Nano Nano

Nano Nano
#21 Demam Unyu-unyu


__ADS_3

"Ada yang mau gue omongin sama lo?"


Rafi melihat siapa yang datang dengan wajah datar itu dan berani menganggu jam istirahatnya. Sementara anak-anak yang lain memperhatikan Kapten Basket tim lawan itu dengan tatapan heran, aneh dan tidak suka.


Kayak, Apaan sih? ya kan? baru selesai tanding malah nyamperin. Mukanya gak enak di lihat lagi.


"Kalau ada yang mau di omongin gas aja. Di sini, gak usah ribet." kata Rafi. Ia sedang menyeka keringatnya dengan handuk kecil di tangannya.


"Lo yang nyuruh Rabel buat ngacauin pertandingan ini kan?" Arbay semakin di buat kesal dengan gaya sombong Rafi yang memang sudah bawaan dari lahir.


"Sehat bos?" Itu suara Hazlan. Ia bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Rafi.


Rafi hanya terkekeh pelan. Kebiasaan Rabel yang juga ada di Rafi berhasil membuat Arbay mengetatkan rahangnya.


"Kenapa? Emang bener kan?" Tuduh Arbay.


Yongki dan Zai yang melihat Arbay semakin emosi segera menghampiri Arbay. Mereka kira Arbay menghampiri lawan untuk salam persahabatan sesama Kapten atau semacamnya lah tapi ternyata Arbay lebih anak-anak daripada yang mereka kira.


"Bos dia kek gini karena skor nya jauh dari kita makanya kepanasan." Celetuk Fajar yang tak ikut dalam pertandingan.


Rafi mengangguk paham dengan wajah mengejek. "Lan bilang ke pengurusnya, kita gak ikut tanding selanjutnya." ucap Rafi pada Hazlan lalu beralih menatap Arbay. "Malu ya kalau tuan rumah kalah? Ya udah gue kasih menang deh lo pada." Rafi menepuk bahu Arbay yang langsung di tepis Arbay.


"Kenapa woi??" Tanya Zai yang masih berjalan mendekati mereka.


Yongki juga heran melihat muka Arbay udah merah total karena marah. Ia menatap anak-anak STM yang terlihat mengejek dengan tatapan menyebalkan.


"Kita ngalah aja Zai. Gue mau kasih saran, lo terima gak?" Rafi mengambil botol minum yang di berikan Fara lalu menegaknya sambil menunggu jawaban Zai. Ia sudah tidak respect lagi dengan kapten mereka.


"Kenapa ngalah? Kan masih sesi kedua, bisa lah kami menang dengan terhormat." Jelas Zai yang tidak terima. Yongki juga mengangguk setuju sementara Arbay sudah membatu.


"Gak lah. Gue udah males main kalau di tuduh kek gitu. Mending gue kalah daripada menang tapi gak enak di belakang." Kata Rafi. Ia melirik Arbay yang tak berkutik sedikitpun.


"Di tuduh gimana?" Yongki penasaran. Apa Arbay sudah salah langkah? Yongki benar-benar penasaran.


"Udah gak usah di bahas. Saran gue kalau emang gak bisa bikin pertandingan basket yang fair, yang adil. Gak usah masukin ke event." Jelas Rafi sambil memamerkan senyumnya yang menyebalkan itu dengan satu alis mata yang terangkat dan melirik Arbay yang semakin panas.


"Jadi gimana?" Tanya Rade. Dia juga harus bersiap untuk futsal.


"Yok, Cabut." Titah Rafi.


Mereka semua bersiap untuk pergi. Zai mengangguk tanpa bisa menahan. Ia sangat tau siapa Rafi dan bagaimana sifatnya. Kalau dia sudah bilang selesai ya berarti selesai.


"Tunggu. Tadi kan gue cuma nanya kenapa lo malah bilang nuduh?!?" Geram Arbay. Ia sudah menahannya sejak tadi.

__ADS_1


Rafi tertawa mendengar penuturan itu lalu menatap jengkel Arbay yang sepertinya masih keras dengan pendapatnya. Rafi menatap Hazlan.


"Lo urus deh. Mager gue berurusan sama orang yang gak pernah sadar diri." Rafi mengambil Tasnya lalu pergi meninggalkan mereka lebih dulu.


Ia hanya melambaikan tangan saat Arbay meneriakinya. Zai dan Yongki terlihat pasrah karena mereka sudah paham garis besar masalah ini. Arbay dan egonya itu selalu jadi masalah untung tim mereka.


"Kenapa weh ? Kok tim lawan pada balik?" Daren yang sudah penasaran sejak tadi di tempatnya akhirnya menghampiri mereka setelah Rafi pergi tentunya.


"Kami pamit undur diri. Kapten lo tuh cupu, kebanyakan koar koar." Rade menatap sinis Arbay yang tengah melotot padanya.


"Udah yok pada balik. Ntar di marahin paketu." Fara menyudahi suasana tegang itu.


