Nano Nano

Nano Nano
#03 Gara-gara Lambe


__ADS_3

Pagi ini Hazlan sudah bertengger di warung Mak Nema dengan seragamnya yang rapi.


ya udah gak usah bertengger. Ulang lagi ulang.


Pagi ini Hazlan sudah duduk manis di warung Mak Nema dengan seragamnya yang rapi. Ia memesan soto dan nasi untuk sarapan paginya tapi matanya sejak tadi memperhatikan gerbang SMA Nusatama. Tentu saja sedang menunggu seseorang.


"Berasa di suruh nyaleg. Deg degan parah gue ki" Hazlan sedang bersama Wingki. Manusia batu yang ada di kelas Hazlan.


Bukan karena keras kepala. Walaupun memang aslinya keras kepala tapi juga gak ada respon. Mau gibahin song hye kyo yang cerai sama Song Joongki pun dia akan tetap dengan kebatuannya. Kepala sekolah manggil dia aja, Wingki tetap diam. Layaknya batu yang mager ngapa-ngapain kecuali di tendang, di seruduk, di guling-gulingin sama kaki manusia.


Klarifikasi dulu sebelum kalian mikir yang lain. Maksudnya itu si Wingki gak bakal gerak kalau gak di suruh, di ancam atau di paksa gitu karena dia itu Manusia Batu yang sedang menjelma menjadi murid.


"Mau ngapain lo?"


Hazlan menghela nafas. Air mukanya udah beda pas Rade datang bareng antek-anteknya. Mereka emang beda kelas tapi kejahilan Rade itu udah tenar nyampe ke kakak kelas.


"Kepo banget jadi manusia. Admin Lambe lo, ngurusin hidup orang banget!" kesal Fara yang memang amat sangat membenci Rade.


Udah jadi satu-satunya cewek di angkatan mereka. Gak di hargain pula jadi cewek. Fara itu berhasil masuk STM karena skillnya lebih bagus dari cowok-cowok angkatan mereka. Pengetahuan nya tentang mesin juga lebih banyak dan dia masuk sama karena Beasiswa. Walaupun gendernya Female. Alias perempuan.


Fara tuh orangnya ilfeel an. Kemarin saat Mario dan Rendi marah-marah karena pengaduan Rade tentang Hazlan, Fara ada di sana. Jadi dia tau biang masalah yang selalu memancing huru hara itu kena sial kemarin. Fara juga tau kalau Hazlan lagi nahan tangannya buat gak nabok tuh muka tebelnya Rade.


"Nyamber ae lo kek tiang listrik!" sahut Rade yang melirik sinis Fara.


"Dari pada lo kek emak-emak komplek. Sibuk aja ngurusin hidup orang!"

__ADS_1


"Dih! Cakep lo kek gitu! Gue nanya ama Hazlan, jadi yang ngurusin hidup orang sape? lo apa gue?" Rade menggebrak meja yang membuat teh manis yang baru akan di minum Fara tumpah.


"Setan! Liat nih tumpah! Kalau adu bacot ayo gue jabanin. Preman lo?!? gebrak-gebrak meja segala! Ganti gak?!?" kesal Fara yang kini sedang berdiri berhadapan dengan Rade. Mata Fara melotot, Tangannya bergetar karena kesal.


"Udah udah..." Hazlan berusa menenangkan. Menarik Fara menjauh dari sana tapi Fara menepis tangan Hazlan.


"Gue gak mau pergi sebelum dia ganti minuman gue!" kekeh Fara.


"Ya elah minuman doang, tinggal pesen aja susah amat! Makanya jangan repot sama urusan cowok! Cewek kok ikutan!" Sindiran Rade berhasil membuat Fara melepaskan emosinya.


Tangan Fara sudah berada di kepala Rade. Fara menjambak Rade dengan penuh emosi. Dia mengabaikan suara jeritan penuh kesakitan dari Rade. Fara itu sudah biasa memegang perkakas bengkel. Jadi kekuatan Fara saat menjambak Rade juga jangan di ragukan lagi.


"Anj*ing botak nih ntar gue. Lepasin gak!" Rade berusaha memegang tangan Fara dengan kuat agar Fara melepas jambakan itu tapi nihil.


"Mak mak pesen es teh satu buruan. Sebelum botak Rade mak." Rade memanggil mak nema yang kebetulan datang mengantarkan gorengan ke meja Hazlan.


"Tuh udah gue pesanin. Sekarang lepasin anjir!" Rade menepuk tangan Fara berkali-kali agar melepas jambakannya.


Fara melepas dengan dorongan yang sangat kuat hingga Rade sedikit terpental. "Jadi cowok kok resek!" gerutu Fara.


"Ngaca! Jadi cewek kok kek cowok?!? Gak ada kalem-kalemnya." Setelah mengatakan itu tentu saja Rade berlari menjauh dari Fara sebelum rambutnya benar-benar lepas dari kepalanya.


Hazlan kembali fokus menatap gerbang SMA Nusatama setelah kepergian Rade tapi Hazlan kembali menghela nafas saat melihat gerbang itu sudah di kunci oleh satpam sekolah.


SMA Nusatama memang tutup gerbang tepat jam tujuh sedangkan STM jam delapan. Itu juga karena SMA Nusatama sudah menyediakan kantin yang sangat cukup bagus dan berbeda jauh dengan kantin STM yang hanya menyediakan gorengan dan es teh juga kopi. Jadi jangan heran lagi kalau anak-anak STM lebih memilih nongkrong di warung Mak Nema meski sedikit jauh dari sekolah nya.

__ADS_1


"Dia udah masuk dari tadi. Samperin aja pas istirahat pertama." Hazlan menatap Wingki dengan heran.


Perasaan Hazlan, Wingki sejak tadi hanya fokus bermain game tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Biar kek nyebrang jalan. Pokoknya Wingki itu diem aja walaupun kericuhan Rade dan Fara hampir membumihanguskan warung Mak Nema. Wingki tetap stay di tempat dengan handphone di tangan.


"Emangnya lo liat dia?" tanya Hazlan.


Wingki mengangguk. Dia menunjuk mobil yang di parkir depan warung Mak Nema dengan dagunya.


"Mobilnya Theo?" Wingki hanya mengangguk kecil dengan mata yang masih fokus pada handphone nya.


"Lo liat dia pas kapan?" tanya Hazlan. Perasaannya gak enak sekarang.


"Pas lo lagi narik Fara. Dia juga liat lo narik Fara terus buru-buru pergi bareng Theo."


Mendengar itu Hazlan menutup matanya dan mengetuk kening dengan kepalan tangannya.


"Sial! Sial! Sial! gara-gara Lambe nih!"


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2