
Aku mengistirahatkan tubuh ku, Jessica belum juga pulang padahal sudah jam setengah dua belas malam. Sudah aku hubungi berkali-kali tetapi tidak ada jawaban darinya. Aku memandang langit-langit kamar ku.
"Jessica, tidak kenapa-kenapa, kan?." Tanya ku pada diri sendiri.
Papa dan Mama tidak tahu jika Jessica belum pulang, karena tadi sore sewaktu papa pulang ada kabar bahwa nenek sakit sampai harus di larikan kerumah sakit. Jadi, Papa dan Mama harus pergi kesana, aku di rumah sendirian. Mama takut jika aku ikut pergi, nanti saat Jessica pulang tidak ada orang di rumah tetapi sampai sekarang anak itu tidak pulang juga.
Aku mencoba untuk menghubungi Jessica lagi, tetapi sampai sambungan ke enam kali baru teleponnya di angkat.
"Jissica!!." Teriak ku, saat sambungan telepon terhubung.
"Ada apa, Nira?." Terdengar suara pria. Aku tidak tahu siapa pria yang mengangkat teleponnya, apa Jessica sedang bersama seorang pria? Lalu siapa? Thomas? Tidak mungkin kan, karena Thomas milik Casya.
Aku mencoba menenangkan diri ku, jangan lagi ku mohon. Jessica sudah hampir dua bulan tidak memainkan dunia malamnya, jangan karena melihat Thomas dengan wanita lain Jessica sampai masuk kesana lagi.
"Dimana, Jessica?."
Terdengar gelak tawa di sebrang sana. Berapa orang sebenarnya? Dua tiga atau empat? Jessica dimana sebenarnya kamu!?.
"Jessica, aman bersama kita." Sahut sebuah suara yang berbeda dari suara pertama. Di sahut tawa dan sebuah tepukan yang terdengar. "Ya. Dalam rengkuhan hangat tentunya." Suara lain menjawab.
Sudah tiga orang yang terdengar berbicara. Tiga orang pria dengan Jessica disana.
"Diam lah, Rian, Dian!." Suara pertama menegur mereka.
"Lo tenang aja, Nira. Jessica ada di apertemen gue. Gue Kevin." Kevin mengatakan jika Jessica berada di tempatnya dengan seorang pria bagimana aku bisa tenang.
Aku memijat pelipis ku, semakin memikirkannya semakin membuat ku pusing.
"Dimana? Biar aku menjemput, Jessica." Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, aku tidak tahu jika harus serumit ini turun tangan tentang Jessica.
Biasanya aku tidak sepeduli ini dengannya, tetapi jika di pikir lagi bukankah tidak baik kalau prilaku Jessica tetap seperti itu. Apa aku harus mengusulkan kepada Papa dan Mama untuk membuat perjodohan untuk Jessica agar dia dapat berubah. Karena jika sudah menikah harus memenuhi kewajiban seorang istri bukan. Aku tahu dari mana? Aku sering membaca cerita novel di Noveltoon tentu saja aku tahu.
"Kita ada di apertemen jalan Mer-."
Bugh
__ADS_1
Ucapan Rian terpotong atas pukulan dari Kevin. Kevin menatap Rian tajam agar pria itu mau berhenti membuat ulah.
"Sakitt." Ringis Rian mengusap belakang kepalanya yang di pukul Kevin.
"Kenapa, kev?." Dian memandang Kevin bingung.
"Bukankah bagus jika menambah satu lagi?." Aku mengeryit mendengar ucapan Dian apa maksudnya menambah satu lagi?.
"Lo tidak perlu datang, Nira. Kakak lo aman sama gue. Besok dia sampai ke rumah lo dengan selamat."
Setelah Kevin mengatakan itu sambungan telepon langsung di matikan. Apa sebenarnya yang mereka lakukan? Lalu bagaimana cara ku mencari tahunya tentang keberadaan Jessica.
Jika seperti ini bagaimana aku bisa tidur, memikirkan Jessica terus.
Aku beranjak dari tempat tidur ku, rasa nya haus karena terlalu banyak memikirkan Jessica.
