
PASSIONETTE DAYANIRA
Jessica dan Aku duduk lesehan di teras, Kedua Pria itu sudah pulang. Mereka terlalu menjadikan rumah ini sebagai miliknya sendiri jika di biarkan. Terlebih tadi pagi Willy dengan beraninya menyusup kerumah dan masuk ke kamar ku. Tidak lupa mencium ku, jika mengingat nya ingin sekali aku memukul kepalanya.
Aku teringat tentang Pak-Anatomy aku akan menanyakan nama lengkapnya, tentu jika Jessica tahu.
"Jess," Panggil ku memandang Jessica yang sedang membuka kulit kuaci. Wanita itu memakan kuaci dan kulitnya di biarkan berantakan.
Jessica membalas dengan alis ke atas. "Pak Anatomy ngajar apa?." Gerakan tangan Jessica berhenti. Padahal aku hanya ingin nanya nama panjangnya tapi mengapa pertanyaan lain yang keluar.
"Anatomy?."
"Iya Pak Anatomy."
"Anatomy? Pak?." Jessica memandang ku bingung. "Yang aku tahu, Anatomy itu ada di pelajaran Biologi. Gak ada Pak nya juga."
Aku gemes mendengar jawabannya Jessica, tangan ku dengan ringan melempar kacang kulit ke wajah Jessica. "Bukan itu lilil." Dengus ku, Apa Jessica lupa nama Dosen yang dia panggil beberapa hari lalu.
"Ya, Jadi?."
"Yang waktu di parkiran itu." Gerutu ku kesal, gampang sekali dia melupakan Pria setampan Pak-Anatomy.
"Yang mana sih."
"Yang aku jatuh terus ada Pria yang nolongi." Pusing jika di jelaskan terus, lama sekali Jessica pahamnya.
Jessica diam. Mungkin dia mencoba mengingat kejadiannya.
"Oh… Pak Anthony!." Teriak Jessica menggebu-gebu, weh kenapa menjadi dia yang terlihat bahagia.
Tapi tadi apa katanya Anthony? Anthony? Bukan Anatomy?.
"Bentar, maksud mu apa? Anthony?."
"Ya iya Anthony. Yang menolong mu itu kan?." Tanya Jessica memastikan dengan tangan yang membuka kacang kulit setelah mengambil kacang milik ku, dia mencurinya!.
"Nama Pria itu Anthony."
Aku terdiam saat mendengar namanya. Berarti aku salah selama ini bahkan beberapa kali aku memanggilnya Anatomy.
Kepalaku seketika pusing bagaimana bisa aku salah dalam memanggil orang apa lagi ini Pria tampan-ku.
Disisi lain Jessica senyum-senyum dengan tangan yang sedang berbalas pesan. Entah dengan siapa Jessica berbalas pesan aku tidak tahu.
Hari ini kosong kelas sama dengan Jessica. Lalu soal Willy kelasnya juga kosong, tetapi dia buru-buru pulang karena katanya memiliki urusan. Sayang sekali padahal bagus juga jika Willy di per-babukan.
"YES!!." Teriak Jessica tangan kanan terkepal ke atas. Seperti bocah saja.
"Kamu kenapa?."
__ADS_1
Jessica nyengir memandang ku, rasanya aneh melihat deretan giginya yang putih tetapi ada beberapa warna cokelat yang menempel, dapat aku pastikan itu kulit ari berwarna cokelat yang mennyalimuti kacang. Kalian tahu kacang Sihobuk yang dari Tarutung, itu yang sedang kami makan. Tadi tetangga kami memberikan oleh-oleh kacang Sihobuk dan Bika Ambon. Sayangnya Bika Ambon nya di letakkan di kulkas, kata Jessica nanti saja jika ada tamu baru di suguhkan. Aneh memang, padahal aku juga ingin memakannya.
"Aku harus mandi. Kamu juga mandi." Papar Jessica lalu beranjak dari duduknya. "Cepat mandi Nira. Kita akan keluar." Lanjut Jessica dan berjalan ke dalam rumah.
"HEI, LALU SIAPA YANG MEMBERSIHKAN SEMUA SAMPAH INI!!." Teriak aku memandang kulit kuaci dan kulit kacang yang berserakan di teras. Jessica Gila, tidak bisakah jika membuat sampah jangan seberantakan ini.
"KAU KAN ADEK. JADI KAU YANG BERSIHKAN." Balas Jessica dengan berteriak.
"Dasar ******." Desis ku memandang sinis pintu rumah.
Aku beranjak untuk membersihkan semua kotoran yang membuat sakit mata. Pasalnya kulit kulit itu sangat kecil, harus hati-hati menyapu kulit kuaci biar tidak bertambah berantakan.
"Kau lama sekali."
"Kasar bodoh." Pukul ku pada kepala Jessica.
