
Hans dan Aleta kini sedang berada di ruang keluarga Aleta sedang berkutat dengan laptopnya karena dia sedang mencari semua informasi tentang kejadian buruk yang menimpa bibi Emeli, Aleta membaca setiap artikel yang terpampang di layar laptop nya.
Artikel satu,
5 oktober 2021 Een tienermeisje werd vreselijk dood gevonden in een dicht bos in Amsterdam, Nederland, naar verluidt vierde het meisje haar verjaardag met haar beste vriend, maar er gebeurde een tragisch incident met de vrouw en de vriend van het slachtoffer wordt gemeld aan zijn verdwenen na de vondst van het lichaam van de vrouw tot nu toe De politie is nog steeds op zoek naar de verblijfplaats van de verdwenen vriend van het slachtoffer
(5 Oktober 2021 Seorang gadis remaja di temukan tewas mengenaskan di sebuah hutan lebat yang terdapat di Amsterdam Belanda kabarnya gadis itu sedang merayakan hari ulang tahun bersama sahabat nya namun kejadian mengenaskan menimpa perempuan tersebut dan sahabat dari korban di kabarkan menghilang setelah penemuan jasad perempuan itu hingga kini polisi masih mencari keberadaan sahabat korban yang menghilang)
Artikel dua,
16 oktober 2021 vond de politie een van de door zelfmoord omgekomen arrestanten in zijn kamer, voordat de man zelfmoord pleegde schreef hij een brief die niet erg duidelijk was op de muur van de plaats delict
(16 Oktober 2021 polisi menemukan salah satu tahanan tewas bunuh diri di kamar nya, sebelum pria itu bunuh diri dia menulis sebuah huruf yang tidak begitu jelas di tembok TKP tersebut)
Ponsel Hans berbunyi dengan nyaring membuat Aleta mengalihkan pandangannya menatap kearah Hans, Hans yang mendengar suara dering dari ponsel nya pun mengambil benda pipih itu di atas meja lalu mengangkat panggilan masuk tersebut.
“ja wat is er peter?” tanya Hans dengan bahasa Belanda (iya ada apa Piter?)
“.......”
“hoe kan het verdwijnen?” sentak Hans (bagaimana bisa menghilang)
“.......”
"Oké, ik ben nu bij jou thuis” (oke aku kerumah mu sekarang) Hans mematikan sambungan nya lalu menatap Aleta yang juga sedang menatapnya,
“kita kerumah paman Piter sekarang” Aleta mengerutkan keningnya bingung Aleta ingin bertanya namun Hans sudah pergi terlebih dahulu menaiki anak tangga,
Aleta menghembuskan nafas nya sabar lalu menutup laptopnya dan berjalan ke atas untuk mengambil tas, Aleta dan Hans berjalan kearah garasi lalu menaiki mobil hitam milik Hans, mobil Hans pun mulai melaju menuju kediaman Piter.
Mereka pun sampai di rumah Piter, Hans dan Aleta berjalan beriringan menuju pintu utama rumah Piter mereka dapat melihat banyak polisi yang berada di dalam ruang tamu dan sedang berbincang dengan Piter, Aleta cukup heran mengapa ada banyak sekali polisi di rumah pamannya namun dia mengubur rasa penasaran nya dalam-dalam karena tau kondisi yang sedang tidak baik-baik saja.
“eh ko ada Aleta kapan pulang nya?” tanya Piter menggunakan bahasa Indonesia yang cukup lancar karena semua Keluarga Magenta di ajari bahasa Indonesia oleh Hans.
“baru ko om tadi pagi nyampe” jawab Aleta
“oh ya udah yuk duduk dulu” setelah di persilahkan Piter untuk duduk Aleta dan Hans pun duduk di sofa yang cukup besar,
“dus hoe hebben jullie allemaal Emeli . gevonden?” (jadi gimana apakah kalian semua sudah menemukan Emeli?) Piter yang mendengar pertanyaan dari Hans hanya bisa menggeleng,
Aleta hanya diam dan menyimak karena tidak mengerti dengan pembicaraan yang sedang mereka bahas, hingga Aleta tak sengaja melihat anak kecil yang berusia sekitar tujuh tahun tengah berada di balik pintu berwarna pink keunguan anak kecil itu hanya menampakan sebagian kepalanya saja seperti orang yang sedang mengintip, Aleta pun berjalan mendekati pintu pink itu dan membuka nya perlahan.
