My Posessive Guy

My Posessive Guy
Gempar!


__ADS_3

Sejak kejadian di kantin, sekolah di hebohkan dengan muka asli Fay yang begitu memukau. Banyak siswi yang membicarakan Faysa karena ketampanan nya. Bukan hanya itu, para siswa lainnya pun hanya bisa menerima pil pahit karena dengan wajah Fay, eksistensi mereka sebagai lelaki hilang bak di telan buaya.


"Gila! ternyata asli lo begini Fay?" Pekik Cloe masih tak percaya.


"Pantes aja degem gue sukanya elo!" Sambungnya dengan teriakan yang semakin menggelegar.


"Berisik banget sih lo."


"Apa sih? terserah gue dong." Cibir Cloe pada Rio kemudian menatap ke arah Faysa lagi.


"Kenapa?"


"Kenapa jadi berbeda?? Apa dia orang yang sama atau ?" Batin seseorang seraya melihat kembali wajah Fay dengan teliti.


"Heh, lo kenapa ngelamun sih??" Tanya Rio pada Morgan karena sedari tadi melihatnya terdiam saja.


"Gak, gak papa."


"Cabut!" Perintah Fay yang langsung di angguki oleh Rio dan Morgan.


"Kemana woyyy? tungguin gue elahhh." Teriak Cloe yang tertinggal karena tadi sedang membenarkan tali sepatunya.


Mereka berempat pergi ke rooftop sekolah. Di sana tersedia sofa yang sudah lama tak terpakai. Maka dari itu, mereka menjadikan nya tempat untuk berkumpul.


"Gue mau bikin markas disini."


"Setuju."


"Oke!"


"...."


"Elo, Fay??"


"Hm."


"Astsggbdbdjdj... kesel gue lama-lama ngomong sama ni anak."


"Iya."


"Iya apa onta arab?" Kesal Cloe merasa habis kesabaran nya menghadapi sikap Faysa yang dinginnya minta ampun.


Hanya Cloe seorang lah di antara mereka berempat yang selalu melawan Fay karena sikap dinginnya, kalau Morgan dan Rio hanya sekedar terima saja. Beda dengan Cloe yang selalu ingin jawaban pasti.


"Setuju."


"Nah gitu dong lo, yang jelas kalo ngomong. Lo kira kita kamus berjalan yang selalu ngerti ucapan lo."


"Makin berisik lo!"


"Udah udah... sabar Cloe, kaya yang gatau Fay aja."


"Hm."


"Eh Fay, lo kenapa masih pakeĀ  hoodie?" Tanya Rio yang selalu penasaran.


"Mau aja."


"Padahal muka lo cakep, gue kira lo jerawatan atau muka lo kurang ganteng karena ada bekas luka gitu, sampe ditutup hoodie terus karena malu."

__ADS_1


"Gue ganteng."


"Anjirrrrr dia udah bisa sombong." Pekik Rio tak kalah hebohnya saat mendengar pernyataan Faysa.


Mungkin Rio terkejut karena biasanya Fay hanya bicara seperlunya. Tapi ini? Memuji diri sendiri? Itu adalah keajaiban.


"Gue mah udah pernah denger sebelumnya."


"Asli lo? Kapan?"


"Waktu kemarin di kantin."


"Sialan, lo bener-bener ya Fay, dingin-dingin bikin masuk angin."


"Hm"


"Aanjjiirrrrrr...." Pekik Rio dan Cloe bersamaan merasa kesal dengan jawaban Faysa.


"Jadi kenapa masih pake hoodie?"


"Setiap hoodie yang gue pake , itu pemberian kakak gue, gue selalu rindu karena dia sekarang lagi di USA. Makanya gue selalu pake hoodie."


"Berapa kata yo?"


"23 kata!!!! Peningkatan Cloe."


"Elo berdua ya, lagi serius juga." Ucap Morgan yang tak habis pikir melihat tingkah laku para sahabatnya.


