My Sexy Life

My Sexy Life
17. Berkumpul [Tiga]


__ADS_3

"Passion, ini!." Willy memasangkan jepit rambut kepada Nira. Nira sedang menunduk dengan rubik di tangannya, Nira sibuk mencocok kan warna disana sedangkan Willy sudah beralih di belakang Nira. Tangannya membuat aksesoris nyangkut di sana. Rambut Nira di kepang kecil kecil tidak lupa, Willy mengikat rambut Nira kecil kecil dengan karet cina. 


Nira lelah melihat rubik di tangan nya. Dan membalikkan tubuh nya melihat Willy. Di tangan Willy ada ikat rambut kecil, Nira mengambilnya dan mengikatkan di kanan dan kiri rambut Willy. 


Jika di lihat kedua manusia itu seperti saudara kembar. Thomas, Jessica, Dion, Niell, Kevin, Rian dan Dian melihat kedua manusia berbeda kelamin itu dalam diam. Mereka membenarkan perkataan Thomas beberapa waktu lalu bahwa Willy lebih pantas menjadi uke, lalu siapa seme nya? Masih menjadi misteri.


Bahkan, Willy masih Pria normal jadi jangan ada yang memprovokasi nya untuk memilih jalan yang salah.


"Willy, ini itu gini bukan gitu. Gimana sih." Sungut Nira memandang Willy sinis. Tangannya sibuk membenarkan tatanan puzzle di depannya, Willy yang berada di sampingnya mendengus. 


"Mana aku tau seperti itu, Passion." 


Jessica memandang keduanya dalam diam. Jessica menghela napas pelan dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Lama-lama aku bisa gila." Lirih Jessica pelan tetapi masih dapat di dengar oleh Thomas.


"Kamu kenapa, Sayang?." Thomas memandang Kekasihnya yang tanpa sangat frustasi. Apa lagi sekarang?


Tangan kiri Jessica masih menutupi wajahnya tetapi tangan kanan nya menunjuk tempat dimana Nira dan Willy berada. "Mereka gila." 


Semua yang mendengar terkejut kecuali Nira dan Willy. Apa maksud dari perkataan Jessica.


"Berbicara lah yang jelas." Niell menatap tajam Jessica yang sangat lamban dalam mengatakan sesuatu.


Thomas yang melihat kekasih nya di tatap tajam tidak terima. "Mata Niell mata." Sinis Thomas.


"Ada apa, Sayang?."


"Beberapa tahun lalu mereka berdua pernah mengatakan jika bisa mengandung dengan bersama." Semua terdiam mendengar ucapan Jessica. Gila saja maksudnya Willy mengandung, perut nya besar? Buncit? Serius? Banyak sekali pertanyaan yang ingin mereka lontarkan. 


"Tahun bilang berapa tahun nya?." Tanya Dian berbelit.


Tak


Jitakan Dian dapatkan dari Rian. "Nanya yang benar." 


"Saat kami SMP." Jessica melihat Willy dan Nira tertawa. Gila, perkataan mereka jangan dibilang serius.


"Tunggu, emang Pria bisa hamil?." Dion membuka suara, sudah gatal mulutnya ingin menjuliti Willy.


Thomas menyeringai memandang Dion dan terkekeh setelahnya. "Mengapa? Lo ingin menghamilinya?." 


"Diam, Sialan!." Dion bisa darah tinggi lama-lama berbicara dengan Thomas.

__ADS_1


Dian dan Rian saling pandang dan tertawa setelahnya. "Bukan kah bagus jika, Dion memiliki gandengan." Ucap Dian dengan kedipan ke arah Dion. Rian mengangguk membenarkan. "Yah.. dapat paket lengkap or komplit."


"Sama saja setan." Dian menatap sinis kembarannya.


Thomas yang paham arah pembicaraan kedua nya menyahut. "Apa itu?." Pura-pura Thomas untuk mendramatiskan keadaan. Kurang ajar memang, gak ada yang benar orang-orang di dalam rumah itu.


"Dua Melon, Satu Pisang, Dua Telur, ada Mie Kriting." Ucap Rian dengan seringainya. 


Dian mengangguk. "Tetapi ada yang belum Rian katakan. Ada Dua Kacang di kanan dan kiri tidak lupa juga roti sobek dengan enam kotak." Setelah mengatakan itu Rian dan Dian tertawa.


"Jadi, Dion apakah lo ingin Paket Komplit?." Tanya Thomas pada Dion.


"Kalian bertiga menjijikan." Marah Dion memandang Ketiganya yang sudah tertawa lepas. Enak juga mengganggu Dion.


"Passion, Kemari!." Niell menatap Nira dingin tangan nya terulur meminta Nira untuk menggapainya.


