
Setelah sampai di rumah sakit, dengan segera Faysa di bawa ke ruang operasi. Faysa yang saat ini sedang lemah dan tak berdaya akibat lukanya. Seorang most wanted yang kini telah banyak di gemari, sang kakak yang sangat melindungi adiknya, begitu juga sahabat yang setia, sedang bertaruh nyawa antara hidup dan mati.
Dan pernyataan setelah selesai operasi pun Faysa dinyatakan koma.
Saat ini, semua orang berkumpul di rumah sakit dimana Fay tengah di rawat, sudah 2 minggu berlalu tapi Faysa belum sadar dari koma nya.
Sekolah tetap berjalan lancar, namun kurang seru tanpa adanya ice prince mereka yang kuat, penyayang, setia, dan juga tegas.
Mereka kehilangan Fay, sangat. Apalagi orang-orang terdekat mereka.
Kevan? Ia begitu menghawatirkan adik tersayangnya, ia begitu lalai menjaga sang adik, ia benci dirinya sendiri karena tidak becus menjadi kakak untuk adik tersayangnya.
"Fay ampuni kakak, maafin kakak yang gak bisa jaga kamu, please wake up sweetie please... open your eyes."
Elaina pun merasa terpukul dengan kejadian yang menimpa kakak nya.
"Hikkss hikks... kakak, bangun... Sasy gamau sendiri kak, kakak yang selalu ada buat Sasy, kakak yang selalu berada di samping Sasy, kakak yang selalu hibur dan buat Sasy ketawa, siapa yang bakal pulang bareng sama Sasy lagi kak? Siapa yang bakalan bikinin Sasy sarapan? Ayo kak, please bangun... buat Sasy dan buat keluarga kita kak, Sasy mohon."
Elaina menangis dengan mencurahkan segala isi hati yang ia rasakan sekarang. ia sangat-sangat tidak ingin kehilangan Faysa. Bagi Elaina, Faysa adalah cahayanya.
Hingga tiba-tiba— jari-jari Faysa bergerak. Matanya pun mulai terbuka perlahan, sedikit demi sedikit dan menatap mereka semua yang kini berada di ruangan nya.
Kevan yang sedang menggenggam tangan Fay pun dibuat terkejut. Ia dengan cepat memencet tombol yg ada pada kepala ranjang Fay. Para dokter bergegas memasuki ruangan membuat Kevan dan Elaina dengan berat hati keluar dari ruangan.
"Thank you god."
"Thank you."
"Thank you." Air mata haru juga bahagia meluncur tanpa malu di pipi Kevan yang hanya keluar untuk Faysa.
"Thank you, Fay. Please stay with me, dont let me go."
Kevan menangis diluar ruangan Faysa sambil menatap sang adik yang sedang di periksa. Elaina pun tak kalah berucap syukur atas kesadaran sang kakak.
Sahabat Faysa yang sedari tadi bersama keluarga berada diluar awalnya terkejut karena banyak dokter yang masuk sambil berlari ke ruangan Faysa. Namun saat Kevan dan Elaina keluar menjelaskan bahwa Fay sadar, mereka pun mengucap syukur dan bahagia.
Tak lama kemudian dokter dan para perawat keluar sambil tersenyum kepada mereka semua.
"Pasien telah sadar dari komanya. Dan juga, ia bisa beristirahat di rumah sakit 1 minggu lagi untuk melaksanakan pemulihan, terapi jalan dan juga pengecekan akhir."
"Baik dok, terimakasih telah membantu anak saya."
"Itu kewajiban saya sebagai dokter disini pak."
"Baik kalau begitu, saya pamit undur diri." Sambung sang dokter.
"Em, dok, bolehkah Faysa dijenguk?"
"Boleh, tapi cukup 2 orang 2 orang saja."
"Baik dok, terima kasih."
Sang dokter pun meninggalkan mereka semua.
"Daddy dan mommy duluan."
Kevan yang tadinya ingin protes ia urungkan karena melihat daddy dan mommy nya sangat menghawatirkan Faysa.
"Sayang."
"....." tak ada jawaban melainkan hanya sebuah senyuman yang berarti ia senang kehadiran sang mommy dan daddy.
"Fay, maafkan mommy karena selalu jauh dari Fay."
"...." Fay hanya meneteskan air mata dengan senyum di wajahnya.
Ia begitu bahagia bisa melihat mommy nya lagi, karena selama ia berada di Indonesia, Fay tidak bertemu dengan mommy nya, saat sang mommy ke Indonesia untuk menjaga Elaina, Faysa malah terbang ke USA menjalankan tugas dari sang daddy.
Faysa bahagia, SANGAT. Keluarganya berkumpul kembali disini bersamanya.
"Sayang, jagoan daddy."
"....." Fay tersenyum.
"Maafkan daddy sayang, ini semua karena tugas dari daddy."
"N- nno." Jawab Fay susah payah kemudian tersenyum kembali.
Sang daddy yakin bahwa anaknya sangat kuat, ia hanya takut. Takut kehilangan mutiara keluarga Jack.
