
Bell yang menandakan jam istirahat berbunyi. Koridor sekolah menjadi ramai dalam hitungan detik. Manda yang sebenarnya malas ke kantin, harus tetap ke kantin karena paksaan dari Salsa.
"Sumpah Sa, gue mager banget." kata Manda. Mereka masih di jalan menuju kantin, lebih tepatnya akan melewati kelas Theo yang berada sangat dekat dengan kantin.
"Temenin bentar aja man, abis itu langsung ke kelas deh atau kita bawa aja ke kelas..." bujuk Salsa.
"Kenapa?" Manda menatap Theo yang tengah menghampiri mereka bersama kawanan Theo. Alias Reno, Riston, Noval dan Amru. Teman sekelas Theo.
"Temenin Salsa yo, Manda lagi mager banget dempet-dempetan di kantin." kata Manda.
"Ya elah Man, bentar aja kok. Lo tungguin dari jauh aja." Salsa masih berusaha membujuk.
"Ya udah balik kelas aja sana. Biar Salsa makan sama gue." kata Theo seraya mendorong Manda menjauh.
Manda mengangguk dan melambaikan tangan pada Salsa yang memasang wajah cemberut. Setelah memberi senyuman manis pada Salsa, Manda kembali menuju kelas.
"Neng Manda." Langkah Manda terhenti.
Matanya menatap heran satpam sekolah yang tengah memanggilnya. Memang sih dirinya cukup dekat dengan satpam sekolah karena ia sering menemani Theo eskul basket. Satpam sekolah itu sering mengajaknya ngobrol di tengah kebosanan Manda saat menemani Theo. Jadi bisa di bilang dekat.
"Pak warno kenapa manggil Manda?" Tanya Manda saat berada di hadapan satpam sekolah. Pak Suwarno.
"Itu, Temennya Neng Manda nyariin. Sekarang lagi nunggu di gerbang." kata Pak warno sambil menunjuk gerbang dengan jempol tangannya.
Manda mengerutkan keningnya. "Siapa pak? perasaan Manda, gak ada temen Manda yang beda sekolah."
"Ya udah, Neng Manda samperin dulu aja. Bapak mau beli kopi dulu bentar di kantin." kata pak Warno lalu pergi setelah menepuk bahu Manda pelan.
Manda mengangguk dan membiarkan pak Warno pergi. Kakinya melangkah ke gerbang karena penasaran. Seingatnya ia tak pernah ada janji temu dengan teman-temannya. Tidak ada satupun pesan masuk di antara temannya yang ingin bertemu dengannya.
Sesampainya Manda di gerbang. Keningnya kembali berkerut. Manda hanya melihat seorang cowok dengan seragam sekolah yang sama dengan Rade. Namun Manda tak mengenali wajah asing itu.
"Nyari Manda ya?" tanya Manda tanpa basa-basi saat cowok itu menatapnya.
__ADS_1
Cowok itu tersenyum sambil mengulurkan boneka dan cokelat cadburry dikedua tangannya ke arah Manda.
"Gue Hazlan. Ini ambil dulu..." mendengar itu Manda langsung memasang wajah jutek dan ingin pergi saja namun suara Hazlan kembali terdengar.
"Tunggu Manda. Gue ke sini mau minta maaf sama lo." kata Hazlan sedikit berteriak agar gadis itu berbalik.
"Kenapa minta maaf? karena gak berhasil balas dendam kemarin?" Tanya Manda dengan sinis tapi wajah jutek dan kesinisan Manda berhasil membuat Hazlan menahan tawa.
Wajah yang di buat marah dengan sengaja itu benar-benar imut dan menggemaskan. Andai saja gerbang sekolah itu tidak di gembok, Hazlan akan berlari mendekati Manda dan mencubit pipi chubby Manda yang menggemaskan.
"Gue gak ada niat buat bales dendam. Gue gak ada niat ikut-ikutan masalah lo sama Rade. Kemarin itu gue bener-bener mau pergi nonton bareng lo, cuma kebetulan ada problem gara-gara Rade. Di sini gue yang salah. Gue minta maaf Manda." Jelas Hazlan dengan wajah yang benar-benar merasa menyesal.
