
Hari ini Manda pergi ke toko cosplay yang bisa menyewakan costum untuk mereka. Awalnya Manda ingin pergi sendiri tapi Theo memaksa untuk menemaninya.
"Emang Manda jadi ambil peran Nami?“ tanya Theo dengan tangan dan mata yang fokus pada hp nya.
Manda sedikit jengkel sih karna dari tadi Theo itu menemaninya tapi malah fokus ke hp. Manda memutar matanya kesal.
"Hmm" Jawaban Manda berhasil membuat Theo meliriknya.
"Mau cari costum yang dimana?" kini Theo memasukan hp nya ke dalam kantong saat melihat raut wajah Manda kesal.
"Kamu nanya? kamu bertanya tanya Manda mau cari costum dimana?“ sahut Manda. Kemudian pergi meninggalkan Theo yang tertawa karena tingkah kesal Manda.
Theo berlari kecil saat Manda jalan terburu-buru mendahuluinya.
"Kenapa sih? Marah-marah mulu." Theo mencubit pipi Manda pelan.
"Apaan sih Theo! Sakit tau gak?!?" kesalnya.
Manda mengusap pipinya setelah berhasil memukul punggung tangan Theo. Manda mempercepat langkahnya saat sudah menemukan toko yang di sarankan Hazlan.
Mata Manda mengerjap lucu saat baru memasuki toko. Ternyata di sini sangat rame dengan berbagai pajangan yang lengkap.
"Hazlan?"
Manda menatap Hazlan yang sedang memegang miniatur Usopp. Di sana Manda juga melihat seragam yang sama dengan sekolah Hazlan berdiri di sekitar action figure Sanji yang ada di dekat costum.
"Eh ? Kok lo ke sini nya sekarang? kirain minggu depan." Hazlan berjalan mendekati Manda mengabaikan Theo yang sudah menatapnya tajam.
"Kan eventnya senin depan. Gak mungkin kan selesai event baru nyari costum?!?" Manda memutar matanya malas.
"Wih wih wih, tumben-tumbenan nih kita ketemu si cantik Nusatama." Suara itu, suara yang paling menyebalkan.
Manda mendengus kesal. Sosok Manusia yang entah kenapa terlihat tidak suka dengannya tapi tak pernah absen memperhatikan nya sekarang ada di hadapannya. Rade. Anak STM yang selalu Manda kenal sebagai biang masalah.
"Kita kenal?" Manda melirik sinis dan terkesan jijik pada Rade.
Manda memilih pergi dari sana mengabaikan Rade yang tertawa bersama yang lain kecuali Hazlan. Cowok itu malah mengekori Manda bersama Theo.
"Sok cakep lo! Muka di imut imutin gitu biar apa? biar mirip boneka babi?" Rade kembali memancing emosi Manda.
Hazlan menahan Manda dan Theo yang ingin sekali mencekik leher rade dan mematahkannya lalu memajangnua di depan toko cosplay ini.
"Udah gak usah di dengerin. Anjing menggongong kan karena lagi di kandang. Lepas dari kandang aja kicep." Sindir Hazlan lalu menarik Manda ke arah costum-costum yang di pajang jauh dari posisi Rade dkk.
__ADS_1
"Sialan bener si Hazlan. Cari muka banget depan gebetannya." Rade menatap kesal Hazlan yang melangkah menjauh.
"Itu tuh yang lo belain terus. Ada cewek cakep jadi lupa sama kawan." Fara yang tau di pancing Rade hanya mengedikan kedua bahunya berusaha terlihat cuek.
"Woi! Tolongin gue anjir, berat nih action figure Sanji yang baru dateng." Suara teriakan dari balik pintu gudang membuat Hazlan dan yang lain berlari mendekat menolong orang itu.
Theo dan Manda yang tidak tahu hanya diam memperhatikan mereka. Manda penasaran dengan orang di balik box besar yang terlihat berat itu. Apa dia pemiliknya? Apa semua anak-anak ini kenal dengan pemiliknya? Manda hanya berharap dengan bisa mengenal pemiliknya ia akan mendapatkan harga miring dari menyewa costum.
"No lo ama Fajar bawa ini, gue mau ke belakang dulu ambil box kakinya, ini cuma atasnya belum di pasang." Mereka yang di suruh mengangguk mengerti dan Manda kembali penasaran karena tak berhasil melihat orang itu.
"Sorry gue tinggal tadi. Hari ini kedatangan Action figure baru jadi anak-anak pada kesini karena penasaran. Mereka juga suka one Piece tapi gak cuma itu aja termasuk anime lain mereka suka." Jelas Hazlan saat berada di depan Manda.
"Oh gitu. Gue kira mereka juga masuk grup yang sama kayak kita."
Hazlan menggeleng. "Gak kok, gak ada yang satu grup sama kita."
Manda melirik Theo yang sedikit menjauh dari mereka. "Theo mau kemana?"
"Mau angkat telfon bentar." sahut Theo.
"Emang lo mau ambil berapa costum?" Hazlan kembali menarik perhatian Manda padanya.
"Beberapa aja sih, soalnya kakak kelas ada yang udah punya costumnya sendiri. Mmm..." Manda berfikir sejenak.
"Keknya cuma Nami, Zoro, Nico robin, Sanji, Usopp, Ace terus Chopper. Eh gue lupa peran utamanya, Luffy juga." Terang Manda yang sedikit tertawa karen lupa dengan peran utama.
"Dih! Enggak ya! Mungkin kalau di telfon gue tersanji sanji tapi kalau liat muka langsung kek Usopp jadi lupa gue bayangan Sanji real yang bakal gue temuin kemaren." Manda tertawa puas melihat wajah tidak terima Hazlan.
Manda tidak tau saja kalau sebenarnya Hazlan tuh lagi deg degan karena di bilang mirip Usopp.
"Manda..." Panggil Theo yang baru selesai dengan telfonnya.
"Kenapa?"
"Gue izin pergi bentar ya, ntar gue balik ke sini kalau lo udah selesai." Theo terlihat memelas.
"Gak usah. Lo gak usah balik sini, biar gue pulang sendiri." Sahut Manda.
“Apaan sih bahasanya!" Kesal Theo karena Manda jarang memakai bahasa lo gue saat bersama Theo.
"Theo kalau ada urusan pergi aja. Manda gak papa. Lagian yang maksa ikut siapa?!? hmm?!?“
Theo berdecih. " Telfon gue kalau udah selesai. Paham?!?"
__ADS_1
"Dih! Apaan sih?!? Manda udah gede ya! Udah tau jalan pulang!"
"Gak usah bantah, bisa gak?" kesal Theo karena Manda terus mendebat nya.
Namun panggilan di ponsel Theo membuat ia harus bergegas. Manda tersenyum remeh. Ia tau kalau yang membuat Theo terburu-buru pergi itu pacar Theo yang masih di sembunyikan sahabatnya itu darinya.
"Udah sana pergi. Udah di telfon lagi juga!“ Manda melipat kedua tangannya di dada sambil memperhatikan pajangan-pajangan yang ada di sana.
Hazlan yang memperhatikan sejak tadi sedikit bingung dengan sikap Theo. Akhirnya dengan otak Hazlan yang sedikit pintar, ia mulai menengahi masalah yang sepertinya tak kunjung selesai.
"Gini aja yo, Manda pulang sama gue nanti. Gue janji gue anter dengan selamat." Ucap Hazlan yang membuat Theo menatapnya tajam.
Hazlan tau kekhawatiran Theo saat cowok itu melirik kawan Rade. "Tenang aja, mereka udah jinak sama gue. Lo balik aja, percayain Manda sama gue."
"Iya! Manda pulang sama Hazlan aja. Udah sana." usir Manda.
Theo menghela nafas saat Manda mengalihkan pandangannya ke arah lain. Theo meletakan tangannya di atas puncak kepala Manda lalu memutar kepala itu untuk menghadapnya.
"Ya udah gue balik dulu. Baik-baik lo sama Hazlan, kalau ada apa-apa telfon gue, Ngerti?"
"Iya ngerti"
"Bagus, ya udah sana pilih lagi costumnya, gue balik." Pamit Theo sebelum benar-benar pergi dari sana.
Manda kembali fokus dengan costum yang akan ia sewa tapi lagi-lagi suara dari balik pintu gudang itu kembali terdengar.
"Woi anjir! Emang gak ada akhlak kalian! Gue kira ada yang nyusul nolongin gue angkat ini!" Teriaknya dan kembali di kejar Rade dkk.
Hazlan hanya terkekeh pelan karena emang teman-temannya itu agak lamban. Kalau gak di suruh langsung gak bakal ada yang gerak.
"Ketawa lo lan!“ Kesal orang itu setelah menyerahkan Box itu pada yang lain.
" Loh ada Manda di sini?" Heran orang itu.
"Lo juga ngapain di sini? hah?!? lo yang punya?“
" Kalian kenal?!?“
.
.
.
__ADS_1
.
TBC