
Nira mengulum bibirnya agar tidak tersenyum lebar, di hadapannya ada Willy yang sedang berdangdutan. Tidak lupa ada Thomas dan Jessica di soffa. Setelah tadi malam obrolan tidak penting mereka, Thomas memutuskan untuk menginap di rumah si kembar-Dayanira dan Jessica [bagi yang lupa].
Jadi untuk pagi ini di rumah ada Thomas yang senantiasa menempeli Jessica. Sedangkan Willy, Pria itu pagi-pagi sekali menggedor pintu rumah.
Beberapa jam yang lalu sebelum terjadinya dangdutan.
Brak… Brak… Brakkk…
Tett… Tettt… Teeettttt….
"PASSION, MAIN YOK!." Teriak Willy dengan tangan menekan tombol bel dan kaki yang menendang pintu. Sepertinya Willy memiliki bakat untuk menghancurkan pintu rumah orang.
Pukul menunjukkan tiga pagi tetapi, Pria itu justru mengganggu tidur penghuni rumah. Willy sangat mengganggu padahal matahari pun belum menampakan dirinya, hanya bulan yang terlihat terang.
"PASIOOONNN…." Teriak Willy kuat. Willy terlihat tidak waras yang mengganggu tidur orang-orang.
Bukk…
Aww. Keluh Willy memegang kepalanya seperti ada yang melempar pandangannya mengarah ke sebelah kanan, disana ada bapak-bapak dengan celana pendek, baju puntung tidak lupa sarung yang dia sampirkan ke pundak di tangannya terdapat golok/parang menatap Willy tajam.
"Kau!." Tunjuk Bapak itu menggunakan Golok nya ke arah Willy. "Berisik sekali kau ini."
Willy menelan ludah nya gugup. "Maaf pak." Ucap Willy menunduk.
"Sekali lagi kau berisik, Aku campakkan golok ini ke arah kau ya!." Peringat si Bapak penuh tekanan dengan mata yang menatap Willy tajam.
Willy mengangguk cepat sangking ketakutannya. Bisa bahaya jika dia mati ketebas golok, mana belum wisudah lagi.
Si Bapak menatap tajam setelah itu beranjak pigi meninggalkan Willy yang termenung di depan pintu.
"Gilak tetangga Passion galak banget." Gumam Willy.
Matanya menatap pintu di hadapannya, jika tidak boleh berisik lalu bagaimana cara Willy masuk ke dalam.
Tuk.. Tuk.. Tuk..
"Pasion main yok." Ucap Willy pelan takut jika Bapak yang tadi datang kembali. Tangan nya mengetuk pintu dengan jari telunjuk.
Sudah hampir setengah jam Willy duduk lesehan di depan pintu dengan tubuh bersender di pintu. Hari ini libur kuliah, tidak maksudnya lagi kosong kelas sama halnya kelas Nira makannya Willy mendatangi wanita itu.
Willy menatap pagar dengan mengerutkan alis, Willy sedang berpikir.
Beberapa menit Willy berpikir, mata nya seketika berbinar memiliki idea yang bagus untuk menuntun nya masuk kedalam.
__ADS_1
Willy beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah samping tempat di mana si Bapak tadi. Willy mendekati pintu di samping rumah si kembar, arah yang mau Willy tujuh lumayan terbelakang.
Sekarang di sini lah Willy berada, bisa di bilang ini belakang rumah. Di hadapannya ada pintu kecil mungkin tingginya hanya selutut Willy dengan lebar selengannya. Yang membedakannya pintu itu tidak terletak di bawah tetapi tepat di depan dada Willy jadi memudahkan Willy untuk melihat tanpa harus berjongkok.
"Bagus bagaimana caranya aku membukanya." Bingung Willy menggaruk kepalanya.
Willy melihat sekitarnya sampai matanya melihat sebuah besi tipis panjang di dekat pintu rumah si Bapak tadi. Dengan menelan ludah gugup Willy melangkah kan kakinya. Tangannya sudah di depan pagar untuk memastikan lagi apakah Willy harus melompat dan mengambilnya.
"Permisi Pak pinjam besinya ya?." Ucap Willy meminta izin.
"Iya pakai saja." Sahut Willy lagi dengan suara yang sengaja di berat-beratkan. Mencoba meniru suara Bapak tadi.
Willy melompati pagar pembatas lalu melangkah di depan pintu samping si Bapak untuk mengambil besi setelah dapat Willy kembali melompat.
