My Sexy Life

My Sexy Life
21. Dipanggil, Niell


__ADS_3

PASSIONETTE DAYANIRA


Aku duduk di atas kasur ku dalam diam, suasana kamar sekarang ini tampak sunyi karena Niell pergi keluar bersama Thomas. Tadi ada telepon masuk sehingga membuat mereka harus pergi untuk mengerjakan sesuatu makannya kedua Pria itu meninggalkan Rumah.


Aku menghela napas, bisa bisa nya aku kehilangan seperti Niell suami ku saja. Menyebalkan!!


Tidak tahu kenapa rasanya tubuh ku sangat lelah padahal aku tidak melakukan aktivitas yang berat, aneh memang.


Lagi pula ini hari apa sih udah pagi saja. Apakah aku ada kelas, sebenarnya malas tetapi mau bagaimana lagi. Aku beranjak dari duduk ku untuk menuju ke kamar mandi membersihkan tubuh, jika tidak di bersihkan pasti orang orang tidak akan ada yang mau berdekatan dengan ku kan bahaya.


"NIRAAAAA….." Suara Jessica terdengar memanggil nama ku. Dia pikir ini hutan apa, dengan seenaknya berteriak sesuka hati. Dasar..


"AKU DI KAMAR MANDII.. KENAPA?." Balas ku berteriak. Biar dia mendengarnya kan bahaya jika Jessica tidak mendengar teriakan ku. Bisa bisa kamar ku di obrak abrik dia.


"Cepat, Nira. Kamu lupa hari ini jadwal kelas kita sama?." Suara Jessica memelan dan terdengar dekat dengan pintu. Tetapi apakah beda jurusan bisa buat mata kuliah sama?. Otak ku terlalu lamban.


"Lima belas menit. Tunggu aku." 


"Baik lah." 


Aku mendengar suara langkah kaki menjauh. Berarti Jessica sudah pergi, aku harus cepat bersiap bisa telat nanti aku.


Beberapa menit setelah aku bersiap, aku menuruni tangga melihat di sana ada Jessica yang duduk dengan tangan memangku dagu. Segitu lamanya kah aku? Hingga membuat Jessica menunggu dengan tampang membosankan itu.


"Jessi.." Aku mendekati Jessica dan menepuk pundaknya. Jessica yang mendapat tepukan ku terkejut. Ternyata dia melamun.


Jessica melihat ke arah ku dan mendengus kesal. Aku salah apa heii..


Jessica beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah, Jessica memasuki mobilnya aku yang melihat terdiam. Terus aku ikut dengannya atau bawa mobil sendiri?.

__ADS_1


Aku masih terdiam di dekat mobil Jessica. Duuuhhh gimana dong, aku lupa bensinnya kan habis. Apa nanti aku suruh Niell beli aja ya, idea bagus. Sepertinya menyuruh Niell lebih bagus dari pada beli sendiri. Ada gunanya juga punya kekasih, tapi apa tadi kekasih. Hahaha… Niell bukan kekasih kuuu, duuhhh… seketika ingin memiliki kekasih Duda yang hot, indahnya dunia perhaluan.


"DAYANIRA, CEPAT MASUK!!..." Teriak Jessica dari dalam mobil. Aku melihat kaca mobil yang terbuka dan di sana Jessica melihat ku dengan kesal. Salah lagi aku.


Mencari aman, aku cepat cepat masuk ke dalam. Jessica jika marah sangat menyeramkan.


...^^^^^^^^^...


Perkuliahan sudah selesai, aku merengangkan tubuh ku. Pegal sekali rasanya mendengar Pak kumis ini berbicara. Ini kelas kedua ku di hari ini, Jessica sudah balik dari tadi di jemput Thomas.


Aku melangkahkan kaki ku ke luar kelas, suasana kampus cukup ramai. Banyak sekali orang yang bersenda gurau, aku yang tidak memiliki teman sama sekali cukup menjadi pengamat saja. 


"Dayanira!." Sebuah suara memanggil nama ku. Suara seorang perempuan?


Aku membalik tubuh ku penasaran. Ada apa gerangan hingga membuatnya memanggil nama ku.


"Ada apa?." Perempuan itu menatap ku lalu menunjuk ke arah seberang dari depan pintu kelas ku. Apaan sih gak jelas banget. Maksudnya aku di suruh ke lapangan gitu? Atau ke taman atau gimana. Apa semua nerd se-gak jelas dia. Sangat membagongkan. Tadaaa… Untuk kedua kalinya aku mengatakan itu.


