Mystery And Trouble

Mystery And Trouble
EPISODE 13.Pantai dan Max


__ADS_3

Aleta dan Tamara masih asik berkeliling di mall sedangkan Galen hanya mengikuti mereka dari belakang,Tamara mengajak Aleta makan di salah satu restoran Jepang,Galen pun memesan makanan dan meninggalkan Aleta serta Tamara yang masih asik dengan dunia mereka berdua.


“oh iya leta besok sore kamu dateng ya ke acara ulang tahun ponakan tante” Aleta ingin menolak ajakan Tamara tapi dia merasa tidak enak


“tapi tante saya kan bukan anggota keluarga kalian” Tamara tersenyum menatap Aleta


“tapi kan kamu sebentar lagi jadi menantu tante” Aleta tersenyum kaku dia sangat takut memberikan harapan tinggi pada banyak orang


“Aleta usahain tante” Galen pun datang duduk bergabung bersama mereka,


Beragam Sushi sudah tersaji rapih di depan mereka Aleta, Tamara dan Galen pun menyantap sushi itu dengan lahap sesekali mereka bercanda hanya Galen saja yang setia dengan pendirian nya yaitu memasang wajah yang dingin karena dirinya tengah menjadi pusat perhatian kaum hawa.


Setelah selesai berbelanja dengan Tamara Aleta pun pulang kerumah dengan Galen yang mengantar nya, Galen mengantarkan Aleta ke kediaman magenta dengan selamat setelah melihat mobil Galen pergi Aleta pun masuk kedalam rumah nya dan dia melihat Alberto yang masih mengunakan seragam kantor nya sedang terburu-buru.


“pah papah kenapa?” tanya Aleta heran


“mamah kamu kejang-kejang tadi dokter telfon papah” seketika Aleta pun ikut panik ketika mendengar mamah nya kejang-kejang


“papah Aleta ikut kerumah sakit ya” Alberto mengangguk mereka pun pergi kerumah sakit dengan mobil Alberto


Aleta dan Alberto berjalan terburu-buru di koridor rumah sakit mereka sangat khawatir dengan keadaan Vena hingga mereka berdua sampai di ruang rawat Vena Alberto pun masuk dan masih ada dokter perempuan yang sedang menjaga Vena,


“gimana kondisi istri saya?” tanya Alberto dengan raut wajah yang khawatir


“istri anda baik-baik saja tadi dia kejang-kejang mungkin karena ada tekanan di alam bawah sadar nya” Teran dokter wanita itu yang membuat Aleta dan Alberto bernafas lega


“saya permisi kembali bekerja tuan Alberto” setelah mendapat anggukan dari Alberto dokter wanita itu pun pergi meninggalkan mereka bertiga


“leta kamu pulang aja ya pasti kamu capek tadi kan abis dari sekolah” perintah Alberto


“nga pah Aleta di sini aja harus nya papah yang pulang kan papah lebih capek” Aleta melihat wajah Alberto yang seperti nya kurang tidur dia yakin jika Alberto sangat lelah mengingat Alberto yang baru saja pulang dari perjalanan bisnis,


“papah di sini aja mau nemenin mamah kamu” Aleta cukup ragu namun dia tidak bisa membantah kemauan papah nya


Aleta pulang kerumahnya karena Allano sudah datang dan mengantikan dia menemani Alberto, Harini adalah hari yang sangat melelahkan untuk Aleta, Setelah sampai di rumah nya Aleta langsung menjatuhkan tubuhnya nya di sofa ruang tamu dia melihat kesekeliling tembok ruang tamu yang di isi oleh banyak lukisan hasil karya Aleta.


“udah lama banget ya nga ngelukis bareng mamah lagi Aleta kangen deh sama mamah” batin Aleta dalam hati


Aleta tertidur di sofa ruang tamu Monic sangat kasihan melihat Aleta yang tampak lelah, apakah Aleta mampu memecahkan kasus kematian nya, dan Monic juga tau masih banyak misteri yang harus Aleta pecahkan, Monic dan para teman-teman Aleta yang gaib hanya mampu memberikan Aleta support agar tetap kuat menjalani semua misi yang tuhan berikan pada nya.


