
Aku duduk di sofa Apartemen Niell, suasana di sini terlihat asing tetapi nyaman untuk ku. Entah lah mungkin karena aku menyukai Niell makanya merasa nyaman.
Niell berada di kamar entah apa yang pria itu lakukan, tetapi mengapa dia meninggalkan ku sungguh kejam.
Aku menyandarkan tubuh ku di sofa rasanya tubuh ini terlalu letih tidak tahu karena apa padahal aku tidak melakukan aktivitas yang berat.
Apartemen Niell tertata rapi, tidak banyak perabotan di dalamnya tetapi cukup nyaman berada di sini. Sepertinya yang tinggal disini hanya Niell saja. Karena suasana disini terlihat sunyi seperti tidak berpenghuni. Aku bingung apa jadinya jika Niell yang tinggal disini pasti terlihat seperti kuburan karena tidak ada suara apa pun. Bahkan, cicak pun ragu untuk mendekatinya. Walaupun nyatanya memang Niell tinggal disini.
Aku menghela napas dan memijat pelipis ku pusing, aku pusing di tambah lagi aku lapar belum makan. Apa pemilik tempat ini tidak ada bahan makanan. Aku beranjak dari duduk ku sepertinya aku harus melihat isi dapur Niell.
Ternyata dapur Niell cukup luas. Bahkan tetangga ku pun bisa menginap di dapur Niell. Duh.. gimana ya Niell kan orang kaya. Tetapi aku malah tahunya Niell itu hanya seorang dosen apakah Niell memiliki kerja sampingan. Mafia misalnya?
Aku mencoba melihat isi kulkas Niell karena biasanya isi kulkas orang kaya itu banyak makanannya bahkan buah buah pada bertebaran. Terkadang sampai busuk lah buah itu karena tidak tersentuh. Padahal makan buah itu enak loh. Bingung… Apakah semua orang hanya mau membelinya saja tetapi memakannya tidak. Contohnya seperti ini. Di dalam kulkas banyak sekali buah beraneka macam. Tetapi tidak ada durian, padahal buah itu cukup enak untuk mengusir orang. Hahaha.
Aku mengambil beberapa buah. Sudah lahh.. Anggap saja rumah sendiri.
Hanya ada buah di dalam kulkas dan banyaknya botol botol. Heii itu alkohol? Minuman yang membuat orang mabuk itu loh. Tau kan. Niell dingin dingin menghanyutkan, bisa bisanya menyimpan minuman bau seperti itu. Karena Jessica sering mabuk mabukan dan napas Jessica bau jadi kesimpulannya minuman itu bau.
"Aku pusing aku pusing." Sekali lagi aku memijat pelipis ku pusing. Sudah tidak bisa makan nasi, di kulkas ada minuman untuk orang mabuk lagi. Kan kesel.
Aku duduk di kursi dapur dan dengan cepat mengupas kulit apel. Sebenarnya makan beserta kulitnya lebih enak ada keras kerasnya tetapi berhubung aku ingin yang lembut jadi harus di kupas.
Kalau dipikir pikir aku belum mengetahui tentang keluarga Niell. Susah sekali ya mendekati calon mertua. Apa aku harus memperkenalkan Niell dahulu kepada Papa dan Mama. Ide bagus biar ada saingannya Thomas.
"Ngapain?." Bisik sebuah suara di telinga ku. Aku melihat mendekatkan tangan ku ke wajah ku memperhatikan bulu bulu kecil yang tampak berdiri. Kurang ajar Niell membuat ku merinding saja.
Aku melihat ke arahnya tajam tetapi Niell hanya menatap ku datar. Sungguh, keterlaluan.
__ADS_1
Tangan besar Niell mengusap kepala ku dan menciumnya. "Terkejut, hm?." Niell duduk di samping ku dan dengan seenaknya mengambil tangan ku yang di sana masih mengapit potongan buah apel lalu Niell memakannya tidak lupa menjilat jari jempol dan telunjuk ku. Bauk Jigong!
"Dikit.." Ucap ku pelan. Tangan ku menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata Niell. Sepertinya Niell memang harus pangkas rambut mengingat rambut bagian depannya ada lumayan panjang.