Anak perempuan yang sedang berdiri di balik pintu itu terkejut karena kehadiran Aleta, sedang kan Aleta hanya menampakan wajah datar nya, membuat anak kecil itu ketakutan dan keluar dari tempat persembunyian nya.
“you let” beo anak perempuan itu dengan bahasa Inggris ( ka leta)
“Alita ngapain di belakang pintu?” tanya Aleta yang masih setia memasang wajah datar nya,
“I just want to know news about momiy when Dady said momiy was missing and I didn't dare ask Dady about momiy because I was afraid to make Dady sad so I could only eavesdrop from inside the room” (aku cuman mau tau kabar tentang momiy ka kata Dady momiy hilang dan aku nga berani nanya ke Dady soal momiy karena aku takut bikin Dady sedih jadi nya aku cuman bisa nguping dari dalam kamar) jelas Alita yang tak lain adalah anak dari Piter dan juga Emeli Alita memiliki Kaka laki-laki yang bernama Hendrico.
“Bibi Emeli hilang ko bisa?” tanya Aleta karena terkejut mendapatkan kabar jika tante nya hilang Hans sedari tadi tidak memberi tahu dia jika Emeli menghilang,
“kata Dady momiy kabur dari rumah sakit jiwa ka” Alita kini mengganti bahasa bicara nya menjadi bahasa Indonesia,
“bang Hend udah tau kalo bibi Emeli ilang?” Alita hanya menggeleng,
“bang Hend belum tau karena bang Hend masih kuliah di Jerman ka dan dia pulang ke Belanda bulan depan” tutur Alita
“ya udah nanti ka Aleta bakalan coba cari bareng kakek sama pak polisi juga” Alita tersenyum senang ketika mendengar ucapan Aleta sekarang dia cukup sedikit tenang dan perasaan nya sudah tidak segelisah tadi lagi,
“yaudah ka Aleta keluar dulu ya” Alita mengangguk lalu berjalan menuju kasur dengan kaki kecil nya,
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Aleta sudah keluar dari kamar Alita dan kini dia sedang berjalan kearah kakek nya yang masih sibuk berbincang dengan kompolotan polisi, Aleta mengambil tas nya lalu mengeluarkan benda pipih yang sedari tadi belum dia buka banyak notifikasi masuk dari teman-teman nya,
__ADS_1
... Gibah bareng 💅...
... Anda, Shila, Alana...
Alana:
Eh Kalian tau nga
Shila:
Kenapa?
^^^ Anda^^^
^^^ ?^^^
Alana:
waktu ekskul hari Sabtu
Gw ngeliat Siska megang bunga mawar 😒
Shila:
Terus kenapa kalo
Siska megang bunga mawar
Alana:
Kata nya tuh bunga dari Galen
Banyak yang bilang kalo si siskampret
Shila:
Omo serius demi apa 😱
Alana:
Demi Nico dah gw nga boong
^^^ Anda^^^
^^^ Udah nany Galen blm?^^^
Alana:
Blm hehehe
Shila:
Ye Panjul orang mah nanya dulu
Ke orang nya takut salah berita nanti malah
Berabe
Alana:
Ya maap kan gw tau nya dari anak-anak
Aleta hanya membaca nya saja lalu beralih ke kontak papah nya karena ada pesan masuk dari Alberto,
... Papah...
__ADS_1
... Online...
