
Keluarga pembunuh bayaran yang paling terkenal dengan sebutan Black Jack. Kelompok yang selalu melancarkan aksinya serapi mungkin dengan keadaan korban yang mati seketika ditangan sang pembunuh.
Nama gue Faysa, ya, gue hanya ingin menggunakan nama itu saja tanpa adanya Caroline Jack. Umur gue sekarang 16 tahun, di usia gue kali ini gue hanya ingin bersekolah dengan tenang, banyak teman, dan yang pasti kekasih.
Tapi itu hanya akan jadi impian gue, karena selama gue menyandang nama JACK, gue akan tetap diberikan tugas yaitu MEMBUNUH.
Ayah gue bernama Robert Evan Jack, dan ibu gue bernama Gracia Jasmine Jack. Gue tiga bersaudara, satu kakak laki-laki yang bernama Kevan Julio Jack, ia sekarang menjadi CEO di perusahaan nya sendiri yang sudah ia bangun 3 tahun yang lalu, tetapi perusahaan tersebut sudah menjadi perusahaan yang amat sukses.
Gue anak kedua dari keluarga Jack. Dan yang terakhir si bungsu Elaina Sasy Jack, adik yang amat gue sayang dan gue jaga, karena dia satu satunya dari keluarga gue yang tidak memiliki bakat dalam bertarung atau pun untuk menjadi penerus bisnis keluarga yaitu PEMBUNUH BAYARAN.
Maka dari itu gue selalu ada untuknya.
Apa ada yang tau identitas keluarga gue?
Jelas ada! Namun tidak dengan detailnya. Kami tersembunyi dan saat melaksanakan tugas, mereka yang membutuhkan kami akan mengirim e-mail rahasia milik Jack, bahkan polisi pun tahu itu. Keluarga gue membunuh orang-orang pilihan dari negara maupun luar negara ini. Membunuh orang yang banyak merugikan negara atau pun menjadi perusak negara.
Dan sekarang gue di tugaskan di kota Bandung, kota dimana banyak wisata dan juga akan banyak nya kenangan tentang gue disini.
-AUTHOR POV-
Sekolah Negeri Budi Pekerti di gemparkan oleh datangnya dua murid baru secara bersamaan. Mereka di tempatkan di kelas yang sama, yaitu kelas XI IPA 2. Ada nya sosok misterius dan juga sosok tampan membuat perbedaan di antara kedua nya menjadi bahan perbincangan seluruh warga sekolah.
Decitan ban pada area parkir membuat beberapa siswa-siswi di sana memekik kaget. Terparkir nya motor sport hitam di area parkiran yang nampak cukup ramai karena jam sudah menunjukkan bel masuk sekolah. Sesaat, pandangan orang orang yang ada di sekitar nya terdiam membeku seolah seseorang yang kini ada di hadapan mereka es yang sangat dingin. Aura yang dirasa oleh mereka begitu mencekam saat menatap nya.
Beda dengan tempat lainnya, parkiran mobil sport merah kini terparkir dengan sangat indah, membuat para wanita yang berada di sana terperangah melihat pesona yang ada di hadapan mata mereka saat ini .
Cloe Yamada, sosok laki-laki berperawakan tinggi, kulit putih, rambut yang hitam sedikit acak-acakan dan baju yang sengaja ia keluarkan, masalah baju ? Itu tidak akan mengurangi tampilan wajah nya yang begitu tampan.
Selain tampan dan juga kaya, Cloe memiliki kepintaran yang melebihi rata-rata, hanya saja Cloe malas untuk menggunakan otak pintarnya itu untuk belajar dengan serius atau bahkan hanya untuk mengerjakan tes dan pekerjaan rumah yang di berikan oleh guru.
Cloe di pindahkan oleh orang tuanya karena tidak naik kelasnya Cloe di tahun ajaran sebelumnya di sekolah yang berada di Jepang. Maka dengan adanya itu, sangat memudahkan ayah Cloe untuk memindahkan nya ke Bandung sekalian urusan bisnis yang di kelola ayah nya disini.
Cloe melangkah melalui koridor sekolah dimana banyak para siswi yang mengikuti dari arah belakang, ada pun dari mereka yang duduk di samping kelas bahkan yang ada di hadapan nya menganga seolah melihat malaikat yang kini sedang melewati mereka. Cloe menepuk salah satu pundak siswi yang kini ada di hadapannya dengan sedikit senyuman.
"Hey, gue boleh tanya sesuatu gak?"
Siswi itu pun berbalik dan nampak terkejut dengan sosok yang ada di hadapan nya saat ini.
"Ya ya ya... ada yang bisa di bantu?"
"Gue mau tanya ruang kepala sekolah, dimana ya?"
"Oh... ruang kepala sekolah... itu di sana lo lurus aja kalo udah sampe mentok belok ke kanan."
"Oh gitu... thanks." Cloe berlalu sambil mengedipkan sebelah matanya kepada siswi tersebut.
__ADS_1
Ternyata, di ruangan kepala sekolah sudah ada salah seorang siswa juga yang tengah menunggu. Cloe yang baru datang pun langsung memberi salam kepada kepala sekolah nya yang baru.
"Selamat pagi pak, nama saya Cloe Yamada pindahan dari Jepang mohon atas bimbingan nya, Pak."
"Selamat pagi juga Cloe, iya saya juga mohon untuk kerjasamanya selama kamu menjadi siswa disini."
