
Hari ini Manda berangkat sekolah dengan mata yang bengkak. Manda juga melihat Theo yang sudah menunggunya untuk berangkat bersama tapi itu sebelum Theo mendapatkan telfon dari seseorang.
"Sok sok nungguin! Ngapain juga berdiri depan rumah gue kalau gak ngajak bareng!" Gerutu Manda sambil menutup pagar rumahnya.
Manda mengambil ponselnya yang tadi ia letakan di saku bajunya. Manda ingin memesan ojol karena kakak tersayangnya itu mana mungkin mau mengantarnya ke sekolah meski sekarang kakaknya lagi libur.
TIN! TIN!
Manda mengernyitkan mata dan memfokuskan pandangan. Manda heran saat mengenali siapa yang mengklaksonnya dari jauh. Untuk apa cowok itu ada di jalan dekat rumahnya.
"Manda bareng yok?"
Itu Rehan dan motor satrianya yang sekarang berhenti di samping Manda.
"Boleh?" Tanya Manda bingung.
Rehan langsung mengangguk dan menarik Manda mendekat. Rehan memakaikan Helm yang sengaja ia bawa tanpa permisi pada Manda. Hmmm, rasanya aneh. Manda tidak pernah di perlakukan seperti ini. Biasanya Theo hanya memberikannya Helm dan memakainya sendiri. Waktu sama Hazlan juga dia memakainya sendiri tapi ini...
Manda merasa aneh.
"Kok diem aja?" Rehan mencolek pipi Manda.
"Hah?" Manda mendadak bingung dan hanya mengerjapkan matanya dengan lucu. Hal itu membuat Rehan tertawa geli sambil menepuk kakinya.
"Ayo naik, nanti kita telat." Lagi-lagi Rehan menariknya agar Manda segera naik ke motornya.
Manda naik dengan fokus yang masih buyar. Sepanjang jalan menuju sekolah, Manda hanya diam menatap belakang helm Rehan yang untungnya masih belum bolong. Sedangkan Rehan hanya menahan senyum sejak memperhatikan spion yang menampilkan wajah lucu Manda.
"Ndaaa, kamu masih mau aku bonceng?" Manda terkejut saat Rehan menoleh ke belakang.
"Hah? Kenapa madep belakang? Fokus ke jalan aja, nanti kita kecelakaan haaan..." sahut Manda yang takut Rehan tau kalau sejak tadi ia masih memikirkan helm yang di pasangkan Rehan.
Kening Manda berkerut saat Rehan tertawa lepas sambil melirik ke arahnya. "Kenapa sih?!? Iiiiih!" Geram Manda dengan wajah cemberut, kesal.
Manda melirik dengan gerakan kepala kaku saat menyadari kalau ia sudah berada di parkiran sekolah dengan Rehan yang masih menatapnya dengan tawa menyebalkan itu.
__ADS_1
"Iiiiih!!! Rehan nyebelin! Kenapa gak bilang sih kalau udah nyampe?!?" Manda memukul bahu Rehan lalu turun dari motor.
"Manda tunggu!!!" Panggil Rehan yang melepas Helmnya setelah usai memarkirkan motornya lalu mengejar Manda.
Manda ingin melangkah lebih lebar lagi agar tidak tertangkap Rehan. Kesal sekalinya mendengar tawa menyebalkan itu karena kebodohannya. Namun Rehan berhasil menggapai tangan Manda dan membalikkan tubuh mungil itu.
"Kenapa ? Kamu marah ya?" Rehan sedikit menundukan tubuhnya agar sejajar dengan gadis menggemaskan di hadapannya.
Manda hanya mencebikan bibirnya dan menatap ke arah lain, mengabaikan Rehan. Cowok itu hanya tersenyum, ingin rasanya ia membenamkan gadis itu di dalam pelukannya atau yang lebih ekstrim lagi melipat kecil gadis itu dan menyimpannya di dalam kantongnya agar ia bisa membawanya kemana-mana.
"Kamu kenapa sih??" Tanya Rehan lagi dengan nada ketus.
Manda menoleh dengan alis yang di satukan dan wajah yang seperti menahan tangis. Padahal Manda hanya tak suka dengan nada suara Rehan.
