My Sexy Life

My Sexy Life
07. Jessica, Pulang


__ADS_3

Di sore hari saat aku duduk di ruang tamu ada orang yang masuk dan ku lihat dia adalah Jessica. Aku menatapnya sambil menilai ada bercak merah di lehernya, tidak habis pikir apa yang sudah Jessica lakukan di luar sana.


Jessica melangkahkan kakinya menujuh tangga tempat kamarnya berada.


Berkali-kali aku menghela napas melihat Jessica. Jika Papa mengetahuinya, tidak tahu aku apa yang akan Papa lakukan kepada Jessica.


Aku melangkahkan kaki menujuh kamar Jessica, rasa penasaran ku timbul dari mana sebenarnya Jessica.


Saat aku memasuki kamar Jessica, di dalam tidak ada siapa pun tetapi suara gemercik air terdengar dari kamar mandi.


Aku mengedarkan pandangan ku di kamar Jessica, baru semalam aku datang ke sini dan menemukan sebuah fakta yang mengejutkan. Sekarang aku datang kesini untuk memastikan dari mana Jessica.


Apa karena Thomas dan Casya yang menjadi penyebab Jessica tidak pulang kerumah?


Suara pintu terbuka di sana Jessica berdiri dengan tubuh terbalut handuk dan ada handuk di pegangannya untuk mengeringkan. Di sekitar tubuh Jessica banyak sekali bercak merah kebiruan. 


Jessica menatap ku yang sedang menatapnya, wanita itu menghela napas memandang ku.


"Ada apa?." Mata Jessica menatap ku. Tangannya masih mengeringkan rambut. Bibir Jessica jika di perhatikan lebih detail terdapat luka di bibir bawahnya.


Aku menghela napas, udah gak benar lagi apa yang di lakukan Jessica tadi malam. Aku melangkahkan kaki mendekatinya, aku teliti tubuhnya dari atas sampai bawah.


"Kamu dari mana?." Tanya ku mencoba memancing Jessica apakah dia mau mengatakan yang sejujurnya atau tidak. Ya walaupun aku yakin dia tidak akan mengatakannya.


Jessica menatap ku dalam diam. "Rumah teman." Jawabnya, dan berjalan pergi dari hadapan ku menuju lemari baju, wanita itu mengambil pakaian yang akan dia kenakan.


Aku duduk di soffa kamarnya, dengan mata yang masih terfokus pada Jessica. Setelah Jessica mendapatkan Pakaian yang akan dia kenakan, Jessica berjalan kembali menujuh kamar mandi. Aku menghela napas berkali-kali melihatnya. Kepala ini rasanya pusing melihat bagaimana tubuh Jessica yang banyak jejak di sana.


Aku bersyukur tadi pagi mendapatkan kabar bahwa Papa dan Mama tidak bisa pulang untuk empat hari kedepan. Jika saja tiba-tiba Papa Mama pulang dan melihat penampilan Jessica, aku yakin pasti ada barang yang pecah karena sebuah kemarahan.


Jessica keluar dengan pakaian santai nya. Jessica duduk di meja rias, menyisir rambutnya. Apa Jessica tidak ingin memberitahu ku apa pun?

__ADS_1


"Jess…" 


Jessica melirik ku sekilas, dan melanjutkan merapikan rambutnya. Setelah itu Jessica memutar duduknya menghadap ku. Matanya menatap ku.


"Apa yang kamu inginkan, Nira?." Ucapnya yang masih menatap ku dan sesekali menghela napas pelan. Agaknya Jessica lelah karena melihat ku ada di kamarnya. Tapi maaf kan aku Jessica, rasa penasaran ku terlalu besar dari apa pun.


Aku menatapnya lagi. "Apartemen? Kamu di sana kan?." Aku melihat wajah terkejut Jessica tetapi segera ditutupinnya. Jessica kamu mulai bohong pada ku hei..


"Kamu tahu dari mana?." 


"Aku menghubungi mu." 


Jessica menghela napas panjang. Tangan nya memijat pelipisnya pusing. "Lalu apa yang ingin kamu tahu?." Tanya nya yang masih menunduk dengan memijat pelipisnya. 


"Aku ingin tahu apa yang kamu lakukan." Setelah aku mengatakan itu, kepala Jessica yang menunduk seketika terangkat, seterkejut itu kah dia. Aku hanya ingin tahu dengan siapa saja dia bermain sampai lupa waktu.