Manda menghela nafas pelan dan berjalan mendekati Hazlan yang berada di luar gerbang.
"Terus postingan Rade itu gimana? Gak mungkin gak tau dan gak ikut-ikutan kan?" Kesal Manda yang masih sedikit tidak terima. Satu jamnya terbuang sia-sia karena menunggu Hazlan yang tak kunjung memberi kabar padanya.
"Gue salah karena biarin Rade manfaatin gue yang udah janji sama lo. Itu kesalahan gue yang bikin lo nunggu dan gak ngasih kabar, karena itu gue mau minta maaf sama lo. Jujur gue gak ada niat sama sekali buat ngerjain lo. Maafin gue ya? Gue janji mulai sekarang gue gak bakal biarin Rade ngerjain lo lagi." Hazlan menunjukan dua jari tanda peace kepada Manda agar gadis itu percaya kalau ia serius.
"Ya udah gue maafin tapi sebenarnya gue gak kenal lo sama sekali." kata Manda.
"Kita satu grup di One Piece Family. Lo nami kan?" Hazlan menunjukan layar ponselnya.
Mata Manda membulat. One Piece Family, grup yang di buat di telegram dengan orang-orang yang memilih satu karakter One Piece untuk bermain peran. Seperti Roleplayer. Manda memilih Nami sebagai karakter yang ia pakai di grup itu.
Tentu saja Manda terkejut saat nama karakter nya di ketahui Hazlan. Pasalnya di grup itu tidak di perbolehkan menyebarkan identitas asli.
"Lo siapa?" Tanya Manda dengan jantung berdebar.
Manda itu tipe orang yang sangat semangat pada orang yang satu frekuensi dengannya. Soalnya teman-teman sepermainannya sering mengolok-olok nya hanya karena ia menyukai One Piece atau karena ia sangat mendalami peran sebagai Nami.
"Gue Vinsmoke—"
"What?!? Lo sanji? sanji yang kemarin nelfon gue malem-malem?" Manda histeris bahkan sampai memotong kalimat Hazlan.
__ADS_1
Cowok itu mengangguk dan tersenyum senang. Gimana gak senang? Crush yang ia sukai tiga bulan terakhir ini akhirnya berbicara santai dengannya tanpa harus memasang wajah permusuhan.
"Neng Manda, itu bell masuk udah bunyi."
Belum selesai dengan shock yang melanda. Manda kembali di kagetkan Pak Warno yang berjalan menuju pos dengan segelas kopi di tangan.
"Loh? kok Manda gak denger ya?" Tanya Manda jadi bingung.
Ia masih ingin ngobrol banyak hal dengan Hazlan setelah mengetahui kalau Hazlan ada Sanji, tempat curhatnya di grup itu.
"Manda! Ini ambil dulu. Nanti pulang sekolah kita jalan, bisa?" tanya Hazlan yang juga terlihat bersemangat.
Manda membuka gerbang pinggir yang hanya untuk akses orang lewat atas persetujuan pak Warno. Manda mengambil boneka dan coklat itu lalu menatap Hazlan sambil tersenyum.
"Makasih. Gue bisa aja sih cuma gue gak mau nunggu lagi. Kalau lo gak keliatan pas jam pulang sekolah, gue pulang." kata Manda.
Hazlan mengangguk semangat. "Cukup kata bisa yang keluar dari mulut lo, gue udah seneng. Sekali lagi sorry buat yang kemarin. Pulang sekolah gue tunggu di sini, oke?"
"oke. Gue masuk dulu." pamit Manda
"Semangat belajarnya." kata Hazlan dengan gerakan tubuh yang memberi semangat pada Manda.
Manda hanya tersenyum sebelum melangkah pergi menuju kelas. Hazlan yang masih menatap Manda yang mulai hilang di balik pilar-pilar koridor sekolah, mulai tertawa pelan. Ia sangat senang karena permintaan maafnya di terima.
"Thanks Sanji. Thankyou kawan." ucap Hazlan pada Case handphone dan juga pada temannya yang sejak tadi bersandar di tembok samping gerbang.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC
Kira-kira Manda sama Hazlan jadi jalan gak tuh?