"Ok, Passion mari bermain dengan ku." Ucap Willy menyeringai.
Willy mencongkel pintu itu, beberapa kali dia coba sangat susah, sudah berapa lama pintunya tidak di buka?.
Kreekkk…
Bunyi pintu terbuka. Willy bersukur akhirnya terbuka. Dengan asal Willy melemparkan besi begitu saja di bawahnya lalu mencoba untuk masuk kedalam dengan kepala duluan tidak lupa tangannya yang berpegangan pada pegangan di dalam.
Tap…
Kaki nya melangkah mencari jalan keluar dari gudang.
"Gilak tatanan barangnya udah berubah aja." Keluh Willy yang mengambil jalan buntuh lalu balik kembali ke jalan yang belum di lalui. Gudangnya luas hanya orang gak waras yang membuat gudang lebih luas dari pada kabar sendiri.
"Ya yang gak waras Bokap nya Passion."
Willy mendapatkan jalan keluar lalu membuka pintunya tetapi di kunci.
"Cih.. Di kunci, terus gimana keluarnya in-" Ucapan Willy terputus karna melihat jendela yang tidak jauh darinya. Willy berjalan cepat menghampiri jendela itu dan berusaha membukanya.
"Sialan. Berkarat." Sekuat tenaga Willy mendorongnya tetapi tidak kunjung terbuka. Bisa saja Willy menendangnya tetapi takut jika kaca tengah pecah.
Willy mundur selangkah lalu melangkah kedepan cepat dengan kedua tangan mendorong kuat hingga..
Brak
Pintu terbuka..
Krekk Buk Buk
__ADS_1
Suara jendela yang ke buka paksa menimbulkan suara yang kuat hingga hantapan berkali kali pada bingkainya.
Willy melangkah keluar dengan cepat. Engap juga lama-lama di dalam gudang.
Kakinya berjalan menuntun Willy hingga kedapur, tangannya dengan cepat meraih gelas tidak lupa mengisi air putih lalu meneguk nya hingga tandas. Rasanya haus karena perjuangan Willy menyelinap ke rumah ini butuh waktu yang lama.
Willy melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya. Sudah pukul setengah lima berarti Willy menghabiskan waktu sejaman dalam perjuangannya.
Dengan senyumannya dan senandung nya pelan Willy menaiki tangga ingin pergi kekamar Passion.
"Siapa lo?!." Ucap suara yang membuat Willy menunduk saat berjalan karna Pria itu sedang menghitung anak tangga.
"Sialan, lupa berapa lagi tadi." Ucap Willy pada dirinya sendiri.
Suara langkah kaki menuruni tangga terdengar, Willy mendongakkan pandangannya mengernyit bingung siapa Pria di hadapannya ini.
Mata Willy melotot terkejut melihat bercak merah di leher Pria itu. Kepala nya menggeleng kuat.
"Enggak-enggak Passion Enggak." Gumam Willy.
Pria di hadapannya mengernyit memandang reaksi Willy. Kakinya melangkah lebih dekat hingga sampai di hadapan Willy.
Willy mendongak melihatnya karena Pria di hadapannya memijak tanggak yang lebih tinggi darinya jadi menyebabkan tubuh Willy terlihat pendek.
"Siapa lo?." Pria di hadapannya menatap tajam Willy.
Jari telunjuk Willy menunjuk lehernya sendiri dan memandang Pria itu bertanya.
"Kenapa?." Tanya Pria itu bingung dengan respons Willy.
Lagi-lagi Willy menunjuk nya lalu menunjuk ke arah leher Pria itu. "It-tu Pas-Passion?."
Pria itu terdiam cukup lama memandang Willy. Apa maksudnya? Passion? Gairah? Iya sih, gue kan ngelakuinnya karena Gairah.
Pria itu masih memandang Willy yang terdiam menatapnya dengan jari menunjuk lehernya. Lalu Pria itu mengangguk. "Ya, Passion."
Willy yang mendengar hampir terhuyung kebelakang jika saja Pria itu tidak menarik tangannya. Buru-buru Willy menepisnya, dan berlari melewati Pria itu menujuh tempat di mana kamar Nira berada.
"Enggak Passion." Geleng Willy dalam langkahnya.
Pria yang di tinggalin Willy memandang bingung tangan nya yang di tepis. Lalu, pandangannya melihat ke belakang tempat Willy pergi. Matanya menajam karena Dia mengira kalau Willy memasukki kamar kekasihnya.
"Cah Edan."
__ADS_1