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

__ADS_1


Aleta terbangun dari tidurnya dia melihat jam dinding yang menampilkan angka 07.12 Aleta bergegas pergi ke kamar mandi lalu membersihkan diri nya dan setelah selesai Aleta kedapur untuk membuat sarapan,Aleta hanya sarapan dengan sandwich dan segelas susu coklat, karena Aleta sedang malas untuk membuat sarapan yang ribet dia memilih membuat makanan simpel namun mampu mengisi perut nya.


meja makan hanya di selimuti oleh keheningan karena Aleta duduk sendiri di meja itu, dulu Aleta masih bisa mendengar canda dan tawa yang di ciptakan oleh Vena tapi sekarang semua nya sudah tidak bisa Aleta dengar lagi, setelah Vena di nyatakan koma oleh dokter semua nya berubah Alberto yang memilih untuk menyibukkan diri dengan urusan kantor nya dan Allano yang jarang pulang kerumah karena lebih suka tidur di apartemen yang dia beli sendiri.


Aleta sudah bisa tinggal sendiri di rumah bahkan waktu dia masih di Belanda Aleta juga tinggal sendiri karena kakek nya yang sangat sibuk, Aleta sudah hidup mandiri sejak kecil bahkan Aleta sudah lepas dari Vena pada umur nya yang masih sembilan tahun


Aleta lebih suka tinggal bersama kakek nya di bandingkan tinggal bersama orang tuanya, karena Belanda adalah tempat ternyaman untuk nya.


Aleta bahkan jarang pulang ke Indonesia karena dia akan pulang jika dia sedang libur sekolah seperti liburan akhir tahun dan juga liburan akhir semester hanya di waktu tertentu Aleta bisa pulang ke Indonesia karena dia sangat fokus pada pendidikan nya di Belanda.


Aleta melihat ke bangku depan nya dan melihat hantu berambut ikal dengan kulit yang hitam serta mata berwarna merah seperti warna darah sedang makan daging yang masih di penuhi oleh darah Aleta dapat melihat taring panjang yang mencabik-cabik daging itu hingga hancur, hantu yang sedari tadi Aleta tatap pun juga ikut menatap nya lalu mengulas kan semirik yang menyeramkan.


Nafsu makan Aleta seketika luntur dia lebih memilih pergi ke kamar dan meninggalkan sosok tadi, Aleta berdiri di balkon kamarnya menikmati semilir angin pagi yang begitu menenangkan, Aleta yang merasa bosan pun memilih untuk pergi keluar menuju toko buku.


Setelah mengendarai mobil nya cukup lama Aleta pun sampai di toko buku langganan nya dia lebih suka membeli buku di toko ini Aleta mengitari rak-rak buku yang menjulang tinggi dia sedang mencari buku yang ingin dia beli dan ketemu Aleta melihat buku novel yang sedang dia cari namun hanya tersisa satu memang buku itu adalah buku limited edition yang jarang bisa di temui di mana-mana.


Aleta hendak mengambil buku tersebut namun sebuah tangan kekar milik seorang laki-laki lebih dulu mengambil buku itu Aleta mendongak keatas karena tinggi badan laki-laki itu lebih di atas nya, Wajah nya sangat familiar Aleta merasa jika dia pernah bertemu dengan laki-laki di sebelah nya namun dia tidak tahu siapa laki-laki itu.


“sorry itu buku gua duluan yang liat jadi buku nya punya gua” lontar Aleta


“tapi kan gua duluan yang ngambil” ucap laki-laki itu


“iya tapi kan gua duluan yang liat lagi pula pas gua ngeliat nih buku lo nga ada di sini” ketus Aleta karena kesabaran nya yang sudah habis,


“thanks” Aleta pun langsung mengambil buku tersebut


“lo bukan nya cewek yang waktu itu di seret sama laskar ke lapangan ya?” Aleta cukup bingung dengan pertanyaan itu laskar siapa laskar dia tidak mengenal orang yang bernama laskar,


“lo lupa? atau lo emang nga tau siapa laskar? oke laskar itu cowok yang waktu itu bawa lo ketengah lapangan pas SMA Taruna pelita di serang”jelas Max membuat Aleta mengingat kejadian tempo lalu yang dimana tangan nya di tarik oleh seseorang ketengah lapangan ketika SMA Taruna pelita sedang di serang.


“oh gua tau dan lo kan orang yang nyerang sekolah gua” ucap Aleta sambil menunjuk Max


“gua nyerang sekolah lo karena punya alasan gua nga akan nyerang orang lain tanpa alasan” Aleta hanya mengangguk tidak peduli untuk apa dia peduli ini kan masalah inti Vexo dan Vixion


“oh ya nama lo siapa?” tanya laki-laki di depan nya


“Anastasya panggil aja Ana” Aleta mengunakan nama tengah nya karena dia yakin laki-laki di sebelah nya punya motif lain untuk mendekati nya Aleta juga butuh laki-laki di sebelah nya karena laki-laki itu dapat mempermudah memecahkan kasus kematian Monic.