Niell mengangkat tubuh ku dan menggendongnya di depan. Aku melotot tidak percaya, yang benar saja aku sudah seperti koala. Aku anak nya dan Niell emaknya. Niell melangkahkan kakinya meninggalkan Dapur tetapi sebelum itu-
"NIELL.. APEL.." Teriak ku melihat nya tajam, yang benar saja aku sudah mengupasnya masa di tinggal begitu saja kan mubazir.
Langkah Niell berhenti dan berjalan kembali menuju meja tempat potongan buah buah ku berada.
Tangan ku dengan cepat mengambil piring itu dan meletakkannya di antara Niell dan aku. Ribet memang saat aku di gendong justru membawa piring di tengah tengah kami.
Niell mendudukkan ku di pangkuannya. Wah empuk..
Aku melihat sekeliling ku dan mengernyit ini dimana? Nuansanya terlihat hitam dengan pencahayaan yang redup. Tambah hitam ini namanya justru aku susah melihat karena kamar ini lumayan gelap.
"Hm." Gumam Niell di telinga ku. Wajah Niell sudah menelusup di lekuk leher ku.
Aku mencoba mendorong tubuh Niell kuat. "Niell, Apel ku terhimpit!." Aku tidak salahkan Justru semua potongan apel itu sudah berjatuhan dan buah anggur sudah bergelinding. Piring yang simula tertidur sekarang justru berdiri. Niell memundurkan wajahnya.
Ctak
Lampu hidup, tidak semua memang hanya ada tiga yang hidup dan tetap saja lampunya terlihat redup. Apakah ini lebih pantas di sebut pencahayaan remang remang.
Aku melihat semua buah yang berjatuhan dan mengutipinya. Astaga buah buah ku.
"Sshh.." Tangan Niell mencengkram pinggang ku. Aku melihat Niell bingung, apa salah ku.
"Niell, niruin suara ular?." Tanya ku. Pasalnya Niell seperti sedang mendesis. Aku gak mau ya punya kekasih siluman ular. Tepi tunggu kekasih? Bahkan aku dan Niell tidak memiliki hubungan apa pun. Sepertinya aku memang butuh status.
__ADS_1
Niell menatap ku datar. Salah lagi aku?. Niell mendekatkan tubuhnya ke arah ku dan melummat bibir ku dalam. Tidak lupa dengan kebiasaannya menggigit bibir ku.
"Passion.." Gumam Niell pelan saat ciuman kami terlepas. Sebenarnya lebih pantas jika Ciuman yang Niell berikan terlepas karena hanya Niell yang andil dalam ciuman itu aku tidak. Karena aku tidak pandai. Tenang masih banyak waktu untuk belajar, nanti aku lebih agresif mungkin.
Aku menatap Niell dan menyodorkan anggur ke mulutnya. Bukan, menyodorkan tetapi memaksanya.
"Enakkan?." Aku menaik turunkan alis ku dengan menatap Niell yang sedang menatapku datar. Datar terusss…
Buah buahan di piring ku masih lumayan banyak jadi aku harus menghabiskannya. Aku memakan buah nya dan sesekali menyodorkan kepada Niell. Bukankah tidak baik jika hanya aku saja yang memakannya.
Aku masih duduk di pangkuan Niell yang saat ini kami masih duduk di atas ranjang nya. Tangan Niell melingkar di pinggang ku dan sesekali meremasnya. Niell sudah tertular Thomas.
Setelah sudah habis semua buah buahan di piring aku mencoba beranjak dari duduk ku tetapi di tahan Niell. Piring di tangan ku di rampas Niell.
Prang
Anjir… Woi itu piring bagus mala di lempar ke sembarang tempat kalau terkena Kaki bagaimana.
Ya, Niell melempar piring itu ke sisi kanan ranjang dekat pintu balkon. Tetapi apa itu balkon? Entah, aku belum melihatnya.
Aku melihat pecahan kaca yang berceceran di lantai. Niell mengerikan. Piring itu harganya berapa pasti mahal tetapi dia jistru memecahkannya.
"Mmhhh." Suara ku tertahan karena tangan ku membekap mulut ku. Tangan kiri Niell mengelus paha ku sedangkan tangan kanan Niell berada di dada ku tidak lupa wajahnya menciumi leher ku dan menjilatnya.
Tangan ku mencoba memukul pundaknya untuk berhenti. Jika di biarkan lama seperti ini, aku yakin pasti aku akan sama seperti Jessica.
Niell harus di berhentikan.
"Niellll… Hen-ti-kan."
__ADS_1