Kami sudah selesai dan sudah berpakaian rapi. Memakan waktu cukup lama karena Jessica harus berdandan dulu.
Mobil melaju sedang melewati padatnya kota. Gak terlalu padat memang, aku hanya asal berbicara saja.
"Kita akan kemana?." Ini sudah menjadi kesekian kalinya aku memberikan pertanyaan yang sama tetapi tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Tunggu saja."
Mobil berhenti di sebuah rumah yang cukup besar, bukan cukup lagi sebenarnya. Bahkan ini terlihat seperti istana Sanking besarnya. Kasihan sekali para pembantu yang mengepell lantai itu. Belum lagi ada berapa banyak pekerja di sini. Tetapi tunggu jangan bilang Jessica akan..
Plak
Jessica memukul tanggan ku dan tidak lupa tatapannya menajam. "Tidak sopan. Aku kakak mu. Dan lagi Papa Mama tidak pernah mengajarkan kita memanggil kecuali Aku-Kamu."
"Maaf." Sesal ku.
"Tetapi kalau di pikir-pikir keluarga kita terlalu drama. Bukankah lebih bagus Kau-Aku atau Kamu-Saya atau mungkin Lo-Gue."
Tuk tuk tuk
Jessica mengetuk pelipis ku dengan telunjuknya. "Gunakan otak mu, Nira."
Setelah mengatakannya Jessica melangkah masuk kedalam. "Ngapain diam di sana? Sini!." Aku berjalan mendekatinya.
Kami berdua masuk kedalam. Pintu di buka oleh Bodyguard yang berpakaian serba hitam. Mereka seperti sedang berduka.
"Silakan masuk Nona, Tuan menunggu." Ucap Pria yang membukakan pintu.
Jessica hanya mengangguk lalu berjalan masuk, aku di belakang nya mengikuti hingga kami berdiri di sebuah pintu yang cukup besar. Jessica mendorongnya agar terbuka lalu melangkah masuk. Aku yang masih terdiam karena desain pintu nya cukup bagus ternyata ada bunga mawar? Wah bunga kesukaannya Jessica.
Aku melangkah masuk ke dalam, tidak lupa pintu tadi sudah tertutup rapat. Wah ajaib.
"Wah Adik Ipar." Aku mengernyit suara ini? Wah kereta api!
__ADS_1
Aku memandangnya datar. Wajah itu sangat menyebalkan ingin sekali ku pukul karena cengirannya mengundang untuk di aniaya.
"Santai Adik Ipar."
"Nira sini." Panggil Jessica. Aku berjalan menghampirinya tetapi aku duduk beda soffa dengan mereka. Bahaya jika bersama bisa menjadi nyamuk terus aku.
"Lihat kan dia sangat cantik." Ucap Thomas pada Pria di hadapannya.
Aku mengernyit melihat arah pandang Thomas. Aku melihat di sisi kiri ku karena Thomas dan Jessica duduk di soffa kanan ku.
Waahhh. Nikmat mana yang mau aku dustakan. Di sana ada Pria yang aku kagumi.
"Pak-Anatomy."
Buk
Bantal soffa mendarat di kepala ku pelakunya adalah Jessica yang memandang ku tajam.
"Sudah aku katakan Anthony bukan Anatomy." Aku mengerjap mendengarnya.
"Maaf Pak." Ucap ku melihat Pak-Anthony lalu menunduk, tatapannya sangat menyeramkan.
Pria itu beranjak dari duduknya lalu menghampiri ku. Tangannya terulur, aku memandangnya bingung tetapi matanya mengarah ke tangannya. Aku menerima uluran itu.
Buk
Tarikan pada tangan ku yang sudah duduk di samping Pria itu tangannya posesif mendekapku.
Aku membeku. Gila wangi banget.
Posisi duduknya saat ini kami berdua bersebrangan dengan Thomas dan Jessica.
"Anthony." Ucap Pria itu rendah. "Bukan, Anatomy."
Cup
"Iy-ya Pak Anthony." Jawab ku gugup. Dalam satu hari ini udah dua Pria yang mencium bibir ku. Astaga. Aku bukan murahan bukann..
Cup
"Anthony tanpa Pak." Desisnya dalam dengan mata yang memandang ku.
Pria itu mendekatkan lagi bibirnya ke arah ku. Menempelkannya tidak lupa menggigitnya pelan dan melummatnya. Aku terdiam atas apa yang Pria itu lakukan.
Sedangkan Thomas yang melihat itu tersenyum senang. Beda dengan Jessica yang menggerutu. "Sayang kamu lihat." Suara Thomas di telinga Jessica dengan tangan yang meremas pinggangnya. "Kamu kalah. Waktunya kemenangan ku."
"Cih…" Sinis Jessica memandang Thomas geram. Mengapa bisa kalah sih.
"Beri aku kenikmatan." Kekeh Thomas saat melihat wajah kesal Jessica.
__ADS_1