Lagipula untuk apalagi mereka di sana. Ketua mereka saja sudah pergi dari singgasananya. Hazlan mengambil tas dari tangan Fara. Mereka keluar mengabaikan kapten nusatama yang masih ingin menahan mereka.


"Terus kita mau kemana?" Tanya Ongki yang tadi ikut tanding.


Hazlan mengecek ponselnya lalu tersenyum saat melihat gambar yang di kirim ketuanya. "Nih lihat." Hazlan menunjukannya pada mereka semua.


"Sialan paketu! Udah duluan aja dia." Rade tertawa melihat itu.


Fajar menepuk pundak Hazlan. "Wingki sama Rasyid mana?" Tanyanya.


"Udah siap dia sama baju futsalnya, mereka stay di lapangan sana katanya."


"Terus paketu dimana?" tanya Fara yang tidak melihat foto yang di ponsel Hazlan.


Semuanya tersenyum mengejek. "Ya dimana lagi kalau bukan di stand cosplay." Rade tertawa puas melihat sisi kebucinan paketu mereka.


Mereka melangkah menuju lapangan futsal karena Rafi berdiri tak jauh di sana. Stand Manda juga gak di depan lapangan futsal. Hazlan mengangkat telunjuk kanannya di depan bibir. Menyuruh yang lain diam saat ia sudah melihat di mana posisi Rafi.


"Ssssuuut diem ya. Kita jalan pelan-pelan." Mereka mengendap-ngendap di belakang Rafi.


Mereka ikut terkekeh geli saat melihat Rafi mecuri foto cewek gemoy dengan kostum Nami One Piece, si navigator cantik. Hazlan menahan tawanya saat melihat Rafi senyum-senyum sendiri bahkan sampai jingkrak-jingkrak kecil saat melihat cewek gemoy itu tengah minum susu.


"Cantik banget masa depan gue." kata Rafi yang masih setia memandangi navigator cantik itu dari kejauhan.


Fara sudah gak kuat lagi. Dia ingin sekali meledek Rafi. Akhirnya Rade berdiri tepat di belakang Rafi sambil mengajak semuanya berbisik.


"Cantiknya cantiknya aku tergila gila."


Rafi menoleh kaget. Awalnya dia memasang wajah datar karena kesal sudah ketahuan ngebucinin ayang dari jauh. Tapi melihat ayang lagi memasang wajah cemberut karena kepanasan, Rafi kembali tersenyum gemas.


Rade kembali berbisik. "Unyunya unyunya kau buat aku gila."

__ADS_1


"Rese lo pada, udah ayok ke sana." Kesal Rafi lalu meninggalkan mereka yang tertawa puas.


"Anjir si paketu jadi bucin." Rade kembali membuat gelak tawa itu terdengar.


Manda yang tadi hanya diam di standnya karena belum ramai yang ketempatnya langsung menoleh. Manda melihatt Rafi yang lebih dulu mendatanginya lalu melirik kebelakang mendapati anak-anak yang lain ikut mengekor di belakang.


"Loh kok kalian udah di sini?" Tanya Manda heran.


Tadinya Manda ingin menyambut Fara tapi Rafi seakan memojokannya untuk tetap di samping cowok itu. Alhasil Manda kembali terduduk di bangkunya dengan wajah kesal melirik Rafi.


"Bah cantik banget sih primadona Nusatama satu ini." Ucap Rade yang langsung di hadiahi lirikan sinis oleh Rafi tapi itu tentu saja tak mempan sama sekali.


 "Iyalah cantik kan Manda di make up tau terus Manda juga jadi Nami. Cantik kan?" Manda mengerjapkan matanya lucu lalu menekan pipi kiri nya dengan telunjuk kiri.


Melihat itu, semuanya langsung bersiaga memegang tangan Rafi dan menutupi Rafi dari Manda. Mereka membentuk tameng. Manda mengerutkan keningnya bingung.


"Kenapa? Emang Manda jelek ya?" Tanyanya bingung. Manda melihat telinga Rafi yang memerah. Persis seperti Theo saat marah.


Manda berpikir dimana letak kesalahannya?


Apa Rafi gak suka liat dia bertingkah seperti itu?


Apa Rafi salah satu orang yang membencinya?


Bukannya Rafi itu Sanji?


Banyak pertanyaan yang muncul di benak Manda karena melihat mereka yang begitu menahan Rafi. Manda melirik Fara yang tertawa keras. Manda jadi penasaran. Memang sebenarnya kenapa? Manda melihat Hazlan yang memegang tangan Rafi di bantu Fajar juga. Tangan yang memperlihatkan urat yang tercetak jelas memuat Manda sadar kalau Rafi sedang menahan sesuatu tapi apa?


"Kenapa sih? Manda penasaran tau gak?" Manda ingin mencoba mendekat tapi Fara menariknya sambil tertawa.


"Fara tau kenapa gak?"


"Paketu lagi demam unyu unyu." Sahutnya dengan tawa yang berderai.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2