Aku di rumah selalu sendirian saat Papa kerja, Mama pergi ke rumah temannya dan Jessica yang pergi entah kemana. Aku hanya kesepian tidak bisakah Jessica di rumah saja jangan selalu bermain di luar. Jika bermain di luar mengapa tidak mengajak ku, dan jika itu berbahaya untuk ku bukan kah seharusnya mengajak bermain hal yang positif. 


Aku menatap Jessica tidak terima, aku berdiri dan berjalan di samping tempat tidurnya. "Jessica, ini tidak adil." Ucap ku setengah berteriak. "Kamu pergi tanpa mengajak ku." Ucapan ku memelan.


"Papa dan Mama tidak di rumah dan aku kesepian. Aku tidak memiliki teman, Jessica!." Teriak ku. Aku menangis jika mengingat nya, aku selalu sendirian tidak mempunyai teman. Willy? Apakah aku harus bermain dengan Willy. Bisa saja dia sudah memiliki pacar bukan.


Jessica dalam baringannya menatap ku dan menghela napas pelan. "Keluar.. Keluar dari kamar ku, Nira." Setelah Jessica mengatakan itu dia berbalik memunggungi ku. Matanya memejam tanpa memedulikan aku yang terisak.


"Jessi…" Aku menangis melihat punggungnya. Aku berjalan pergi meninggalkan Jessica saat sudah mencapai pintu aku melihat Jessica yang menatap ku tetapi saat tatapan kami bertemu Jessica membalikkan tubuhnya memunggungi ku, Lagi.


Aku menutup pintu Jessica dan bersandar di sana. Isak tangis ku terdengar, sudah cukup aku seperti ini. 


Aku butuh teman… 


Aku butuh teman…

__ADS_1


Tetapi tidak ada yang ingin berteman kepada ku karena aku adiknya Jessica, si Ratu Iblis. Apakah aku harus menyalahkan Jessica, karena nya aku tidak dapat memiliki seorang teman.


Aku berjalan menuruni tangga, kaki ku melangkah keluar rumah dan duduk di teras. Masih jam lima sore belum malam untuk menenangkan pikiran. Mata ku memejam tetapi lelehan air mata ku mengalir, bagaimana cara menyingkirkan pikiran tentang keinginan ku untuk tidak kesepian.


Aku butuh seseorang untuk menenangkan ku.


"Apa aku harus mencari pacar?." Dialog ku pada diri sendiri tetapi setelahnya aku menghela napas tidak ada yang mau dengan ku.


Setiap kali ada yang mencoba mendekati ku pasti besoknya akan menjauh aku tidak tahu mengapa seperti itu. Seperti ada seseorang yang dengan sengaja menjauhkan ku dari seorang Pria siapa pun itu. Aku menghela napas. Siapa yang dengan tega melakukan itu. Jika dia terus melakukan itu, tidakkah aku akan selamanya menjomblo.


Kurang ajar memang…


Saat aku memfokuskan pandangan ku ke depan aku melihat sebuah mobil yang berhenti di depan pagar, aku tidak mengenal mobil itu milik siapa tidak mungkin milik Papa karena bukan seperti itu. Itu terlihat Mahal..


Aku melihat ada Pria yang turun dan berjalan mendekati pagar tangannya membuka pagar aku mengeryit bingung. Seperti mengenal siapa dia tetapi lupa siapa dia.


Penampilannya rapi dengan jas yang bertengger manis di tubuhnya tidak lupa kaca mata hitam yang dia kenakan, terlihat tampan. 


Harta..


Tahta..


Pria Tampan..


Cocok di jadikan Menantu Idaman, tinggal bagaimana caranya dia berlaku sopan saja apakah bisa?


Pria itu berdiri tidak jauh dari ku duduk. Matanya menatap ku, aku pun menatapnya. Saat dia membuka kaca mata hitamnya aku terdiam saat dia tersenyum. Aku bingung dia siapa seperti tidak asing wajahnya.


Beberapa menit aku terdiam menatapnya, mata ku membesar terkejut. Aku ingat dia siapa. Bagaimana aku melupakannya, Pria yang Astagfirullah pingin aku hujat seumur hidup ku tetapi syukurnya dia datang sendiri. Tetapi penampilannya yang terlihat dewasa membuat ku mengernyit, Dia sudah bekerja ya ternyata. Lumayan bisa di porotin uang nya. 


HAHAHAHA 

__ADS_1


"Kamu---"


__ADS_2