Nano Nano

Nano Nano
#13 Kakak Idaman


__ADS_3

Hari ini hari senin. Pagi yang super sibuk karena harus memeriksa ulang seragam yang di kenakan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tentu saja Manda sudah siap dengan semua itu. Bahkan sekarang ia sedang menunggu Salsa yang sedang mencari topinya.


"Ada gak sa? Kalau gak ada, kita pinjem ke kelas sebelah aja gimana?" Tawar Manda


Manda tuh orangnya gak tegaan sama sahabatnya. Salsa yang ketinggalan topi tapi Manda yang pasti panik. Jadi sekarang Manda menarik Salsa yang ingin menangis karena kehilangan topi.


"Ayok, Manda bantu cari gantinya sebelum bell..."


Dengan satu tangan yang menarik Salsa, Manda ingin berjalan ke koperasi. Biasanya koperasi sekolah jual perlengkapan seragam juga atau mungkin bisa meminjamkan topi bekas yang tertinggal. Itupun kalau ada.


"Mau kemana?"


Langkah mereka terhenti saat di hadang cowok-cowok tampan itu. Siapa lagi kalau bukan gengnya Theo, si calon penerus kapten basket. Manda memutar mata kesal dan tak ingin menjawab pertanyaan Theo. Ia mencoba kembali menarik Salsa untuk pergi dari sana tapi Salsa yang menurut Manda tidak paham situasi, malah menjawab pertanyaan Theo,


"Topi gue tinggal, Jadi Manda mau bantu cari gantinya." sahut Salsa.


Theo melepas topi yang ia kenakan. Lalu memasangkan topinya dengan asal ke kepala Salsa. "Pake ini aja, gih baris. Nanti telat." Ucap Theo tanpa melirik Manda.


Manda menggertakan giginya. Bukannya Manda yang harusnya marah tapi kenapa Theo membuat situasi seakan Manda yang salah.


"Ayok Man..." Ajak Salsa setelah berterima kasih pada Theo.


Mereka berbaris ke lapangan saat bell berbunyi. Upacara akan di mulai. Barisan yang awalnya berisik dan rusuh, mendadak hening saat Arbella turun langsung memperhatikan satu persatu barisan adik-adik kelasnya.


"Gila! Kak Arbel keren banget kan sa?" Bisik Manda pada Salsa karena sedikit terpukau karena keheningan yang di buat Arbel.


"Iyaa..." Sahut Salsa seadanya lalu meletakan jari telunjuk ke depan bibirnya. Mengisyaratkan Manda untuk diam.


Manda mengangguk. Lalu mereka mengikuti Upacara seperti biasa. Petugas PMR juga berjaga di pinggir lapangan. Siswa siswi nakal yang tidak berseragam lengkap berdiri di depan. Manda menatap Theo yang ikut baris di depan bersama mereka yang juga tidak menggunakan atribut lengkap.


"Gara-gara gue, Theo jadi di hukum Maan.." bisik Salsa karena merasa bersalah.

__ADS_1


Manda terlihat biasa saja dan mengalihkan pandangannya pada kepala sekolah yang menjadi pembina upacara. Sedangkan Theo yang menangkap dua pasang mata yang malas melihatnya itu malah semakin jengkel.


"Sialan." Umpat Theo


"Bilang apa lo barusan?" cowok dengan bet osis yang melingkar di lengan kirinya itu berdiri menatap Theo dengan kesal.


Theo menatap anggota Osis dengan tajam. Rasa kesalnya pada Manda membuat emosinya jadi tidak stabil. Theo menarik sudut bibir kirinya ke atas.


"Bisa lo senyum pas di tegur kek  gini?" Gading bersedekap dada karena di buat heran. Theo seakan meremehkannya saat ini.


Gading menyimpan nama lengkap Theo di dalam otaknya. Gading itu juga inti Osis yang bertugas dalam sidak menyidak. Jadi siapapun yang mengusik Osis, maka orang itu akan berhadapan dengan Gading. Si pencari kesalahan yang paling menyebalkan.


"Emang gue ngapain?" Theo malah balik bertanya."


"Gak papa dek, buat kesalahan itu biasa. Lo tunggu aja nanti hukumannya." Gading menepuk pundak Theo sebelum pergi.