Willy yang melihat hanya diam, mencerna sesuatu. Sedangkan Nira beranjak dari duduknya menggapai tangan Niell yang sudah menariknya duduk di pangkuannya lagi.


Suasana ruang tamu tampak sunyi, tidak ada suara apa pun. Pandangan semua nya hanya terarah ke 2N [Nira-Niell]. Padahal pukul sudah menujuh pukul sebelas malam tetapi mereka belum beranjak dari tempat nya. Bahkan para Kaum Adam belum ingin pulang. 


"Tunggu…" Willy melihat Niell yang sedang menelusupkan wajahnya ke lekuk leher Nira. Make nurut saja lagi sih Nira.


"Tadi anda mengatakan apa pak?." Ya. Willy baru sadar bahwa Niell ada lah Anthony yang dia temui tempo hari saat berjalan bersama Nira. Pantas saja tatapannya seperti ingin menguliti lawan nya hidup-hidup ternyata keduanya memiliki hubungan. Atau Willy yang baru tahu hubungan mereka.


"Ada apa dengan mu, Willy?." Jessica mengernyit apa salah nya dengan panggilan Passion. Thomas mengangguk membenarkan pertanyaan Jessica. Bahkan semua Orang di sana dengan refleks mengangguk seperti Thomas.


"Gue mengingat seseorang yang memanggil itu juga." Willy menggaruk pipinya hingga memerah Dion yang melihat tangan Willy ingin sekali menyingkirkan nya dari pipi Willy. Bisa lecet pipi mulus Willy pikir nya.


"Siapa?." Niell angkat bicara.


"Lupain saja. Udah mati kok." 


Mereka terdiam mendengar perkataan Willy. Sudah mati ternyata.


"Kalian tidak pulang?." Jessica membuka suara untuk mengalihkan pikiran mereka. 


"Tidak." Thomas yang menjawab.


Jessica mengangguk. "Oke. Kalian harus pulang." Jessica beranjak dari duduknya berjalan ke arah Nira dan menariknya. Kurang ajar, di kasih hati minta jantung. Di biarkan mala menjadi-jadi.


"Pulang kalian semua." Jessica menatap tajam semua Pria yang ada di rumah nya. Sesi perkumpulan sudah habis waktunya pulang ke asalnya masing-masing.

__ADS_1


"Yang, aku mau menginap." Keluh Thomas memandang Jessica memelas. 


Jessica berjalan ke dapur, setiba nya Jessica ke ruang tamu mereka semua terkejut karena di tangan Jessica ada sapu.


Niell yang pertama kali beranjak dan di ikuti Kevin lalu semua nya kecuali Thomas yang masih setia duduk di soffa memandang Jessica diam. 


"Thomas, pulang sudah malam."


"Sayang, biasanya juga kita tidak apa-apa." 


Bugh


Sapu mendarat di tubuh Thomas dengan kuat. Semuanya yang mendengar merasa ngilu, pasti itu sakit.


"Sayang, Sakit!." Mata Thomas berkaca.


Jessica mendengus. "Drama. Pulang!." 


Dengan malas Thomas beranjak dari duduknya menghampiri Jessica. Thomas melummat bibir Jessica kasar dan tangannya meremas dada Jessica kuat. Thomas melepaskan tautan nya tetapi tangan nya tetap berada di sana bahkan tangan kiri nya sudah melingkar di pinggang Jessica. Tidak lupa menggesekkan tubuh nya dengan Jessica ke kanan dan ke kiri. Thomas mencium singkat bibir Jessica. "Aku mencintai mu."


"Sialan!." Thomas tertawa mendengar umpatan kekasihnya dan berjalan meninggalkan nya, Thomas melewati semua Pria yang berada di pintu masuk rumah.


"Sudah menonton nya." Ucap Thomas saat melewati mereka. Ternyata mereka semua melihat pertunjukan singkat itu.


"Gila, Thomas. Apa kabar kalau berdua?." Dian mengikuti kepergian Thomas.


Rian mengangguk. "Pastinya lebih ganas." 


"Pulang kalian!." Teriak Jessica berjalan ke arah mereka yang berjalan cepat meninggalkan rumah.


Benar kata orang bahwa Jessica adalah Ratu Iblis. Tidak ada lembut-lembutnya.


Setelah kepergian semua Pria itu, suasana rumah tanpa sunyi. Nira melangkahkan kakinya ke arah Jessica. "Kakak tidak apa-apa?." Nira melihat wajah Jessica memerah. Apakah kakak nya sakit?.


Jessica menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Tidur lah ini sudah malam." Ucap Jessica mengelus puncak kepala Nira dan berlalu pergi ke kamarnya setelah menutup pintu.


Nira mengernyit bingung. "Kakak Aneh."


_________


**Siap gak kalau Willy jadi Gay?

__ADS_1


HAHAHAHAHA [ **Tertawa Jahat ]


__ADS_2