
Thomas berdiri di hadapan kami dengan Jessica yang berada di samping nya. Thomas membungkuk tanda menyapa kepada Papa dan Mama. Bisa sopan juga ternyata. Thomas tersenyum canggung menatap Mama yang menatap ke arah Thomas dengan berbinar. Duh liat cogan saja mata langsung jernih sedangkan Papa mendengus menatap Mama yang memperhatikan Thomas segitunya.
"Ya ampunn, calon menantu Mama ganteng ya. Duduk nak Thomas duduk." Ucap Mama menatap Thomas masih dengan binar di mata. Jessica yang melihat mendengus juga sama seperti Papa.
Thomas dengan canggung duduk di soffa dan Jessica duduk di samping nya. Papa sedari tadi memperhatikan Mama yang mata nya jelalatan melihat Thomas dengan berbinar. Aduh Maaa, Mama belum lihat saja bentukan Niell seperti apa. Nanti jika sudah melihat nya pasti Mama menyukai nya lebih dari Mama menyukai Papa. Hahahaha… enak saja Niell milik ku.
"Nira, buatkan minum untuk kakak Ipar mu!." Mama mengucapkannya dengan tegas dan menatap ke arah ku tajam. Setelah itu menatap ke arah Thomas dengan senyum lembut nya. Cih..
Aku menatap Papa minta pembelaan, yang benar saja dengan anak nya sendiri di tatap tajam sedangkan anak orang di tatap lembut. Papa yang melihat aku menatap nya hanya mampu menggeleng. Heeiii… suami takut istri ternyata.
Aku menghela napas pelan lalu beranjak dari duduk ku menuju ke dapur. Lihat saja aku akan memperkenalkan Niell kepada Mama biar Jessica yang di suruh membuat minum. Sungguh menyebalkan. Anak bungsu selalu di suruh.
Sedangkan di sisi lain, Thomas masih merasa canggung dengan orang tua Jessica. Dasar.. sama anak nya bisa menggoyang tanpa malu tetapi sama orang tuanya bernapas pun ragu. Sangat membagongkan.
"Sayang, jangan menatap Pria lain seperti itu." Papa memegang tangan Mama pelan. Takut menyakiti jika kuat. Mama menatap Papa sinis. "Thomas itu tampan tidak seperti Papa." Sungut Mama tanpa beban.
Papa melotot terkejut mendengar ucapan Mama. Tangan nya menarik tubuh Mama agar mendekat. Papa menatap Mama tajam dan mendekatkan wajahnya mencium bibir Mama pelan. Heiii… apakah mereka lupa jika Thomas dan Jessica masih berada di sana. Bahkan aku yang melihat dari dekat dapur saja geram. Mengumbar kemersaan sama saja dengan Thomas dan Jessica.
"Ehm.." Jessica berdehem canggung melihat perbuatan Papa dan Mama di depan mata. Wajah Mama sepenuh nya memerah karena perbuatan Papa. Papa mendekatkan bibir nya ke telingah Mama. "Malu, hm." Tangan Mama refleks memukul paha Papa yang hanya di sambut dengan kekehan.
Aku mendatangi mereka dan meletakkan nampan di atas meja untuk menyuguhi minum untuk mereka. Baik kan aku disuruh buat satu aku buat semuanya.
"Pa, Ma aku belum memperkenalkan dengan resmi kan." Jessica menatap Papa dan Mama lalu menatap Thomas. Oke aku di abaikan..
"Ini Thomas kekasih ku. Thomas ini Papa dan Mama aku." Jessica berbicara dengan lembut menatap ketiganya. Thomas mengerjap menatap Jessica, bisa lembut juga ternyata kekasihnya ingin sekali Thomas menyeret Jessica ke kamar.
Aku mendengus melihat nya. Apakah ini yang di namakan pencitraan?
Mama mengangguk mendengar ucapan Jessica. "Nak Thomas panggil Mama saja ya, kan mau jadi menantu." Ucap Mama di akhiri kekehan. Papa mengangguk kalem, terserah istrinya ingin mengatakan apa yang penting wanita di sampingnya itu miliknya.
Thomas mengangguk pelan. "Iya Ma.." suara Thomas pelas saat menjawabnya.
