
Niell tertawa pelan. "Febrian Kevin Albara." Desis Niell dengan mata menajam memandang Kevin.
Kevin menatap datar Niell.
"Kalian pergi." Thomas menatap tajam ke-empat Pria itu. Tidak ada keikhlasan untuk Thomas memasukkan seorang Pria ke dalam rumah calon istrinya. [Dih najis calon istri, masih suka sama lobang yang lain padahal].
Terlebih di rumah hanya ada Jessica dan Nira. Orang tua nya pergi ke singapura karena sang nenek penyakitnya bertambah parah. Jadi Thomas tidak ingin kedua wanita itu nantinya di jama Pria lain. Cukup Willy yang berani menyusup lewat pintu kecil, tetapi apa apaan ini justru ada empat Pria yang yang masuk dari pintu utama.
"Siapa lo nyuruh-nyuruh?." Sinis Pria yang duduk di samping Jessica tadi, dia adalah Dian.
Bugh
Bantal soffa terlempar di wajah Dian, pelakunya adalah Rian. Saudara kembarnya. "Lo gak liat. Seberapa posesifnya dia?." Sinis Rian menatap tajam Dian.
Dian menggedikkan bahunya. Toh janur kuning belum melengkung dan tikungan tajam bisa di salip jadi walaupun sudah berpawang gebet aja.
"Dayanira.." Suara lembut Kevin mengalihkan perhatian Nira dari permainan tangannya di atas tangan Niell. Nira memandang Kevin mengernyit.
Kevin tersenyum lembut. Tangannya terulur mengusap rambut Nira.
Plak
Tetapi tangan Niell dengan cepat memukul tangan Kevin agar tidak kebiasaan menyentuh milik orang lain.
"Tangan." Desis Niell tajam. Dan tangannya mendekap erat tubuh Nira. Hak paten ini.
Kevin mengabaikannya, tatapannya tetap memandang Nira. "Dayanira, Bisa kan?."
Nira mengerjap, apanya yang bisa. Dan lagi apa tadi pembahasan mereka berdua. Nira mendadak pikun jika sudah berada di dekat Niell. Bucin berkepanjangan memang.
"Malam minggu."
Heii malam minggu masih lama ini bahkan baru hari apa, parah sekali sudah mengajak untuk bermalam mingguan.
"Tidak bisa. Passion, dengan Saya." Kevin menggeram marah, makhluk penghalang kedekatannya dengan Nira. Dan apa tadi katanya Passion. Cih Gairah.
Di sisi lain, sebrang soffa mereka terdapat Thomas, Jessica dan juga Dion. Sedangkan Rian dan dian di soffa samping mereka.
__ADS_1
Thomas mendekap erat Jessica. Dion yang melihat memandang jijik. "Apa liat liat?." Sinis Thomas memandang Dion.
"Dih apaan sih."
Thomas dan Dion saling melempar tatapan tajam. Mereka berdua adalah sahabat-Dulunya. Sahabat sedekat nadi tetapi sekarang musuh sejauh hasrat karena mereka selalu ketemu di club malam. Aneh memang. Gak dulu gak sekarang selalu saja berkelahi.
"Pulang sana kalian. Jangan menjadi sampah di rumah calon istri ku." Thomas mengatakan kalimat itu sambil menatap tajam ke empat Pria yang menjadi tamu di rumah Jessica.
Dion yang mendengar mendengus. "Cih.. masih Calon." Jawab Dion enteng.
Tak
Jitakan Dion dapatkan dari Thomas. Thomas geram melihatnya dan Thomas harus menjauhkan Jessica dari Dion atau Dion akan merebut Jessica dari nya seperti dulu lagi. Kurang ajar memang.
Tetapi tidak tahu saja Thomas kalau Jessica telalu tidur dengan Dion saat kesepian.
"Diam lo!."
"Cih. Menjijikan!."
Rian memandang Thomas dan juga Dion yang sedang jitak jitakan sedangkan Jessica duduk dengan tubuh bersandar di tangan kursi dan kakinya di paha Thomas. Jessica ikut andil dalam menyiksa Dion, bedanya kaki Jessica menendang tubuh Dion.
"Sepertinya iya." Rian mendengus melihat satu lawan dua. Hei itu tidak seimbang.
"RIP Dion. Habis terkena Jitakan, Pukulan dan Tendangan." Ucap Dian sambil terkekeh.
