
Kegiatan belajar mengajar yang di mulai satu setengah jam yang lalu tak membuat kelas ini hening. Kelas XI Bahasa 1 yang terletak di lantai tiga dan lebih tepatnya di atas kelas XI IPA 1. Kebisingan yang sangat gaduh. Kadang mereka sengaja menghentak-hentakan kakinya dengan keras.
Pagi ini ada rapat guru sampai jam istirahat pertama. Jadi semua kelas kosong. Hanya jurusan IPA yang stand by di kelas dengan buku sebagai pusat mereka.
"Woi anak bahasa!"
Kelas yang tadinya berisik seketika hening saat cowok dengan seragam basket itu membanting pintu kelas mereka dan sedikit berteriak.
"Kenapa?" tanya salah satu di antara kelas itu.
"Nyadar gak sikap kalian yang kek bocah itu ganggu. Berisik." kata cowok itu yang menatap tajam lawan bicaranya.
"Kelas juga kelas gue, kok ngatur!"
Cewek dengan rambut di cepol dan juga lengan baju yang sedikit di gulung itu adalah Arabella Syahrani. Ketua kelas bahasa, Ketua eskul Theater dan juga Ketua MPK. Ketua MPK baru.
Bagi yang gak tau MPK. Majelis Perwakilan Kelas, tugasnya mengawasi kinerja OSIS. Memang gak semua sekolah ada tapi SMA Nusatama ini ada MPK.
BRUGH
Merasa panas dengan kata-kata Rabel, Cowok itu mengamuk dan mendorong siswa yang ingin keluar dari kelas itu dengan sengaja.
"Sial! Kenapa gue jadi kena Bel?"
Rabel tertawa kecil sebelum bangun dari duduknya dan berjalan mendekati singa yang mengamuk itu.
"Lo salah ngamuk bro. Anak dari kelas IPA nya B aja kenapa lo yang kepanasan sendiri hmm?"
Rabel sedikit mendorong mantan kapten basket itu. Orang yang selalu mencari masalah dengannya. Arbayana Raiden Larandika. Arbay.
Arbay itu anak dari kelas XI IPS 1 yang tengah ngebucinin Bianca Angely —Ketua tim Cheers—. Jadi kalau Bianca ngadu sama Arbay tentang apa yang di gak suka, Arbay selalu maju untuk membereskannya. seperti sekarang.
"Cewek gue di bawah lagi belajar karena mau kuis tapi kelas lo kek pasar, Kampungan!" Rabel sedikit terdorong saat Arbay menujuk bahunya dengan keras.
"Ih pegang-pegang." Ejek Rabel yang menghapus jejak telunjum Arbay dengan telapak tangannya, seperti ada debu di bahunya.
Arbay menggertakan giginya dan rahangnya mengetat saat melihat tanggalan Rabel yang selalu memancing amarahnya.
"oke woles dong woles. Di bawa nyantai aja atuh pak." Rabel mendorong pelan Arbay agar sedikit keluar dari kelasnya.
Anak kelas Rabel yang tadinya berisik, kini hening dan fokus melihat perdebatan mereka berdua.
"Keep calm, dude. Gue bakal buat kelas gue diem dan lo balik ke kelas. Inget ya, Kelas lo IPS bukan IPA. Jangan makin bego gara-gara bucin. Malu weh.“ ledek Rabel lagi.
" Makin di biarin makin ngelunjak nih anak ya"
"Hei! Stop!" Rabel memegang tangan Arbay yang sudah melayang ke udara. Mungkin Arbay ingin memukulnya karena kesal.
__ADS_1
Rabel mendekatkan dirinya pada Arbay. "Lo udah lemah jangan makin buat diri sendiri malu dengan mukul cewek. Sadar boy!" bisik Rabel.
"Lo!" tunjuk Arbay dengan amarah yang memuncak.
Rabel menepuk puncak kepala Arbay dengan sengaja. "Maaf ya mantan kapten kalau kelas gue berisik, abis ini gak lagi.“ ucap Rabel sebelum menutup pintu kelas.
Teman-teman sekelaa Rabel menatap gadis itu dengan penasaran.
" Jadi itu contoh menundukan Anjing kelaparan. Tentu saja dengan memberi makanan tapi jangan langsung di kasih. Latih anjing itu biar tau diri lebih dulu baru kasih." Jelas Rabel.
Mereka sedang ada tugas tentang rumusan masalah tapi sebagian teman-teman nya ada yang tidak paham dengan tugas itu. Rabel sengaja membuat mereka berisik untuk memancing seseorang datang ke kelas mereka. Gunanya untuk menjadi contoh tugas mereka.
Yang mereka harapkan Bianca langsung yang datang tapi siapa sangka anjing yang menurut pada Bianca yang hampir menggigit mereka.
"Oke. Paham." sahut cowok di deretan kursi belakang.
Mereka melanjutkan tugas mereka dengan hikmat tanpa kebisingan. Sedangkan Arbay yang kembali ke lapangan basket harus menelan kemarahan bulat-bulat. Apalagi ia harus melihat Zai dengan guru olahraganya tengah membincangkan event. Benar-benar tak di hargai.
......................
Aula sedang di pakai tim Cheers yang sedang merekrut member baru. Ini jam pulang sekolah jadi banyak eskul yang memperebutkan Aula. Menurut mereka siapa yang dulu sampai itu yang dapat.