"Apa sih?." Ucap ku melihat arah tunjuk dia. Bagus juga sih cupu ini, dia mengenakan pewarna kuku yang mengkilat dengan bercak merah kecil kecil di sana. Aku meragukan jika dia benar benar cupu. Kalau di dalam novel pasti dia hanya menyamar menjadi nerd demi menutupi identitasnya padahal dia dapat beladiri dan juga keluarganya kaya raya. Aku terlalu banyak membaca novel sepertinya.


Perempuan itu masih menunjuk ke arah sana. "Pak Anthony, memanggil mu." Dia tidak gagap tetapi susah sekali mengeluarkan suara. Sudah ku katakan seorang nerd itu pasti akan seperti itu. Atau karena jiwa dia yang berpindah tempat, dan jiwa seorang nerd yang memasuki tubuhnya. Kebanyakan baca novel. 


Aku mengangguk berterima kasih. "Makasih." Setelahnya Perempuan itu pergi menjauh dari ku.


Aku melangkahkan kaki menuju ruangan Niell. Haruskah bertemu saat di kampus. Apa kata orang orang nantinya. 


Kreeekkk [anggap saja suara pintu]


Aku melihat Niell duduk di sebuah meja dengan di tangannya banyak kertas kertas tidak lupa juga kacamata yang bertengger di atas hidungnya. Wehhhh…. Tampannya suami orang.

__ADS_1


Niell beranjak dari duduknya menghampiri ku yang masih di depan pintu. Bahkan, pintunya belum ku tutup. 


Brakk…  


Niell menutup pintu di belakang ku tidak manusiawi. Apa dia lupa kalau aku punya jantung, bagaimana jika jantung ku tiba tiba jatuh sampai ke dengkul. Tidak lupa Niell mengunci pintunya.


"Passion…" Ucap Niell. Tubuh ku di tarik dan di bawa ke meja kerja Niell tadi. Aku didudukkan di atas pangkuan Niell sedangkan Niell seperti biasa mengendus tubuh ku seperti kucing.


Niell menatap mata ku lekat dan mendekatkan bibirnya ke bibirku lalu melummatnya dalam dan kasar. Tangannya tidak tinggal diam menjelajah lekuk tubuh ku yang kalau kata Jessica tepos. Heii tepos tepos begini Niell buktinya tidak pernah absen menjelajahnya.


"Saya tidak tahan." Suara Niell serak saat mengatakannya. Niell menelusupkan wajahnya ke lekuk leher ku. Tidak lupa Niell menjilatnya di sana dan menggigit lalu menyedotnya. Sudah ku katakan Niell itu jelmaan Vampir. Jika dia memiliki taring sudah habis darah ku.


"Passion, saya tidak tahan." Niell berkali kali mengatakan itu. Di sana Niell melummat telinga ku. Woi lahh, Anting ku jangan juga dong.


Aku mencoba mendorong tubuh Niell sekuat tenaga tetapi sangat susah. "Niell…" Ucap ku pelan. Ayo Nira kuat iman bahaya ini, Adeknya Niell udah bangun di bawah.


Niell menatap mata ku dan mencium bibir ku berkali kali. Di akhir Niell menciumnya dia menggigit bibir ku dan menariknya. KENDOR BIBIR KU KENDORR.


Saat Niell melepaskannya. Niell tersenyum lembut. "Saya sudah mengatakan kepada orang tua kamu." Aku mengernyit sejak kapan Niell kenal dengan Papa dan Mama. Lalu kapan mengatakan apa yang mau di katakan?. "Saya sudah meminta izin membawa mu ke apartemen saya." Setelah Niell mengatakan kalimat itu. Niell menurunkan ku dari pangkuannya.


Niell membereskan tumpukan kertas di meja. "Kita pergi." Niell menggenggam tangan ku erat. Tenang aku tidak akan kemana mana. Meja milik Niell sudah rapi dan waktunya kami pergii…


"Tunggu.. bagaimana dengan Jessica?." Aku berhenti berjalan sehingga Niell ikut berhenti juga. "Dia ada bersama Thomas." 


Aku mengangguk mengerti. Ternyata mereka berdua ya. Apa ini juga termasuk rencana mereka.


"Waktu kamu dengan saya, Passion." Niell menatap ku tajam. "Dan, jangan memikirkan apa pun." Aku meneguk ludah ku gugup. Aku sudah seperti mau di bakar hidup hidup. Sangat mengerikan.


Aku dan Niell berada di perjalanan menuju apartemen Niell. Jalanan yang tampak ramai dengan rintik hujan yang mengguyur jalanan menambah suasana nyaman saat aku berada di dekat Niell. Terkadang aku tidak tahu sebenarnya jimat apa yang Niell gunakan hingga aku berasa nyaman di antara kebisingan. Aku harap ini tidak berakhir menyedihkan, karena aku ingin Niell ada di dalam memori ku yang baru ini. Semoga tidak ada yang mengganggu. Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2