“gua Max”ucap Max namun tidak di tanggapi oleh Aleta Max mengikuti Aleta dari belakang ketika melihat Aleta menuju ke arah rak buku yang berisi kan berbagai jenis novel,Aleta mencari buku novel yang menurut nya bagus, dia membaca buku novel yang tidak di segel,


“lo juga suka baca novel?” tanya Max

__ADS_1


“iya” jawab Aleta singkat


“dulu Adek gua juga suka baca novel dia ampe bikin ruangan khusus yang isi nya novel semua” Aleta mendengarkan Max sambil membaca buku novel yang ada di tangan nya.


“oh ya lo nga sekalian beliin Adek lo novel” usul Aleta pada Max sedangkan Max tersenyum getir ketika mendengar kalimat yang Aleta keluarkan,


“adek gua udah meninggal” jelas Max dengan nada yang sendu dan wajahnya berubah menjadi murung ketika mengingat kejadian satu tahun yang lalu.


“sorry banget gua nga tau” sesal Aleta


“nga papa elah nyantai Aya, oh ya Ana lo Abis ini mau kemana?” Aleta berfikir sejenak dia bingung setelah dari toko buku Aleta mau pergi kemana, karena acara ulang tahun ponakan nya Galen masih lama, membuat Aleta memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang.


“nga tau gua juga bingung mau kemana mungkin gua langsung pulang”Max mengangguk lalu berfikir sejenak mungkin dia bisa mengajak Ana atau lebih tepatnya Aleta jalan-jalan.


“gimana kalo lo ikut gua?” Ajak Max, membuat Aleta mengernyit kan dahi nya bingung


“kemana?” Max menarik Aleta ke meja kasir lalu setelah menyelesaikan pembayaran nya Max membawa Aleta pergi ke suatu tempat,


Pantai Max mengajak Aleta ke pantai tempat yang sangat menenangkan untuk semua orang,Aleta pun turun dari motor Max dan menatap pantai itu dengan bingung karena dia berasa ada sebuah cerita di balik pantai ini, hingga seketika roh Aleta tertarik kedalam masalalu seseorang yang dia tidak ketahui ini miliki siapa,


Aleta melihat satu anak kecil laki-laki dan anak kecil perempuan yang sedang bermain kejar-kejaran di pinggir pantai sambil tertawa lepas hingga semua yang Aleta lihat berubah dua orang anak kecil yang kejar-kejaran tadi berubah menjadi remaja laki-laki dan remaja perempuan yang Aleta tebak mereka masih duduk di bangku SMP adegan kejar-kejaran berubah menjadi adegan dua orang anak remaja yang sedang berkuda di pinggir pantai,


Aleta yakin laki-laki itu adalah Max dan Aleta cukup bingung siapa cewek yang sedang bersama Max, wajah perempuan itu mirip sekali dengan wajah nya Monic namun ada sedikit perbedaan di wajah mereka berdua yaitu tahi lalat di pipi gadis remaja tersebut Monic tidak memiliki tahi lalat apa mungkin gadis itu hanya lah orang yang mirip dengan Monic.


“Ana lo denger gua kan” Aleta masih belum sadar Max melambai-lambai kan tangan nya di depan wajah Aleta berharap Aleta sadar dari lamunannya,


“Anastasya” Aleta cukup terkejut ketika nama tengah nya di panggil oleh seseorang,


“eh kenapa ka Max?”


“lo kenapa ngelamun?” tanya Max heran


“gua takjub banget sama pantai nya maka nya gua ngelamun” Albi Aleta


“oh ya udah nih eskrim lo tadi gua beliin buat lo” Aleta menerima eskrim vanilla yang di sodorkan oleh Max


“thanks” Max dan Aleta pun mengelilingi pantai di temani dengan cuaca yang cukup panas karena mereka datang ke pantai pada siang hari, Aleta berjalan sambil memakan eskrim di tangan nya.


________________________________________________________


Oke seperti biasa Jangan lupa tinggalin jejak nya dan aku juga mau minta maaf kalo misalkan ada banyak alur yang sama kaya cerita orang lain tapi aku cuma mau menginfokan ke kalian kalo cerita ini tuh murni hasil karangan aku sendiri jadi sekali lagi aku mau minta maaf 🙏🙏🙏

__ADS_1


Babay spam next buat episode selanjutnya 🐨


__ADS_2