
Pak-Anatomy memandang ku lekat, setelah itu dia pergi melangkah kan kakinya meninggalkan ruang rawat. Apa kedatangan nya hanya melihat ku saja, jika memang benar aku tersanjung atas tindakan Pak-Anatomy.
Dering ponsel mengalihkan ku. Jessica nama yang tertera disana. Padahal belum lama dia pergi sudah merindukan ku saja.
"Hallo." Ucap ku, Terdengar helaan nafas di sebrang sana.
"Nira, kamu sungguh pulang sendiri bisa, kan?." Oh, Jessica masih mengkhawatirkan ku ternyata. Padahal aku gak terlalu terluka, bagaimana jika aku terlibat kecelakaan pasti dia akan lebih khawatir.
"Bisa. Kamu dimana?."
"Suatu tempat. Aku tutup teleponnya. Jaga diri mu baik-baik." Setelah Jessica mengatakan kalimat itu, sambungan telepon di putuskan.
Sebelum aku memasukkan kembali ponsel ku ke dalam tas, bunyi notifikasi masuk. Grup Class, yang memberitahukan bahwa hari ini tidak ada lagi jadwal kuliah. Lalu, aku harus kemana ini sudah jam 11.00, selama itu kah aku di ruang rawat?
Berada di dalam perpustakaan sepertinya pilihan yang baik. Tetapi, lebih baik rebahan di rumah saja. Jadi mari kita pulang!
Aku mencoba turun dari Brankar yang ku tempati aku menatap kedua lutut ku yang di balut perban oleh Jessica. Jessica cukup pintar dalam hal itu. Aku mencoba berdiri rasanya lutut ku lumayan ngilu, dengan tertatih aku berjalan keluar dari ruang rawat tak lupa aku membawa tas ku. Kan sayang jika di tinggalkan.
Saat keluar ruang kesehatan aku melihat cukup ramai mahasiswa yang berkeliaran ada yang duduk di bawah pohon, di kursi yang sudah di sedia kan bahkan ada yang berdiri.
Aku berjalan pelan, sangat pelan dengan tangan yang memegang sisi dinding bersyukur jalan untuk pulang masih terhubung dengan dinding jika tidak aku bingung harus pulang dengan cara apa.
Derap langkah aku dengar dari belakang ku, firasat ku buruk mendengarnya.
Dor!!
Seseorang menepuk punggung ku dengan kedua tangannya, keseimbangan ku tidak stabil hampir aku jatuh kedepan jika orang yang mendorong ku tidak menarik ku kebelakang.
__ADS_1
Aku melihat orang yang menarik pinggang ku, maksudnya orang yang melingkarkan tangan nya di pinggang ku dia adalah Willy-Mantan Jessica sahabat kami.
"Kamu terluka?." Raut wajah manisnya memandang ku khawatir. Lucu juga melihat Willy seperti ini.
Sedikit cerita, kisah cinta Willy dan Jessica kandas karena Jessica memiliki kekasih baru. Jika dikatakan bahwa Jessica memiliki pacar banyak ya itu memang benar adanya bahkan Saudari ku gampang sekali bosan dengan lawan jenisnya. Tetapi, Willy dan Jessica putus dengan cara baik-baik mengingat kami bertiga adalah sahabat tidak membuat keduanya berkeinginan menghancurkan persahabatan itu, walaupun sempat akan hancur.
Aku tertawa kecil mengingat nya, lalu aku memandang Willy yang masih memeluk ku dari belakang hanya satu tangan saja tetapi mungkin jika orang lain yang melihatnya itu termasuk memeluk bukan membantu.
"Ya, kedua lutut ku terluka." Ucap ku melihat kedua lututku ya walaupun sia-sia karena ketutupan dress.
Willy mengikuti arah pandang ku. "Tidak terlihat." Tentu saja tidak terlihat, kan dress ku di bawah lutut. Ingin sekali aku memukul belakang kepala Willy.
"Tertutup dress ku." Willy mengangguk dan melepaskan tangannya di pinggang ku, Willy berdiri di samping kanan ku dengan tangan berada di bahu ku.
"Ingin aku antar pulang." Aku menatapnya apakah dia tidak ada kelas untuk hari ini? Ingin menjawab iya karena aku pasti tidak bisa pulang sendiri.
Willy tertawa memperlihatkan lesung pipi nya. "Jangan berpikir bahwa aku dapat membaca pikiran." Oke aku diam, Willy terlihat menyeramkan.
"Mengapa wajah mu seperti itu, Passion?. Aku mengatakannya karena wajah mu mudah sekali di tebak." Aku mendengus mendengar panggilannya tidak pernah berubah sedari dulu. Dasar Willy.
Tetapi dari pada itu sepertinya kami terlalu lama berdiri di koridor depan ruang rawat kampus. Aku merasa merinding seperti ada seseorang yang memperhatikan kami berdua, aku juga lupa bahwa hari ini hari kamis yang berarti nanti malam adalah malam jumat, malam untuk orang menghasilkan uang dengan cara ngepet. Gak bercanda.
Seperti ada hawa-hawa mencekam dengan niat membunuh? Mungkin.
Jika kami berada di dalam komik mungkin di sekeliling kami ada asap hitam yang terlihat suram. Dan, ada makhluk yang berdiri di ujung lorong menuju ke lapangan utama menatap ke kami dengan mata berwarna merah tidak terlihat tubuhnya karena kurangnya pencahayaan. Tetapi, ini salahnya dunia nyata bukan komik. Terlalu banyak membaca komik membuat ku sangat terbiasa dengan khayalan.
Aku dan Willy berjalan pelan, aku menunduk melihat cara jalan ku yang pincang dan saat aku mendongakkan kepala ku, aku sungguh terkejut di lorong menuju ke lapangan utama berdiri seseorang. Dia adalah Pak-Anatomy.
__ADS_1
Mengapa pas sekali seperti yang ku pikirkan yang membedakannya adalah tidak ada asap hitam, mata merah dan kurangnya pencahayaan karna ini siang hari.
Pak-Anatomy memandang ke arah kami tajam, aku tidak tahu salah ku apa tetapi tatapannya menandakan kibarnya bendera perang. Aku bukan musuh.
Pak-Anatomy berjalan ke arah kami. Tatapan matanya tidak lepas dari ku. Aku berhenti dan membeku karna tatapannya membuat Willy yang berada di samping ku terlihat bingung memandang ku.
"Mengapa berhenti, Passion?."
His.. Willy lagi tegang-tegangnya ini, mengapa dia memanggil ku seperti itu. Aku menatapnya sinis.
"Eh, Bapak?." Ucap Willy memandang Pak-Anatomy terkejut. Aku menatap ke arah pria di hadapan ku tatapannya tidak lepas dari ku sedari tadi, aku terkejut jika dia sudah sampai di hadapan ku padahal tadi masih lumayan jauh.
"Bapak ngapain disini?. Ada perlu sama saya atau Passion?."
Saat Willy menyebut nama Passion, Pak-Anatomy memandangnya sekilas lalu kembali menatap ku tajam. Tatapan matanya semakin menajam saat melihat tangan Willy yang mendekap tubuh ku. Setelah itu tanpa mengatakan apapun Pak-Anatomy berjalan melewati ku. Dia terlihat aneh seperti jalangkung, datang tak di jemput pulang tak di antar.
Aku dan Willy melihat ke arah belakang tempat berlalunya Pak-Anatomy, semua yang berada di hadapannya seketika menyingkir saat Pak-Anatomy lewat. Semenyeramkan itu kah dia, ya memang menyeramkan.
"Kenapa dengan Dosen itu?." Ucap Willy pelan memandang kepergian Pak-Anatomy.
Aku menggeleng tidak tahu, ya memang aku tidak tahu. Pria dingin itu saja yang aneh datang-datang hanya menatap tajam lalu pergi begitu saja. Tidak jelas hidupnya.
"Gak tau. Sakit kali."
Willy mengacak rambut ku pelan. "Mari pulang Nona Manis." Ucapan Willy membuat ku geli ingin menendang tulang keringnya tetapi aku lupa kalau kaki ku sakit. Jadi, aku mencubitnya saja.
"Aw.. sakit yang." Bibir Willy di majukan, mungkin dia kira itu akan menggemaskan tetapi justru itu menjijikan di mata ku.
__ADS_1
"Udah. Antar aku pulang, Willy!." Aku menatap tajam Willy tetapi hanya di balas gelak tawa darinya