Osis yang satu itu emang paling 'sus' banget. Udah negurnya ke orang laper terus langsung berubah mood jadi sok paling tenang. Gading tuh emang gitu. Bikin orang jadi takut cuma karena rasa penasaran yang di buat dia. Gading itu didikan Arbel, Jadi jangan kira dia akan ngelepas orang yang cari gara-gara sama dia dengan mudah.


Usai upacara, semua siswa dan siswi bubar menuju kelasnya masing-masing. Manda melangkah menuju ruang eskul Theater karena sebelum *** berlangsung, ia harus melapor tentang costum yang sudah ia sewa pada kak cia, wakil ketua eskul.


Manda tersenyum lalu menggeleng pelan. "Gak usah sa, lo balik aja. Izinin gue kalau gurunya udah masuk duluan sebelum gue dateng."


"Oke, gue duluan."


Salsa pergi mendahului Manda dan berpapasan dengan Theo yang juga sedang melangkah ke arah Manda dengan sapu lidi di tangannya. Manda hanya menaikan sebelah alisnya saat Theo berhenti di depannya dengan wajah kesal.


"Lo masih marah sama gue?" tanya Theo dengan wajah yang menjengkelkan.


Di tanya seperti itu malah membuat Manda tambah kesal. Manda melirik Salsa yang kembali datang. "Kenapa balik lagi?" Tanya Manda pada Salsa. Dia sengaja mengabaikan Theo.


"Gue cuma-"

__ADS_1


"Lo gak bisa jawab gue dulu? Emang sefatal itu salah gue sampe lo marah gini ? Sampe hilang sopan santun lo depan gue ?" Theo menarik mencengkram rahang Manda agar cewek itu menoleh padanya meski di tepis kasar oleh Manda.


"Lo apa-apaan sih. Sopan santun mana yang lo bilang? Gue cuma bersikap seperti apa lo bersikap sama gue. Udah itu aja dan masalah kemaren lupain aja. Mungkin ke depannya gue bisa sendiri tanpa bantuan lo. Hitung-hitung belajar mandiri." Kesal Manda.


"Kan lo-"


Tadinya Theo ingin mencubit kesal pipi chubby Manda atau sekedar menyentil kening Manda agar cewek itu sadar. Theo tidak suka kalau Manda menyamaratakan sikap Manda ke teman Manda dan ke dirinya. Salsa menggenggam tangan Theo agar cowok itu diam dan tidak mengatakan apa-apa.


Tentu saja Manda melihat itu. Theo yang nurut sama Salsa itu adalah hal yang aneh.


"Manda, Sorry kalau gue gak bilang dari awal. Gue yang kemarin minta jemput sama Theo. Gue yang buat Theo ninggalin lo di sana dan gue juga yang larang Theo angkat telfon lo pas dia lagi sama gue. Jadi kalau lo mau marah, marahnya sama gue aja." jelas Salsa tanpa melepaskan pegangannya pada Theo.


"Dih?" Manda mengernyit aneh. Keningnya berkerut dan satu alisnya naik. Jangan lupakan smirk Manda yang menurut Theo menakutkan padahal Manda hanya tersenyum miring.


Theo memperhatikan ekspresi Manda dengan intens. Entah kenapa ia merasa hubungan dia dan Manda setelah ini akan semakin memburuk.


"Lo gak suka kalau Theo pacaran sama gue?" Tanya Salsa yang kini seperti memasang wajah aslinya.


"Emang Theo siapa dan lo siapa sampe adek gue harus gak suka? Artis lo pada?!? Manda sini cepetan, Gak usah peduliin nih dua landak. Ntar badan kamu sakit-sakit dek."


Manda menjinjitkan kakinya untuk melihat orang yang datang dari belakang Theo dan Salsa. Manda tersenyum senang karena ada yang membelanya di situasi menyebalkan ini.


"Iya Kak, tadi Manda juga mau ke sana." Manda menanggapi kakak kelasnya itu sambil tersenyum. Lalu ia kembali menatap pasangan baru yang menjengkelkan ini. "Mau kalian pacaran atau enggak itu gak penting sama sekali buat gue. Bay! Gue sibuk."


Manda mengibaskan rambutnya lalu sedikit berlari mendekat ke arah kakak yang baru baru ini dekat dengannya. Kakak idamannya karena di rumah ia tak pernah di anggap sebagai adik oleh dua kakak kandungnya.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2