu keluar dari sini."
Gue pun menganggukkan kepala. Dia membuka ikatan di badan dan tangan gue. Dan saat dia merangkul tangan gue, semilir rambutnya wangi dan menenangkan.
Tiba di jendela gue terlempar dari atas. Gue kira gue bakal mati ternyata ada yang nangkap gue dari bawah. Dan seseorang itu bernama Kevan.
Gue mendongak ke atas dimana cewek itu akan melompat, tapi dia seperti ditarik kembali.
"Udah ayo kita ke mobil."
"Hm."
Saat di gerbang ternyata ada ibu-ibu yang tersenyum mengerikan ke arah kami.
"Kalian ga akan bisa bebas begitu saja!"
"Heh ibu , lebih baik kau banyak beribadah agar dosamu terampuni."
"Beraninya kau berbicara seperti itu kepadaku."
Doorrr
Tembakan itu meleset!
Gue yang tadinya di gendongan Evan di letakkan di bawah . Lalu evan maju dengan tangan kosong . Sorot matanya tajam menakutkan. Gue liat si ibu pun gemetar.
Hingga evan di hadapan ibu itu.
Krreekkkk
__ADS_1
Kepala ibu tua itu di putar 180 derajat dengan mata melotot , ibu itu tergeletak di halaman dengan nyawa yang sudah tiada.
Sesampainya di mobil Kevan mengecek monitor yang ada pada laptop nya.
Ternyata di sana terlihat si cantik sedang menindih lawan entah apa yang di bicarakan nya sehingga mereka berdua bangun dan melompat ke arah jendela bersamaan.
Tidak sampai 5 menit si cantik duduk di depan dengan Kevan dan lelaki yang bersama nya tadi berada di sampingku.
"Bukannya dia yang selalu memberiku makan secara diam diam?" Batin Ken.
Si cowok menoleh karena merasa di tatap , lalu memberikan senyumnya.
"Maaf telah menyekapmu."
"Seharusnya aku berterimakasih, kalo ga ada kamu aku mati kelaparan."
Entah kenapa , Ken menjadi sosok yang lembut serta takut pada orang bertubuh besar.
Trauma? Bisa jadi!
"Sweetie... tanganmu?"
"No problem."
"kenapa kau begitu ceroboh?!"
"Aku hanya ingin menakutinya saja."
"Tapi tidak—"
"Ssstttt berisik."
"Sini aku obati."
Ken yang melihat itu terbakar api cemburu.
Padahal jika ia tau yang sesungguhnya tak perlu merasa begitu.
Semenjak kejadian penculikan tersebut, Ken menjadi pendiam, berbicara seperlunya dan juga ia begitu manja seperti anak kecil.
Mentalnya sangat down karena banyaknya kekerasan yang ia dapatkan selama 3 hari ia di sekap.
Setelah tugas Fay selesai., entah apa yang terjadi Ken selalu membuntutinya dengan alasan takut dan hanya Fay yang bisa melindunginya.
"Huuhhh... lepasin tangan gue."
"Gak mau Fay... aku gamau." Rengek Ken
Ssrreekk
Fay melepaskan cekalan tangan ken dengan paksa. Ken hanya berkaca-kaca mendapatkan perlakuan seperti itu. Orang tua Ken yang melihat itu hanya menghela nafas karena ken tidak ingin di bawa ke dokter untuk menghilangkan traumanya.
Ia hanya butuh FAYSA.
"Sayang . . Lepaskan dulu ya.. Fay mungkin sedang ada urusan."
"Gak!"
"Ayolah sayang."
"Shut up mom! Aku hanya ingin Fay , please mom." Rengek Ken pada sang mommy.
"Baiklah nyonya, tidak apa apa , lagipula lusa saya akan kembali ke Indonesia karena tugas saya disini telah selesai."
"Kenapa kau akan pergi?" Tanya Ken berkaca-kaca.
"Kenapa Fay mau ninggalin, Ken?"
"Mommy ken ga mau pisah dengan Fay." Ken terus merengek tak ingin berpisah dengan Fay.
"Sayang, Fay hanya bertugas disini jadi dia tidak lama."
"Pokoknya Ken ikut!"
"Nyonya, biarkan saya yang berbicara dengan Ken."
"Baiklah, Faysa."
Gue harus punya alasan yang tepat, gak mungkin kan gue bawa dia ke Indonesia , lahh dia anak siapa ? Masa main bawa aja ga mungkin kan.
Haaduhh.. berfikir berfikir..
Triinnggg
Lampu menyala di atas kepala Faysa .
"Ayo ken ikut Fay ya." Ucap Faysa dengan lembut seperti berbicara pada Elaina . Siapa tau dengan berbicara halus ken akan menuruti Faysa.
Ken menganggukkan kepalanya berkali kali . Uuhhh lucu" Batin Fay.
"Shittt kenapa gue jadi terpesona liat ken yang kayak anak kecil gini." Batin Fay merutuki ucapannya.
"Ayo duduk di samping Fay."
"Ken mau manggil Faysa dengan Sasa, bolehkan?"
"Boleh." Ucap Fay seraya memberi senyuman manisnya.
"Wil, bolehkan kalo sasa pulang ke Indonesia? Sasa kan harus sekolah, Sasa juga punya adik, masa Sasa ninggalin adik Sasa di sana sendiri , kan kasian adik Sasa."
"Wil?"
"Panggilan Sasa buat Ken,Will atau william." Jelas Fay seraya tersenyum manis.
"Will suka Sasa, tapi apakah Sasa akan bertemu lagi dengan will? Apakah Sasa akan kembali lagi kemari menemui Will,?"
"Pasti, nanti sasa akan kunjungi Will kalo Sasa ke USA , promise." Sambil memberikan kelingkingnya .
"Janji ya Sasa, awas bohong sama Will."
"Ga akan Will."
Ken pun menyambut kelingking sasa dengan kelingkingnya .
"Lusa sasa akan pulang, Will jangan nakal dan harus nurut pada mommy dan daddy Will okey?"
"Okey, Sasa." Ken menyengir memperlihatkan gigi-gigi putihnya.
__ADS_1
Aku UP Lohhh . Gimana? Suka?