
Willy membuka pintu kamar Nira dengar terburu-buru, pikirannya terfokus pada tanda di leher Pria tadi dan juga Nira. Willy melihat Nira yang tidur pulas di kasur dengan guling di pelukannya, kaki Willy melangkah masuk tidak lupa menutup pintu.
Tangan Willy mengelus pelan pipi Nira dan tangannya turun menyingkirkan rambut yang menutupi lehernya tetapi kera baju Nira justru menutupi lehernya juga. Willy tidak tahu bagaimana bisa Nira tidur dengan baju kemeja kebesaran seperti itu. Tangan Willy membuka kancing teratas kemeja Nira, apa segitu kedinginannya dia sampai semua kancing di pasang. Setelah terbuka Willy melebarkan kemeja atas Nira untuk melihat apakah ada tanda kemerahan seperti Pria tadi.
"Syukur gak ada." Gumam Willy legah karena tidak menemukan tandanya. Tangan Willy mengambil guling yang di peluk Nira dengan pelan setelah itu Willy naik ke atas kasur tidur di sebelah Nira dan menjadikan lengannya sebagai bantal Nira.
Cup
Willy mencium puncak kepala Nira. Lengannya melingkar di tubuh Nira memeluk erat tubuh itu.
Nira yang sedikit ke ganggu membetulkan posisinya dan lebih mendekatkan tubuh nya pada Willy hingga tubuh keduanya benar-benar menempel.
"Passion…" Lirih Willy di telinga Nira tidak lupa meniup nya pelan, Nira yang di perlakukan seperti itu bergumam tidak jelas.
Willy yang mendengarnya tertawa pelan. Tangannya yang berada di punggung Nira mengelusnya dengan lembut, Nira yang merasakan sentuhan di punggungnya menggeliat di dalam dekapan Willy. Willy membeku mencoba menahan gerakan tidak nyaman dari Nira, bisa bahaya jika ini berkelanjutan. Nira terdiam karena Willy mendekap lebih erat.
Bibir Willy mencium bibir Nira tidak lupa Willy menggigitnya dan mengulumnya pelan takut jika Nira terbangun. Beberapa detik berlalu hingga Nira mengeluh baru tautan keduanya terlepas. Willy melihat bibir Nira yang sedikit membengkak tertawa lalu menciumnya pelan.
Willy memejamkan matanya lelah. Pagi-pagi butah datang ke rumah Nira karena teror dadakan yang terjadi padanya membuat Willy menggertakkan giginya geram.
Bagaimana bisa Willy menjauh dari Gairah nya.
"Gairah.. kamu tau Passion? Nama mu seperti tubuh mu mengundang Pria untuk bermain dengan mu." Willy mengatakannya dengan mata terpejam. Nira hanya miliknya. Ya, itu yang ada di pikiran Willy.
Willy terdiam. Pria tadi berarti bermain dengan Jessica, mengingat di lehernya ada bercak merah.
Willy menidurkan tubuhnya dan mempererat pelukan pada Nira. Keduanya tertidur, hanya deru napas mereka yang mengisi kekosongan pagi itu dan detak jarum jam yang sudah menunjukkan jam lima yang menemaninya.
Pintu kamar Nira terbuka di depan pintu berdiri Jessica yang terlihat syok memandang kedua pasangan di atas kasur yang saling berpelukan, Thomas di belakang memeluk Jessica dan menggunakan bahu Jessica sebagai tumpuhan dagunya tidak lupa bibir nya mencium leher Jessica dan meninggalkan jejak yang baru disana.
"Mmhh.. Thomas, mengapa Willy ada di kamar Nira?." Tangan Jessica menjauhkan wajah Thomas dari lehernya. Bahaya sekali Thomas ini padahal tadi malam sudah.
Thomas memandang Jessica dan mengecup bibirnya cepat. Takut di amuk jika lama-lama. "Tadi subuh dia datang."
"Kok bisa kan semua pintu di tutup."
"Gak tau."
Jessica melihat kedua orang yang masih tidur itu lalu menutup pintu kamar Nira. "Ayok ke bawah."
Thomas mengangguk dan berjalan di samping Jessica dengan tangan yang melingkar di perutnya. Sangat posesif sekali.
Jessica dan Thomas berada di meja makan. Mereka tidak memasak tetapi Thomas memesan makanan di luar. Lagian jika Jessica yang masak bisa-bisa dapur yang terlihat bagus akan hancur dan hangus terbakar. Thomas tadi mengatakan saat Jessica menawari untuk memasak tetapi Thomas menolak dengan tegas dan mengatakan. "Kamu tidak pandai memasak sayang, kamu pandainya di menggoyang." Dan saat itu juga Jessica yang lagi tiduran memegang ponsel dengan spontan menghantamkan ujung ponsel ke kening Thomas.
"Yang," Jessica melihat Thomas karena merasa terpanggil.
__ADS_1
"Di goyang di goyang yang." Lanjut Thomas dengan kedipan pada mata kanan nya.
Tak
Sendok di tangan Jessica mendarat di kening Thomas.
"Sakit loh, Yang." Keluh Thomas mengusap bekas pukulan Jessica.
Jessica mendekatkan tubuhnya pada Thomas lalu mencium bekas yang dia pukul. Ternyata merah.
Thomas yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Jessica tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu menarik tengkuk leher Jessica yang menyatukan bibir mereka tidak lupa Thomas mengulumnya kasar.
Kita kembali ke lantai atas tempat dua sejoli yang memiliki status sahabat, berdoa saja semoga keduanya berjodoh.
