
#####
Bunyi suara koin yang keluar dari mesin terdengar sangat deras. Cowok berhoodie hitam itu tengah menampung koin itu di dalam ember kecil yang di sediakan game center itu.
"Udah lah bos! Udah kayapun, masih aja ngincer duit lagi." ledek temannya yang sejak tadi hanya bermain hp.
"Gabut." Sahutnya singkat. Tangannya terus bermain game coin dengan lihai. Mengincar pancingan koin dalam jumlah besar.
"Si kawan udah lo suruh mundur, terus lo geraknya kapan?" tanya temannya itu lagi dengan hp yang sudah di simpan dalam saku celana.
"Masih ada yang ngincer dia." sahutnya sambil mengedikan kedua bahunya.
"Terus sama anak Smk sebelah gimana? susah gue nyariin waktu biar lo jalan sama dia kemaren, masa gak ada kemajuan." protes temannya itu. Pasalnya temannya itu kurang setuju dengan cewek incarannya.
"Lo yang maksa, udah gue bilang gak minat." kesalnya. Mata tajamnya menatap lurus temannya yang tiba-tiba menegang.
"Ya udah sih, gue balik duluan deh."
Daripada jadi korban kemarahan temannya itu, ia lebih memilih pulang dan cari aman.
****
"Pulang sama siapa lo?"
Manda memutar tubuhnya ke belakang. Matanya mendapati Theo yang tengah menatapnya tajam. Manda mengerutkan keningnya bingung. Untuk apa Theo ada di depan rumahnya.
Manda baru saja sampai di rumah, tentu saja di antar Rehan. Cowok itu pamit pulang lebih dulu karena sudah melihat Theo dari kejauhan.
"Kenapa emangnya? Gak ada urusan juga!" Ketusnya. Manda memilih masuk ke dalam rumahnya dan mengabaikan Theo yang masih setia mengekorinya.
"Baru pulang lo dek? Masih di anter jemput Theo?"
Manda menghela nafasnya lelah. Itu suara kakak keduanya yang sudah lama tidak pulang. Famela Rengganis. Dia kuliah di luar kota, mungkin karena bulan ini musimnya kampus libur. Jadi sekarang dia di rumah.
"Diem deh!" Bentak Manda dan langsung jalan cepat menuju kamar.
Jangankan Mela. Theo yang ada di sana saja ikut kaget karena bentakan Manda. Theo tau kalau Manda memang tidak pernah akur dengan kakak keduanya. Manda juga membenci abangnya,si sulung.
"Kenapa tuh anak? baru pulang langsung hancur moodnya." Tanya Mela pada Theo yang hanya memberi cengiran bingung.
__ADS_1
"Gak tau mel, Gue ke atas dulu." pamit Theo.
Karena Manda dan Mela yang hanya berjarak dua tahun, Theo jadi tak pernah memanggil Mela dengan sebutan kak. Theo juga paham kalau hubungan Manda dan Mela itu layaknya Tom and Jerry. Kalau lagi akur yaa akur kali tapi kalau udah ribut. Bah! Langsung hancur rumah karena semua barang yang terlihat bakal terlempar.
"Mandaa..." Panggil Theo. Cowok itu hanya berdiri diambang pintu kamar Manda yang tidak terkunci.
Manda yang tadinya sedang menata bukunya, kini menatap Theo kesal.
"Apa!!!" bentaknya.
"Lo kenapa jadi gini sih? Kenapa tadi duduk lama di warung Mak Nema? Kenapa tadi mau aja di anter Rehan? Kenapa lo gak mau pulang sama gue?" lirih Theo.
Kata-kata Salsa tentang Manda masih terngiang di telinga Theo. Cowok itu hanya ingin memastikan dan masih tak percaya ucapan kekasihnya. Kali ini sebagai sahabat, ia akan memilih percaya pada Manda yang sejak kecil tumbuh bersamanya.
"Kenapa emangnya?!? Gak ada urusan sama lo! Mereka semua temen gue yang peduli sama gue. Termasuk Rehan. Mereka tuh kalau salah langsung minta maaf, bukannya malah marah balik!!" mendengar sindiran keras yang keluar dari mulut Manda malah membuat emosi Theo terpancing.
Theo berdecih, senyum miring yang muncul di wajahnya membuat Manda mengernyit. "Temen yang peduli sama lo? Gak sadar udah di kerjain dulu?"
"Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Lagipula mereka udah minta maaf."
"Halaah! Bilang aja lo seneng kan di kelilingin banyak cowok?!? Kalau lo masih pulang balik sama gue, Lo jadi gak bisa deket sama mereka?!?" Tuduh Theo yang membuat Manda tersentak.
"Maksud Theo apa?" Manda berusaha menahan tangis.
Manda menggertakan giginya. Ia menahan tangisnya dan menatap tajam Theo.
"Pergi lo bangsat! Terserah lo mau gibahin gue apa kek sama cewek lo tapi gak usah bilang gue! Pergi!"
BRAAAK
Manda membanting pintu kamarnya dengan kuat. Setelah itu Manda menangis sejadi-jadinya. Manda bisa mendengar ketukan di pintu kamarnya dan suara Theo yang memelas.
"Mandaa maafin aku. Theo gak bermaksud bilang gitu. Mandaaaa buka pintunya bentar ya?" bujuk Theo.
Cowok itu tersadar saat Manda berteriak kencang padanya. Ucapannya sudah kelewatan. Dia sudah sedikit terpengaruh pada ucapan Salsa. Theo merasa bersalah sekarang.
"GAK! MANDA GAK MAU LIAT THEO LAGI DAN JANGAN PERNAH KE SINI LAGI" Teriak Manda dari dalam kamar sambil menangis sesenggukan.
Di tengah tangisnya yang kencang, Manda melihat ponselnya bergetar. Ada seseorang yang menelfonnya. Sanji. Manda mengangkatnya setelah mengatur nafas dan suaranya.
__ADS_1
"H-Haloo" sahut Manda lebih dulu.
'Hai, lagi apa?'
"Baru balik jadi belum ngapa ngapain." Manda bergerak menuju kasur empuknya dan berbaring.
'Kok suara kamu beda?' Pertanyaan Sanji malah membuatnya ingin menangis.
"Aku berantem sama sahabat. Dia nuduh aku nji..."
Ya! Mereka masih belum berkenalan di real life. Mereka masih memanggil dengan panggilan nama karakter. Padahal tadinya Manda gak mau lagi berurusan dengan Sanji lagi karena tak mau jujur dengannya.
'Dia nuduh apa? Dia sahabat kamu yang cowok atau yang cewek di sekolah?' Suara berat itu benar-benar membuat Manda nyaman bercerita.
"D-dia bilang hiks... Dia bilang Aku.." Manda semakin sesenggukan karena tak sanggup dan kecewa atas tuduhan Theo. "Dia bilang aku sasimo." Lanjutnya dengan tangis yang mulai pecah.
'Naaamiii, Udah jangan nangis lagi ya. Dia cuma gak mau kamu punya teman cowok lain selain dia.'
Manda menggeleng keras meski ia tahu kalau Sanji tak akan melihatnya.
"Dia itu di racunin ceweknya tau. Padahal aku udah baik mau temenan sama dia tapi dia malah gitu sama aku." Terang Manda sambil menangis.
'Mandaaa... Kamu itu cantik, baik dan ceria. Jadi banyak yang iri sama kamu itu wajar. Kamu harus kuat ya?'
Manda terhenyak saat Sanji malah memanggil nama aslinya. Seketika Manda jadi ikut kesal dengan Sanji.
"Ah tau ah! Kamu juga nyebelin, Kamu tau tentang aku tapi kamu gak ada cerita apapun tentang siapa kamu. Sanji nyebelin!" Manda mematikan panggilan sepihak.
Manda cuma ingin tau siapa Sanjinya. Ia hanya ingin tau bagaimana wujud asli manusia di balik karakter itu. Setelah memikirkan Sanji yang menyebalkan, seketika terlintas imajinasi Manda tentang Sanji yang tak mau jujurpadanya.
"Apa dia udah punya pacar makanya gak mau jujur? Atau dia juga temennya Hazlan? tapi siapa? Rade? Fajar? Iiiih Gak mauuuuuuu!"
Manda membenamkan wajahnya di bantal dengan mulut yang terus komat-kamit saat terbayang imajinasi anehnya itu. Kalau memang di sekitar Hazlan ada Sanjinya, Manda berharap itu bukan Fajar ataupun Rade. Mereka nyebelin.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC