
Di sebuah kamar terdapat lima orang yang sedang terlelap dalam tidurnya. Empat pria dan satu wanita. Satu pria tidur di soffa kamar dan dua lainnya tidur di sisi kanan wanita itu sedangkan satunya lagi tertidur di karpet berbulu di dekat tempat tidur.
Pria yang tidur di soffa tidak mengenakan atasan sehingga memperlihatkan tubuh polosnya, dia hanya mengenakan celana pendek di atas lutut. Matanya terpejam menandakan betapa lelahnya malam yang dia lalui.
Dan kedua pria yang tidur di kasur memeluk erat wanita di antara mereka. Tubuh polos tanpa sehelai benang pun, hanya tertutupi selimut putih.
Sedangkan, satu pria yang tertidur di karpet dengan posisi telentang kedua tangan terbuka dan kedua kaki terbuka terlihat seperti bintang.
Aktifitas yang mereka lalui tadi malam sangat panas dan baru pukul setengah tujuh tadi selesai sedang kan sekarang sudah menujuh pukul setengah sepuluh.
Wanita yang tidur di tengah-tengah keduanya menggeliat mencari posisi ternyaman. Matanya masih terpejam, dia membenarkan posisi tidurnya menjadi telentang. Sedangkan kedua pria di sisinya sedikit terganggu dengan pergerakan wanita itu. Tetapi, mengurungkan niatnya untuk membuka mata. Tangan kedua nya aktif meraba bagian dari tubuh wanita itu.
Disisi lain pria yang terlidur di soffa, sedikit terganggu dengan dering ponsel yang terletak di meja. Matanya terbuka sedikit dan menatap malas ponsel di sana, dengan perlahan pria itu beranjak dari tidurnya dan mengambil ponsel itu.
Dia memandang datar ponsel itu, dan matanya beralih ke tiga orang yang berada di kasur, terdengar rintihan kecil dari wanita di sana. Pria itu menatap datar pemandangan di sana, belum ada aktifitas apapun di pagi itu, hanya rintihan dalam rabahan saja tidak lebih. Matanya beralih ke tempat lain pria yang tidur di karpet dengan posisi seperti bintang, hanya mengenakan celana pendek. Lagi-lagi mata Pria itu menatap datar pemandangan di hadapannya itu lebih parah dari pada pemandangan yang ada di atas kasur, yang terlihat hidup sedangkan yang dia lihat sekarang itu pemandangan yang tidak terlihat kehidupannya. Posisi tidurnya dari tadi pagi sampai sekaranh tidak berubah.
Pria itu menatap kembali ponsel di tangannya yang sudah mati, dia terlambat mengangkatnya. Pria itu beranjak dari tempatnya menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi dia menatap pantulan dirinya di depan cermin wajahnya datar, genggaman di sisi wastafel mengerat. Tatapannya menajam memandang pantulan matanya di cermin. Ingatannya kembali ke beberapa tahun lalu.
Setiap kali mengingatnya detak jantungnya berdegub kencang, seakan meminta keluar dari tempatnya. Ingatan tentang Pria itu menjadi seperti sekarang ini.
Ingatan aktif
Seorang gadis dengan balutan seragam SMA dengan pernak pernik yang yang melekat di tubuhnya. Gadis itu memakai topi kerucut berbahan kertas manila berwarna dengan banyak tempelan di sana, di lehernya terdapat tali plastik dengan hiasan bawang merah dan bawang putih tidak lupa ada cabai juga, tidak lupa ada tanda pengenal dengan tulisan "Gairah Hidup" entah siapa yang memberikan nama itu kepadanya, dan gadis itu juga memakai tas dengan tali plastik sedangkan kantong pada tasnya adalah goni.
__ADS_1
Warna kaos kaki nya berbeda, sedangkan di kanan kiri kakinya ada gelang kaki yang terbuat dari tali plastik dengan hiasan jengkol di kaki kiri dan pete di kaki kanan.
Di kedua pipinya ada coretan tiga garis berwarna hitam.
Gadis itu berdiri di depan anak laki-laki yang memandangnya seperti menilai. Gadis itu menunduk seakan takut apa yang akan di lalukan anak laki-laki itu.
Hari itu pertama kalinya mereka bertemu setelah tiga hari berlangsungnya acara penerimahan siswa baru.
"Apa mau lo?."
Laki-laki itu menatap lamat gadis di hadapannya, wajah gadis itu bersih dan memiliki kulit yang putih bersih tanpa luka. Laki-laki itu menyukai sesuatu yang berdiri di hadapannya.
"Tanda tangan kak." Tangan gadis itu gemetar tetapi dia menjawab nya dengan tenang. Di tangannya terdapat sebuah buku dan tidak lupa ada pulpen juga. Gadis itu menyodorkan bukunya ke anak laki-laki itu.
"Terserah kakak." Setelah gadis itu mengatakannya pandangannya beralih ke arah gadis yang memanggil namanya. Gadis itu mengangguk setelah mendengar apa yang di katakan temannya, temannya meminta agar dia segera selesai kan satu tanda tangan itu karena masih banyak lagi yang harus di minta tanda tangan.
Laki-laki itu melihat pergerakan dari gadis itu, apa yang di lakukan gadis itu tidak lepas dari pandangannya. Laki-laki itu mengambil buku dan pulpen dari tangan gadis itu dan menandatanganinya.
"Gue akan tagih." Ucap laki-laki itu setelah memberikan alat tulis nya. Gadis itu menerima nya dan mengangguk setelahnya pergi meninggalkan Laki-laki itu.
Anak laki-laki itu memandang kepergian gadis itu dengan seringai.
Dari tempat laki-laki itu berada, dia dapat melihat gadis itu tertawa dengan ketiga temannya tawa gadis itu menular laki-laki itu yang membedakannya laki-laki itu selalu menampilkan seringainya.
Sudah dua minggu terlewatkan kejadian tanda tangan. Ini waktunya pulang sekolah tetapi laki-laki itu justru berada di dalam ruang kesehatan. Waktu jam pulang sudah lebih dari setengah jam yang lalu tetapi laki-laki itu justru terlihat nyaman dalam duduknya di soffa.
__ADS_1
Lingkungan sekolah sudah terlihat sepi hanya anak yang ikut ekstrakurikuler yang masih di sana, dan anak yang berurusan dengan guru.
Pintu ruang kesehatan terbuka menampilkan seorang gadis yang terlihat bingung memandang seluruh ruang kesehatan hingga pandangannya jatuh ke soffa yang tertutupi pintu.
Gadis itu mengernyit bingung dimana senior yang memanggilnya mengapa hanya ada seorang anak laki-laki.
Tadi gadis itu di minta datang oleh teman yang dia tau anak kelas sebelah untuk ke ruang kesehatan karena ketua kesehatan memanggilnya tetapi ketua kesehatan seorang gadis bukan laki-laki.
Saat larut dalam pikirannya pintu yang sudah terlepas dari tangannya ditutup oleh seseorang dan terkunci.
Gadis itu memutar tubuhnya menghadap ke arah pintu tempat anak laki-laki itu berada, laki-laki yang duduk di soffa.
Anak laki-laki itu berjalan mendekatinya, semakin laki-laki itu maju tubuh gadis itu semakin mundur seperti itu berulang kali sampai tubuh gadis itu jatuh setengah tidur dengan tangan kiri menyanggah tubuhnya di brankar ruang kesehatan.
Laki-laki itu semakin mendekatinya, dia menunduk mendekatkan tubuhnya tangan kanannya berada di belakang tangan kiri gadis itu.
Laki-laki itu mendekatkan wajahnya di lekuk leher gadis itu dan menghirupnya dalam-dalam tidak lupa menjilatnya pelan.
"Le-pas." Ucap gadis itu terbata-bata, karena seluruh tubuhnya berada dalam dekap gadis itu. Tubuh mereka sangat dekat. Gadis itu yang merasakan kedekatan keduanya hanya dapat terdiam membeku, sekuat apa pun dia mencoba melarikan diri dari laki-laki itu tetap sia-sia karena tenaganya tidak sebanding dengan laki-laki itu.
Dengan pelan kaki kanan laki-laki itu membela kedua paha gadis itu yang terhimpit rapat. Posisinya kaki laki-laki itu berada di kedua paha gadis itu. Laki-laki itu memundurkan wajahnya setelah memberikan tanda keunguan di leher gadis itu.
Gadis itu mati-matian menahan suaranya agar tidak keluar. Laki-laki itu memandang dengan senyumannya. Bibirnya mencium pelan bibir gadis itu, hanya mencium tidak lebih.
"Passionette Dayanira. Nama mu sesuai dengan orang yang melihat mu , ber-Gairah."
__ADS_1