"Kok kamu yang marah sama Manda?!? Yang ngetawain Manda dari tadi siapa? Yang harusnya marah siapa??" gerutu Manda dengan suara pelan tapi Rehan masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Aku marah karena kenapa bisa kamu selucu ini?!?" ucap Rehan lalu tertawa keras saat Manda menghentakan kakinya dengan lucu. Manda ingin kembali pergi tapi Rehan kembali menarik tangan Manda dan menggenggam kedua tangan yang lebih kecil dari tangannya.
"Aku minta maaf karena buat kamu kesel tapi sumpah ndaa kamu itu lucu banget." Rehan masih terkikik geli meski berusaha menahannya.
"Kalau gak lucu terus apa namanya? Masa ke kelas aja helm aku di bawa, biar aku pegangkan tangannya?" Manda tergelak mendengar perkataan Rehan.
Tangannya meraba ke atas kepala. Manda benar-benar ingin menangis rasanya saat Rehan kembali tertawa karena ia tak bisa membuka helm itu.
Rehan memegang perutnya yang sakit karena tertawa. Mereka menjadi pusat perhatian karena suara tawa Rehan yang menyebalkan. Hampir semua yang melihat mereka tersenyum iri moment masa sekolah yang sangat membagongkan menurut Manda.
"Sini aku bukain." Rehan mengambil alih pengait helm dan membukanya. Sesekali melirik Manda yang melihat ke arah lain. Wajah bulat dengan pipi Chubby serta kulit putih membuat warna bibirnya yang alami terlihat jelas.
"U-udahkan? Manda ke kelas duluan." Manda ingin sekali hilang atau berubah menjadi tas saking malunyaa.
Manda berjalan terburu-buru membuat rambut yang di kuncir kuda itu bergoyang ke kanan dan ke kiri. Ia tak peduli meski Rehan menahannya lagi atau apapun itu, yang jelas kali ini dia harus sampai di dalam kelas. Sedangkan Rehan yang terus membuntuti Manda dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya hanya menggeleng pelan.
Manda itu satu kelucuan yang ada di dunia yang harus di museumkan. Mungkin saja rumahnya akan menjadi tempat museum paling pas, menurut Rehan. Setelah melihat Manda masuk ke dalam kelas, Rehan segera memutar langkah menuju kelasnya yang sudah terlewat.
Lagi-lagi Rehan harus berhenti saat seseorang menabrak bahunya dengan sengaja. Matanya hanya memutar malas sambil menghela nafas saat melihat orang itu.
__ADS_1
"Kenapa lagi sekarang?" Tanya Rehan yang terlihat sangat muak.
"Harusnya lo berhenti saat gue bilang berhenti tapi kayaknya lo gak bakal berhenti juga. Gue gak akan semudah itu biarin mereka yang udah gue klaim sebagai orang gue, lo tipu habis-habisan."
"Gue gak pernah niat tipu dia jadi bisa gak usah ikut campur?!?" Kesal Rehan.
"Sensi banget mas, Ngaca dulu kalau mau deketin orang. Berasa perfect lo? Saingan lo berat han. Gue udah peringatin lo dari awal. Mau lanjut? Silahkan tapi jangan jadi pengecut di akhir. Bikin dia nangis ? bukan cuma futsal lo yang hilang tapi juga kaki lo." Orang itu menepuk bahu Rehan dengan santai sebelum pergi.
Rehan mendengus kesal. Rasanya ada yang tumbuh di tenggorokannya yang membuatnya susah menjawab ancaman sialan itu. Tadinya Rehan mengetatkan rahangnya dan berniat mengejar orang tadi tapi semua itu ia urungkan saat melihat orang lain yang memperhatikannya dari lantai paling atas. Kakak kelas sialan itu.
"Bangsat!" Umpatnya lalu berjalan menuju kelas.
Memangnya apa yang ia lakukan sefatal itu. Ia hanya ingin menikmati masa mudanya tapi orang-orang itu sangat usil dan ikut campur urusannya.
"Rehan?!? Kenapa lama banget? Aku capek nungguin dari tadi." Cewek dengan seragam kekecilan itu mengejutkan Rehan.
Wajah cowok itu berubah mengendurkan ekspresinya yang tadi menegang. Lalu memasang senyum yang di buat-buat.
"Aku udah buat sarapan untuk kamu. Aku tau kamu belum makan."
.
.
.
.
TBC
Itu siapa?
Saatnya mengatakan. Hah? Hah? Hah?
Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa dukungannya.
__ADS_1