
Laki-laki itu menatap gadis di hadapannya yang dia kenal Passionette Dayanira. Gadis yang untuk pertama kalinya memikat laki-laki itu karena pesona nya.
Posisi keduanya sekarang berpindah di soffa dengan Passion yang duduk di pangkuannya, tangan laki-laki itu melingkar di pinggangnya. Laki-laki itu menyentak tubuh Passion agar lebih menempel kepadanya.
Gadis itu Passion, menggerakkan tubuhnya agar terpisah dari senior laki-laki di hadapannya. Cara duduk Passion tidak menyamping tetapi dudul dengan kaki terbuka. Dengan kedua lutut yang berada di sisi laki-laki itu. Rok selutut Passion tersampir karena cara duduknya.
Kedua tangan Passion berada di bahu laki laki itu agar tercipta jarak, tetapi laki-laki itu justru semakin mengeratkan kedua tangannya yang terlingkar pada tubuh Passion.
Laki-laki itu menunduk, mengarahkan kepalanya ke leher Passion mencium nya berkali-kali.
Aroma yang Passion keluarkan adalah candu bagi laki-laki itu.
"Le-pas kak."
Passion mendorong kuat tubuh laki-laki itu tetapi sia-sia. Seakan tenaganya habis karena seberusaha apa pun dia menjauh tetap tidak ada hasil yang pasti.
Passion diam saat laki-laki itu memeluknya. Passion bersyukur laki-laki itu tidak berbuat lebih terhadapnya. Jika iya, pasti Passion akan mengecewakan Papa dan Mama nya.
Laki-laki itu menghirup dalam aroma Passion yang menguar dari lehernya. Semakin mengeratkan pelukkannya takut jika passion akan pergi darinya.
Untuk hari itu di ruang kesehatan. Laki-laki yang menduduki bangku kelas tiga SMA, mengklaim bahwah Passionette Dayanira adalah miliknya.
Ingatan selesai
Pria itu menghela napas mengingat kenangan pertama nya pada Gadis bernama Passion yang membuat nya kecanduan.
Itu hanya awal ingatan yang mereka lalui masih ada banyak ingatan yang tidak sanggup pria itu ingat.
Semakin pria itu ingat semakin dia ingin mendekap tubuh Passion.
Passion adalah miliknya.
Gairah nya.
Terbilang egois memang jika Pria itu ingin Passion tanpa menunggu jawaban dari Passion sendiri.
__ADS_1
Setiap kali Pria itu ingin melakukan hubungan kepada seorang wanita, bayangan Passion yang ada di benaknya. Pria itu selalu membayangkan jika Passion yang bermain bersamanya.
Pria itu menatap tajam pantulan dirinya di cermin, rupa nya sudah berbeda dari beberapa tahun yang lalu. Sekarang lebih terlihat dewasa. Dengan postur tubuh yang gagah terlihat sempurna di mata para wanita.
Dia membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali untuk menghilangkan pikiran tentang Passion.
Setelah itu dia beranjak dari tempatnya dan mengambul handuk kecil untuk mengeringkan wajahnya. Pria itu berjalan keluar dari pintu kamar mandi.
Di dalam kamar terlihat pergulatan bagi tiga orang yang berada di atas kasur tadi. Suara-suara yang biasa pria itu dengar, terdengar di telinganya.
Tanpa mempedulikan ketiga orang di sana, Pria itu melangkahkan kakinya keluar menuju dapur. Perutnya lapar butuh makan, cacing di perutnya sudah bergemuruh meminta jatah makanan.
Di dapur pria itu melihat sahabatnya sedang memasang mie instan, karna hanya ada itu di apertemennya.
"Satu." Ucap pria dan duduk di meja makan.
Pria yang sedang memasak menoleh melihat sahabatnya. Tubuh polos pria itu sudah tertutup oleh kaos cokelat dengan celana pendek. Dia adalah pria yang tertidur di karpet bulu dengan pose seperti bintang.
Pria itu mengangguk mendengar ucapan dari sahabatnya. Dengan cekat dia menyiapkan untuk sahabatnya.
Mereka duduk beserbangan yang nampak fokus dengan makannya.
"Mereka belum selesai?." Tanya Pria itu.
"Belum."
"Bara, Tante nyuruh lo pulang." Ucap Pria itu.
Pria yang tidur dengan pose seperti bintang. Dia adalah Odion Anggara.
Pria yang di panggil Bara hanya kengangguk. Dion tahu pasti Bara tidak akan pulang kerumahnya. Pria itu selalu seperti itu tidak ingat pulang.
"Tau ah pusing gue lama-lama." Keluh Dion melihat Sahabatnya.
Dion melihat pintu kamar yang masih tertutup, seberapa lama mereka melakukannya tidak merasa puas juga.
__ADS_1
"Ica, kuat juga ya padahal tadi malam udah main pagi gini juga main." Ucap Dion memandang Bara. Dion heran dengan Ica padahal mereka melakukannya sampai pagi tetapi dia masih tahan menghadapi dua makhluk lainnya.
Sungguh kekuatan Ica harus di acungkan jempol oleh Dion. Dion suka jika ada Ica di antara mereka, karena hanya Ica yang mempu menerima milik mereka berempat kapan pun waktunya.
Paling wanita itu hanya mengeluh tubuhnya sakit dan minta di kusuk. Dion atau kedua temannya mau mengusuknya setelah itu ya mereka bermain lagi. Berbeda dengan Bara, dia tidak ingin repot-repot membuat dirinya capek karena Ica. Bara lebih suka capek saat bermain saja, memang tipe tipe habis manis langsung di buang.
Bara.. Bara..
"Siang."
Dion terkejut atas ucapan Bara, apanya yang siang pikirnya. Kedua alisnya menyatu dan di kening nya ada gelombang-gelombang yang menandakan Pria itu bingung. Ya sangat terlihat memang tampang bingung Dion soalnya wajah nya terlihat Konyol.
"Apa nya yang siang?."
Bara melihat Dion yang memandangnya dengan tampang bodohnya itu. Bara menghela napas. "Hari."
Dion diam beberapa menit memikirkan apa kata yang di maksud Bara. Setelahnya dia paham maksudnya, ini bukan pagi tetapi siang.
Berarti orang yang di kamar melakukannya sampai siang hari. Ica sangat kuat pikir Dion.
Dion mengambil mangkuk bekas makanan mereka dan mencucinya. Setelah itu pria itu menatap Bara sebentar, Bara yang di tatap menampilkan raut bingung.
"Gue ke dalam dulu. Kayanya seru kalau gue ikut lagi." Ucap Dion dengan kekehan pelan. Dion pergi meninggalkan Bara yang hanya diam menatap meja.
Bara memang seperti itu, dia akan melakukannya pada malam hari saat dia menginginkannya jika dia menginginkannya di pagi atau siang dia juga akan melakukannya.
Berbeda dengan ketiga temannya yang akan melalukan nya hampir setiap waktu. Bara menghela napas, jika saja Passion yang ada dalam dekapnya Bara tidak akan melepaskan gadis kecilnya itu.
Dan cepat atau lambat Bara akan membuat Passion berada di dekapnya. Hanya tinggal beberapa langkah lagi Passionnya akan menjadi miliknya.
Tetapi pikirannya terganggu dengan Pria yang mengajar di kampus Passion, Pria yang menatap Passion dengan tatapan yang Bara tahu apa artinya karna Bara pun juga menatap Passion seperti itu untuk pertama kalinya.
Banyak saingan yang membuat jalan Bara terhambat untuk mendapatkan Passion. Dari Willy hingga Pria itu. Bara membenci kegagalan. Sudah cukup dia dahulu gagal untuk melindungi miliknya, tidak untuk sekarang ini.
Siapa pun yang mengganggu jalan Bara akan Pria itu singkirkan. Karna yang utama dalam keinginan Bara adalah Passion-Gairahnya.
__ADS_1
Bara tersenyum mengingat penampilan Passion yang terlihat feminim, sedari dahulu gadisnya tidak pernah berubah. Dan aroma yang di sukai Bara juga tidak pernah luntur. Aroma yang menjadi candu untuk Bara. Bara sangat mengingat Aroma itu. Dan Bara akan segera menghirupnya lagi.