Rumah ku terlihat gelap karena pencahayaan yang sudah di matikan. Bibi juga pasti sudah tidur, Bibi sudah bekerja sedari aku dan Jessica kecil. Jadi, sudah seperti keluarga sendiri, Bibi tidak memiliki keluarga lagi suaminya sudah meninggal beberapa tahun lalu sedangkan anak nya saat berusia lima belas tahun terlibat kecelakaan yang mengakibatkan dirinya meninggal. Sedangkan, keluarga Bibi yang lain tidak ada lagi. Bibi yang tinggal seorang diri, membuat ku membujuk Papa dan Mama untuk membuat Bibi ikut tinggal disini.
Aku menghela napas dengan gelas berisi air putih dingin di tangan ku, aku duduk di kursi ruang makan, lampu sudah aku nyalakan seram juga jika tidak ada pencahayaan.
Haaaa……
"Kepala ku pusing memikirkannya."
Setelah aku meminum tandas isi gelas di tangan ku, aku beranjak dari tempat duduk untuk kembali ke kamar tidak lupa mematikan lampu dahulu. Aku menaiki tangga untuk menuju ke kamar, tetapi di jalan menuju ke kamar aku melihat kamar di samping kamar ku, itu kamar Jessica lalu mengapa lampunya menyala apa Jessica sudah pulang tapi itu tidak mungkin. Atau ada hantu di kamar Jessica, jika memang ia aku membenci fakta itu.
Aku melangkahkan kaki ku ke dekat pintu kamar Jessica dan membukanya, ternyata tidak di kunci. Saat aku memasukinya di sana terlihat rapi, ya memang Jessica itu anaknya rapi.
Aku mengedarkan pandangan ku ke penjuruh kamar dan pandangan ku jatuh ke arah saklar lampu. Aku berdiri di depan saklar lampu, aku lihat di sana tombolnya tertekan ke bawah lalu mengapa lampunya menyala seharusnya kan mati. Oke, mari kita periksa.
Tak
"Papaaa…" Kaget ku saat lampu tiba-tiba mati aku tidak menekan ke atas sumpah. Aku hanya menyentuknya dan justru tertekan ke bawah.
Ku coba lagi menekan nya ke atas tetapi lampu tidak kunjung hidup.
__ADS_1
Tak
Tak
Tak
Tak
Tak
Lampu menyala saat ku coba lagi, aku memandang sinis saklar lampunya, mengapa Jessica tahan sekali dengan saklar seperti ini, dan mengapa dia tidak mengatakan kepada Papa atau Mama.
Aku memunggungi saklar lampu dan berjalan ke arah lain.
"Maaf Jessica, aku penasaran dengan isi kamar mu." Ucap ku seakan-akan Jessica berada di hadapan ku.
Di dekat lemari tidak ada apapun, di dalam nya juga tidak ada yang aneh kecuali baju-bajunya. Meja belajar juga hanya buku kuliah saja, Novel bahkan tidak ada biasanya anak perempuan pasti memiliki buku cerita bukan tetapi Jessica tidak punya.
Aku berjalan ke arah lemari kecil di samping tempat tidur, aku bersimpuh di depannya. Rasa penasaran ku terjawab, aku kira Jessica tidak memiliki buku cerita ternyata ada tetapi apakah itu pantas di sebut buku cerita itu lebih pantas di sebut buku diary. Tidak, aku tidak akan membukanya.
Aku membuka laci lemari di sana ada sebuah kotak, aku membukanya dan isinya bungkus berukuran kotak dan di dalamnya tercetak lingkaran. Apa ini? Aneh..
Lalu di sana juga ada sebuah foto, ya itu foto walaupun terlihat dari belakangnya saja tetapi aku tau itu foto.
Aku mengambilnya di sana tertulis Kevin dan kawan kawan.
Kevin-gak asing. Kevin, Kevin, Kevin, Kev-. Kevin yang mengangkat telepon tadi bukan. Aku mengeryit ada hubungan apa Jessica dengan Kevin.
Saat aku membalik foto nya, aku terkejut hingga membuatku terduduk.
"Jessica…"
Aku melihat semua foto yang jika di hitung ada delapan foto dengan orang yang sama. Aku meneteskan air mata ku, bahkan untuk berkata apa pun aku tidak bisa. Hanya nama Jessica yang bisa keluar dari mulut ku.
"Jessica…"
__ADS_1
"Jessica…"