"Iya iya."


"Terus??"


"Apa?"


"Ohh"


"Jangan tahan gue jangan tahan gue, pengen gue sumpel tuh mulutnya pake kaos kaki gue."


"Siapa yang nahan lu coba?"


"Oh ga ada ya?" Hihihi sarap Cloe.


"Hmm, hoodie itu juga gue gunain untuk sembunyi aja, biar identitas gue gak ketauan."


"Maksudnya?"


"Kalian udah tau siapa gue sebenarnya kan?"


Mereka semua mengangguk mengiyakan.


"Karena sebenarnya itu rahasia keluarga kami. Tidak boleh ada yang tau identitas kami."


"Ohh gitu, terus kenapa lo bisa jujur ke kita kita masalah identitas lo?"


"Gue coba untuk percaya pada TEMAN, Karena selama ini gue sendiri."


"Tenang Fa , kita akan selalu bersama." Moragan pun memeluk Faysa dengan erat. Kemudian di ikuti Rio dan juga Cloe, mereka pun saling berpelukan.


Setelah merasa bosan, mereka turun ke bawah, dan ternyata proses belajar masih berlangsung.

__ADS_1


Saat para most wanted berjalan melalui koridor, tiba-tiba....


"Heyyyyy kalian berempat, bukannya masuk kelas malah keluyuran, kalian mau jadi anak bangsa yang kurang pendidikan? Kelas mana kalian? Pelajaran apa sekarang kalian? Mau saya hukum hah?"


"Udah, Bu?" Tanya Cloe.


"Kamu lagi, malah bertanya bukannya menjawab. Saya hukum kalian lari lapangan upacara 15 kali putaran."


"Eh buset."


"Serius, Bu?" Tanya Rio karena takut salah bicara lagi.


"Mau saya tambah jadi 30?"


"Engga bu engga, makasih."


"Cepat ke lapangan."


Mereka berempat pun mulai berlari memutari lapangan. Ternyata bel istirahat ke 2 berbunyi, tapi para most wanted tetap bertanggung jawab pada hukuman mereka.


"Aaahhhh gantengnya."


"Cool banget mereka itu."


"Amazing boys."


Elaina baru saja keluar dari kelas nya bersama dengan Gabby di buat bingung akibat kerumunan yang memenuhi koridor dan menatap ke arah lapangan.


"Ehh ada apaan sih?"


"Ohh itu tuh, bukannya kak Fay pacar kamu ya El? Kak Faysa lagi di hukum tuh sama temen-temennya. "


"Apa?"


Elaina langsung berlari ke kantin membeli empat minuman untuk mereka, setelahnya Elaina mendekati mereka semua.


"Kakak... kenapa bisa dihukum sih?" Tanya Elaina sambil menyodorkan minumnya pada Fay.


"Tadi kakak bolos pelajaran." Ucapnya yang di akhiri cengiran khas sang kakak dengan dua lesung pipi yang menambah ketampanan nya.


"Aku khawatir." Elaina menghambur ke pelukan Fay.


"Tenang aja, kakak gapapa kok, lepas dulu ya, kakak gerah sayang."


"Kenapa ga di buka aja kak?"


"Hmm iya."


Faysa pun membuka hoodie nya dan ia berikan pada sang adik. Tangannya pun mengacak rambut pendek yang terasa basah karena keringat membuat efek butterfly pada setiap perempuan yang melihat wajah Faysa. Tak ingin ketinggalan, mereka langsung memotret nya dan dijadikan trending topic di forum sekolah.


Banyak pula yang iri kepada Elaina karena bisa dekat dengan mereka bahkan memiliki salah satu di antara mereka.


GEMPAR! satu kata untuk mengartikan situasi sekolah saat ini.


"Gue akan rebut dia dari lo." Batin seseorang yang melihat kejadian itu.


Siapakah dia???


Siapa??

__ADS_1



__ADS_2