
Aleta sudah sampai di tempat yang tadi nomor tak dikenal itu Sherlock, dia bingung kenapa maps itu membawa nya kesebuah apartemen mewah apa mungkin orang yang membutuhkan nya ada di apartemen ini Aleta masuk kedalam lift lalu mencari Ruangan nomor 143 lorong apartemen itu sangat sepi membuat bulu kuduk Aleta berdiri, Aleta bukan takut akan mahkluk halus tapi dia takut jika nanti nya ada orang jahat dan berbuat yang enggak-enggak kepada nya.
Aleta berhenti tepat di depan pintu yang terdapat tulisan angka 143 dengan lapisan emas di angka nya dia memencet tombol bel yang letaknya tepat di sebelah pintu itu, setelah beberapa menit pintu terbuka dan menampilkan laki-laki berparas tampan dengan wajah yang di penuhi lebam, laki-laki itu menarik Aleta masuk kedalam apartemen mewah itu.
“ko lo ada di sini?” tanya Aleta bingung
“ini kan apartemen gua ya jadi gua ada disini lah” jawab laki-laki di depan Aleta dengan wajah yang datar
“ok lo nyuruh gua kesini buat apaan?” pria itu tersenyum tipis kearah Aleta lalu menyodorkan kotak P3K
“obatin luka gua” Aleta menurut mau tak mau dia harus membantu laki-laki di depan nya karena laki-laki itu juga sudah sering membantu nya
“nyuruh gua kesini coman buat ngobatin lo doang? lo tau nga gua udah panik gua pikir salah satu temen gua ada yang di culik eh ternyata lo yang minta tolong ke gua dan itu hal nga berguna” ketus Aleta sambil menekan luka di wajah Galen yang dia dapatkan dari hasil tauran tadi Galen meringis kecil karena luka nya di tekan sangat kencang oleh Aleta
“ya maaf, lo jangan ngamok dong sakit tau luka nya lo teken” tutur Galen dengan wajah yang di tekuk
“bodo lo ini yang sakit” tangan Aleta masih setia menekan luka-luka yang hinggap di wajah Galen,
Galen yang tak terima pun langsung menyerang Aleta dengan jurus klitikan maut nya Aleta tertawa terbahak-bahak karena perut nya yang geli tangan Galen terus menggelitikki perut nya membuat air mata Aleta keluar sedikit Karena terus tertawa.
“len stop nanti gua ngompol!” Galen terus melakukan aksi nya tanpa memperdulikan jeritan Aleta
“rasain pembalesan gua” ujar Galen dengan tangan yang masih menggelitik di perut Aleta
“geli kan sama tadi juga sakit pas lo teken luka gua” lanjut Galen
“iya ampun nga lagi-lagi gua kaya gitu hahahaha geli len udah” Galen yang tak tahan melihat wajah memelas Aleta pun menjauhkan tangannya dari perut rata milik Aleta
“maka nya jan macem-macem sama yang nama nya Galenard Bramasta satyo” Aleta menatap Galen sinis
“lo nga seru gua males berteman Ama lo” ucap Aleta dengan wajah yang garang
“iya Maaf” Aleta pura-pura tidak mendengar dan membuat Galen kesal sendiri ketika dia di acuhkan
“oke sebagai permintaan maaf dari gua lo gua aja ke pasar malem mau nga nanti jam tujuh pasti udah rame” Galen berusaha membujuk Aleta yang masih marah pada nya
“nga minat” tutur Aleta yang masih mempertahankan wajah sinis nya
“yakin nga minat di sana kan banyak permainan nya emang nya lo nga mau apa naik yang muter-muter itu” Galen masih membujuk Aleta.
“gua nga tertarik”
“serius nga mau, gua kasih kesempatan terakhir buat lo milih mau ikut atau nga kalo nga ya udah gua aja yang kesana” Aleta mempertimbangkan tawaran Galen dia sangat ingin pergi ke pasar malam namun dia juga masih kesal dengan Galen dan keputusan pun sudah Aleta tentukan,
“oke gua mau” Galen tersenyum senang ketika mendengar kalimat dari Aleta
__ADS_1
“gua ikut tapi gua nggak maafin lo” dalam sekejap Galen melunturkan senyum nya Aleta ingin tertawa ketika melihat ekspresi Galen yang kembali menjadi datar
Jam menunjukkan pukul 18.20 seperti yang di janjikan Galen mereka kini sedang berada di sebuah pasar malam yang letaknya tak jauh dari apartemen Galen, mereka berdua saling bergandengan tangan layak nya sepasang kekasih mungkin orang-orang yang melihat mereka berdua mengira kalau mereka adalah pasangan tapi nyatanya Galen mengandeng tangan Aleta karena takut Aleta ilang.
“is len lo modus banget si lepas nga” bukan nya melepas genggamannya justru Galen semakin menggema erat jemari lentik dan putih milik Aleta
“nga nanti kalo gua lepas lo ilang emang nya lo mau di culik om-om girang?” tanya Galen yang di balas gelengan oleh Aleta
“nah maka nya udah nga usah protes” mereka melanjutkan perjalanan nya mengelilingi pasar malam itu hingga mata Aleta berbinar menatap bianglala besar dan di penuhi dengan lampu warna warni
“lo mau naik itu?” tunjuk Galen pada sebuah bianglala yang sedari tadi Aleta tatap
“iya gua mau” jawab Aleta antusias Galen pun menarik tangan Aleta kearah bianglala itu mereka berdua pun sudah duduk manis di salah satu gerbong bianglala tersebut dengan posisi duduk saling berhadap-hadapan
Hingga kini bianglala itu berhenti tepat di atas dan menampilkan pemandangan malam yang sangat indah bahkan bulan purnama pun ikut memanjakan mata mereka, Aleta tersenyum senang Galen yang melihat Aleta tersenyum pun juga ikut tersenyum hingga manik Aleta tak sengaja bertubrukan dengan manik Galen yang sedang menatapnya.