Leta kamu udah sampe
^^^ Udah pah^^^
Syukur kalo gitu
Besok Senin Allano
Nyusul kamu ke Belanda
^^^ Ngapain?^^^
Ketemu sama kakek
^^^ Oh^^^
Yaudah papah lanjut kerja dulu ya
Jangan lupa makan
^^^ Y^^^
Aleta menaruh ponselnya kedalam tas setelah itu mengikuti Hans yang berjalan keluar bersama Piter dan komplotan polisi itu, Hans mengantarkan sekelompok polisi tadi kepintu depan karena sudah ingin berpamitan,
“we zullen helpen Emeli's moeder te vinden totdat we vinden” Hans dan Piter hanya membalas dengan senyuman yang ramah (kami akan bantu cari ibu Emeli hingga ketemu)
Komplotan polisi itu pun pergi meninggalkan rumah Piter menggunakan mobil yang tadi mereka bawa, Piter, Hans dan Aleta masih diam di depan pintu utama Hans memilih untuk duduk di bangku teras karena ingin merasakan angin sepoi-sepoi Aleta pun juga ikut duduk bersama Hans dan Piter.
“jadi kita cuma mau diem doang di sini?” tanya Aleta
“nanti kita cari kalo polisi belum nemuin Emeli” jawab Hans santai
“kalian gila kalo Bibi Emeli dalam keadaan bahaya gimana dia lagi di kendaliin sama jin kek dan kalo Bibi Emeli ngelakuin hal yang nekad gimana” bentak Aleta yang sudah kesal dengan Hans,
“jin itu bukan hanya satu leta tapi ada tiga dan jin yang satu nya lagi ada di sini” jelas Hans yang membuat Aleta serta Piter bingung,
“maksud ayah gimana?” Aleta hanya diam karena pertanyaan yang ingin dia tanyakan sudah lebih dulu di lontarkan oleh Piter,
“jin yang sedang menguasai Emeli tidak sekuat jin yang ada di sini karena rumah jin itu ada di tempat ini” ujar Hans pada Piter dan Aleta
“hantu biarawati perempuan itu yang sedang ada di rumah ini sedang kan yang sedang mengikuti Emeli bukanlah hantu biarawati tetapi hantu perempuan dengan gaun biru” Piter di buat bungkam oleh penurunan Hans hingga suara teriakkan dari dalam membuat mereka semua berdiri dari tempat duduk masing-masing lalu berjalan ke dalam dan mencari sumber suara itu,
Langkah mereka bertiga terhenti di depan sebuah kamar yang di disain dengan warna pink serta ungu kamar yang tadi baru saja Aleta masuki, Piter membuka pintu kamar itu dengan wajah yang panik Aleta dapat melihat anak kecil yang sedang duduk di atas kasur sambil menekuk lutut nya Aleta dapat mendengar isakakan kecil dari anak tersebut,
“Alita kamu kenapa?” Anak kecil itu malah semakin mengencang kan tangisan nya ketika mendengar suara Piter
“jangan dekati Alita” Alita mendongak lalu melempar Piter dengan bantal yang ada di atas kasur itu,
“Alita ini Dady sayang” Piter berusaha mendekati Alita namun Alita malah semakin berjalan mundur Alita pun turun dari kasur nya lalu lari keluar dari kamarnya,
Alita terus berlari hingga dia tak sadar jika sudah masuk kedalam besmen yang letaknya berada di dalam tanah ruangan itu sangat gelap membuat bulu kuduk Alita berdiri semua Alita masih nangis sesenggukan dia berusaha mencari jalan keluar dari besmen, Alita terus berjalan namun hasilnya sia-sia semakin Alita berjalan ruangan itu justru akan semakin gelap.
Berbeda dengan Piter, Hans, dan juga Aleta yang masih kebingungan mencari Alita, Aleta berjalan ke pintu besmen karena menemukan gelang kaki milik Alita yang terjatuh, Aleta berusaha membuka pintu itu namun pintu tersebut tidak sedikit pun mau terbuka Aleta mengambil sebuah bangku kayu yang letaknya tepat di sebelah pintu besmen,Aleta memukul gagang pintu besmen itu mengunakan bangku kayu yang dia pegang.
Brak
Brak
Brak
“akhir nya kebuka juga” Aleta melempar bangku kayu yang sudah patah dengan asal lalu masuk kedalam besmen tersebut,Aleta keluar sebentar guna mencari senter dan setelah ketemu dia langsung berlari menyusuri lorong besmen yang cukup gelap.
______________________________________________
__ADS_1