Nano Nano

Nano Nano
#11 Di kejar bencong


__ADS_3

Mereka sedang berjalan kaki menuju angkringan tempat mereka makan-makan nanti. Rehan tadi izin pamit lebih dulu karena di panggil ayahnya setelah menutup toko lebih awal.


Manda yang tadinya bersikeras untuk pulang lebih dulu sekarang tertahan karena bukan hanya Hazlan yang mengajaknya tapi juga Fajar dan Rade.


Entah ada keajaiban apa tiba-tiba saat Manda ingin pulang meski sudah di tahan Hazlan sekalipun, Rade memangg Manda.


"Udah ikut aja. Sekali-kali kami makan sama cewek cantik Nusatama, kapan lagi ya kan jar?"


Fajar hanya mengangguk lalu ikut mengatakan. "Iya, Manda ikut aja. Hitung-hitung baikan biar gak ada salah paham lagi. Saling akrab aja."


"Manda nanti ganggu kalau ikut kalian." Manda kembali membuat alasan.


Manda melihat Fara yang berdecih dan memalingkan muka saat bertatapan dengan Manda. Fara sepertinya sudah sangat membencinya.


"Ya elah Man, Kagak ganggu sama sekali suer dah." Ucap Reno yang di angguki semuanya.


Kini Manda menatap Hazlan, seperti ingin melemparkan telepati pada Hazlan tapi sinyal cowok itu seakan hilang.


"Udah ikut aja ya?" Manda menghela nafas pelan ketika Hazlan tetep ingin ia ikut.


"Gak usah maksa dia kalau anaknya mau pulang. Lagian ada atau gak ada dia, kita tetep jadi makan." Sahur Fara yang semakin kesal karena acara tahan menahan ini.


"Iya juga sih, Kalau lo merasa terpaksa gak usah aja man. Ntar si Theo dateng malah ngamuk sama kita." Kata-kata Rade yang ini membuat Manda jadi ikut tanpa protes.


"Ya udah Manda ikut. Theo gak ada hak ngamuk sama kalian. Masalah Fajar yang kemaren, Manda minta maaf ya jar?“ Manda tidak sadar kalau semua yang ada di situ kecuali Fara, tengah menahan gemas melihat wajah lucu Manda ketika pasrah dan meminta maaf pada Fajar.


Ya! Manda memang seimut itu tanpa dia sadari. Cara dia berbicara bikin orang yang mendengar ingin memakannya atau sekedar menggigir pipi chubbynya.


"Iya Manda, Fajar udah lupa kok masalah itu. Jadi Manda ikut kan?" Tanya Fajar memastikan.


"Ikut dong, Nambah nambah temen kan lumayan." Sahut Manda yang di sambut baik mereka semua.


Nah, itu alasan Manda berada di antara orang-orang ini yang berjalan menuju angkringan langganan. Sebenarnya Manda jarang keluar bareng teman-temannya. Kalau bukan karena Hazlan, ia tak akan pernah merasa bisa berada di antara teman sebanyak ini.


"Woi Rade!" Itu suara si pendiam yang sejak tadi hanya diam saja kecuali mengangguk dan menggeleng. Dia Ongki.


"Apaan ki?" tanya Rade saat Ongkir menyenggolnya.

__ADS_1


"Itu tuh, Itu lihat yang di samping warung."


Rade melemparkan pandangannya pada warung yang di tunjuk Ongki. Dia melihat dua wanita jadi jadian sedang menghisap rokok sambil melihat-lihat jalanan.


"Anjir itu bencong yang kemaren gue tarik wiknya kan?" Umpat Rade.


Namun sialnya dua bencong yang mereka hindari tadi harus melihat mereka. Kebetulan gang menuju Angkringan ringan dua langkah lagi dari mereka.


"Woi bocah bangsat! Jangan lari lo pada!“ Teriak salah satu dari bencong itu dengan suara aslinya.


Situasi mereka sangat kacau, mereka segera berlari menuju gang yang di ujung jalannya bercabang. Ada satu jalan lurus di ujung gang dan ada belokan sebelum jalan lurus.


"Lari woi lari!" Teriak Rade yang lari lebih dulu di susul yang lain dengan Fara, Hazlan dan Manda berada di paling belakang.