"Iya, Pak." Cloe menampilkan senyumannya kepada kepala sekolah.
"Baiklah kalau begitu, saya akan mengantar ke wali kelas baru kalian sekarang."
"Kami berdua satu kelas, Pak?" Sanggah Cloe kepada kepala sekolahnya.
"Ya betul, apa anda keberatan?"
"Tidak, Pak." Cloe pun menoleh ke arah siswa yang kini berada di sebelahnya.
"Nama gue Cloe Yamada." Sambil memberikan uluran tangannya.
"...."
"Hey..."
"...."
"Budeg kali ni orang?" Batin Cloe, akhirnya Cloe pun menarik tangannya kembali karena tidak dapatnya balasan salam dari siswa di sebelahnya ini.
Suasana kelas sangat ricuh sekali karena mereka akan kedatangan murid baru dua sekaligus. Apalagi para siswi yang menjerit histeris karena tau murid baru yang masuk ke kelasnya adalah si tampan bermobil sport merah yang mereka lihat tadi.
Sekilas, suasana menjadi hening karena kepala sekolah telah sampai tepat di depan ruang kelas mereka.
〰〰〰〰〰
Sesampainya di depan kelas XI IPA 2, kepala sekolah memanggil guru yang mengajar kelas tersebut, yang tak lain adalah wali kelas dari kelas ini.
"Permisi, Bu Marinka... boleh minta waktunya sebentar?"
"Oh iya, silahkan, Pak." Bu Marinka pun keluar dari dalam kelasnya dan melihat adanya dua orang siswa yang kini telah menjadi perhatian nya.
"Bu Marinka, mereka adalah siswa yang akan masuk ke kelas Ibu, jadi mohon bantuannya."
"Selamat pagi, Bu." Sapa Cloe dengan seulas senyum terpancar dari wajah nya. Tapi tidak dengan siswa yang kini berada di sebelahnya. Ia hanya terdiam tanpa kata seraya menunduk kan kepala membuat wajahnya semakin tak terlihat.
"Baiklah kalau begitu ayo kita masuk, kita mulai perkenalan dulu pada teman kelas kalian."
Saat akan memasuki kelas, Bu Marinka di cegah oleh kepala sekolah untuk berbicara kepadanya.
__ADS_1
"Bu Marinka... mengenai siswa yang memakai hoodie itu, mohon untuk di biarkan."
"Kenapa, Pak? Bukankah itu melanggar peraturan sekolah ini?"
"Nanti saya akan mengadakan rapat saat jam pelajaran ke tiga dengan para guru lainnya."
"Baiklah kalau begitu, Pak. Saya permisi masuk ke kelas lagi."
"Iya silahkan."
Sesampainya di depan kelas, bu marinka berdiri di tengah dua orang murid baru yang kini berada di sisi kiri dan kanannya. Bu Marinka mempersilahkan mereka untuk memperkenal kan diri terlebih dahulu.
"Anak-anak ... mohon perhatian nya." Bu Marinka memberikan perintah kepada anak didiknya yang berteriak histeris tak karuan saat melihat wajah Cloe yang kini nampak jelas di hadapan mereka.
"Baik, silahkan mulai perkenalan dari kamu." Menunjukkan tangannya kepada Cloe.
"Hallo guys, nama gue Cloe Yamada gue siswa pindahan dari Jepang, senang bertemu kalian dan mohon kerja samanya." Tepuk tangan riuh menyertai selesainya perkenalan Cloe.
"Gue Faysa dari USA."
"Eh? em- baiklah kalau begitu, kalian boleh duduk di tempat yang masih kosong."
Saat Cloe melewati tempat duduk teman kelasnya, mereka yang melihat ia tanpa henti memberikan binar mata yang sangat memperlihat kan kekagumannya kepada Cloe.
Beda halnya dengan Fay, mereka seakan terlihat ketakutan bahkan para lelaki merasa tertantang kepadanya.
Faysa duduk di dekat jendela bersama seorang siswa bernama Rio, Rio yang duduk disebelahnya pun menengok ke arah Fay.
"Kenalin, nama gue Rio." Sapa nya sambil mengulurkan tangannya.
"...." Tak ada jawaban.
Rio pun mengedikkan bahunya mencoba acuh akan sikap teman sebangkunya. Dia seakan baru teringat bahwa seseorang di sampingnya pindahan dari USA. Apa dia harus berbahasa inggris? Tapi saat perkenalan dia menggunakan bahasa Indonesia.
Di lain tempat, Cloe berkenalan dengan teman sebangku nya bernama Morgan, dia adalah cowok yang sama tampan dan juga kaya, bahkan pintar, namun sangat di sayangkan karena sikap dinginnya kepada setiap perempuan membuat dia di juluki pangeran es.
"Hey ... Gue Cloe, Lo?"
"Gue Morgan."
Cloe mengangguk kan kepalanya, dan saat itu ia melihat ke samping kanannya dimana Fay menduduki tempat duduknya bersama seorang siswa.
"Pasti itu orang susah punya teman."
"Huft ... padahal gue pengen kenal dia juga." Batinnya seraya menatap Faysa yang ia yakini tengah tertidur.
__ADS_1
Morgan tak hanya diam, ternyata ia pun sama. Ia melirik ke arah Faysa dengan tatapan yang— entah kalian bisa mengartikannya apa.