"Girls. Kumpul dulu sini."
Semua anggota Cheerleader yang lumayan banyak mengitari Bianca sebagai pusat. Di samping Bianca ada salsa yang di rangkul sang Ketua.
"Kenalin dia Salsa dari kelas sepuluh yang gue rekrut sendiri, jadi tolong sambut baik Salsa sebagai anggota tim cheers saat ini.“
"Saya Annisa dari kelas sepuluh juga. Bukannya kita harus seleksi dulu ya kak?"
Bianca tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia melangkah mendekati Annisa yang memperlihatkan wajah tak Terima.
"Mel, kasih contoh mereka jadi flyer."
Tim inti mereka sudah berada di posisi masing-masing empat orang itu sudah siap menangkap sang flyer famela yang berdiri tegak dengan kaki yang di pegang kuat oleh empat orang di bawahnya. Famela menjatuhkan dirinya di belakang dan di tangkap sempurna oleh empat orang itu.
"Well, lo mau coba?" Tanya Bianca pada Annisa yang terlihat pucat.
"Jujur saya gak bisa. Memangnya Salsa bisa?“ tanya Annisa yang masih tidak Terima.
"Sal, Just try it."
Salsa mengangguk dan mencoba di posisi Famela. Awalnya sedikit ragu saat ia akan di angkat ke atas tapi setelah ia berhasil berdiri tegak dengan kaki yang di pegang kuat, Salsa tersenyum.
"I can." soraknya pada Annisa yang meremehkannya.
Salsa menjatuhkan dirinya seperti Famela lalu kembali melangkah mendekati Bianca. Ketuanya tersenyum karena tak salah pilih anggota.
__ADS_1
"Dia spesial makanya dapat privilege tanpa seleksi. So, seleksi dulu gih baru komen." ucapan Bianca membuat semua yang melihat itu menertawakan Annisa.
Cewek berkuncir dua itu pergi meninggalkan Aula dengan mata berkaca-kaca. Bahkan ia menabrak seseorang tanpa meminta maaf.
"Manda? Kamu gak papa?“ Teriakan Theo menarik perhatian tim Cheers yang tadinya akan melanjutkan diskusi.
Annisa berlari dengan kencang, jadi Manda langsung oleng saat di tabrak dengan cepat. Theo terlambat, Manda sudah jatuh lebih dulu dengan mengenaskan. Tulang ekornya sedikit ngilu karena mencium lantai Aula.
"Theo liat gak sih kek mana Manda jatohnya, masih aja nanya!" Kesal Manda yang mempoutkan bibirnya.
Theo hanya terkekeh pelan sebelum membantu Manda untuk berdiri. Tadinya Theo ingin langsung menggendong Manda tapi Manda melarangnya karena di Aula sedang ramai dan mereka jadi pusat perhatian saat ini.
"Manda kenapa?“ Suara halus nan tegas itu mengintrupsi mereka.
"Eh kak Rabel, si Manda jatoh kak, kena tabrak angin tadi." jelas Theo yang mendapatkan tabokan cantik dari Manda.
"Ish Theo ini lah!! Enggak angin loh kak, tadi Manda emang di tabrak orang loh." ucap Manda yang sedikit takut saat Rabel menatapnya dalam.
"Ya udah, gabung sama anak Theater sana, pengajuan kamu tentang ide cosplay One Piece kakak Terima. Sana gabung." Titah Rabel.
Raut wajah Manda seketika ceria. Theo mengantar Manda untuk duduk di antara anak Theater. Di sana Theo melihat Manda di sambut baik oleh kakak kakak kelas mereka.
"Gue gabung sama anak-anak dulu. Kalau butuh apa-apa telfon aja." Theo membelai lembut puncak kepala Manda sebelum pergi.
Saat bunyi suara sirine dari pengeras suara di tangan Rabel terdengar. Semua orang terdiam dan memperhatikan anggota MPK dan OSIS yang berada di depan Aula.
"Mulai hari ini Sketsa event yang akan kalian ajukan per eskul sudah di tentukan. Kami harap semua sudah mengumpulkan judul atau tema yang akan kalian berikan pada event kali ini." Jelas Rabel dengan pengeras suara.
"Untung Masing-masing Ketua Eskul, Besok adalah jadwal akhir kalian untuk memilih anggota baru. Lewat dari itu kalian yang gak di tarik ke eskul manapun akan masuk ke eskul Pramuka, Paham?"
"Paham" Sahut mereka dengan kompak.
"Hari ini tim OSIS, MPK dan Theater akan menggunakan Aula. Silahkan untuk eskul menggunakan gedung serbaguna atau kelas kalian masing-masing untuk rapat eskul. Silahkan bubar." Jelas Rabel.
Rabel melirik Bianca yang berlari ke arah Arbay dengan marah-marah. Rabel tertawa kecil saat Bianca menghentikan kakinya. Ia tahu kalau Bianca menginginkan Aula untuk anak Cheers.
Padahal kalau Bianca tidak berlagak seperti sang pemilik sekolah, Rabel akan menggunakan ruangan MPK untuk rapat mereka. Namun karena Bianca bersikap sombong seperti itu, Rabel semakin senang menjahili duo bucin itu.
Rabel melambaikan tangannya saat Bianca dan Arbay keluar dengan wajah kesal.
"Sampah"
.
.
.
__ADS_1
.
TBC