__ADS_1
"Thomas ini sudah kerja?." Thomas tersenyum. "Belum, Ma. Tetapi Thomas membantu di perusahaan Daddy. Thomas sendiri masih kuliah." Mama mengangguk mendengar ucapan Thomas. Masih kuliah ternyata.
Aku menatap Thomas jijik bisa terlihat sopan juga ternyata, tetapi apa tadi katanya Thomas, Pria itu memanggil namanya dengan sebutan Thomas. Bagus juga Niell yang memanggil dengan sebutan saya.
"Papa ih jangan gitu." Ucap Mama kesal memandang Papa yang mencubit pinggangnya. Papa menampilkan raut tidak peduli, siapa yang peduli.
"Tidak jadi ke Mall?." Papa menatap Mama dalam.
"Oh iya ayok." Mama beranjak dari duduknya menujuh ke kamar di ikuti Papa di belakangnya. Katanya mau ke Mall kenapa ke kamar?
"Pa, Ma, Nira ikut ya." Papa dan Mama menatap ke arah ku. Lalu menggeleng. "Tidak usah. Kamu jaga rumah takut takut Thomas berbuat hal yang aneh terhadap Jessica." Ucap Mama lalu menggandeng Papa ke kamar.
"Ma ih.. Mereka mau di jagain gimana banyak orang saja masih bisa rabah sana sini." Gumam ku pelan.
Thomas dan Jessica terkekeh pelan karena mendengar guman ku.
Aku menatap mereka tajam. Pasangan yang menyebalkan. Papa dan Mama keluar dari kamar dengan pelampilan yang sudah berbeda.
"Pa Ma kan baru balik masa pergi lagi." Jessica menatap Papa dan Mama. "Biasa mau jalan jalan." Sahut Papa enteng.
Papa dan Mama menggeleng. "Tidak bisa. Kamu di rumah saja." Ucap Papa.
"Thomas, Mama dan Papa pergi pacaran dulu ya. Jangan macam macam di rumah dan jaga kekasih mu jangan lupa jaga juga adik ipar mu." Mama terkekeh karena ucapannya sendiri. Aneh memang.
"Kamu juga Jessica jangan macam macam jaga adik mu." Jessica mengangguk menurut dengan perkataan Mama.
Mama dan Papa pergi dari rumah, terdengar suara Mobil yang meninggalkan pekarangan rumah.
Thomas menatap Jessica lekat. Jessica yang paham hanya mengangguk lalu beranjak dari duduknya.
"Kakak mau ke mana?." Ucap ku bingung.
__ADS_1
"Ke kamar, dingin dinginan." Jessica mengedipkan sebelah matanya ke arah ku.
"Ayo, Thomas." Jessica berjalan ke arah kamar dengan Thomas yang mengikuti dari belakang. "Adik ipar yang sabar ya." Thomas tertawa pelan.
Aku yang di tinggalkan sendirian terdiam menatap meja yang sudah di penuhi dengan gelas kosong. Jadi maksudnya aku harus sabar untuk membersihkan semua ini gitu. Selalu aku. Apa setiap anak bungsu itu selalu di suruh suruh.
Pasti ini Thomas dan Jessica lagi main celap celup di kamar sana. Kan aku jadi pengen. Hahahaha… dasar dayang iblis.
Ya gimana ya kebanyakan mendapatkan pengelihatan seperti itu membuat ku geram ingin mencoba nya.
Sabar Nira Sabar…
Ting
Notifikasi masuk ke ponsel ku. Siapa sih ganggu saja.
Passion, lg apa?
Aku mengernyit melihat pesan itu, siapa yang mengirim nya. Dan Passion? Ada dua orang yang memanggil ku seperti itu, mungkin.
Siapa?
Aku mengirim pesan kembali kepadanya. Bahaya bukan jika tiba tiba si pengirim itu adalah penipu. Bisa terkuras abis uang jajan ku jika benar itu Penipu.
Ting
Niell
Aku tersenyum membaca nya. Aduhh.. calon suami yang pengertian kalau calon istrinya lagi kesepian.
Dan sepanjang waktu itu aku saling menukar pesan kepada Niell sambil menunggu Thomas dan Jessica dingin dinginan juga Papa dan Mama yang sedang pergi berpacaran.
__ADS_1
___________
Oh iya, Cast tokoh nya nanti nyusul ya guys.