“lo suka?” tanya Galen
“gua suka banget apa lagi ada bulan purnama nya cantik banget” ucap Aleta dengan semangat
“lo tau nga ada yang lebih cantik dari pada bulan purnama?” Aleta mengernyit kan dahi nya bingung
“gua tau pasti bintang,yang lebih cantik dari pada bulan” tebak Aleta yang mendapat gelengan dari Galen
“gombal lo receh banget tau nga terlalu pasaran” sinis Aleta
“gua nga gombal gua cuma mau menginfokan dan menyampaikan fakta kalo lo itu cantik” Aleta mencubit perut berotot milik Galen
“sama aja” bianglala pun sudah berhenti mereka berdua turun lalu berjalan mencari permainan yang lainnya,
Aleta sudah kelelahan karena terlalu lama bermain dia pun memilih untuk duduk di salah satu bangku yang tersedia di tempat itu dan menunggu Galen yang sedang membeli minum untuk mereka.
“sorry lama nih buat lo” ucap Galen sambil menyodorkan segelas jus jeruk Aleta menerima jus itu dengan senang hati
“oke makasih, terus lo ngapain beli boneka? emang nya nih boneka buat siapa?” tanya Aleta karena sangat penasaran ketika melihat Galen membawa boneka kelinci berwarna putih dan ukuran boneka itu cukup besar
“buat lo” Aleta diam dia masih heran setan apa yang merasuki Galen hingga membuat nya membeli boneka kelinci yang sangat besar untuk dia
“buat gua lo bercanda?”
“gua serius boneka nya buat lo nanti kalo lo kangen ama gua peluk aja boneka nya” goda Galen yang mendapat jitakkan kencang dari Aleta
“aww sakit bego” ketus Galen
“maka nya jangan terlalu pd” jawab Aleta tak kalah ketus
__ADS_1
~•••~
Aleta pulang kerumahnya dengan di antara Galen saat Aleta sampai di ruang tamu dia di sambut oleh kesunyian lampu ruang tamu sudah mati Aleta bingung apakah Abang nya dan papah nya sudah tidur tapi itu tidak mungkin sekarang masih jam sembilan malam mungkin saja papah dan Abang nya sedang berada di rumah sakit atau memiliki urusan di luar rumah.
Aleta melangkahkan kakinya menuju kamar tidur yang selalu dia gunakan untuk beristirahat, dan setelah itu Aleta pergi bergegas membersihkan diri, Aleta sudah selesai dengan acara mandi nya dia mengambil boneka yang di berikan oleh Galen lalu menaruh boneka itu di ruangan khusus untuk boneka-boneka arwah yang dia koreksi walaupun boneka yang diberikan oleh Galen tidak ada roh nya, dia akan memperlakukan boneka itu sama dengan memperlakukan boneka yang lainnya Aleta masuk kedalam ruangan khusus itu lalu menaruh boneka kelinci nya di lemari paling atas.
“hai semuanya” sapa Aleta pada semua hantu yang sedang bermain di ruangan itu rata-rata di dalam ruangan itu lebih banyak hantu anak kecil di banding remaja atau hantu yang sudah berusia hanya ada beberapa saja yang sudah dewasa seperti Monic, Vera, Lita, Zein, Nenek Ningsih, madam Choo,dan madam Katy
“hai leta” sapa mereka kompak Aleta membalas mereka dengan senyuman yang merekah indah di bibir nya mereka semua adalah keluarga kedua untuk Aleta setelah Magenta
“yaudah kalian lanjut aja ya” setelah mendapatkan agungkan dari mereka Aleta pergi meninggalkan ruangan itu lalu berjalan menuju kasur nya
Aleta terdiam di kasurnya banyak sekali misteri yang harus dia pecahkan tentang siapa sosok yang berada di sebelah mamah nya dan selalu menghantui dia kasus kematian Monic serta mencari tau siapa itu Rico
Aleta mengacak rambut nya frustasi, saat ingin memejamkan mata nya ponsel Aleta berbunyi menandakan ada pesan masuk, Aleta lalu mengambil ponselnya yang terletak di nakas dia melihat notifikasi pesan dari Galen,
Galen
Online
Let lo udah tidur
Anda belum
Yaudah gih tidur jangan lupa
peluk boneka yang gua kasih
Siapa tau kangen
^^^ ^^^
^^^ Anda^^^
^^^Najis ngarep banget^^^
Aleta meletakkan ponselnya kembali di atas nakas lalu setelah itu dia memejamkan mata nya, Galen yang sudah melihat Aleta sudah tidak online pun melempar kan ponselnya asal lalu dia duduk bergabung dengan inti Vexo yang lainnya.
________________________________________________________
Yuk let's go to part
Jangan lupa tinggalin jejak ya ges 😘
Dan aku mau minta maaf kalo misalnya di cerita ini masih acak-acakan mulai dari alur yang nga masuk dan juga banyak typo nya
__ADS_1