"Ini kita lurus atau belok?" Tanya Manda sambil berlari.


"Lurus Man" Teriak Rade.


Jadi Manda dengan rasa takut tertangkap bencong itu meski ia tak salah, Manda mengerahkan tenaga nya untuk berlari lebih cepat.


Fara menarik Hazlan berlari lebih dulu dan berada di depan Rade sehingga meninggalkan Manda di belakang Fajar sendiri.


Fara berbelok bersama Hazlan ketika sudah berada di belokan pertama. Yang lainnya ikut belok kecuali Manda. Sial sekali memang.


Padahal Manda sudah percaya pada mereka yang mengatakan untuk lurus tapi alhasil ia jadi korban. Berlari di jalan lurus sendiri sementara dua bencong itu semakin dekat.


Manda putus asa dan bingung saat sudah keluar dari gang itu. Ia bingung harus kemana. Manda mengikuti kata hatinya untuk berlari ke arah jalan. Tiba-tiba ada motor yang berhenti di dekatnya.


"Naik buruan." ucap cowok di balik helm full face itu.


"Woi mau kabur kemana lo!" Bencong itu juga sudah keluar dari gang.


Karna tidak ada pilihan lain, Manda langsung ke motor itu tanpa tahu siapa cowok itu sebenarnya. Motor itu melaju sangat kencang, Manda menengok ke belakang melihat bencong itu yang tak berhasil meraih bajunya. Hampir saja ia tertangkap.


Manda bernafas lega. Ia tak tau kalau sedang di perhatikan lewat kaca spion. Manda juga lupa kalau ia tidak mengenal orang yang menolongnya. Ia lupa dengan pesan Theo untuk tidak percaya sembarang orang. Manda hanya merasa kesal pada Hazlan dan tertawa karena mengingat kebodohan dia yang berlari sendiri di jalan lurus.


"Cantik-cantik bego."

__ADS_1


Manda mendengar jelas kata-kata itu karena kecepatan motornya sudah melambat.


"Hah? Kenapa? lo ngomong sama gue?" Tanya Manda karena takut salah dengar.


"Emang siapa lagi orang yang bisa denger omongan gue? angin?" cowok yang menolongnya itu benar-benar menyebalkan.


"Alasan lo ngatain gue bego apa? Jangan karna lo nolongin gue terus lo bisa ngatain gue seenaknya ya?!?" Kesal Manda.


"Ya suka suka lo dah, sekarang mau gue anter ke rumah atau gue anter ke Hazlan?" Tanya orang itu lagi.


"Lo kenal sama gue?"


"Jangan jawab pertanyaan gue dengan pertanyaan! Mau di anter kemana? buruan." Manda jadi sedikit takut karena orang itu mengenalnya dan juga Hazlan.


"Turun di sini aja, biar gue balik sendiri." ucap Manda.


"Ini tengah jalan Manda. Lo mau mati di tabrak mobil? Pilihan gue cuma dua dan dua-duanya gue anter dengan selamat, kenapa milihnya mati tengah jalan?!?"


Wah wah wah! Manusia satu itu benar-benar menyebalkan. Tadinya Manda menganggapnya sebagai malaikat penolong tapi mendengar semua ucapan pedas yang keluar dari mulutnya membuat Manda menganggapnya Iblis yang menyamar menjadi malaikat.


"Ya udah anter ke rumah aja!“ kesalnya.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Manda hanya penasaran dengan orang di balik helm ini. Rasanya ia pernah mendengar suara menyebalkan ini tapi ntah dimana.


Manda segera turun saat sudah di depan rumahnya. Tanpa mengucapkan makasih, Manda mendelikan matanya sebelum masuk ke dalam rumah. Meski penasaran pada sosok yang mengenalnya bahkan tahu alamat rumahnya tanpa perlu ia tunjukan, Manda memilih masuk tanpa melihat ke belakang.


Sementara cowok itu melepaskan helmnya dan menatap cewek yang ia suka itu dengan tatapan senang. Bahkan ia tertawa melihat Manda yang menunjukan rasa kesal padanya.


"Manda... Manda..." Gumamnya.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2