Nira merenggangkan tubuhnya tetapi kesulitan karena dekapan dari Willy, Nira mengerjap dan menyesuaikan matanya dengan lampu atau sinar matahari, mungkin. Pasalnya sebelum tidur Nira sudah mematikan lampunya tetapi mengapa lampunya masih menyala, apakah saklar lampunya error seperti milik Jessica. Tidak tahu saja Nira bahwa tadi pagi subuh Willy yang menghidupkannya, Willy takut kalau tidur bersama Nira hanya dengan pencahayaan remang, takut khilaf Willy.
Nira melihat di depannya seperti tubuh seseorang dan ada bobot yang berat menimpah perutnya, pandangannya ke atas melihat siapa di depannya tidak lupa tangannya yang mencoba mendorong tubuh itu tetapi sangat sulit karena kaki kiri orang di depannya melingkari tubuhnya seperti layaknya memeluk guling.
Nira menggeliat kasar agar terlepas. "LEPAS!." Teriak Nira kuat.
Jessica yang sedang berada di pangkuan Thomas terkejut karena teriakan Nira dan mencoba beranjak tetapi di takan Thomas. "Diam, Sayang. Biarkan saja mereka." Walaupun tidak rela tetapi Jessica menurut.
Willy yang mendengar teriakan Nira yang memekakan telinga memejamkan matanya erat-erat. "Nanti aku tuli, Passion." Ucap Willy dengan suara serak. "Dan, jangan bergerak. Kamu membuatnya bangun." Bisik Willy di telinga Nira.
Beberapa menit keduanya terdiam sampai Willy mengendurkan pelukkannya dan menjauhkan tubuhnya. Nira bernapas legah.
Nira duduk menjauh dari Willy tidak lupa tangannya beraksi memukuli tubuh Willy.
Bugh
Bugh
Bugh
"Bagaimana bisa kamu sampai di kamar ku!." Ucap Nira pada Willy di selah-selah pukulannya.
Willy mengambil bantal yang menjadi bahan pemukul Nira. Galak sekali.
"Aku menyusup."
"Kapan?."
Willy terdiam dengan tangan menggaruk kepalanya. "Tadi pagi jam tiga." Jawab Willy tanpa beban.
Nira memandang tidak percaya Pria di hadapannya. "Willy, Gilak!." Teriak Nira. Kakinya menendang Willy hingga Pria itu terjungkal ke lantai.
__ADS_1
Wanita itu beranjak dari duduknya menuju kamar mandi untuk mandi. Sedangkan, Willy hanya memandang Nira lalu beranjak dari lesehannya dan kembali ke kasur.
Beberapa menit kemudian Nira keluar dari kamar mandi, aroma sabun mandi menguar sampai di hidung Willy. Willy menggeram menahan sesuatu, kakinya melangkah menuju Nira yang sedang berdiri di meja rias.
Willy melingkarkan tangannya di perut Nira tidak lupa mencium pundaknya. Nira menatap pantulan mereka terkejut atas perlakuan Willy. "Ap-pa yang kamu lak-kukan?." Gagap Nira.
"Aku kebawah duluan."
Cup
Willy mencium bibir Nira lalu pergi meninggalkan kamar Nira.
Di bawah Willy melihat Jessica dengan Pria tadi pagi sedang bermesraan. Willy mendatangi keduanya dan duduk di soffa kiri mereka. Jessica yang melihat Willy mendengus dan memandang sinis.
"Dari mana lo masuk?."
"Gudang."
Jessica mengernyit bingung, gudang katanya?. "Sialan, Willy!." Teriak Jessica. "Pintu kecil itu." Lanjutnya. Thomas di samping Jessica terkejut karena teriakannya lalu tangannya mengelus pinggang Jessica tidak lupa sedikit remasan.
"Iya." Sahut Willy dengan tangan mencomot martabak yang berada di meja dan melahap nya.
"Lo itu ya."
"Tenang sayang tenang."
Willy melihat Pria di samping Jessica bingung. Jessica yang paham memperkenalkan keduanya. "Thomas dia Willy, Willy ini Thomas." Willy mengangguk. "Pacar lo?."
"Iya."
Mata Willy melihat ke televisi yang tidak menyalah, kaki nya melangkah mendekat di sana juga terdapat DVD, Willy mengobarak abrik lemari kecil yang berisi kaset film, lagu bahkan ada kartun juga. Tangannya mengambil kaset lagu dangdut. "Mari kita bergoyang." Willy memasukkan kaset nya ke DVD.
Dua kursiiiiiiiii
Lalalala
"Lalalala." Ikut Willy padahal Pria itu masih berjongkok di depan televisi yang menampilkan gambar itu.
Nira menuruni anak tangga dan menghampiri ketiganya. Nira duduk mengernyit melihat Willy yang sudah bergoyang ke kanan dan kekiri dengan posisi setengah duduk setengah jongkok karna kaki Pria itu berada di sisi tubuhnya sedangkan bokong nya terduduk di karpet.
"Jangan sampai kau macam-macam di luaran rumah kau macam-macam saaayyaaaangggg." Tubuh Willy memutar melihat Nira. "Awas awas awas Awasss."
Beberapa lagu di hidupkan dengan Willy yang bergoyang di hadapan ketiganya.
Nira mengulum bibirnya agar tidak tersenyum lebar, di hadapannya ada Willy yang sedang berdangdutan. Tidak lupa ada Thomas dan Jessica di soffa.
__ADS_1