
Wanita paruh baya itu menatap heran putrinya yang baru saja datang setelah pergi cukup lama. Mulut putrinya yang komat kamit sendiri sedikit membuat wanita itu penasaran dengan apa yang terjadi pada putrinya.
"Ndaaa, Kamu kenapa dateng dateng malah marah-marah sendiri?" Manda menatap sang mama dengan bibir yang mengerucut.
"Maaaa tau gak sih tadi tuh Manda habis lari-lari" Rengek Manda yang langsung berhambur peluk saat mamanya merentangkan tangan.
"Kenapa bisa lari-lari sayang? Bukannya tadi pergi sama Theo? Terus mana Theo sekarang?" pertanyaan mama Manda malah membuat Manda mencebikan bibirnya.
Manda malah makin kesal mengingat Theo yang tak membaca pesannya. Tadinya Manda sudah mengirim pesan pada Theo untuk menjemputnya agar ia tak ikut bersama berandalan STM itu.
"Theo tadi ada urusan jadi dia pergi duluan." Manda menikmati usapan Mama di kepalanya.
Mama Manda mengangguk paham lalu keningnya berkerut. "Terus kenapa sampe bisa lari-lari? Kamu di kejar anjing, nak?"
"Bukan. Bukan di kejar anjing. Pokoknya tadi ngeselin banget. Bikin Manda lapeeeer" Rengeknya lagi.
Diana -Mama Manda- hanya tertawa kecil. Ternyata putrinya kelaparan makanya emosinya tak kunjung reda apalagi kerutan di kening dan juga mulutnya yang maju seperti donal bebek.
"Mama udah masak capcai kesukaan kamu tuh sama nugget. Mau request apa lagi hmmm?" Diana merapikan anak rambut putrinya lalu menyampirkan di belakang telinga.
Manda menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab. "Manda mau susu maaa." ucapnya
"Ya udah, kamu makan dulu nanti susunya nyusul."
Manda mengangguk membiarkan Diana pergi. Sedangkan dirinya memilih kembali ke kamar lebih dulu sebelum makan.
TING!
Satu notif yang menandakan pesan masuk tidak membuat Manda segera membukanya. Manda lebih dulu merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya lalu memejamkan mata sebentar.
"CAPEK!" kesalnya.
Manda masih memejamkan mata dengan nafas yang memburu. Sampai suara ketukan pintu kamarnya yang ia biarkan terbuka membuatnya langsung menoleh. Mata Manda memutar saat melihat sosok menyebalkan itu.
"Nih susu, minum dulu."
__ADS_1
Theo masuk ke dalam kamar Manda lalu meletakan segelas susu yang ia ambil dari tangan Diana ke nakas di samping ranjang Manda.
"Tau sopan santun gak? cowok gak boleh sembarangan masuk ke kamar cewek?!?" sarkas Manda.
Manda langsung duduk dan dua tangannya di lipat di depan dada. "Kenapa gak jawab chat gue?" Tanya Theo yang menatap Manda dengan santai.
Manda menaikan sebelah alisnya dengan sudut bibir yang juga naik sebelah. Menatap jijik Theo yang terlihat tak merasa bersalah. "NGACA!" bentaknya.
"Sorry, tadi pas lo nelfon gue lagi di jalan." Ucap Theo.
Theo tadinya ingin menyentuh bahu Manda tapi gadis itu menepisnya dengan kuat lalu menatap Theo dengan garang.
"Emang tadi kenapa? Lo gak di apa-apain sama Hazlan kan?" Theo terlihat khawatir karena Manda marah padanya.
"Mau gue di apa-apain kek atau apapun itu. Gak ada urusannya sama lo?!?" Kesal Manda tapi juga memancing amarah Theo.
"Mulutnya! Kenapa tadi? pasti lo di gangguin kan?" Theo mulai menyudutkan Manda tapi Manda seakan tak terpengaruh.