Bugh
"Mampus!." Ucap Thomas dan Jessica berbarengan.
Dion jatuh terkapar di bawah dengan kepala berada di dekat kaki Rian. Rian dan Dian yang melihat tertawa, kasihan sekali sohib nya itu.
Sedangkan Kevin yang melihat menghela napas kapan normalnya pertemanan kedua makhluk itu. Sedangkan Nira terkejut atas apa yang di lakukan sepasang kekasih di hadapannya, Niell yang berada di belakang Nira mencium leher Nira tidak lupa untuk menambahkan jejaknya.
"PASSION… MAIN YOOOKKK!!." Teriak sebuah suara dari depan pintu mengalihkan perhatian kedelapan orang di dalam.
Pria itu masuk ke dalam rumah dengan dua plastik besar di kedua tangannya. Setelah sampai di ruang tamu. Pria itu terdiam melihat pemandangan di hadapannya tetapi matanya jatuh kepada seseorang.
__ADS_1
"Anjir.. Odi, gak bakal ada koin di sana!." Teriak Pria itu lagi saat melihat Dion terkapar di lantai.
"Sialan.. diam lo, Will." Ya, Pria itu adalah Willy.
"Hahaha.. santai brow." Ucap Willy di selingi kedipan. Lalu matanya menatap semua orang di sana dan tidak sengaja melihat Nira di atas pangkuan seorang Pria.
"Duh sabar. Orang sabar dapat lobang sempit." Ucap Willy pelan tapi masih dapat di dengar oleh mereka.
"Willy itu apa?." Ucap Nira menunjuk plastik di kedua tangan Willy.
Willy mengangkat plastik itu. "Makanan dongg.. biar gemuk harus makan agar tidak seperti tiang berjalan." Kekeh Willy mengingat tubuh seniornya.
"Passion, mau?." Nira menganguk dan melepaskan pelukan Niell lalu berlari mendekati Willy. Bisa gitu sifatnya ya berubah seperti anak kecil.
Keduanya duduk lesehan di lantai. Willy dan Nira mengobrak abrik makanan dan membuka nya satu persatu. Pertanyaannya jika di buka semua siapa yang akan memakannya. Tentu saja semua orang yang ada di hadapan mereka.
Thomas mengernyit melihat interaksi keduanya. "Aku gak paham sama mereka berdua, Yang." Jessica mengalihkan pandangannya pada Thomas sama hal nya dengan semua Pria yang ada di sana kecuali Willy yang dengan asik nya membongkar isi belanjaan. Bahkan keduanya sudah tertawa melihat hadiah stiker tempel yang sudah mendarat di wajah mereka masing masing.
"Kenapa?."
"Ini perasaan aku saja atau mereka berdua segender." Jessica menabok lengan Thomas. "Willy punya nya Pisang sedangkan Nira punya nya melon."
"Coba liat lah, Yang. Gak cocok banget kalau mereka berdua melakukan perjalanan ke langit kan?." Jessica melihat kembali keduanya. "Willy dan Adik Ipar itu aura nya sama. Sama - sama di bawah." Lanjut Thomas.
"Maksud kamu?."
"Ya. Walaupun Willy suka dengan Adik Ipar. Tetapi tidak menutup kemungkinan kalau Willy lebih pantas menjadi uke." Jawab Thomas tanpa beban. Sarap memang, orang normal di suruh belok.
Kelima Pria yang melihat interaksi Nira dan Willy membenarkan pasalnya tubuh Willy tidak segagah tubuh mereka walaupun lebih besar tubuh Willy dari pada Nira. Tetapi tubuh Willy tidak ada apa apanya jika di bandingkan dengan kelima cowok itu di tambah Thomas. Tubuh Willy seperti tubuh wanita lembut putih walaupun ada otot nya dan abs nya tetapi tidak se gagah Pria yang berada di soffa. Terlebih lagi wajah Willy terlalu manis untuk menjadi seorang Pria.
"Dion, sama Willy saja sana." Ucap Thomas memandang Dion yang melihat Willy tanpa berkedip. Heh baru sadar kalau Willy manis.
"Gue masih suka melon." Sahut Dion membuang muka.
Thomas mengangguk. "Tenang ada melon juga. Tapi di belakang."
"Sialan!!.."
__ADS_1