Faysa bagi sang daddy adalah kekuatannya. Daddy nya sangat menyayangi Faysa.
Sang mommy memeluk lembut Fay sambil menangis, ia sangat bahagia melihat putri nya sadar kembali.
"Fay... kalo begitu kita keluar ya. Kakakmu menangis hebat dan juga jarang makan karena khawatir sama kamu."
"Hmm." Senyuman yang begitu tulus terpatri di wajah Fay.
Kesadaran Faysa terdengar sampai penjuru sekolah. Banyak dari mereka yang ingin pergi untuk menjenguk Faysa. Namun, semua itu di urungkan karena guru bilang Faysa hanya bisa di jenguk 2 orang saja. Dengan begitu ada setiap perwakilan kelas 1, kelas 2, dan kelas 3.
__ADS_1
"Hufft, gue bosen." Lirihnya pelan hingga suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
Seseorang memasukkan kepalanya dengan perlahan kemudian masuk setelah melihat kakak kelasnya.
"Hai kak Fay, aku Alana anak XI IPA2, ini bunga buat kakak dari aku, semoga cepat sembuh ya kak, oh iya dan ini titipan dari anak kelas 2 semua."
Alana memperlihatkan bahwa ia membawa dua box hadiah.
"Thanks Alana." Ucap Faysa seraya tersenyum lemah. Gak ada salahnya kan gue senyum?
"Yaudah kalo gitu aku gantian ya kak. Bye kak, semoga lekas sembuh."
"Hmm thanks."
Suara ketukan pada pintu ruangannya kembali terdengar. Ternyata yang masuk adalah Gebby.
"Hai kak Fay? Gimana keadaannya?"
"Udah baik kok," Fay mengelus sayang kepala Gebby. Gebby yang di perlakukan seperti itu hanya tercenung dengan muka memerah dan jantung berdetak cepat.
Setelah tau yang sebenarnya kalau Elaina adik dari sang lelaki idamannya, itu menjadi alasan yang tepat untuk mendekati Faysa.
"Hey." Faysa mengelus pipi Gebby membuatnya semakin tak bergeming, ia sibuk mengontrol detak jantung nya.
"Eehh— ehh iya kak?"
"Kenapa?"
"Aahh en– enggak kak."
"Oh iya ini dari kita semua anak kelas sepuluh."
Begitu banyak hadiah yang Fay terima, belum lagi dari kelas 3 teman seangkatan Fay.
Mereka berharap Fay cepat pulih dan kembali bersama mereka lagi. Setelah Gebby meninggalkan Faysa, Kevan pun memasuki ruangan.
"Haii sayang."
"Hai kak."
"Misi menyangkut Rio temanmu itu sudah beres, kau akan kembali ke USA dengan kakak?"
"Setelah di pikir-pikir, aku akan menetap disini kak, sampai lulus sekolah."
"Kamu yakin? Kamu gak kangen sama kakak?"
__ADS_1
"Kakak kan sekarang ada disini." Faysa tersenyum melihat kakaknya merajuk seperti anak kecil.
"Tapi kakak pengen bareng sama kamu terus."
"Kakak kok manja sih? Makanya cari pacar dong." Fay menguyel-uyel pipi Kevan dengan tawa kecil di bibirnya.
"Iya nanti aja kalo kakak sudah nemu yang tepat."
"Lah? kalo gak dicari gak akan ada yang mendekat kak, apalagi kalo muka kakak datar kayak gini."
"Kayak kamu gak aja dek, wleee!"
"Jelek banget sih." Ejek Fay membuat Kevan melotot tak percaya.
"Apa? Kamu bilang apa?"
"Kakak jelek!"
"Enak aja yaaa... muka ganteng gini—"
Kevan kemudian menggelitik Faysa hingga Faysa mengeluarkan air matanya karena lelah tertawa.
Mereka tak tahu ada seseorang yang cemburu melihat kedekatan keduanya. Dia juga ingin disayang kakak laki-laki nya, walaupun kasih sayang Faysa padanya juga lebih besar, namun ia juga ingin sedekat itu dengan Kevan.
Seminggu telah berlalu. Suara knalpot yang menderu membuat ke empat kendaraan yang baru saja datang itu menjadi pusat perhatian.
"Wahhh Fay udah sekolah."
"Welcome back my ice prince!!!"
"Kak Fay, makasih karena udah sehat."
"Kak Fay makin ganteng aja."
"Walau masih pucat, ketampanannya gak berkurang!!!"
"Kak Fay sekolah lagi guyyyysssss!!!" Dan masih banyak lagi dari mereka yang memuji Faysa bahkan para temannya.
"Sayang, kakak ke kelas ya." Pamit Fay pada Elaina, karena itu adalah kebiasaan yang wajib Fay lakukan untuk adiknya.
"Hmm... bye kak." Faysa pun hendak berbalik namun Elaina mencegah Fay dengan menarik lengan baju yang di kenakan Fay.
"Kiss?"
"Lupa hehe—" Faysa pun mengecup puncak kepala sang adik kemudian meninggalkan Elaina menuju kelasnya.
__ADS_1