Biasanya dalam situasi ini, Manda pasti akan menangis dan merengek pada Theo agar cowok itu tidak marah. Manda juga biasanya akan mengadu padanya tanpa harus Theo tanya. Namun situasi sekarang malah membuat Theo bingung sendiri.
"Gak usah sok peduli."
"Gak! Makasih."
Mendengar jawaban Manda yang ketus membuat Theo pergi dari kamar Manda sambil membanting pintu kamar gadis itu. Manda di buat semakin kesal.
"Sialan! Lo kira pintu kamar gue itu dari duit lo apa!" Teriak Manda.
Diana hanya memperhatikan mereka dari jauh. Bukannya ia tidak ingin membela putrinya yang di perlakukan seperti itu oleh Theo tapi karena ia belum tahu kronologi sebenarnya. Biasanya memang putrinya yang salah dan berakhir menangis karena belum berbaikan dengan Theo. Jadi Diana memilih untuk memperhatikan lebih dulu dan menghibur putrinya.
***
Theo membanting helmnya cukup kuat ke atas meja lalu duduk di sofa panjang yang sudah di isi Riston dan Noval. Mereka sedang berada di rumah Amru yang selalu kosong karena orang tua Amru sedang dinas di luar kota.
"Napa lo yo?" Tanya Noval sambil sesekali melirik Theo lalu kembali fokus pada ponselnya karena game yang tengah ia mainkan sedang berlangsung.
__ADS_1
"Bukannya lo dari rumah Manda?" tanya Amru yang meletakan beberapa kaleng pepsi di meja.
Theo hanya menggeleng dengan rahang yang masih mengeras. Tentu saja ia marah karena Manda berbicara seakan ia orang asing, menurut Theo. Manda juga tidak menangis atau merengek lagi padanya seperti biasa. Theo melirik ponselnya, terlintas di fikirannya untuk menelfon Hazlan tapi ia urungkan niatnya.
Toh, orang yang ia khawatirkannya saja mengabaikan dirinya. Jadi untuk apa ia sibuk mengurusi orang yang mengabaikannya? Ntahlah, Theo selalu mementingkan egonya jika Manda bertingkah seperti ini. Paling juga besok Manda sudah kembali merengek padanya.
"Sayang? kok balik ke sini?" suara merdu yang menyapu telinga Theo membuat cowok itu menoleh ke belakang.
"Kamu belum pulang yang?" Tanya Theo lalu melirik Riston yang masih asik dengan ponselnya.
"Cewek gue juga belom balik" sahut Riston yang tau kalau Theo menatapnya.
Theo hanya mengangguk paham lalu kembali menatap pacarnya yang datang menghampirinya. "Mau pulang sekarang?" Tawarnya.
"Bentar lagi deh yang. Aku masih nunggu kak Bianca datang dulu." jelas gadis cantik dengan rambut pirang itu.
"Sayang, kamu lagi kesal sama siapa?" Theo menatap mata hazel itu sebelum menghela nafas kesal.
"Manda marah sama aku." Theo menggenggam tangan pacarnya itu.
"Karena kamu lebih nganterin aku ketimbang nemenin dia?" tuduh gadis itu.
"Gak tau. Aku gak tau kenapa dia marah yang..." suara Theo terdengar sangat memelas.
Gadis itu menggertakan giginya tanpa sepengetahuan Theo. "Makanya kamu bilang aja sih sama dia kalau kita pacaran. Kamu udah punya aku yang lebih harus di prioritasin di banding dia. Kenapa harus rahasiain tentang kita coba?!? Kamu malu sama aku?" suara gadis itu sedikit tertahan karena melihat wajah Theo semakin mengeras.
"Oke. Besok aku akan bilang kalau kita pacaran." putus Theo lalu meremas kuat ponsel di tangannya.
Hari ini memang sangat menyebalkan untuknya. Mereka yang menonton perdebatan sepasang kekasih itu hanya bungkam dan menggeleng kepala pelan. Selalu saja berakhir seperti itu jika membahas gadis manis yang tengah marah pada Theo saat ini.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC